Kemesraan Kultur Tionghoa dan Jawa Terekam di Lasem

Lasem memang bukan kota besar. Secara administrasi Lasem merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Namun sebagai kota kecamatan, Lasem bisa dibilang masih cukup ramai. Apalagi Lasem merupakan kota kedua teramai setelah Rembang, ibukotanya. Selain itu, Lasem menawarkan beragam pilihan destinasi wisata. Mulai dari wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata batik, dan sebagainya.

Lasem terletak di daerah Rembang, kira-kira 110 km di sebelah timur Semarang, di pantai utara Jawa. Pusat kota Lasem ada di sepanjang pantura yang menghubungkan sekitar dua puluh desa. Kota ini menghadap ke laut di sebelah utara dan membelakangi hutan jati di selatan. Di barat berdiri Gunung Argopuro dan di timur merupakan daerah persawahan yang membentang luas.

Gapura pintu masuk kawasan wisata batik lasem
Gapura pintu masuk kawasan wisata batik Lasem

Apa yang paling menarik dari Lasem? Jawabannya bisa beda-beda. Tapi bagi saya, kemesraan hubungan antara masyarakat keturunan Tionghoa dan Jawa-lah yang membuat saya tertarik untuk mengunjungi Kota Lasem.

Saya datang di kota yang mendapat julukan “Tiongkok Kecil” ini bertepatan dengan perayaan Imlek di kota itu. Dari Semarang saya berangkat jam 7 pagi. Tapi karena saya sempat melipir kesana-kemari, termasuk ke Benteng Portugis Jepara, masih ditambah nyasar-nyasar pula, maka saya sampai kota Lasem sekitar jam 7 malam. Lampu-lampu di jalan-jalan besar sudah mulai menyala. Beberapa penjual makanan mulai menawarkan dagangannya. Sebenarnya saya tertarik untuk mencicipi jajanan itu, namun karena lelah saya buru-buru ke hotel untuk beristirahat, agar besok pagi saya bisa mengeksplor kota Lasem dengan badan yang lebih segar.

Baca juga: Tuyuhan dan Srepeh, ikon kuliner Rembang

 

Pecinan Lasem Riwayatmu Kini

Keesokan paginya, setelah saya sarapan di Pusat Kuliner Tuyuhan, saya langsung menuju kawasan pecinan. Pecinan ini sangat menarik minat saya, karena dulunya Lasem Lasem ini menjadi tempat tujuan utama imigran Tionghoa. Lasem, yang dulunya disebut ‘Lao Sam’, merupakan salah satu dari tiga tempat terbesar berkembangnya imirgan Tionghoa di Pulau Jawa pada sekitar abad ke 14-15. Sehingga sampai sekarang ini, pecinan dan segala atributnya (arsitektur tempat tinggal dan klenteng) mewarnai wajah kota Lasem.

Klenteng Ghie Yong Bio Lasem, Rembang
Beragam satu ornamen di dalam Klenteng Ghie Yong Bio

Memang belum ada informasi yang dapat menjelaskan secara pasti dari mana orang Tionghoa Lasem berasal. Ada yang menyebutnya dari Fukien, Kwangtung, Kwangsi, Kiangsi, dan lainnya. Belum ada juga informasi yang akurat sejak kapan mereka pertama kali mendarat dan hidup di Lasem. Yang jelas mereka datang dalam periode waktu yang berbeda.

Mereka datang karena ingin membeli padi dari pribumi dan membawa porselen dan kain yang dijualnya ke pribumi. Lalu secara bertahap mereka membeli tanah persawahan sambil mempekerjakan pribumi, membangun rumah permanen dan sebagian lagi dari mereka ada yang menikah dengan warga pribumi.

Lasem memiliki jumlah penduduk sekira 48 jiwa (2005) dimana 11%-nya adalah keturunan Tionghoa. Meskipun jumlahnya cukup besar, namun Lasem tidak mudah tersulut peristiwa tragedi antar etnik yang beberapa kali melanda Indonesia. Penyebabnya bisa macam-macam. Bisa jadi karena memang warga etnik Tiongkok yang tak ingin kelihatan lebih menonjol dan lebih memilih untuk membaur dengan warga pribumi. Atau bisa juga karena mereka berdua punya sejarah panjang saling berkolaborasi untuk mengusir penjajah dari bumi mereka berpijak. Atau bisa karena alasan lainnya.

Ornamen naga di Lasem, Rembang
Ornamen naga di atas atap yang memiliki makna simbolik tertentu

Pecinan merupakan sebutan bagi kawasan pemukiman masyarakat Tionghoa (Tiongkok) dengan ciri khas budaya dan tradisi dari negara asal mereka. Bangsa Tionghoa yang datang ke Lasem berasal dari berbagai suku. Namun, jika dilihat dari tata cara ibadah dan dewa-dewi yang dimuliakan di klenteng-klenteng Lasem, maka diperkirakan sebagaian besar mereka berasal Zhangzhou, Fujian (Hokkian).

Warga di Pecinan Lasem pernah mendapat ujian berat ketika masa Orde Baru. Ketika itu, pemerintahan Soeharto menginginkan warga Tionghoa berasimilasi. Mereka harus mengasimilasi dirinya ke dalam budaya pribumi. Ditambah ketika Mayor Jenderal Soemitro melanjutkan usaha Soeharto. Bahkan tahun 1967 ia mengeluarkan pernyataan resmi bahwa klenteng juga tidak bisa diterima. Juga semua peninggalan Tionghoa yang didekorasikan dengan gambar bercorak Tionghoa. Pernyataan tersebut dianggap senagai titik awal penghapusan identitas Tionghoa dan keberadaannya dalam sejarah Indonesia. Belum lagi peristiwa kerusahan di tahun 1998.

Upaya penghapusan identitas itu ternyata tak dapat menghapus keharmonisan hubungan antara Jawa dan Tionghoa. Buktinya, ketika menyambut perayaan Imlek di Lasem, tak hanya warga keturunan Tionghoa saja yang menghadirinya namun juga elemen masyarakat dari golongan lain turut memeriahkan. Kaum santri dan masyarakat Jawa berbaur menyemarakkan Tahun Baru warga Tionghoa itu. Inilah bukti nyata tentang toleransi yang merupakan warisan nenek moyang kita.  Arak-arakan tahunan dri klenteng Jejak kehidupan mereka masih bisa kita temukan sekarang ini, salah satunya di daerah pecinan.

Lalu, kapan sih sebenarnya bangsa Tionghoa datang ke Lasem dan apa saja alasannya?

Sekali lagi, belum ada yang data yang dapat menjawab akurat.

Yang pasti, bangsa Tionghoa mulai menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan di pesisir Indonesia sejak awal abad V Masehi. Kerajaan-kerajaan yang berada di pesisir Indonesia, antara lain: Jakarta, Banten, Tuban, Lasem, dan lain-lain. Lokasi Lasem memang cukup strategis untuk dijadikan sebagai kota pelabuhan dan perdagangan.

Gie Yong Bio Lasem
Salah satu bukti Jawa dan Tionghoa saling membahu mengusir penjajah

Pada tahun 1351, Lasem diperintah oleh Bhre Lasem (Dewi Indu) di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Pada saat itu, Radjasa Wardhana, suami Bhre Lasem, adalah seorang Dampo Awang (petinggi angkatan laut) sekaligus juga seorang saudagar besar yang menjalin relasi dagang dengan bangsa Tionghoa.

Sekitar tahun 1382, pemerintahan Lasem beralih ke putra Bhre Lasem yang bernama Badra Wardhana. Pada periode itu, seorang saudagar sekaligus pujangga asal Campa, Bi Nang Un (Binangun), berniat menetap di Lasem untuk menyebarkan agama Islam. Ia datang bersama rombongan Laksamana Cheng Ho yang bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan Hayam Wuruk, penguasa Kerajaan Majapahit. Dari tujuh kali pelayarannya ke Indonesia, Cheng Ho melakukan enam kali pelayaran ke Jawa.

Baca juga: Pesona 11 klenteng di Kampung Pecinan Semarang

Pada tahun 1679, Lasem melawan serangan VOC yang ingin mendapatkan monopoli perdagangan dipesisir pantai utara Jawa. Terjadilan peperangan yang panjang dan berlarut, dimana peperangan itu menimbulkan kebencian warga Lasem (warga Pribumi maupun Tionghoa telah membaur) terhadap Belanda maupun Mataram sebagai penguasa boneka Belanda.

Pada tahun 1740 , akibat pembantaian orang Tionghoa di Batavia, kurang lebih 1.000 orang Tionghoa Batavia lari dan mengungsi di Lasem.

Pada tahun 1741, akibat kerusuhan yang menyebabkan jatuhnya Kesultanan Mataram, banyak orang Tionghoa mengungsi ke Lasem. Mereka tidak ragu mengungsi ke Lasem, melihat adipatinya Oey Ing Kiat (keturunan Bi Nang Un) seorang Tionghoa Islam yang sangat mengayomi.

Dari catatan sejarah tadi, terjawab sudah beberapa alasan kenapa warga Tionghoa datang dan kemudian menetap di kota Lasem. Kehadiran mereka, ikut membentuk karakteristik kota tersebut. Menyusuri kawasan Pecinan Lasem, nampak sekali pengaruh budaya Tionghoa yang mendominasi pada banyak sendi kehidupan kota Lasem.

Di sebuah tikungan di Pecinan Lasem, saya melihat bangunan-bangunan tua berusia ratusan tahun yang kebanyakan bernuansa arsitektur khas Tionghoa, meski beberapa ada juga yang bernuansa Eropa klasik. Tak salah jika orang Perancis menyebut Lasem sebagai ‘Le Petit Chinois’ atau Tiongkok Kecil. Atau ada juga yang menyebutnya sebagai ‘The Little Beijing Old Town’.

Wisata ke Klenteng Cu An Kiong Lasem
Simbol kesejahteraan di Klenteng Cu An Kiong

Tidak semua bangunan tua di Pecinan Lasem masih terawat baik. Diantaranya bahkan hanya tersisa sedikit arsitektur asli, karena pelebaran jalan telah membabat habis masa lampau dan menggantinya dengan ruko-ruko yang memberi penampilan identik sama dengan semua kota di Indonesia. Sementara beberapa rumah tua yang masih asli, catnya sudah mengelupas disana sini. Bahkan beberapa bangunan sudah ambruk. Seperti yang saya lihat saat saya bertamu ke rumah Opa Kajarni (Lo Khing Gwan). Ia tinggal bersama istri dan seorang asisten rumah tangga yang telah puluhan tahun menemaninya.

Memasuki bangunan tua peninggalan orang tua Opa Kajarni, juga ngobrol banyak hal dengan opa, saya menemukan kenyataan pahit. Mereka tak lagi bisa mengikuti perayaan dan ritual (termasuk Imlek) dari leluhurnya karena terbentur kondisi ekonomi. Memasak pun, mereka masih menggunakan kayu bakar. Bahkan ketika saya memasuki ruang belakang, terlihat bangunan sumur tua serta ruang dapur yang sudah rubuh. Tak ada biaya untuk renovasi.

Opa Kajarni di Lasem, Rembang
Tulisan Mandarin dari bangunan tua peninggalan orang tua Opa Kajarni

Seharusnya untuk bangunan berusia ratusan tahun yang belum sekalipun dipugar, rumah itu layak mendapat perhatian dari pemerintah dan para pemerhati budaya-purbakala. Sungguh sayang kalau bangunan itu sampai rubuh sia-sia. Apalagi, saya juga menemukan beberapa catatan dengan tulisan Mandarin yang tampaknya perlu digali lebih dalam. Ah, sayang, saya tak paham tulisan Mandarin.

 

Klenteng di Pecinan Lasem

Lampion di lasem
Lampion simbol kebahagiaan dan harapan

Lasem memiliki 3 klenteng, yaitu: Klenteng Cu An Kiong, Klenteng Ghie Yong Bio dan Klenteng Ghie Yong Bio. Ketiga klenteng ini, lokasinya berdekatan dengan Sungai Lasem dan memiliki keunikan masing-masing.

Salah satu elemen penting dalam pembentukan Pecinan adalah klenteng. Keberadaan klenteng merupakan pertanda adanya komunitas masyarakat Tionghoa. Penyebutan nama klenteng sebenarnya hanya terjadi di Indonesia. Entah kenapa bisa disebut demikian. Sebagian peneliti menyebutkan bahwa, sebutan klenteng berasal dari bunyi genta pelengkap ibadah yang berbunyi “klenteng-klenteng.” Pada mulanya istilah asli untuk menyebutkan klenteng adalah kuil. Sedangkan dalam Bahasa Mandarin seringkali klenteng disebut dengan Bio atau Miao.

Setiap klenteng memiliki keunikan masing-masing, tidak ada yang persis sama. Dan meskipun memiliki tujuan yang sama-sama baik, setiap unsur yang ada di sebuah klenteng merupakan simbol dan memiliki makna filosofi tertentu.

Misalnya, meskipun arsitektur atap klenteng merupakan salah satu komponen yang menjadi ciri khas, namun bentuk atap bangunan klenteng yang satu dengan yang lainnya tidak selalu sama. Ada kelenteng yang atapnya dipasang ornament naga, ada yang tidak. Ada klenteng yang atapnya dipasang dua naga yang saling berhadapan, ada juga dua naga yang saling membelakangi. Ada naga yang warnanya hijau, ada pula yang wananya kuning keemasan.

Lalu, bagaimana dengan klenteng-klenteng yang ada di Lasem? Mari kita lihat perbedaan antara Klenteng Cu An Kiong dengan Ghie Yong Bio.

 

Klenteng Cu An Kiong

Klenteng Cu An Kiong Lasem, Rembang
Klenteng Cu An Kiong

Klenteng Cu An Kiong berlokasi di jalan Dasun dan merupakan klenteng terbesar di antara 3 klenteng lainnya di Lasem. Memang belum ada penelitian resmi sejak kapan klenteng ini didirikan, namun selembar peta buatan Belanda di tahun 1500 sudah memasukkan klenteng ini ke dalam peta itu, sehingga diperkirakan klenteng Cu An Kiong sudah didirikan sekitar tahun 1450. Bisa jadi juga usianya lebih tua dari itu. Tak heran, jika beberapa pihak menyebut klenteng dengan arsirektur indah dan meriah ini merupakan klenteng tertua di Jawa.

Saat memasuki halaman parkiran Klenteng Cu An Kiong, saya melihat patung dua penjaga di depan gerbang pintu masuk. Kedua penjaga itu, U Te Kiong dan Cen Siok Po, berdiri gagah seolah menyiratkan keteguhan mereka untuk menjaga klenteng dari gangguan energi negatif. Dari jauh kita juga bisa melihat atap genting yang berujung runcing dengan ornament dua naga yang meski berhadapan tapi saling berjauhan di sisi kiri dan kanan. Di antara dua naga itu, terdapat ornamen hewan unicorn (qilin). Hewan mistik ini sering digambarkan memiliki kepala naga, berbadan rusa, dan ekor mirip harimau. Bagi warga Tionghoa, hewan ini melambangkan nasib baik, kebesaran hati, panjang umur serta kebijaksanaan.

Selain itu, pintu gerbang klenteng juga dilengkapi dengan patung dua singa berwarna kuning dan dua naga berwarna hijau yang saling berhadapan sambil mengapit bola api. Di tembok pintu gerbang, juga terukir beberapa relief hewan seperti gajah dan kuda.

The Investiture of The Gods di Klenteng Cu An Kiong
The Investiture of The Gods di Klenteng Cu An Kiong

Dari beragam ornamen yang disematkan di pintu gerbang ini, kira-kira kita bisa membaca simbol-simbol yang ingin disampaikan. Misalnya, warna kuning melambangkan keseimbangan, warna hijau melambangkan pertumbuhan dan perkembangan. Sedangkan ornamen singa melambangkan kejujuran hati, gajah melambangkan kebijaksanaan, sedangkan dua ekor naga yang sedang bermain bola api, melambangkan pembawa pesan dari langit ke bumi dan pembawa hujan bagi para petani.

Semakin memasuki ruang dalam bangunan klenteng Cu An Kiong, semakin beragam warna, simbol-simbol dan ornamen yang disematkan. Ada yang dipasang d meja persembahan, di pintu-pintu, di balok atau pilar penyangga bangunan. Yang paling unik menurut saya, di dekat pintu ruang utama terdapat lukisan yang terbagi-bagi dalam kotak panel semacam storyboard.

Lukisan itu berjumlah sekitar limapuluh kotak panel dan setiap kotak berisi satu adegan. Lukisan-lukisan yang menghiasi dinding hingga ke langit-langit itu mengisahkan tentang negara yang bernama Fengshen Yanyi (The Investiture of The Gods). Sayang, tak seorangpun mengetahui apa makna dari masing-masing adegan di lukisan itu.

 

Klenteng Ghie Yong Bio

Klenteng Ghie Yong Bio Lasem, Rembang
Pintu Gerbang Klenteng Ghie Yong Bio

Klenteng Ghie Young Bio sering juga disebut dengan Temple of The Valiant Men. Untuk masuk ke klenteng Ghie Yong Bio yang berlokasi di jalan Babagan ini, terlebih dahulu kita akan melewati gapura besar bertuliskan ‘Kampung Batik Tulis Lasem’. Batik dari Lasem sering disebut Laseman.

Tak bisa dipungkiri Lasem memang merupakan sentra batik tulis yang unik. Dari segi warna, merah darah ayam, merupakan warna khas Lasem yang tidak bisa ditiru daerah lain. Dari segi motif, berawal dari tangan dan talenta seorang keturunan Tionghoa.

Melalui tangannya, ia memadukan budaya Tionghoa dengan Jawa. Hal itu ditunjukkan lewat motif naga, bunga seruni, yang dipadu dengan motif parang dan kawung dari Solo atau Yogyakarta. Saya sempat melihat-lihat koleksi batik ini di sebuah rumah yang berlokasi dekat jalan buntu. Bukan toko-toko yang ada di lokasi sepanjang jalan, melainkan agak tersembunyi. Koleksi batiknya keren-keren, harga terjangkau pula.

Puas melihat koleksi batik tulis, saya segera melangkahkan kaki ke Klenteng Ghie Yong Bio. Di luar pagar sudah terparkir sebuah bus pariwisata, entah dari rombongan mana. Memasuki pagar, terlihat bangunan klenteng yang berukuran kecil. Di bagian atapnya, tak terlihat ornamen dua naga seperti yang terdapat di Klenteng Cu An Kiong. Atapnya bersih dari ornamen, hanya di ujung-ujung lancipnya didominasi warna merah dan kuning. Di bangunan gapura masuk klenteng, ornamennya juga tidak terlalu meriah. Hanya ada dua singa dicat warna hijau. Lalu di bagian atas gapura, disematkan patung sepasang dewa yang ukurannya kecil, di sebelah kanan dan kiri. Di dalam ruangan, saya juga melihat lukisan dinding yang mirip saya temui di Klenteng Cu An Kiong. Tapi tampak lebih kusam.

Klenteng Ghie Yong Bio ini, sesungguhnya sarat dengan nilai sejarah. Meskipun dewa utamanya Hok Tik Tjeng Sien (Dewa Bumi), namun altar utamanya diisi kimsin (patung dewa) Oey Ing Kiat (Raden Ngabehi Widyadiningrat) dan Tan Kee Wie (pendekar kungfu dan pengusaha Lasem). Sementara, di ruangan sebelah kanan ruang utama, terdapat altar persembahan berisi kimsin Raden Panji Margono. Berhubung orang Jawa, Raden Margono dipakaikan baju khas Jawa (beskap dan blangkon), bukan baju kebesaran Tionghoa. Di hadapannya, tertancap beberapa batang hio yang habis dibakar. Pertanda, sampai detik ini masih banyak warga yang mendoakan dan memuliakan Raden Margono. Dan bahkan, setiap perayaan hari besar, kimsin Margono juga disembahyangi bersama kimsin yang lain.

Kimsin Raden Panji Margono
Kimsin Raden Panji Margono

Nah, lalu siapakah ketiga tokoh itu? Kok masyarakat Lasem beramai-ramai sepakat untuk mendirikan Klenteng Ghie Yong Bio di tahun 1780 demi menghormati mereka?

Raden Panji Margono, adalah putra Adipati Lasem, Prabu Tejakusuma V. Ketika ayahnya mengundurkan diri, Margono menolak untuk menggantikan. Dia lebih memilih menjadi orang biasa. Jabatan itu akhirnya diberikan kepada sahabatnya, Oey Ing Kiat.

Oey Ing Kiat, adalah keturunan dari Bi Nang Un, salah seorang juru mudi armada Laksamana Ceng Ho yang mendarat di Bonang, Lasem. Setelah dilantik oleh Sunan Pakubuwono II, Oey Ing Kiat kemudian bergelar Raden Ngabehi Widyaningrat.

Tan Kee Wie, adalah pengusaha tambak ikan dan ubin yang kaya raya dan tidak pelit kepada fakir miskin. Sekaligus dia juga seorang pendekar dan guru kungfu kota Lasem.

Diawali dari perang Lasen melawan Belanda yang ingin memonopoli perdagangan di tahun 1679, lalu dipicu dengan peristiwa Perang Kuning di tahun 1740 yang terjadi di Batavia, mereka bertiga makin sering bertemu membicarakan dan mengatur strategi bagaimana mengalahkan penjajahan Belanda. Mereka membagi teritori penyerangan. Kelompok penyerang dari laut dipimpin oleh Tan Kee Wie dan kelompok penyerang dari darat dipimpin oleh Raden Panji Margono dan Raden Ngabehi Widyaningrat.

Tan Kee Wie, gugur di tengah laut saat akan menyerang Belanda di Jepara di tahun 1742. Saat melewati selat antara Pulau Mandalika dan Ujungwatu, kapalnya ditembaki meriam Belanda dari dua sisi, sampai kapalnya pecah.

Raden Panji Margono, gugur di Karangpace tahun 1750 saat memimpin pertempuran melawan Belanda dari jarak dekat, satu lawan satu. Lambung kiriya terluka oleh pedang, sehingga sebagian ususnya keluar. Dia sempat dibawa mundur dan dirawat oleh pengawal pribadinya Ki Galiya dan Ki Mursada sampai akhirnya meninggal dunia.

Oey Ing Kiat, gugur di tahun 1750 saat menghadang tentara Belanda dari Jepara menyusup dari laut. Berita tentang meninggalnya Raden Margono, sempat membuat emosinya tak terkendali sehingga hilang kewaspadaan. Dengan membawa pedang pusaka dia nekad menyusup ke baris depan medan perang. Memang, banyak prajurit yang tewas di tangannya, namun sebuah peluru berhasil mengakhiri perjuangannya. Setelah dadanya tertembak, dia ambruk menghembuskan nafas terakhir.

Jelaslah kini, kenapa ketiga tokoh pahlawan itu sangat dihormati dan dimuliakan warga Lasem. Tanpa melihat perbedaan latar belakang suku, agama maupun etnis, ketiganya mengangkat senjata untuk melawan penjajahan Belanda di Pantai Timur sepanjang tahun 1742 – 1750.

Jika ada yang mengatakan bepergian atau traveling akan merubah cara kita melihat dan memandang atas sesuatu hal, saya termasuk yang menyepakatinya. Mengunjungi Lasem, khususnya di kawasan Pecinan, membuat saya menyadari beberapa hal. Bahwa, penghancuran candi-candi peninggalan kerajaan Majapahit di Lasem merupakan perintah dari pihak Belanda yang sempat membuat warga setempat marah besar. Dan bahwa, perbedaan latar belakang tidak pernah menghalangi kita untuk meraih suatu tujuan, yaitu kemuliaan sesama manusia. Dan yang paling penting, kota kecil Lasem, sesungguhnya memiliki pesona wisata tersendiri. Jika ditangani lebih baik dan serius, bisa menjadi tujuan destinasi wisata yang potensial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*