Kuliner Solo: Drama di Warung Tengkleng Yu Tentrem

“Hallooo… benar ini tengkleng Yu Tentrem? Mbak, pesan untuk 3 orang masih ada?”
“Kalau cuma 3 porsi masih bisa, mbak. Tapi buruan ya? Soalnya habis itu kami mau langsung tutup.”

Ya ampun. Padahal saat itu masih jam 11 siang. Jam makan siang saja belum dimulai. Tapi persedian tengkleng di Warung Yu Tentrem sudah mau habis saja. Untunglah kami menelepon lebih dulu, sehingga punya kesempatan masih bisa menikmati tengkleng yang fenomenal itu. Tak ingin buang-buang waktu, kami segera pesan taxi menuju ke te-ka-pe. Setelah sempet nyasar-nyasar dan bertanya ke beberapa penduduk, sampailah kami di sebuah gapura kecil yang di bagian atasnya bertuliskan “Ngadisono. RT 04-05 RW XIV.”

Gang Ngadisono, lokasi Warung Tengkleng Yu Tentrem Solo
Gang Ngadisono. Mobil susah masuk, jadi harus berhenti di sini dan jalan kaki

Kami langsung turun dari mobil, karena memang jalannya sempit dan sulit dilewati mobil. Dari situ kami jalan kaki, belok ke kanan sekitar 100 meter, lalu terlihat tulisan ‘tengkleng’ yang arah panahnya menunjuk ke kiri. Beberapa langkah kemudian, sampailah kita di sebuah rumah yang sederhana. Di depan rumah tadi sudah ada tulisan ‘Tengkleng Sudah Habis.’ Ini dilakukan agar pesanan 3 porsi kami tidak dibeli oleh orang lain.

Baca juga: 5 Warung Kringetan asik buat lunch di Semarang

Nama Tengkleng memang sudah identik dengan kuliner Solo. Rasanya gimanaaa gitu… kalau sudah sampai ke kampung halaman Presiden Jokowi ini, kok gak menyempatkan diri mencicipi makanan khas Solo ini. Tengkleng sebenarnya bukan menu untuk kaum elit, melainkan makanan rakyat kecil. Karena konon, jaman dahulu para bangsawan hanya menyantap daging kambing dalam bentuk hidangan sate dan gule. Sementara tulang-tulangnya disingkirkan atau dibuang. Nah, karena rakyat kecil juga kepengin menikmati menu kambing, maka mereka memanfaatkan bahan-bahan yang sudah dibuang tadi, yaitu tulang-tulang yang dagingnya hanya sedikit saja menempel di situ. Mereka mengolahnya menjadi hidangan yang lezat di lidah dan menamai menu ini dengan nama tengkleng.

Depan ruman Yu Tentrem Solo
Depan rumah Yu Tentrem. Ada tulisan ‘Tengkleng sudah habis’

Sebenarnya, ada banyak warung atau rumah makan yang menyajikan menu tengkleng. Namun, salah satu yang sudah legend banget, yaitu Warung Tengkleng Yu Tentrem. Tidak seperti warung lain pada umumnya, di warung Yu Tentrem terkenal tidak bau prengus, bumbu rempahnya sangat terasa dan kuahnya bening atau tidak berlemak.

Menurut puteri Yu Tentrem yang sekarang mengelola tempat ini, ada banyak tahapan yang harus mereka lakukan untuk memasak tengkleng. Mulai dari menyikat tulang-tulangnya, merebus, menyaring, merebus lagi, begitu berulang-ulang, sampai kemudian baru dibumbui rempah-rempah semacam sereh, daun salam, laos, dan sebagainya.

Baliho sederhana di depan rumah dan foto almarhum Yu Tentrem
Baliho sederhana di depan rumah dan foto almarhum Yu Tentrem

Usaha warung Tengkleng Yu Tentrem memang tidak berlokasi di pinggir jalan, melainkan di dalam gang yang bebelok-belok. Warungnya juga kecil. Hanya ruang tamu berukuran 6×9 yang diisi tiga meja dimana masing-masing meja itu terdiri dari 4 kursi.

Meski demikian, menurut pengakuan puteri Yu Tentrem, pelanggannya sampai ke seantero Indonesia. Semarang, Surabaya, Jakarta, bahkan sampai Papua. Ketika saya tanya berapa omsetnya, ia menjawab dengan senyum. Tapi katanya, sehari minimal bisa menjual sekitar 5 kendil kecil dan 5 kendil besar. 1 kendil bisa untuk konsumsi 20-30 orang. Harga untuk ukuran 1 kendil kecil Rp 1 juta, sementara yang kendil besar harganya Rp 1,2 juta. Bisa kebayang donk berapa kira-kira omsetnya ya?

Kuah Tengkleng yang bening dan tidak bau prengus
Kuah Tengkleng yang bening dan tidak bau prengus

Selang 10 menit menunggu, terhidanglah 3 piring tengkleng di hadapan kami bertiga. Di piring saya, terlihat tulang-tulang yang dikelingi kuah berwarna kuning. Di sela-selanya terselip 2 cabe rawit. Di atas tulang-tulang itu ditaburi bawang goreng. Begitu mencicip kuahnya, Heni langsung membuat lingkaran dari jari telunjuk dan ibu jari dengan tiga jari terbuka ke atas sebagai tanda ‘oke.’ Sayapun tersenyum mengiyakan isyaratnya. Enak bangeeeettt… Rasa kuahnya gurih-asam-manis-asin… maknyuuusss-lahhh…

Sementara Swieta masih sibuk dengan telponnya, karena tengah ada masalah berat yang harus segera diselesaikan. Tapi tangannya mulai mengaduk-aduk kuah yang ada di piringnya. Dan meskipun matanya sembab, nasi sepiring dan sepiring tengkleng tetap ludes tanpa bekas. Bahkan ia sempat mengatakan, “Hatiku lagi sedih banget, sehingga tengkleng ini terasa hambar di mulut. Tapi yang heran kok sepiring bisa habis ya?” Saya bingung mau merespon gimana. Akhirnya cuma bisa nyengir.

“Mbak, sudah… kami makan krupuk 5. Lalu…”
“Sudah… sudah… Krupuk dan teh manis gak usah dihitung. Saya nanti malah bingung ngitungnya dan ribet kembaliannya. Tiga porsi, jadi semuanya 120 ribu saja.”

Warung Tengkleng Solo
Makan tengkleng terasa di meja makan di rumah karena yang dipakai memang ruang tamu

Rupanya, makan di Tengkleng Yu Tentrem seperti itu. Mau minum teh atau es jeruk, mau makan kerupuk 1 atau 5, yang dihitung tetap seporsi tengkleng seharga Rp 40 ribu. Selesai bayar membayar, akhirnya kami keluar dari rumah itu. Di depan rumah kami bertemu serombongan mbak dan mas kantoran yang berniat makan di situ. Tapi anak Yu Tentrem langsung menunjukkan papan bertuliskan ‘tengkleng sudah habis’ yang terpasang di teras depan rumah.

“Tadi kok gak telepon dulu,” katanya.
“Tengklengnya enak banget lho!” celetuk Swieta.
“Gak ilang-ilang lho rasanya…” tambah saya ngomporin.

Lalu rombongan itu cuma bisa tertawa krik-krik. Mereka balik badan sambil melangkah gontai. Nah, kalau gak kepengin mengalami kejadian seperti yang dialami rombongan mbak dan mas kantoran itu, lebih baik telepon dulu. Baik untuk pemesanan maupun untuk memastikan ketersediaan. Karena meskipun diinformasikan tutup jam 2 siang, tetap saja kalau sebelum jam 12 siang sudah habis, ya gak akan kebagian. Paham ya?

Baca juga: Yang mistis dan legendaris di Museum Radya Pustaka Solo

***

Tengkleng Yu Tentrem
Jl. Letjen Sutoyo, Ngadisono RT 4 RW 14
Telp. 0271-854852
HP. 081329785
Buka tiap hari pukul 10.00-14.00

6 comments

  1. Selama jalan di Solo, aku merasa kurang banget kulineran di tempat lokal kayak gini. Nasip undangan, sebagian besar makannya di resto/hotel sponsor. Padahal banyak temen yang rekomen, “harus coba A, B” atau, “yang itu wajib. Kesukaannya Pak Jokowi, loh!”

    Next sengaja ke Solo buat kulineran, ah 🙂

    1. Waaa samaaaa! Banyak rekomendasi ini itu, tp yg kejangkau cuma dikit. Pantes sopir taxi online kmrn bilang, “klo mo kulineran solo paling gak 3 hari mbak. Klo sehari doank mana cukup?” Ternyata dia benar.

      Colek2.aku klo mo kuluneran Solo nanti. Siapa tau bisa bareng, OmNduut 😊

  2. favoritttttt……….pertama kali nyoba, sruputtt kuahnya langsung terlena…. rasanya ringan, dagingnya empuk, gampang banget ngunyahnya. Next ke Solo kesini lagii..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*