Sumenep, Kepingan Puzzle Kerajaan Majapahit yang Terlupakan

Secuil Kisah Tentang Arya Wiraraja dan Kerajaan Majapahit

Siapa tuh Arya Wiraraja? Mungkin ada yang nanya begitu. Wajar sih, kalau masih ada yang belum terlalu kenal. Karena dari beberapa buku yang menceritakan sejarah Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit yang fenomenal itu, kisah hidup dan sepak terjang Arya Wiraraja hanya dikasih porsi sedikit saja. Beberapa malah ada yang menceritakan kisahnya dengan nada negatif.

Kalau merujuk pada Babad Bali, Arya Wiraraja yang juga dikenal dengan nama Banyak Wide ini merupakan putera pertama dari Manik Angkeran dengan Ni Luh Warsiki, yang berasal dari Besakih, Bali. Dia merantau ke Jawa karena ingin menemui kakeknya dan tak ingin hubungan kekeluargaannya terputus begitu saja. Sesampai di Jawa, ia diangkat anak oleh Empu Sedah, pujangga dan sekaligus penasehat Raja Jayabaya. Tak heran, jika kemudian Wiraraja menjadi akrab dengan lingkungan kerajaan.

Tentang Arya Wiraraja dan kaitan dengan Kerajaan Majapahit
Dari Buku Prof. Dr. Slamet Muljana

Tak sedikit yang memberi julukan Arya Wiraraja sebagai aktor intelektualis pemberontakan, meski demikian saya melihatnya sebagai sosok yang baik hati. Memang, dia sempat sakit hati saat Kertanegara, Raja Singasari, menurunkan jabatannya dari Penasehat Kerajaan menjadi ‘hanya’ seorang adipati di Sumenep, Madura (tahun 1269 M). Namun meski sakit hati, tatkala Raden Wijaya, menantu Raja Singasari, datang ke Sumenep untuk minta bantuan, Arya Wiraraja tetap memberikan layanan istimewa sekelas tamu kerajaan. Padahal sebenarnya, ia bisa saja memberikan jamuan sekedarnya, mengingat saat itu Kerajaan Singasari sudah hancur lebur dihabisi Jayakatwang dari Kerajaan Kediri. Itu yang pertama.

Lalu yang kedua. Saat Raden Wijaya meminta bantuan untuk merebut kembali Kerajaan Singasari dari tangan Jayakatwang, Arya Wiraraja tak menolak. Tanpa ragu, dia menunjuk anaknya, Ranggalawe, sebagai pemimpin untuk membuka Hutan Tarik. Hutan yang sekarang berlokasi di Sidoarjo inilah yang nantinya merupakan cikal bakal lahirnya Kerajaan Majapahit. Sementara dia sendiri, di Madura sibuk melatih para tentara agar siap menghadapi kekuatan tentara Jayakatwang.

Kereta Tunggangan Arya Wiraraja
Kereta Tunggangan Arya Wiraraja

Setelah akhirnya Raden Wijaya berhasil mengalahkan musuh dan kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit, Arya Wiraraja tetap bersedia menjadi bawahannya. Padahal, Sang Prabu sudah menjanjikan kalau ia berhasil, maka akan dibaginya Kerajaan Majapahit menjadi dua. Separo untuknya, dan separonya lagi untuk Arya Wiraraja. Mantan adipati yang kemudian diberi kekuasaan di Tuban itu, tak pernah sekalipun berniat menagih janjinya. Sampai ketika anaknya, Ranggalawe, tewas dibunuh Kebo Anabrang atas perintah Raden Wijaya. Saat itulah ia menjadi gusar dan mulai menagih janji. Dan Raden Wijaya menepati janji, membagi kerajaan menjadi dua wilayah, yaitu: Barat dan Timur. Barat untuk dia, Timur untuk Arya Wirawaja. Wilayah Kerajaan Barat meliputi: Singosari, Kediri, Gelang-gelang (Ponorogo) dan Wengker, sementara wilayah Kerajaan Timur, meliputi: Lumajang, Panarukan, Blambangan, Madura dan Bali. Arya Wiraraja dinobatkan menjadi raja di Majapahit yang beribukota di Lumajang (Lumajang Tigang Juru) pada tanggal 26 Agustus 1294.

Akhirnya Meraba Sumenep

“Hanya karena secuil kisah Arya WIraraja saja, sudah bisa mendorongmu datang ke Sumenep?” tanya seorang kawan.

Saya menjawabnya dengan kernyitan dahi. Pertanyaan macam mana itu? Pertanyaan yang aneh. Bagaimana bisa saya tidak tertarik coba? Di sinilah, di Sumenep ini, lokasi yang dipilih Raden Wijaya, raja pertama Kerajaan Majapahit, untuk mengungsi saat diserang Jayakatwang. Di sinilah, Arya Wiraraja melatih bala tentaranya agar bisa mengalahkan Jayakatwang, musuh Raden Wijaya. Selain itu, atas komando Ranggalawe, putera Arya WIraraja, warga Sumenep berhasil membuka Hutan Tarik, cikal bakal Kerajaan Majapahit. Sehingga tidak terlalu berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa tanpa Sumenep, belum tentu ada Kerajaan Majapahit yang fenomenal itu.

Kantor Disbudparpora Sumenep
Kantor Disbudparpora. Dulunya Gedong Negeri, digunakan Belanda untuk mengawasi gerak-gerik keluarga keraton

Baca juga: Terpukau Keindahan Bukit Kapur Batuputih Sumenep

Setelah menyeberangi Jembatan Suramadu, lalu melewati Bangkalan, Sampang dan Pamekesan, akhirnya saya sampai juga di Sumenep. Tak begitu padat kendaraan bermotor yang beradu di jalan raya. Tak ada gedung-gedung yang menjulang tinggi. Bahkan mal-pun baru ada satu. Hotel yang bertingkat-tingkat juga belum ada. Bioskop juga taka da. Ya, Sumenep memang bukan kota besar. Meskipun begitu, Sumenep yang berada diujung timur Pulau Madura ini terhitung unik. Wilayahnya terdiri dari daratan dengan pulau yang tersebar yang jumlahnya 126 pulau. Kekayaan alamnya, sungguh tak ternilai. Mulai dari ladang garam, perikanan, gas alam, minyak, sampai ke pariwisata bahari.

Saat malam tiba, meskipun tubuh ini protes minta istirahat, tapi saya tetap memaksakan diri untuk menikmati suasana malam di pusat kota Sumenep. Setelah menghabiskan 10 tusuk sate di pusat kuliner Jalan Seludang, saya segera mengintip keramaian di alun-alun yang dikenal dengan sebutan Taman Bunga. Banyak bis-bis pariwisata yang parkir di sekitar lokasi itu. Jangan ditanya gimana ramainya. Pecah deh pokoknya. Di dekat alun-alun situ, berdiri sebuah bangunan yang ikonik banget, yaitu Masjid Agung Sumenep. Sayang, saat itu sedang ada perbaikan, sehingga saya tak bisa memasukinya. Dari alun-alun saya pindah ke lokasi yang ada di depan Keraton Sumenep. Lokasi tempat kumpul-kumpul juga. Banyak anak muda berkumpul di situ. Mereka ngobrol-ngobrol santai sambil duduk-duduk di tikar dan menyeruput kopi.

Masjid Agung Sumenep
Masjid Agung yang saat itu tengah diperbaiki 🙁

Saya menikmati suasana malam dan obrolan dengan dua teman saya yang aseli warga Sumenep. Sembari terlibat pembicaraan, saya mencoba membayangkan situasi saat awal-awal Arya Wiraraja berada di kota ini. Tentu saja kondisinya jauh berbeda dari yang sekarang. Karena di masa sebelum abad XIII, wilayah Sumenep ini masih tergenang oleh air laut (rawa-rawa). Baru setelah terjadi proses pengeringan rawa-rawa, daerah ini bisa mulai dihuni. Jadi sebenarnya wilayah Sumenep ini, dulunya terdiri dari tanah bekas endapan rawa. Tak heran jika kemudian dinamakan Songennep (yang nantinya diganti menjadi Sumenep di era pemerintahan Belanda) yang berarti lembah bekas endapan yang tenang.

Menyusuri Jejak Sejarah

Flexible adalah kunci penting dalam setiap perjalanan saya. Flexible dalam hal apapun. Termasuk dalam hal tujuan. Tujuan awalnya saya datang ke Sumenep, memang ingin menyusuri jejak peninggalan Arya Wiraraja. Tapi saat itu, tampaknya tidak memungkinkan. Situs dan peninggalan sejarah yang saya temui lebih banyak yang berasal dari abad sekitar XVI-XVII dan seterusnya. Meskipun sempat juga saya melihat arca-arca di belakang Gedung Koneng, Keraton Sumenep. Tapi tak ada penjelasan apa-apa di situ. Tak ada nama, tak ada tahun. Hanya Mas Faik (historian Sumenep) yang beberapa kali menyebut bahwa Sumenep ada hubungannya dengan Kerajaan Singashari dan Kerajaan Majapahit.

Bersama sejarahwan dari Sumenep. Di depan pintu masuk Asta Tinggi sisi Barat

Sekarang ini Sumenep dipimpin oleh seorang bupati. Tapi pertama kali dulu, Sumenep dipimpin oleh seorang adipati yang bernama Arya Wiraraja. Dimana tanggal pelantikannya, 31 Oktober 1296 M, dijadikan dasar penetapan hari jadi Kabupaten Sumenep. Sehingga tahun 2018 ini, Sumenep akan berusia 749 tahun. Selain itu, sepanjang sejarah, Sumenep menjadi pusat kerajaan di Madura. Tercatat ada lebih dari 35 raja yang pernah memimpin kerajaan Sumenep. Peninggalan kerajaan tersebut masih dapat dilihat hingga saat ini. Salah satunya, bisa kita lihat di Keraton Sumenep.

Museum Keraton Sumenep

Saya cukup lega dan bahagia, karena pas saya datang ke sini, pas bebarengan dengan siswa-siswi yang juga sedang berkunjung ke museum ini. Banyak sekali bus-bus wisata yang parkir di sekitar lokasi museum. Ada yang dari Bogor, ada yang dari Tangerang dan masih banyak lagi lainnya. Sehingga, saya harus berdesak-desakan dengan siswa-siswi itu. Sudah pasti foto-foto gak ada yang maksimal. Baru mau foto kereta, eh sudah datang orang silih berganti. Tapi gak pa-pa. Gak pa-pa saya gak bisa selfi-selfian dengan maksimal, selama makin banyak orang yang berminat mengunjungi tempat-tempat bersejarah.

Museum Keraton Sumenep
Berdesak-desakan di Museum Keraton Sumenep

Sejatinya, Museum Keraton Sumenep ini merupakan sebuah komplek bangunan yang terdiri dari beberapa gedung. Ada gedung 1, gedung 2, dan seterusnya. Lokasinya di Jalan Dr. Soetomo No. 6 Pajagalan, Sumenep. Karenanya, ada juga yang menyebut Keraton Pejagalan. Dulunya, bangunan gedung ini merupakan kediaman resmi adipati/raja yang berkuasa saat itu. Namun setelah dijadikan museum, bangunan ini digunakan untuk menyimpan benda-benda bersejarah. Meskipun, kebanyakan benda bersejarah yang ada merupakan peninggalan Sultan Abdul Rachman, yang memimpin Sumenep mulai tahun 1812-1854.

Museum ini memiliki 480 koleksi yang digolongkan ke dalam beberapa jenis. Misalnya koleksi keramik yang terdiri dari: mangkok dari China, jambangan, piring, tempat nasi, guci, gentong, dan lain-lain. Atau koleksi alat kesenian, seperti: gendang, ketipung, rebana wayang, topeng, dan lain-lain. Dari sekian koleksi itu, yang paling menarik perhatian saya adalah dua hadiah yang diberikan oleh Stanford Raffles kepada Sultan Abdurrachman. Bentuk kedua hadiah tersebut adalah sebuah kereta kencana dan sebuah cermin yang besar (tingginya sekitar 3 meter). Kita tahu, Sultan yang memang menguasai 7 bahasa itu ikut membantu Raffles menterjemahkan tulisan-tulisan kuno sekaligus menjadi kontributor dalam buku “History of Java.” Kedua peninggalan bersejarah tadi juga dapat menggambarkan keakraban yang tejalin antara wakil Kerajaan Inggris, Letnan Gubernur Jenderal Raffles dengan penguasa Sumenep saat itu, Sultan Abdurrachman.

Kereta Kencana Sultan Abdurrachman Sumenep
Kereta Kencana hadiah dari Kerajaan Inggris untuk Sultan Abdurrachman

Satu bangunan sejarah yang tak boleh terlewati saat berkunjung ke Museum Keraton Sumenep adalah sebuah bangunan pintu gerbang ber-cat kuning, yang sekaligus merupakan pintu masuk ke keraton. Nama pintu itu Labang Mesem. Di bagian atas pintu itu terdapat sebuah loteng yang dulunya digunakan untuk memantau segala aktifitas yang berlangsung dalam lingkungan keraton. Ada banyak versi tentang asal-usul nama Labang Mesem ini. Tapi mengingat kalau di Bahasa Indonesia-kan artinya Pintu Tersenyum, maka akhirnya disimpulkan bahwa Labang Mesem itu merupakan symbol atas sikap ramah-tamah dan penuh senyum dari para raja dan selurug penghuni keraton dalam menerima tamu.

Gapura Labhang Mesem
Wajib senyum di depan pintu Gapura Labhang Mesem

Hal lain yang menarik perhatian saya di Museum Keraton adalah sebentuk lambang yang menempel di dinding museum. Lambang Kerajaan Sumenep. Lambang itu terdiri dari banyak symbol, antara lain: mahkota kerajaan (yang paling atas), naga berwarna kuning (sebelah kiri), kuda berwarna biru (sebelah kanan), prajurit yang memegang senjata dan paling bawah symbol bunga. Entahlah symbol itu dibuat tahun berapa. Yang jelas, salah satu simbolnya, kuda berwarna biru, menceritakan dari keberadaan Joko Tole atau Pangeran Secodinigrat, Raja Sumenep ke 13, yang memerintah dari tahun 1415-1460. Sedangkan kuda biru itu perlambang dari kuda miliknya, Kuda Panule, yang digunakan sebagai kendaraan untuk berperang melawan Dempo Abeng. Itulah kenapa Joke Tole juga dijuluki sebagai Pangeran Kuda Panule.

Lambang Kerajaan Sumenep
Naga dan Kuda. Lambang Kerajaan Sumenep

Baca juga: Pesona Cemara Udang di Pantai Lombang

Asta Tinggi, Pesarean Raja-raja

Sekitar jam 12 siang saya sampai di areal pemakaman ini. Matahari sedang semangat-semangatnya memancarkan teriknya. Anginpun tampaknya sedang malas bertiup. Alhasil, keringat mengucur dengan semena-mena di tubuh saya. Refleks tangan saya sibuk mengaduk-aduk tas, mencari tissue. “Tissue sepuluh ribu… sepuluh ribu!!” Kencang sekali penjual tissue itu menawarkan dagangannya. Begitu saya memberi kode tak berniat beli, ia langsung ganti haluan mendatangi wisatawan lainnya.

Asta Tinggi yang berlokasi di puncak bukit tak jauh dari pusat kota. Karena itulah permakaman ini diberi nama Asta Tinggi. Asta berarti makam, sedangkan Tinggi bisa jadi maknanya berada di lokasi yang tinggi (bukit). Namun Asta Tinggi bisa juga dimaknai sebagai makamnya para petinggi keraton. Meskipun termasuk area pemakaman, namun banyak yang menjadikannya sebagai pilihan destinasi wisata. Jarang banget pemakaman ini sepi dari pengunjug. Apalagi saat itu saya datang di hari Minggu. Parkiran penuh. Hampir tak muat menampung bus, mobil pribadi, maupun motor yang ada. Banyak wisatawan dari luar kota Sumenep yang berkunjung ke sini. Banyak juga warung-warung yang didirikan di sekitar lokasi ini. Pedagang kaki limapun tak mau kalah. Mereka juga berlomba menggelar dagangannya. Sudah barang tentu, kondisi yang demikian ini menjauhkan pemakaman raja-raja tersebut dari kesan sacral, karismatik dan hening. Namun kondisi ini segera berubah 180°, aura kharismatik langsung terasa ketika kaki mulai menginjak halaman Asta Tinggi.

Kubah Panembahan Sumolo Sumenep
Kubah Panembahan Sumolo

Secara garis besar, kompleks pemakaman yang luasnya sekitar 1,2 hektar ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu: sisi barat (kiri) dan sisi timur (kanan). Masing-masing sisi memiliki beberapa perbadaan corak dan karekter yang cukup menonjol. Untuk komplek makam sisi barat (kiri), pola bangunannya berlanggam Jawa Mataram dengan 3 kubah di dalamnya. Dan di kompleks ini ada makam Pangeran Anggadipa, Pangeran Jimat, Bindara Saod, dan beberapa raja lainnya. Sementara kompleks makam sisi timur (kanan), merupakan perpaduan antara gaya Arab, China, Eropa dan Jawa, dengan 1 kubah di dalamnya. Di kompleks ini terdapat makam makam Panembahan Sumala Asirudin dan Sultan Abdur Rahman.

Saya pribadi terkesan dengan gapura yang ada di komplek sisi timur. Kesannya tuh megah banget. Berada di depa gapura itu, seolah saya sedang tidak berada di Sumenep, melainkan di Eropa. Bayangkan gapura yang tingginya sekitar 10 meter itu, di puncaknya dihiasi 5 piala yang berjejer dan terhubung dengan rantai. Satu piala besar berada di tengah diapit empat piala kecil di sisi kanan dan kiri. Arsitekturnya menggabungkan gaya Eropa, Arab, China dan Jawa.

Gapura Asta Tinggi
Di depan gapura Asta Tinggi sisi Timur

Tak jauh dari gapura ada prasasti bertulis huruf Jawa dan Arab. Berbagai perpaduan unsur asing dan luar yang terdapat di Asta Tinggi ini menunjukkan bahwa Kerajaan Sumemenep, di masa lalu sangat terbuka pada akulturasi berbagai budaya. Keterbukaan dan kesediaan menerima perbedaan-perbedaan tersebut menjadikan Sumenep di masa lalu mampu tampil sebagai salah satu kerajaan terpenting di Nusantara. Ini yang kemudian membuat saya berpikir ulang. Jangan-jangan dulu Arya Wiraraja tidak ‘dibuang’ ke Sumenep oleh Kertanegara, Raja Singashari. Melainkan sengaja dijadikan adipati demi tujuan yang lebih mulia. Jangan-jangan…

 

oOo

6 comments

  1. Sejak sekitar dua tahun yang lalu, Sumenep masuk ke daftar tempat-tempat yang paling ingin saya datangi di Indonesia. Kenapa baru dua tahun yang lalu? Entahlah. Tapi saya bersyukur ketemu beberapa artikel maupun buku menarik yang akhirnya membuka mata saya mengenai Sumenep. Mbak Astin ke sananya pas lagi bulan apakah? Sepertinya mataharinya gak main-main ya mbak… keliatan panas banget!

    1. iya Sumenep itu sebenarnya menarik untuk didatangi. Laut ada, budaya banyak. Eh sekarang udah ada bandaranya, jadi lebih gampang kan? kalau naik bis, lamaaaaaa… 😀 😀
      Emang mataharinya sniff2 banget… hadeuuhh… klo pengin kesananya ingin wisata budaya, ya kapan aja bisa. atau pas lagi musim ujan, jadi gak panas. tapi klo pengin liat keindahan lautnya, nyelem juga, ya pas2 musim panas gitu, paling pas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*