Nge-Camp di Pantai Pink, Melipir ke Tanjung Ringgit

Ini kali kedua, saya menginjakkan kaki di Lombok. Dalam lawatan yang pertama dulu, saya menginap di Senggigi dan sempat mendatangi Desa Sade, Desa Sigenter, Banyumulek, Sukarare, Tanjung An, Kute, Gili Trawangan dan air terjun Sendang Gila, termasuk Tiu Kelep.

Baca juga: Mampir ke Kecinan dulu sebelum ke Gili Trawangan

Kali ini, saya menginap di Mataram dan pastinya akan mengunjungi beberapa tempat juga. Lokasi yang pertama, saya dan kawan-kawan akan menyambangi Pantai Pink (Pink Beach) sekaligus melipir ke Tanjung Ringgit.

Informasi dari teman-teman di Lombok menyatakan bahwa perjalanan ke arah sana tidak terlalu bagus dan tidak tersedia angkutan umum. Karena kondisi jalan yang seperti itu, biro wisata yang ada jarang menyertakan lokasi ini dalam daftar paket tour-nya. Tapi justru itulah yang membuat saya dan kawan-kawan merasa tertantang. Bahkan kami bersepakat nge-camp (nenda) di Pantai Pink. Woohooo!

Pantai Pink (sebenarnya saya lebih senang menyebutnya dengan Pantai Tangsi) dan Tanjung Ringgit berlokasi di ujung tenggara Pulau Lombok, di Kabupaten Lombok Timur. Dari Mataram, kami menyewa motor dan masing-masing berboncengan. Saya termasuk pihak yang membonceng motor.




Setelah berbelanja beberapa kebutuhan logistik di Mataram, kamipun segera berangkat. Di siang hari yang menyengat, kami sempat menikmati perjalanan dan pemandangan di kanan-kiri jalan. Karena masuk musim kemarau, beberapa pohon dan tananam tampak kuning dan mengering. Kecuali perkebunan tembakau yang terlihat hijau di beberapa tempat.

Jalanan aspal cukup bagus. Sampai kemudian setelah melewati daerah Praya dan mendekati Jerowaru, kami mulai disambut dengan kondisi jalan yang berbatu, tidak rata, berlubang disana-sini dan berdebu. Kondisi inilah yang konon bikin beberapa orang malas untuk mendatangi Pantai Pink dan Tanjung Ringgit. Tapi di sisi lain, justru itulah yang membuat kedua tempat itu masih terlihat alami.

 

Bulan Purnama di Pantai Pink

Semakin dekat dengan lokasi Pantai Pink, semakin terlihat banyak pohon yang meranggas. Dahan dan rantingnya mengering dan daunnya sedikit sekali, seolah pohonnya hendak mati. Padahal itu hanya salah satu cara bagaimana sebatang pohon bertahan hidup di musim kemarau yang panjang. Di bawah sebatang pohon yang terdapat papan bertuliskan Pantai Pink, kami berhenti sebentar untuk mengabadikan kekompakan antar sesama kawan pejalan.

Dari lokasi kami berfoto, perlu menuruni jalan yang agak curam sepanjang sekitar 400 meter untuk sampai ke Pantai Pink. Selain itu juga jalannya rusak parah. Saking rusak dan curamnya, ketika pulang dari sini nanti, kami yang membonceng terpaksa harus jalan kaki untuk menghindari kecelakaan. Beuh endess. Ngos-ngosan.

Sampai di lokasi, sebenarnya saya agak kecewa, mengingat warna pink yang saya bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di depan mata. Memang kalau pasirnya dipegang dan diperhatikan benar, warnanya agak pink. Tapi karena sengatan sinar matahari, warna pinknya memudar. Selain itu, juga karena pengaruh musim kemarau, air agak surut. Beberapa kapal nelayan yang bersandar tampak seperti sedang terdampar di pantai.

Sesampainya di pantai, saya melihat dua bukit yang seolah mengapit Pantai Pink. Ada di sebelah kiri dan kanan. Namun kedua bukit itu sama-sama ditumbuhi semak belukar yang mengering. Dan karena saat itu kondisi pantai sedang kurang bagus, maka kami ramai-ramai trekking menaiki bukit. Ada yang memilih bukit di sebelah kanan, ada yang bukit sebelah kiri pantai. Saya memilih bukit yang sebelah kanan.

Tjakep! Ngos-ngosan lagi!

Setelah melewati jalan berpasir yang banyak ditumbuhi ilalang, akhirnya kami sampai juga di atas bukit. Sampai di atas bukit terhampar pemandangan yang luar biasa kereeewnnn! Di atas permukaan bukit itu banyak sekali batu-batu karang yang kecil, yang kalau alas kaki kita tipis, akan terasa sakit karena batu-batunya agak tajam. Kami sengaja berlama-lama di situ, karena ingin menunggu hadirnya sunset. Alamak! Pemandangan sunset dari atas bukit itu, cantiknyaaa! Semakin membuat saya ternganga-nganga dan cinta Indonesia. Lupa sama koruptornya.

Memandangi sunset dari puncak bukit itu, memunculkan beragam perasaan yang berkecamuk. Jiwa puitis saya sempat muncul. Ah, seandainya kamu ada di sini, pasti panorama menjelang malam akan semakin lengkap. :mrgreen:

Tapi, pemandangan sunset itu bukan satu-satunya pemandangan yang cantik di sekitar Pantai Pink. Saat saya menuruni sisi sebelah kanan puncak bukit itu, saya juga menemukan pemandangan yang tak kalah cantiknya.

Dari lokasi itu, terlihat tebing-tebing pantai yang menggantung. Mirip dahan-dahan yang menempel pada sebuah pohon. Airnya biru kehijau-hijauan. Saking kesengsemnya, saya sempat turun sampai menyentuh air. Tapi segera mengurungkan niat menyelam, saat mengetahui arusnya cukup deras. Air itu membentur dinding tebing dengan keras, memunculkan bunyi yang menyeramkan. 🙁

Puas menikmati keindahan di lokasi itu, kami segera bergegas turun. Selain, juga hari sudah mulai gelap. Kami beristirahat sebentar di beberapa warung yang ada si sekitar pantai sambil memesan minum.

Selesai berisitirahat, para pria mulai sibuk menurunkan peralatan tenda dan mulai mendirikan tenda.

Kami yang perempuan, sibuk menurunkan bahan-bahan logistik dan perlengkapan masak seperti nesting dan kompor outdoor. Lalu berbagi tugas. Ada yang dapat jatah menggoreng sosis, merajang cabe dan bumbu-bumbu, memasak mie goreng, dan sebagainya. Saya kedapatan jatah masak nasi. Beuh, berat! Salah strategi, bisa-bisa nasi masih mentah dan keras. Untungnya sukses. Sehingga malam itu, kami semua makan dengan mantabh. Dan untungnya lagi, kami rata-rata terbiasa makan makanan instan. Coba kalau enggak, bisa-bisa sakit perut deh!

Perut sudah kenyang, fisik sudah diforsir seharian, harusnya ini saat yang tepat untuk istirahat dan pergi tidur di dalam tenda. Tapi cuma ada dua buah tenda dan orangnya segini banyak, gak ada satupun yang bersedia masuk tenda dan tidur. Selain itu, karena ramai-ramai jadinya malah pada gelar tiker dan duduk-duduk di tepi pantai. Pas saya lihat ke atas, duhai! Bulan purnama tengah bersinar. Serasa makin menambah kehangatan dan menyinari keakraban kami saat itu. Karunia banget ya? 🙂

Pantai yang cantik, deru suara ombak, ditambah bulan purnama, kira-kira aktivitas apa yang paling pas dilakukan bareng teman? Tepat. Ngobrol, bercanda, saling curcol, curcol lagi, lagi-lagi curcol. 😀 😀 😀

Alhasil, kami cuma tidur sekitar dua jam saja. Itupun tidak benar-benar lelap. Jadi rencana untuk sewa kapal menuju Pulau Tiga sembari snorkeling, kami batalkan. Apalagi, kawan-kawan kami yang muncak ke Gunung Rinjani memberi  kabar kalau mereka sudah turun dan bersiap menuju Gili Trawangan. Kami akan bertemu dengan mereka di sana.

Saya sempat snorkeling sebentar di sekitar Pantai Pink dan cukup dibuat takjub oleh terumbu terumbu karangnya yang indah. Sayang sebagian terumbu terumbu karang itu sudah hancur. Bisa jadi itu disebabkan karena jangkar-jangkar perahu nelayan yang berlabuh di pantai itu. 🙁

 

Pohon surga di Tanjung Ringgit Lombok

Dari Pantai Pink, kami menyempatkan diri melipir ke Tanjung Ringgit. Lokasinya tidak terlalu jauh dari situ. Hanya saja, perjalanan ke lokasi itu juga tak kalah menantang. Salah seorang dari kami ada yang sampai terjatuh dari motor. Untungnya, tidak sampai terluka.

Apa yang paling memukau di Tanjung Ringgit?

Tanjung Ringgit adalah lautan lepas di Samudera Hindia. Panoramanya-lah yang sempat membuat saya shock saking takjubnya. Panorama itu merupakan perpaduan keindahan antara tebing-tebing curam yang eksotis dengan airnya yang biru sebiru-birunya. Sesekali air itu mendekat dan menyentuh bibir tebing. Keceh bingits!

Di sekitar Tanjung Ringgit, juga terdapat meriam peninggalan Jepang. Meriam itu berada di antara semak-semak belukar. Tak ada informasi apapun mengenai meriam itu. Seolah besi tua yang sengaja dibiarkan berkarat dimakan usia. Beberapa tangan jahil mencorat-coretnya dengan beberapa tulisan. Sementara beberapa kawan saya menaiki meriam itu sambil berfoto-foto. Saya sendiri tak begitu tertarik.

Saya lebih tertarik menemukan Pohon Surga di kawasan itu.

Kalau hasil googling sih, pohon itu terlihat rimbun dan besar. Konon diberi nama Pohon Surga karena di kawasan itu, hanya dialah pohon satu-satunya. Di pohon inilah pengunjung bisa berteduh dikala panas terik atau hujan. Sekaligus juga bisa sekalian menikmati pemandangan Tanjung Ringgit yang menakjubkan.

Tapi sampai lelah saya mencari Pohon Surga seperti yang ada di internet, tak ketemu-temu juga. Satu-satunya pohon yang saya temui di sekitar Tanjung Ringgit, hanya pohon yang kecil dan daunnya tak terlalu rimbun. Benarkah itu pohonnya? Atau jangan-jangan pohon itu sudah reinkarnasi? Entahlah, kurang pasti. Yang pasti, saya pulang dari situ dalam kondisi fisik yang lelah namun jiwa yang puas. Puas banget. Bahagia banget.

Baca juga: Ter-Nemo Ku di Pahawang Lampung

4 Comments - Add Comment

Reply