Meras Gandrung Hiburan Magis di Kaki Gunung Ijen Banyuwangi

Meras Gandrung Sudah Menjadi Icon Banyuwangi

Banyak destinasi pilihan yang bisa dimasukkan ke dalam itinerary jika seseorang ingin liburan ke Banyuwangi. Pantai Pulau Merah? Masuk Pak Eko. Kawah Ijen? Jelas masuk. Pecel pitik? Bisa, bisa. Kalau Meras Gandrung? Rrrr… Kok ragu-ragu? Meras Gandrung ini merupakan tarian aseli masyarakat Banyuwangi. Dibawakan oleh para penari cantik dengan lenggak-lenggok yang rancak. Musiknya perpaduan antara Jawa-Bali. Jadi, pastikan masuk daftar juga donk! Terlebih karena Meras Gandrung ini sudah resmi menjadi icon Banyuwangi.

Lho gimana itu ceritanya? Jadi, sesungguhnya kesenian Gandrung ini sudah ada di Tanah Blambangan – sebutan lain Banyuwangi – sejak tahun 1700-an silam. Waktu itu Suku Osing (masyarakat aseli Banyuwangi) mementaskan tarian Gandrung demi tujuan untuk memuja Dewi Sri atau Dewi Padi. Mereka bersyukur atas panen yang berlimpah. Gandrung itu kalau di Jawa (baca: Banyuwangi) artinya ‘tergila-gila’. ‘Bucin’ lah kalau istilah Netizen sekarang.

Patung Penari Meksa Gandrung
Inilah patung-patung terakota yang akan menemui pelancong di Taman Gandrung Terakota

 

Patung-patung penari Meras Gandrung
Salam Ilmu Komunikasi dari Taman Gandrung Terakota

Nah lo! Kenapa bisa sampai bucin terhadap Dewi Padi? Ya, karena masyarakat Banyuwangi berpikir, Sang Dewi sangat menyayangi mereka dan menganugerahinya dengan panenan yang berlimpah. Itu sebabnya di eranya dulu, Banyuwangi yang subur itu pernah menjadi lumbung padi bagi kerajaan-kerajaan di Jawa & Bali. Yang kemudian justru membuat kerajaan-kerajaan besar itu saling berperang demi memperebutkan wilayah Banyuwangi. Sayang ya? Tapi sampai di sini jadi cukup masuk akal ya, kenapa masyarakat Banyuwangi tergila-gila sama Dewi Padi?

Seni tradisional Gandrung sendiri, banyak ragamnya. Ada Gandrung Jejer, Gandrung Jaran Duwuk, Gandrung Seblang Lukinto Subuh, Paju Gandrung dan Meras Gandrung. Tiap-tiap gandrung memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Sementara untuk Meras Gandrung sendiri, menceritakan tentang proses tahapan seorang penari dari yang semula masih ecek-ecek sampai akhirnya berhasil melewati beberapa ujian dan ritual yang membawanya ke tahap ia diwisuda untuk menjadi seorang penari professional.

Bagian dari sendratari Meras Gandrung
Sesepuh dan seniman Osing memasangkan omprog sebagai tanda penari sudah diwisuda

Meras Gandrung sempat lama vakum dan tidak boleh dipentaskan, karena mendapat penilaian negatif dari beberapa kalangan. Namun masyarakat Osing yang terkenal pantang menyerah ini, ingin mengembalikan Meras Gandrung di tempatnya semula. Yaitu, menjadi spirit dan ruh kehidupan masyarakat sekitarnya. Sehingga mulai Oktober 2018 lalu, Meras Gandrung kembali dipentaskan dan mendapatkan antusias yang besar, baik dari wisatawan lokal maupun manca negara.

Baca juga: Penangkaran Penyu di Banyuwangi, Ya di Pantai Sukamade!

 

Taman Gandrung Terakota Lokasi Pementasan Meras Gandrung

Taman Gandrung Terakota berlokasi di kaki Gunung Ijen. Tepatnya di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi. Karena lokasinya di kaki gunung, wajar saja kalau udaranya cukup sejuk cenderung dingin. Apalagi taman yang merupakan bagian dari kawasan Jiwa Jawa Resort ini berdiri di atas hamparan sawah produktif yang luasnya kurang lebih 3 hektar. Luas banget kan? Dan rasanya pas juga kalau Meras Gandrung dipentaskan di taman yang dikelilingi area persawahan.

Lalu, ada apa saja di taman itu? Oh, banyak sahabat. Di kawasan taman itu terdapat café, galeri seni dan amfiteatre. Di amfiteatre inilah dibangun panggung yang digunakan untuk pementasan beragam pertunjukan seni, termasuk Jazz Gunung Ijen & Meras Gandrung itu sendiri.

Uniknya, di hampir setiap sudut Taman Gandrung Terakota, terdapat patung-patung penari Gandrung. Patung-patung yang terbuat dari bahan gerabah ini, bisa dibilang gak sentuh-able karena rapuh dan berongga. Filosofinya, mengingatkan bahwa kita manusia ini sesungguhnya sosok yang rapuh. Jadi mungkin pesannya: jadi manusia itu jangan sombong kali ya?

Amfiteater terbuka di Taman Gandrung Terakota
Dari sinilah para penonton menyaksikan Meras Gandrung yang dipentaskan di amfiteater terbuka

 

Nonton Meras Gandrung
Saya, Bobby dan Fahmi duduk di deretan paling depan sebelah kanan panggung. “Maafkan Mik, kalau kamu agak blur sendiri” 😀

Hari sudah sore. Udara dingin mulai menyapa kulit. Saya, Bobby dan Fahmi sudah memasuki area Taman Gandrung Terakota. Tiket juga sudah di tangan kami masing-masing. Beberapa penari Gandrung sudah bersliweran di taman. Begitupun dengan panitia yang bertugas. Namun acara belum dimulai. Bobby & Fahmi sibuk menyiapkan peralatan kamera dan video di barisan paling depan tempat duduk penonton. Sementara saya sibuk mewawancari beberapa penari dan si empunya acara, Mas Johan Pramono.

Makna yang Tersirat dari Busana Meras Gandrung

“Itu mahkota bukan sih yang dipasang di atas kepala?” tanya saya kepada 2 penari.
“Iya, tapi kalau di sini nyebutnya Omprog,” jawab penari yang parasnya ayu.
“Harus banget ya pakai omprog?” tanya saya lagi.
“Kan dulunya omprog itu biasa dipakai raja atau ratu. Biar aura wibawanya keluar gitu. Jadi kalau penari pakai omprog, diharapkan aura wibawa itu juga ada di sosok si penari,” jawab penari satunya yang senyumnya manis banget.
“Hmm… trus itu apa yang warnanya merah & nempel di sisi kiri & kanan omprog? Kayak kepala wayang ya?” tanya saya makin penasaran.
“Oh ini salah satu tokoh wayang. Namanya Antareja, anak Bima. Kepalanya manusia tapi badannya ular.”
“Eh tapi biarpun bentuknya aneh gitu, dia itu sakti lho! Dia bisa menghidupkan lagi nyawa orang yang sudah meninggal. Dan biarpun perangainya kasar, tapi sebenarnya hatinya baik.”
“Tokoh wayang Antareja kurang lebih menggambarkan sifat masyarakat Suku Osing atau Banyuwangi. Ia tidak hidup mewah, tidak lebih & tidak kurang. Juga tegar,” tambah penari yang satunya.
Saya mengangguk-angguk puas mendapatkan penjelasan dari kedua penari itu. Tapi penasaran masih terus berlanjut.
“Lalu, gelang di lengan itu apa?”
“Oh ini namanya kelat bahu, kak,” penari yang parasnya ayu itu menjawab sambil menunjuk lengannya sendiri.
“Kok ngambil bentuk kupu-kupu?”
“Nah, kalau yang itu kami kurang paham alasannya,” timpal penari yang satunya.
“Mungkinkah maksudnya untuk melambangkan bahwa penari itu juga perlu mengalami metamorfosa dari ulat berubah menjadi kepompong sapai akhirnya menjadi seekor kupu-kupu?”
“Bisa jadi…” jawab kedua penari itu berbarengan sambil ketawa kecil.

Rileks. Itu hanyalah wawancara imajinasi saya saja. Karena faktanya ketika pertanyaan-pertanyaan itu saya lempar, saya tak berhasil mendapatkan jawaban yang memuaskan. Pertanyaan-pertanyaan itu semacam mendekam di ruang hampa udara. Kebanyakan menjawab tidak tahu. Dan pihak yang akhirnya bisa membantu memberikan jawaban, siapa lagi kalau bukan Mbah Google.

Penari Meras Gandrung di Kaki Kawah Ijen
Ornamen kelat bahu kupu-kupu & Antarejea yang tersemat di busana penari Meras Gandrung
Alat musik Meras Gandrung
Instrumen musik pengiring Meras Gandrung kendang, rebab, gong, kempul dan kluncing.

Selain Omprog dan kelat bahu, masih banyak aneka benda dan aksesoris yang melekat di busana seorang penari Meras Gandrung. Misalnya: otok/kemben yang bahannya terbuat dari kain beludru, ilat-ilat yang dipasang di leher, kepet/kipas, tapih, sampur/selendang yang disampirkan di leher, pendhing yang dipakai untuk menyelipkan kipas, dan masih banyak pernik lainnya. Jika dilihat secara keseluruhan, busana seorang penari Meras Gandrung banyak didominasi warna merah dan hitam. Warnanya khas banget Suku Osing. Merah melambangkan keberanian dan hitam melambangkan perilaku negatif manusia pada umumnya.

Dan satu lagi. Jika diperhatikan dengan seksama, ada satu simbol yang sangat menonjol dalam busana seorang penari Meras Gandrung. Yaitu simbol Gajah Oling. Simbol itu tersemat hampir di seluruh tubuh mulai dari kepala, tubuh bagian depan, tubuh bagian belakang, sampai ke motif kain tapih yang dikenakannya. Motif ini tak sekedar estetika namun memiliki makna yang kuat dan dianggap sakral oleh masyarakat Banyuwangi.

Penari Meras GAndrung tengah beraksi di kaki Kawah Ijen
Tapih warna merah yang terbuat dari bahan kain batik dengan motif Gajah Oling 

 

Penari mengenakan busana motif Gajah Oling
Bisakah kalian temukan motif Gajah Oling di busana penari Meras Gandrung ini?

Simbol Gajah Oling bentuknya seperti tanda tanya (?) atau huruf S. Nama Gajah Oling berasal dari dua nama hewan yaitu Gajah dan Oling. Gajah artinya besar (berkaitan dengan yang maha besar) dan Oling yang artinya eling/mengingat (berasal dari bahasa Suku Osing). Sehingga dengan begitu Gajah Oling dapat dimaknai sebagai ajakan agar kita selalu mengingat Kepada Yang Maha Besar – dimanapun dan bagaimanapun kondisinya.

Prosesi Jalannya Sendratari Meras Gandrung
Sendratari Meras Gandrung terbagi dalam 4 babak tarian dalam kurun waktu antara 1 ½ – 2 jam. Sebagai pemanasan, puluhan penari cilik akan tampil dengan iringan gamelan yang rancak. Mereka memainkan selendang sambil berlenggak-lenggok mengikuti irama musik. Setelahnya musik berhenti dan dari arah belakang penonton, iring-iringan penari – tua muda, pria wanita – berjalan pelan menuju pentas. Paling depan adalah pembawa bokor yang mengeluarkan asap dan menebarkan bau dupa. Aura mistis menyelinap di rongga udara di sekitar amfiteater terbuka di Taman Gandrung Terakota. Hmm..

Baca juga: Rasakan nuansa tradisional dan modern sekaligus di Santika Hotel Banyuwangi

Di belakang penari pembawa bokor berasap dupa, pembawa omprog dan buah-buahan, berjalan barisan para gadis remaja berkebaya Gajah Oling dengan baju berwarna hitam. Mereka berjalan sembari menutup wajahnya dengan bilah daun pisang. Di belakangnya lagi, ada pula yang membawa kain lebar berwarna putih dan hitam. Tak ada iringan musik gamelan di bagian ini, selain syair yang ditembangkan dalam bahasa Osing. Entah bagaimana bunyi liriknya, namun yang pasti bisa bikin saya merinding.

penari Meras Gandrung
Para penari Meras Gandrung yang menutupi wajahnya dengan bilah daun pisang

Di babak berikutnya, ada juga adengan yang menggambarkan ujian yang wajib dilakoni oleh seorang calon penari Gandrung professional. Makanya namanya Meras Gandrung. Para penari Gandrung ini memang perlu diperas skill-nya untuk mengikuti beragam ujian sebagai seorang penari. Mulai dari ujian sejauh mana ia menguasai gerakan tarinya sampai ke ujian seindah apa cengkok suaranya ketika sedang nembang atau nyinden. Kalau sudah dinyatakan lulus, ia wajib menjalani ritual gurah suara untuk menghilangkan dahak atu riak yang bersemayam di tenggorokan. Konon, ritual ini aselinya menyakitkan kalau dijalani.

Di babak ke empat atau babak terakhir yang dinamai Paju Gandrung, para penari akan memberikan sampur atau selendangnya ke para penonton. Penonton yang mendapatkan sampur, harus mau diajak menari berpasangan dengan si penari. Setelah semua acara selesai, para penonton diperbolehkan berfoto bersama penonton.

Salah satu ritual di Meras Gandrung
Ritual gurah suara salah satu adegan yang ada di dalam Meras Gandrung

 

Babak terakhir tari Meras Gandrung
Mbak bule-nya dijatuhin sampur agar bisa menari duet dengan penari Meras Gandrung

Tata Cara Menyaksikan Sendratari Meras Gandrung

  1. Beli tiket lebih dulu. Bisa beli online, bisa juga langsung beli di tempat. Harga tiket Rp 100.000,- sudah termasuk snack.
  2. Datanglah lebih awal, jangan terlalu mepet. Apalagi kalau bawa kendaraan sendiri. Parkirnya agak susah. Bayangkan saja. Jumlah penari saja berapa. Orang tua penari berapa. Jumlah panitia berapa. Jumlah penonton berapa. Semuanya tumplek blek di jadi satu.
  3. Pilih tempat duduk yang sesuai kebutuhan. Mau di atas, di tengah, atau di bawah persis di depan panggung. Kalau punya lensa canggih, bolehlah duduk di barisan paling atas. Kalau bawa pasangan atau mau sekalian cari pasangan, bolehlah pilih yang tengah saja. Tapi kalau pengin dekat dan mudah berinteraksi dengan penari, pilihlah tempat duduk di barisan paling bawah.
  4. Kalau ingin mendapatkan foto yang berdaya magis, pilih di sebelah kiri penonton. Karena arak-arakan penari keluar dari arah kiri. Sementara saya agakenyesal memilih tempat duduk di barisan depan sebelah kanan. Gak bisa mendapatkan spot yang bagus.
  5. Jangan pindah-pindah tempat duduk kalau pentas tari sudah dimulai. Kecuali memang berharap ada penonton lain yang nyambit pakai sandal. Atau minimal dikasih tatapan wajah yang nyureng.
  6. Sebaiknya tidak membawa bayi atau anak kecil yang suara tangisnya bisa ngalahin suara gong gamelan.
  7. Jangan buang sampah sembarangan, meskipun sudah ada petugas yang memunguti sampah.
  8. Bawa payung, khususnya pas musim hujan. Kemarin sempat kena gerimis, padahal pas musim kemarau. Mungkin karena lokasinya di sekitar kaki Gunung Ijen.
  9. Kalau badan gak kuat dingin, mending bawa jaket.
  10. Jangan terlalu lama mengambil waktu si penari untuk foto bersama. Ingatlah masih ada tetangga lain yang ingin berfoto juga sama penari itu. Belum kehitung ortu dan sanak keluarga yang ingin berfoto bersama si penari.
Brfoto di Taman Gandrung Terakota
Semua orang foto sama penari Meras Gandrung, masa aku engga? 😛
Pose ama Direktur Jiwa Jawa Resort Ijen
Pose setelah selesai wawancara dengan Mas Johan Purnomo, FInance Director Jiwa Jawa Resort Ijen

Cara Menuju Kesana.

Banyak yang bilang kalau rute menuju Taman Gandrung Terakota yang berada di kawasan Jiwa Jawa Restort Ijen itu, tak terlalu susah. Gampang aja, kata mereka. Kalau dari kota Banyuwangi hanya butuh waktu sekitar satu jam saja. Dari kota arahkan kendaraan ke daerah Sasak Perok lewat rel kerta dan patung Barong menuju Desa Glagah lalu lewati Pasar Licin dan daerah Tamansari. Dari sini, akan ada petunjuk jalan menuju lokasi.
Tapi kalau masih susah juga, mending pakai cara saya, Bobby dan Fahmi. Dari Hotel Santika Banyuwangi kami langsung buka Google Map dan langsung diarahkan ke lokasi yang dituju. Dan ikuti saja petunjuknya. Mau Ke kanan, lurus atau ke kiri. Tadaaaaa! Sampai deh.

Info Jadwal Pementasan Meras Gandrung
Gimana? Tertarik untuk nonton sendratari Meras Gandrung yang sudah jadi icon Banyuwang itu? Oke boleh nih catat tanggal pentasnya..

Jadwal pementasan Meras Gandrung
Sekarang ini, pementasan Meras Gandrung sebulan sekali di tiap bulan purnama. Namun ke depannya ada kemungkina seminggu sekali. Ayo dukung kesenian aseli kita gaes!

 

Writer. Lecturer. Travel Blogger. Broadcaster

Related Posts

Leave a Reply