Selingkuh Dulu, Sebelum ke Pantai Sembilan Gili Genting

“Tetaplah berpikir positif dalam situasi apapun. Dan bersiaplah menerima keajaiban yang diberikan oleh semesta.”

Dalam kehidupan sehari-hari, bisa dibilang aku ini orang yang jarang di rumah. Orang Jawa menyebutnya, ‘koyo singgat.’ Hihihi… Berangkat pagi, pulang malam. Jam 6 pagi aku sudah harus di depan mic untuk siaran. Lalu setelahnya dilanjut mengajar. Sore hari sampai jam 8 malam, aku kembali di depan mic, siaran. Tidak berbeda dengan kehidupan sehari-hari, saat traveling-pun demikian. Saya jarang stay di hotel. Dari pagi sudah kemana, pulang-pulang sudah malam.

Siap berangkat, kapal sudah penuh

Seperti waktu itu. Sejak dari pagi saya sudah meng-eksplor kota Sumenep. Dari mulai museum, keraton sampai ke Makam Raja Asta Tinggi. Tahu-tahu sudah jam 12 siang, lebih malah. Waduh, waduuhh… masih ada waktu gak ya ke Pantai Sembilan di Pulau Gili Genting?

Rujak Selingkuh, Kuliner Khas Sumenep




Lapar berat, karena memang saatnya jam makan. Dan Sumenep, karena wilayahnya terdiri dari beberapa pulau ini, tentunya memiliki ragam menu makanan tradisional. Ada puluhan jenis makanan khas yang perlu dicicipi dan salah satunya adalah Rujak Selingkuh.

Selingkuh? Apakah ini semacam menu yang diperuntukkan bagi orang yang selingkuh? Tentu saja BUKAAANNN! Hahaha… Sama seperti rujak khas Sumenep, makanan ini terdiri dari lontong, sayur, bihun, kecambah, singkong rebus dan daging ayam yang disuwir-suwir. Lalu bahan-bahan tadi diguyur dengan kuah soto babat dan bumbu kacang. Mungkin perpaduan dari kuah soto dan bumbu kacang inilah dimaksudkan dengan selingkuh.

Rujak Selingkuh, Kuliner Khas Sumenep

Yang penasaran dengan rasanya, bisa cobain menu rujak selingkuh ini di Warung Rujak Selingkuh di daerah Pejagalan Sumenep. Lokasinya masih di tengah kota, dekat dengan hotel-hotel dan penginapan. Harganya Rp 13.000,- Buatku, porsinya terlalu banyak. Apalagi udah ada lontong, ada singkongnya pula. Kenyang pol!

Pantai Sembilan Gili Genting yang Menawan

Jam 1 siang lebih. Gerimis rintik-rintik mulai turun. Sekumpulan awan yang pekat bergelayutan di atas sana. Aku mulai kuatir jadwal ke Pantai Sembilan akan gagal. Tapi Irul menentramkan. Katanya, di lihat dari polanya, hujan akan jatuh ke seberang sana. Bukan ke lokasi yang akan kita datangi. Kadang aku heran sekaligus kagum terhadap orang-orang yang bisa membaca pertanda alam. Lihat sekawanan burung terbang, oh itu pertanda musim kemarau akan datang. Lihat sekawanan lumba-lumba lewat, oh itu artinya musim angin barat. Dan seterusnya. Lah aku mana bisa? Baca tanda-tanda pria yang serius atau maen-maen aja, aku kesulitan. (Ahh elaaah… kalimat macam apa ini?)

Neduh di gazebo Pantai Sembilan

Siang itu kesibukan di Pelabuhan Tanjung Saronggi lumayan padat dan ramai. Tukang parkir sibuk memarkirkan kendaraan yang masih terus berdatangan. Di pinggiran dermaga sederetan kapan tradisional bersandar. Salah satu kapal, yang cat-nya berwarna biru itulah yang nanti akan mengantarkanku menyeberang, tentunya setelah membayar tiket sebesar Rp 10.000,- Sementara itu, beberapa orang mondar-mandir memanggul karung untuk dibawa ke tepian dermaga. Barangkali isinya barang kebutuhan sehari-hari warga Pulau Gili Genting.

Dermaga Gili Genting

Beberapa menit kemudian, setelah penumpang penuh, kapal mulai memanaskan mesin dieselnya dan segera meninggalkan pelabuhan. Angku memilih duduk di dalam kapal. Angin bertiup cukup kencang, sehingga berkali-kali aku harus membetulkan rambut. Tak banyak yang duduk di dalam kapal. Sebagian besar memilih duduk di atas geladak kapal. Agak mengkuatirkan sebenarnya, karena sepertinya kapal ini tidak menyediakan peralatan keamanan, semacam safety jacket maupun pelampung. Apakah mungkin karena ombak di perairan ini dianggap cukup bersahabat? Atau mungkin karena jarak tempuhnya hanya sekitar 30 menit? Entahlah.

Pulau Gili Genting dilihat dari laut

Dermaga Gili Genting. Jam 2 siang. Aku berjalan kaki menuju Pantai Sembilan. Sebetulnya, motor bisa dibawa menyeberang ke sini. Sementara kalau mobil tak bisa. Tapi Irul memang sengaja menitipkan motornya di Pelabuhan Saronggi, dengan alasan kepraktisan. Di jalan menuju ke Pantai Sembilan, tampak beberapa kapal tradisional sandar di tepian pantai. Salah satunya, kapal yang berwarna merah, tengah mendapatkan perawatan. Seorang pria tampak serius merawat kapal itu. Kulemparkan sapa dan salam, yang segera dibalasnya dengan ramah.

Merawat kapalnya dengan sepenuh hati

Beberapa menit kemudian sampailah kaki ini memasuki area Pantai Sembilan. Setelah membayar tiket masuk Rp 5.000,-. Olala! Aku hanya bisa ternganga. Sulit menceritakan apa yang kurasakan saat itu. Ada rasa kaget, ada rasa kagum. Campur aduk. Keindahan pemandangan yang terbentang di hadapanku saat itu seolah sanggup menyihir siapapun. Siapapun akan terpesona.

Sudah kudengar cerita dari orang-orang tentang keindahan pantai ini, hanya saja aku tak mengira kalau akan secantik itu. Air laut yang sangat jernih kebiru-biruan. Riak ombak yang bergulung-gulung, seolah mereka asyik bermain dengan saling mendahului yang lainnya. Pasir yang halus dan putiiiihhhh… Sungguh, aku sangat menikmati suasana itu. Tak kupedulikan lagi angin yang bertiup kencang mempermainkan rambutku.

Salah satu spot foto andalan

Sambil duduk-duduk di gazebo sambil menikmati keindahan pantai, paling asyik kalau sambil minum kelapa muda yang banyak dijual di warung-warung di sekitar pantai. Warung-warung itu juga menjual berbagai jajanan. Jadi gak perlu kuatir kelaparan atau kehausan. Harganya juga tak terpaut jauh dengan harga yang ada di luaran sana. Sehingga gak perlu ribet bawa-bawa makanan dan minuman dari luaran sana.

Mungkin karena mudahnya akeses menuju kesana dan budgetnya gak terlalu mahal, Pantai Sembilan jarang sepi pengunjung. Apalagi waktu itu pas long-weekend pula. Ya nasib. Aku tak sempat menyelami keindahan lautnya. Selain juga waktu yang kupunya juga mepet. Hany punya waktu 2 jam saja. Jam 4 sore aku harus segera kembali ke dermaga untuk menyeberang dan pulang. Ironis gak sih? Pantai sebagus itu hanya bisa kunikmati 2 jam saja? Aku harus kembali ke sini. Kalau perlu menginap. Itu tekad yang kusampaikan ke Irul.

Pasir putihnya ketjehhh…

Bisa dibilang Pantai Sembilan ini merupakan destinasi yang instagramable banget. Banyak banget spot-spot bagus yang bisa dipamerin di media sosial. Dan biarpun budget ke sini terhitung ekonomis, namun banyak aktivitas yang bisa dilakukan. You name it. Bermain voli pantai bisa. Snorkeling bisa. Mau nyobain kapal banana juga ada. Sekedar bermain-main pasir, bisa banget. Jadi, gimana? Tertarik untuk menikmati keindahan pantai ini? Cuuss!!

Transportasi dan Akomodasi

Tidak sulit untuk menjangkau Pantai Sembilan yang berada di Desa Bringsang, Gili genting, Sumenep, Madura. Dari pusat kota Sumenep menuju Pelabuhan Tanjung Saronggi, lalu nyeberang ke Pulau Gili Genting. Sampai deh.

Yakin gak pengin ke sini? 😉

Pelabuhan Tanjung Saronggi bisa dicapai, baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan kendaraan umum. Jika dengan mobil, jarak tempuhnya sekitar 45 menit. Dan jika dengan motor dapat ditempuh hanya dengan 30 menit saja. Jika dengan kendaraan umum, carilah angkutan dari pertigaan terminal atau pintu keluar pasar dengan tiket seharga Rp 10.000,- Kendaraan umum beroperasi dari jam 6 pagi sampai 4 sore.

Setelah sampai Pelabuhan Tanjung Saronggi, carilah kapal yang akan menuju ke Gili Genting. Harga tiketnya Rp 10.000,- Jam penyeberangan dari jam 6 pagi sampai jam 4 sore.

Jika memutuskan untuk menginap di Gili Genting, ada banyak penginapan yang tersedia di sekitar pantai. Jumlahnya 20 unit. Di dalam penginapan tersedia 2 buah kasur dan sebuah AC. Harga permalamnya Rp 500.000/malam, maksimal isi 8 orang. Jadi kalau datang ber-5, maka per orang kudu mengeluarkan RP 100.000,-

 

***

 

7 Comments - Add Comment

Reply