Tour Ke Museum Lokananta, Studio Rekaman Tertua di Indonesia

“Jangan lupa mampir ke Museum Lokananta!” teriak seorang teman setiap aku main ke Solo. Dan setiap kali pula anjuran itu kuabaikan.

Bukannya kenapa-kenapa, tapi memang belum tertarik aja sih. Rasanya baru ‘kemarin’ saya terlepas dari studio rekaman, meskipun faktanya sudah berpuluh tahun aku gak lagi pegang peralatan mixer dan sebangsanya itu.

Menjadi penyiar radio di era 90-an membuatku akrab dengan studio rekaman. Mengingat selain kudu menguasai peralatan siaran live, juga harus menguasai peralatan di studio rekaman. Tidak semua program acara radio disiarkan secara live, beberapa program radio disiarkan melalui proses rekaman lebih dulu. Seperti misalnya program tangga lagu yang kupegang dulu.

Selain sebagai host acara tangga lagu, aku juga merangkap sebagai produser, penulis script, sekaligus yang mixing. Masih mending mixer-man jaman sekarang yang sudah pakai software, tinggal edit sana-sini di komputer, beres.

Dulu di jaman itu aku pakainya reel-tape. Sudah gitu belum ada mp3. Adanya kaset atau CD. Ribet deh cara kerjanya. Biar aku aja. Hahaha…

Ke sini kalau pengin tahu detil soal reel-tape.

Team udinus di Museum Lokananta
Team Udinus Semarang di Museum Lokananta

Tapi hari itu, bersama rekan satu tim dari Kampus Udinus Semarang meniatkan diri ke Solo untuk berkunjung ke Museum Lokananta karena ada kerjasama yang harus kami bicarakan. Ditemani mas Adi dari bagian Pemasaran, kami diajak mengelilingi bangunan tua bercat putih-biru yang menempati lahan yang luasnya sekitar 2,5 ha.

Mau ngetrip ke Solo? Nginepdi The Garden Suites Solo aja! 

 

Sejarah Lahirnya Lokananta

Lahirnya Lokananta di tahun 50-an menjadi bukti betapa seriusnya pemerintah saat itu terhadap keberadaan musik di Indonesia, baik itu daerah-daerah maupun musik nasional. Bahkan peralatan yang digunakan untuk memproduksi lagu-lagu tersebut terhitung dalam kategori peralatan yang canggih dan mahal di jamannya.

Terbukti, studio rekaman Lokananta memiliki Mixer Trident 80B. Mixer ini hanya ada 2 saja di dunia. Satu milik BBC London, dan satunya lagi milik Lokananta. Keren yhe khaaannn?

Awalnya, Lokananta didirikan untuk memenuhi kebutuhan program siaran RRI yang kemudian disebarkan sebagai bahan siaran ke 27 studio RRI di seluruh Indonesia. Lagu-lagu yang diproduksi Lokananta dalam bentuk piringan hitam. Dan beberapa musisi legendaris yang pernah merekam suaranya di sini, antara lain: Gesang, Waljinah, Jack Lesmana, Bing Slamet, Titiek Puspa, dll.

Area Tengah Lokananta
Area Taman di Lokananta

Meskipun Lokananta semula diinisiasi oleh R. Maladi yang kala itu menjabat sebagai Direktur Jenderal RRI Jakarta, namun studio itu diresmikan oleh Soedibyo, Menteri Penerangan RI di era Soekarno dengan nama “Pabrik Piringan Hitam Lokananta, Jawatan Radio Kementerian Penerangan Republik Indonesia” pada tanggal 29 Oktober 1956 jam 10.00 WIB.

Nama Lokananta sendiri dipilih berdasarkan legenda di masyarakat Jawa yang berarti nama seperangkat alat gamelan yang hanya ada di Suralaya, negeri para dewa di kahyangan.

Gamelan yang diciptakan oleh Dewa Bathara Guru t itu dapat berbunyi melantunkan nada-nada indah dengan suara merdu, meskipun tanpa penabuh atau tanpa ditabuh.

vinyl lokananta
Sebagian koleksi vinyl di Lokananta

Tahun 1961 Lokananta berkembang menjadi label rekaman dan spesifik dengan genre lagu daerah, pertunjukan kesenian, sampai akhirnya dijadikan sebagai penerbit buku dan majalah. Lalu di era 70 dan 80-an dari produksi piringan hitam Lokananta beralih menjadi kaset pita, sampai kemudian eksistensinya mulai redup di tahun 90-an. Sampai akhirnya di tahun 2001-2002 Lokananta resmi dilikuidasi oleh Perum Percetakan Negara Republik Indonesia.

 

Kenapa Harus Ke Lokananta

Bagi pecinta musik, Lokananta merupakan gedung yang wajib dikunjungi saat bertandang ke Solo. Mengingat, tempat ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari industri musik tanah air. Selain musisi legendaris yang pernah merekam suaranya di sini, beberapa musisi muda juga pernah rekaman di sini untuk tujuan menghidupkan kembali gairah bermusik di Lokananta.

Sebutlah nama-nama macam: Efek Rumah Kaca, Slank, Glenn Fredly, Anggun C. Sasmi dll.

Mixer Legend Lokananta
Mixer Trident 80B, hanya ada 2 di dunia

Studio atau yang sekarang lebih pas disebut Museum Lokananta juga menyimpan puluhan ribu koleksi piringan hitam, peralatan rekaman yang langka dan masih berfungsi baik, serta terdapat beberapa peristiwa kenegaraan berhasil diabadikan melalui rekaman piringan hitamasih tersimpan dengan baik.

Seperti misalnya: rekaman pidato Presiden Soekarno saat pembukaan KTT Nonblok Pertama pada tahun 1955 di Bandung; rekaman pembicaraan Presiden Soekarno dan Presiden Vietnam Ho Chi Minh pada tanggal 8 Maret 1959 di Bandara Kemayoran sebelum meninggalkan Indonesia dan masih banyak yang lainnya. albumnya menggunakan merk yang sama.

Laper pas main ke Solo? Cobain warung tengkleng ini deh! 

 

Ngapain Saja di Lokananta Solo

Memang tidak banyak yang dapat kita lakukan selama bertandang ke Lokananta, namun ada beragam aktivitas yang dapat dilakukan, diantaranya:

  1. Mengintip Studio Rekaman

    Di ruangan ini kita bisa melihat langsung keberadaan mixer legend Triden 80B yang memiliki 32 channel. Meskipun beberapa channel nya sudah tidak berfungsi, namun sebagian besar masih dapat berfungsi dengan baik. Di depan ruang mixer yang dipisahkan oleh kaca, terdapat sebuah ruangan yang sangat luas dan bertekstur kayu. Ruangan inilah yang digunakan para musisi untuk rekaman. Entahlah kalau masyarakat awam boleh gak rekaman di sini.

  2. Melongok ruang vinyl

    Ruangan ini menyimpan ribuan piringan hitam yang terdiri dari berbagai genre music, seperti misaln8ya: langgam jawa, keroncong, pop, lagu-lagu daerah, wayang kulit Ki Narto Sabdo, dan sebagainya. Piringan hitam itu sebagain besar sudah tertata rapi, meskipun ada beberapa yang masih berserakan. Konon Pidato Proklamasi juga disimpan di sini.

    Peralatan Produksi Lokananta
    Alat penggandaan kaset yang fenomenal di tahun 80-90
  3. Ruang Peralatan produksi dan penggandaan kaset

    Ruangan ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian ruangan yang satu menyimpan produk-produk buatan Lokananta, seperti: piringan hitam, kaset dan CD. Sementara ruangan yang lainnya menyimpan seperangkat alat produksi dan penggandaan kaset dan CD. Seperti: reel tape, alat pemotong pita, penguat sinyal video, VHS video recorder dll. Di ruangan yang terakhir memamerkan beragam produk karya Lokananta, baik itu piringan hitam, kaset maupun CD.

  4. Ruangan gamelan

    Di ruangan ini tersimpan seperangkat gamelan “Kyai Sri Kuncoro Mulyo.” Gamelan ini dibuat pada tahun 1920 atau di era Pangeran Diponegoro. Gamelan yang berasal dari Priyagung Trah Dalem Yogyakarta, mulai disimpan di Lokananta sejak tanggal 12 Oktober 1984. Gamelan yang masih berfungsi dengan baik ini biasanya digunakan untuk merekam dan mengiringi gending-gending kerawitan.

 

Gimana Cara Mengakses Lokananta?

Museum studio rekaman tertua di Indonesia ini berada di pinggir jalan besar, tepatnya di Jl. Ahmad Yani no. 379, Kerten, Laweyan, Solo. Kalau dari stasiun kereta Purwasari Solo, jaraknya hanya sekitar 2 km saja dari situ.

Museum buka dari hari Senin sampai dengan Jum’at, dari jam 08.00-16.00 WIB. Untuk hari Sabtu dan Minggu serta tanggal merah, pengunjung masih bisa mengakses museum namun tidak seluruh ruangan. Selain itu, tidak ada guide yang menemani, hanya security saja.

gamelan lokananta
Gamelan Kyai Sri Kuncoro Mulyo

Setiap pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp 20.000,- sudah termasuk mendapatkan goodie-bag yang berisi pin, stiker dan panduan singkat Lokananta.

Jika ingin berkunjung secara rombongan (min 30 orang), wajib melakukan reservasi terlebih dahulu minimal seminggu sebelum hari H. Bisa melalui email ke [email protected] atau WA dengan menghubungi Titik di 0813-9360-4593 atau Riska di 0812-1444-4087.

Writer. Lecturer. Travel Blogger. Broadcaster

Related Posts