Abda’u, Suguhan Mistis Hari Raya Idul Adha di Negeri Tulehu

Di sebuah lapangan depan masjid Tulehu, ratusan pria dari anak kecil hingga dewasa saling dorong, saling sikut, ada juga yang menaiki punggung kawannya, ada yang jatuh ke tanah, terinjak-injak. Apakah mereka sedang baku hantam? Tidak. Mereka tengah menjalani ritual adat di negerinya yang merupakan rangkaian Festival Abda’u. Uniknya, meskipun beberapa orang terjatuh ke tanah, tak satupun yang mengalami luka-luka. Selain ritual Abdau, masih ada atraksi unik lainnya, seperti: Bambu Gila, Debus, dll.
Tertarik? Pastikan tahun ini mengunjungi Tulehu, Ambon, Maluku. Karena event ini hanya berlangsung di Negeri Tulehu. Dan hanya diselenggarakan setiap tahun sekali, pas Hari Raya Idul Adha (24 September 2015).
Inilah beberapa foto yang saya ambil dari Festival Abda’u tahun lalu.
Ratusan pria orang yang terdiri dari anak-anak kecil hingga orang dewasa berlarian sekuat tenaga dan melompat sambil berteriak-teriak. Beberapa ada yang menaiki punggung kawannya, dan beberapa lagi ada juga yang sampai melompati pagar sampai atap rumah. Mereka saling berdesakan dengan wajah gusar. Apakah sedang terjadi bencana alam? Atau sedang terjadi baku hantam antar warga desa?

Oh, bukan. Mereka tidak sedang berkelahi, melainkan sedang memperebutkan bendera warna hijau berenda kuning yang dikaitkan ke tongkat bambu. Di bendera itu terdapat tulisan warna putih yang artinya ‘Kami bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.’

 

Sehari sebelum Idul Adha, Adlien mengajak saya ke rumah pamannya yang tinggal di Negeri Tulehu. Satu hal yang paling membahagiakan adalah, Paman Adlien mengisahkan perjalanan nenek moyang negeri mereka sekaligus perjuangan berdarah-darah dari pahlawan Maluku, Pattimura.

Keesokan paginya, saya bersama keluarga mereka menuju masjid Jami Tulehu untuk menjalankan salat Idul Adha. Selesai salat Ied, kami tak langsung balik ke Ambon, karena saya penasaran ingin menyaksikan Festival Abda’u yang hanya diselenggarakan di Negeri Tulehu setiap Hari Raya Idul Qurban.

 

Mungkin ada yang masih asing mendengar nama Tulehu, tapi mungkin juga ada yang merasa familiar dengan nama Tulehu. Kayaknya pernah dengar ya? Iya. Kalau sudah pernah nonton film Cahaya dari Timur, pasti sudah akrab dengan nama Tulehu. Karena film ini mengangkat kisah nyata anak-anak remaja 15-an dari Tulehu yang menjuarai pentas nasional piala Medco 2006.

Tulehu merupakan negeri adat dan sekaligus ibu kota Kecamatan Salahutu yang dapat dicapai dalam waktu kurang lebih setengah jam berkendara dari ibukota Ambon. Dulu, sekitar abad 15, Negeri Tulehu menjadi salah satu tempat tujuan untuk menuntut ilmu agama dan mengaji. Para calon murid datang dari segala penjuru, karena di Tulehu ini tinggal para pemuka agama yang hebat, yaitu Pandita Wakan, Pandita Lou dan Pandita Lain. Tak heran, kalau sekarang ini mayoritas warga Tulehu memeluk agama Islam.

Setiap Hari Raya Idul Adha, ketiga pemuka agama tersebut menyelenggarakan acara adat Abda’u.

 

Sekitar jam 3-4 sore, seluruh warga Tulehu dan warga Ambon dari berbagai penjuru kota berkumpul dan tumpah ruah di sebuah lapangan yang lokasinya berada di depan Masjid Jami. Sama seperti saya, merekapun tampak tak sabar menunggu atraksi-atraksi menarik yang akan disajikan dalam Festival Abda’u.

Abda’u bisa diartikan sebagai bentuk pengabdian seorang hamba kepada Sang Pencipta. Dan bisa juga dimaknai sebagai cara untuk mempererat hubungan persaudaraan antar pemuda. Upacara adat Abda’u yang sudah dikenal sejak abad 15 tersebut, sampai sekarang masih dijaga dan dilaksanakan.

Festival Abda’u menampilkan beragam seni dan budaya yang menarik, diantaranya: arak-arakan, hadrat, visualisasi ibadah Haji, debus, tarian Pattimura, dll. Namun kala itu, Festival Abda’u dibuka dengan sebuah tarian pembuka tari Sawat yang disusul kemudian dengan tari Sawamena.

 

Tari Sawat ditarikan oleh putera-putera Tulehu untuk menjemput dan menyambut para tetua dan pejabat pemerintahan. Sedangkan Tari Sawamena, ditarikan oleh para putera dan puteri Tulehu. Di tengah-tengah tarian, para penari membentuk lingkaran sembari mengajak para pejabat pemerintah untuk menari bersama mereka.

Setelah tarian Sawamena berakhir, maka acara dilanjutkan dengan Hadrat. Dimana serombongan pemuda melantunkan dzikir sembari menabuh gendang. Di belakang iring-iringan mereka ada tiga orang yang menggendong anak kambing yang akan dijadikan qurban nantinya.

 

Di abad 15-an dulu, tiga hewan qurban hanya boleh digendong oleh murid-murid kesayangan Pandita Wakan, Pandita Lou dan Pandita Lain. Tapi sekarang, hewan kambing itu digendong dengan selendang oleh para tetua kampung. Hewan-hewan itu akan dibawa ke masjid untuk kemudian disembelih.

Setelah para tetua yang menggendong kambing tadi hilang dari pandangan penonton, tiba-tiba terdengar seseorang petugas member peringatan, “Awas! Sebentar lagi laskar Abda’u akan lewat. Penonton harap hati-hati agar tidak tertabrak oleh mereka!”

 

Di depan saya tampak ratusan pemuda yang memakai kaos singlet dan ikat kepala. Mereka saling dorong, saling sikut, menaiki punggung kawannya, dan aksi kekerasan lainnya demi memperebutkan bendera warna hijau berenda kuning. Sebagian ada yang terinjak, sebagian lagi ada yang terjatuh dari punggung kawannya. Meskipun demikian, mereka seolah tak merasakan sakit. Konon, karena rambut dan tubuh mereka telah dibasahi oleh imam negeri agar terbebas dari rasa sakit selama mengikuti ritual adat.

Di belakang laskar Abda’u beriring-iringan orang yang membawa replika Kabah sambil mendemontrasikan tawaf Kabah. Yang kemudian disusul oleh serombongan lainnya untuk mempertunjukkan atraksi lainnya. Atraksi berikutnya, tarian Pattimur, sangat menyedot seluruh perhatian saya. Tarian ini dibawakan oleh beberapa pemuda yang wajah dan mukanya diwarnai hitam. Mereka menari sambil membawa parang di tangan kanan dan salawaku di tangan kiri.

 

Pada saat membawakan tarian Pattimura, salah seorang penari tiba-tiba menangis keras lalu pingsan seketika. Dia seolah tersihir oleh lagu yang yang mengiringi tarian mereka. Si penari yang ‘kesurupan’ tadi bisa disembuhkan setelah dikasih air minum oleh pemimpin ritual. Memang terkesan mistis, tapi itulah yang saya saksikan di depan mata saya.
Memang sih, kalau mendengar lagu yang mengiringi tarian Pattimura itu dinyanyikan, meskipun saya tak paham liriknya, tapi seolah hati saya seperti disayat-sayat sembilu. Nadanya sedih banget. Kata salah seorang tetua, lirik itu memang menyiratkan perasaan luka yang dalam dari pahlawan kita Pattimura, karena mengalami kekalahan dengan musuh. Lirik lagu ini memakai ‘bahasa tanah’ yang menurut tetua, tak semua orang Tulehu bisa memahaminya.

 

Atraksi Debus adalah atraksi ‘mistis’ berikutnya yang saya saksikan. Atraksi ini dimainkan oleh sekitar 20 pemuda memakai t-shirt putih. Di bagian dada t-shirt tampak bekas-bekas darah yang keluar dari tubuh mereka. Para pemuda itu menggunakan alat dari besi yang ujungnya runcing lalu ditancap-tancapkan ke dada mereka. Tentu saja, banyak darah yang keluar dari tubuh mereka. Tapi mereka seolah tak merasakan kesakitan. Hanya saja, kalau di antara mereka ada yang terlalu bertubi-tubi menancapkan alat tajam itu ke tubuhnya, maka pemimpin ritual akan menghentikan mereka atau mengingatkan agar memperlambat gerakan. Saat itu saya berada di depan mereka persis, jadi berasa agak-agak ngeri nontonnya.

 

Masih ada satu lagi atraksi yang tak kalah mistisnya, yaitu Bambu Gila. Atraksi ini dibawakan oleh 10 orang. Mereka beramai-ramai menggotong sepotong bambu. Anehnya, meskipun bersepuluh, mereka terlihat kesulitan membawa bambu itu. Bambu itu seolah memiliki tenaga yang kuat dan bergerak sendiri sesuai keinginan hati. Tak heran, jika atraksi ini disebut Bambu Gila. Hehehe..

 

Atraksi Bambu Gila menjadi atraksi terakhir di Festival Abda’u. Saya segera bergegas untuk kembali ke kota Ambon dengan perasaan yang sangat takjub dan senang luar biasa. Sungguh luar biasa kekayaan budaya negeri ini. Dan saya sangat berterimakasih bisa punya kesempatan menyaksikan festival yang luar biasa ini. Terimakasih kawan Adlien. Kamu memang ketje!

Kalau ada yang menyukai budaya negeri dan tertarik untuk menyaksikan Festival Abda’u, pastikan tahun ini berkunjung ke Negeri Tulehu. Jangan sampai kelewatan, karena bulan depan Hari Raya Idul Adha sudah tiba kembali.

 

oOo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.