Moni: Berburu Tenun di Pemo dan Mbuli Lo’o

Perjalanan darat trans Flores dari Ende menuju Moni merupakan jarak terpendek selama saya di Flores, karena hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Shuttle bus berhenti persis di depan pusat informasi wisata, dimana tempat itu sekaligus menjadi pemberhentian terakhir atau semacam terminal bayangan.

Ada yang menyebut Moni sebagai desa, ada juga yang menyebutnya kampung, tapi saya lebih senang menyebutnya sebagai kota kecil. Moni merupakan kota kecil yang terletak di kaki Gunung Kelimutu dan menjadi pintu gerbang menuju Danau Kelimutu. Di sekitar tempat ini, banyak sekali hotel atau penginapan yang tersedia. Di terminal bayangan banyak warga lokal yang menawarkan jasa untuk mencarikan penginapan. Hari memang sudah mulai agak gelap, tapi saya memilih untuk mencari penginapan sendiri.

Dari 3 penginapan yang saya datangi, akhirnya saya memutuskan penginapan yang lokasinya berada persis di depan terminal bayangan. Di belakang penginapan itu, terdapat sebuah pasar tradisional yang beroperasi hanya pada hari Senin. Berbagai kain tenun, hasil bumi, ternak, dll, banyak diperjualbelikan di pasar ini.

Perjalanan ke Kelimutu

Malam itu saya menerobos dinginnya udara malam Moni demi sepiring nasi untuk mengisi perut yang meronta-ronta. Dari sana saya melipir ke sebuah warung kecil membeli teh kota sambil mencari informasi. Pemilik warung itu, Pak Mayo, bersedia mengantarkan saya perkampungan tenun di Desa Pemo dan Desa Jopu. Karena lokasi Desa Pemo berdekatan dengan Danau Kelimutu, maka saya akan kesana lebih dulu. Pak Mayo menyarankan agar saya berangkat pagi-pagi, karena pagi hari adalah waktu terbaik untuk menyaksikan Danau Kelimutu. Jika tengah hari, apalagi menjelang sore hari, biasanya danau diselimuti kabut yang menghalangi pandangan.

Teman sebelah kamar hotel, seorang bule asal Perancis sempat mengajak berangkat bareng ke danau fenomenal itu. Tapi berhubung dia berencana akan berjalan kaki dari hotel (Moni), maka ajakan itu langsung saya tolak dengan halus. Mendengar rencana jalan kakinya itu, tanpa sadar, dengan refleks saya langsung elus-elus kaki. Hadehh… jalan kaki… Huhuhu… Tidak! Terimakasih.

Jam 4 pagi saya sudah berada di boncengan Pak Mayo menuju Taman Nasional Danau Kelimutu. Dari hotel menuju kawasan danau, kira-kira butuh waktu sekitar ½ jam. Setelah urusan tiket masuk beres, dengan dibonceng motor, saya memasuki gerbang pintu masuk.

Parkiran Taman Nasional Kelimutu

Sampai di parkiran Danau Kelimutu, Pak Mayo menyandarkan motornya dan memberi tahu kalau dia akan tidur-tiduran sejenak sembari menunggu saya turun dari danau.

“Lho, jadi Pak Mayo gak nememin? Saya naik sendirian?”

Seolah melihat kekuatiran yang jelas tergambar di wajah saya, si bapak mengatakan bahwa saya tak perlu kuatir karena jalur trekking menuju kesana sudah ada petunjuk yang jelas dan tinggal mengikuti tangga setapak yang menanjak. Masalahnya, jam ½ 5 pagi di kawasan itu masih gelap gulita dan sepertinya baru saya saja yang sampai di lokasi itu. Tapi toh pada akhirnya keindahan dan kemisteriusan Danau Kelimutu, sanggup mengalahkan kekuatiran dan ketakutan saya. Saya segera mengambil senter dari dalam ransel dan mulai beranjak menapaki jalan setapak itu.

Bismillahirrahmanirrahim…

Menuju Danau Kelimutu

Dalam suasana gelap, saya lalui jalan yang mendaki itu setapak demi setapak. Setiap kali terdengar deru angin dan suara-suara hewan di balik hutan dan pepohonan, saya hanya bisa melafalkan dzikir. Ada manfaatnya juga saya berada dalam kondisi seperti ini, paling tidak saya jadi bisa lebih agamis. Hehehe… Sia-sia upaya saya berharap ada satu atau dua orang pengunjung atau wisatwan yang bisa saya temui dan bisa saya ajak jalan bareng. Berkali-kali saya arahkan senter ke depan dan belakang saya, tapi tetap tidak ada siapa-siapa. Lalu, tiba-tiba saya mendengar suara yang menderu di tengah-tengah saya berjalan.

Suara apakah itu?

Oh astaga, tenyata suara itu adalah suara nafas saya sendiri yang ngos-ngos-an. 😀 😀 😀

Pendakian menuju Danau Kelimutu Flores

Wajar, kalau selama perjalanan menuju puncak Kelimutu terasa sangat melelahkan. Selain karena memang jalurnya yang cukup curam, semakin tinggi lokasinya maka udara di kawasan itu semakin menipis pula. Sebenarnya di sepanjang jalur trekking menuju Danau Kelimutu tersedia gazebo-gazebo yang disediakan untuk wisatawan yang kelelahan. Tapi saya tak ada niat untuk berhenti istirahat sedikitpun. Bukannya saya tak lelah, melainkan karena alasan takut. Nanti kalau pas saya lagi duduk-duduk istirahat terus ada mahluk apa gitu, hiiiyyy… kan serem? Jadi, kalau terasa lelah sekali selama menapaki jalur trekking, paling-paling yang bisa saya lakukan hanyalah melambatkan langkah sembari mengatur nafas.

Pendakian Gunung Kelimutu Flores

Di tengah perjalanan, saat saya melambatkan langkah di salah satu spot, dari belakang terdengar suara langkah-langkah kaki dan orang yang berbincang ramai. Ah, senangnya! Ada kawan berarti. Ternyata mereka adalah 4 bule pria-wanita dari Jerman. Sempat diajak barengan, tapi saya beralasan ingin jalan pelan-pelan saja agar bisa lebih dalam menikmati keindahan panorama di kawasan itu. Padahal mah aselinya, saya kuatir tak bisa mengikuti langkah mereka. Kaki bule kan panjang-panjang. Saya bergerak satu langkah, mereka bisa 2-3 langkah. Beuh, bisa tambah ngos-ngosan nih.

Sesungguhnya pemandangan di kawasan itu, bener-bener indah banget lho! Hal ini saya ketahui saat dalam perjalanan turun dari puncak Kelimutu. Karena matahari sudah bersinar terang, maka keindahannya semakin jelas terlihat. Area Kelimutu dikelilingi hutan yang ditumbuhi beragam tumbuhan baik pepohonan maupun tanaman paku-pakuan yang saya lihat di hutan-hutan yang berada di pinggir (lembah) jalur trekking. Memang banyak hutan pinus yang tumbuh subur di area ini, tapi sebagian area yang kain bisa juga dikatakan tandus dengan pasir dan tanah yang tidak stabil. Meskipun begitu, lekukan bukit dan tebing-tebing berkerikil yang pinggirnya ditumbuhi sedikit tanaman liar, terlihat seksi di mata saya.

Pemandangan di Gunung Kelimutu Flores

Setelah sekitar 30 menit melintasi jalur trekking yang menanjak, akhirnya saya sampai juga di tugu puncak kelimutu. Untuk menghangatkan udara dingin yang menyelimuti puncak saat itu, saya memesan secangkir kopi seharga Rp 5.000,- Sambil menyeruput kopi pelan-pelan, saya mengobrol banyak hal dengan si penjual yang masih rapat menyelimuti tubuhnya dengan sarung. Termasuk aktivitas dan pendapatannya sehari-hari.

Puncak tugu Kelimutu itu berbentuk segitiga, dimana di tempat itulah saya mulai berani melepaskan lelah sembari selonjoran. Beberapa pengunjung lainnya juga melakukan hal yang sama. Di sekeliling dinding tugu itu, saya lihat beberapa relief. Ada yang berupa hewan-hewan, ada juga Danau Kelimutu, dan beberapa aktivitas lain yang biasa dilakukan oleh warga lokal di sekitar kawasan itu.

Di tugu puncak kelimutu

Dari lokasi tugu puncak itu, saya bisa melihat dengan jelas keindahan kawasan Danau Kelimutu yang terkenal di seantero dunia itu. Saat saya pertama kali sampai, masih sekitar jam 5 pagi. Masih sedikit gelap, tapi, suka pemandangan itu, hasil kolaborasi antara matahari yang tampak malu-malu memunculkan diri, pegunungan, kabut, dan danau. Seolah, semakin menguatkan misteri yang ada di seputar kawasan Danau Kelimutu.

Danau Kelimutu

Danau Kelimutu sering juga disebut sebagai Danau Tiga Warna. Danau vulkanik ini memiliki 3 danau, dimana dua danau letaknya bersebelahan dan hanya dipisahkan oleh semacam dinding, yaitu: Danau Arwah Muda-mudi (tiwu nua muri ko’o fai) dan Danau Arwah Tukang Tenung (tiwu ata polo). Sedangkan satu danau yang terpisah dan berjarak sekitar 1 km dari danau lainya, yaitu: Danau Arwah Orangtua (tiwu ata bupu). Saat saya berada di sana, Danau Arwah Orang Tua sedang berwarna hitam.

Pemandangan Danau Kelimutu Flores

Danau Kelimutu dianggap ajaib dan menyimpan misteri karena warna ketiga danau tersebut berubah-ubah dan tak bisa diprediksi. Kadang warnanya bisa hijau, kadang cokelat, hitam, merah, putih dan biru.  Meskipun bisa dijelaskan secara ilmiah tapi masyrakat lokal meyakini bahwa danau itu merupakan tempat bersemayam roh-roh leluhur dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.

Untuk menghormati para leluhur, setiap tanggal 14 Agustus, warga lokal selalu mengadakan ritual memberi makan para leluhur yang disebut Patika. Prosesi ritual Patika yang merupakan acara utama dari Festival Danau Kelimutu ini, diselenggarakan di lapangan helipad di sekitar kawasan Danau Kelimutu. Pada saat prosesi berlangsung, akan ditampilkan tarian tradisional dan disediakan sesaji yang terdiri dari daging babi dan minuman moke.

Lansekap Gunung Kelimutu

Sepulang dari Danau Kelimutu, tepatnya setelah melewati gapura utama, Pak Mayo membelokkan kendaraannya ke arah kanan (selatan) untuk mengantar saya menuju Desa Pemo. Desa Pemo merupakan perkampungan adat yang berada di kaki Gunung Kelimutu dan secara administrasif masuk wilayah Kecamatan Kelimutu. Lokasinya berada di daerah perbukitan. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk kesana dengan kondisi jalan yang parah dan naik turun.

Begitu sampai di Desa Pemo, sebenarnya saya agak miris melihat kondisi rumah-rumah penduduk. Bentuk bangunan rumah-rumah itu sangat kurang ideal dan terlalu sederhana. Dindingnya terbuat dari bambu, beratapkan seng dan berlantaikan tanah. Sekuat tenaga saya berusaha untuk tetap positif thinking dengan membayangkan, bahwa kehidupan warga di desa ini lebih bahagia dibanding para koruptor negeri ini yang memiliki rumah mewah berlipat-lipat. Tapi agak susah saya lakukan.

Desa Pemo Moni

Kalau saja diolah dengan benar, sesungguhnya Desa Pemo menyajikan pesona alam dan budaya sekaligus. Di lereng-lereng gunung, tampak perkebunan kopi yang hijau lebat. Sementara sebuah rumah tradisional beratapkan ilalang yang ada di desa itu, seolah menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan yang harus dilalui warganya selama ini.

Di depan rumah adat ini, setiap bulan Oktober, biasanya para pria setempat berpakaian adat untuk menyelenggarakan ritual adat Joka Ju (tolak bala). Atau ritual yang bertujuan untuk menolak roh-roh jahat dari Desa Pemo dan agar masyarakat mendapatkan hasil panen yang berlimpah. Meskipun dalam ritual adat ini, saya kurang setuju dengan prosesi mengambi hati babi dalam keadaan hidup-hidup. Kasihan si babi. 🙁

Rumah adat di Moni Flores

Menurut keterangan Pak Mayo, dulunya Desa Pemo ini merupakan sentra produksi kain tenun berbahan alami. Tapi mengingat sulitnya tahapan-tahapan dalam menenun dan kurangnya minat generasi penerus, maka semakin langka pula warga yang meminatinya. Alhasil, di desa ini saya hanya berhasil menemui seorang nenek yang tengah khusuk menenun kain untuk pria. Kain yang sedang ditenunnya itu, bermotif garis-garis atau lurik, dengan kombinasi warna hitam, biru dan kuning. Di sebelahnya, terdapat sepotong bambu yang dipakai untuk menjemur benang-benang alami. Tak banyak waktu yang saya habiskan bersama nenek yang saat itu mengenakan baju tenun yang sudah lusuh, mengingat dia tak bisa berbincang dalam Bahasa Indonesia, selain hanya dalam bahasa daerahnya sendiri.

Penenun Moni Flores

Si nenek sempat meminta saya untuk membeli kain tenunnya seharga 1,5 juta. Andai mampu, saya ingin sekali memenuhi permintaannya, tapi untuk saat itu budget sedang menipis. Akhirnya saya hanya bisa mengulurkan selembaran uang untuk nenek itu. Maafkan ya, nek!

Hari sudah semakin, saya bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju Desa Jopu. Perjalanan menuju kesana membuat saya berasa langsung ingin memetik sayuran, karena itulah pemandangan saat itu yang saya temui. Perkebunan wortel, jagung dan kentang yang terhampar luas di sekitar wilayah itu.

Lalu sekitar 10 menit kemudian, tidak jauh dari perkebunan sayur itu, mata saya seolah terkunci oleh beragam kain tenun yang dipajang di sebuah rumah yang berlokasi di Nuamuri, Desa Mbuli Lo’o.

Kain Tenun Moni Flores

Saat itu juga saya langsung membatalkan lawatan ke Desa Jopu. Keputusan itu saya ambil karena memperhitungkan masalah waktu dan terutama pengalaman gagal melihat penenun di Desa Bena kemarin. Sehingga akhirnya saya memilih bertandang ke rumah (semacam butik tradisional) yang ternyata milik Mama Mathilda.

Mama Mathilda sempat menjelaskan bahwa, desanya memang terkenal sebagai penghasil wortel dan kentang, selain tentunya sebagai perkampungan tenun. Jadi di perkampungan ini, kita bisa menemukan banyak seniwati yang masih setia menjaga tradisi menenun warisan dari nenek moyang. Kita bisa membeli kain tenun ikat langsung ke rumah-rumah mereka. Harganya juga lebih terjangkau.

Desa Mbuli Lo'o

Mungkin karena lokasi Desa Mbuli Lo’o yang terletak di ruas jalan lintas Flores antara dua Kabupaten besar Ende dan Maumere, maka kain tenun ikat yang dihasilkan juga lebih beragam, baik dari motif, ragam hias maupun warnanya. Misalnya, motif Mata Jara yang kalau di Ndona kental warna cokelatnya, maka di desa ini motif itu kental dengan warna merah tua. Lalu, ada juga beberapa motif yang lebih kental memakai warna kuning emas yang menjadi ciri khas Desa Wolotopo. Tapi mungkin, justru itulah keunikan tenun dari Desa Mbuli Lo’o ini, bisa menyerap motif, ragam hias dan warna dari segala suku dan etnis.

Baca juga: Maumere: Berburu Tenun di Desa Sikka

Senang berbincang banyak hal dengan Mama Mathilda yang ramah ini. Bagi Mama Mathilda yang masih memiliki darah keturunan Raja Ende, pekerjaan menenun memiliki multi dimensi. Tidak hanya sekedar menghasilkan kain tenun yang bisa melindungi tubuh dan membantu perekonomian keluarga saja, namun juga merupakan sarana untuk mengembangkan daya kreasi dan juga upaya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Menurut pengakuannya, terkadang suatu motif kain tenun didapatnya dari perjumpaan dengan nenek moyang di alam mimpi.

kain tenun moni flores

Puas berbincang dan mengantongi beberapa lembar scarf berbahan tenun, akhirnya saya berpamitan pada Mama Mathilda. Pak Mayo mengantarkan saya kembali ke penginapan dan saya langsung bersiap untuk melanjutkan ekpedisi tenun ke destinasi selanjutnya, Maumere.

 

Writer. Lecturer. Travel Blogger. Broadcaster

Related Posts

Leave a Reply