Pesona Eksotis: Taman Nasional Ujung Kulon (meski minus badak)

“Ke Ujung Kulon yuuukk…” Ajak Indri teman saya dari Jakarta suatu kali.

Saya langsung tertarik, karena di benak saya waktu itu, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), berarti bisa bertemu badak bercula satu. Sebagai penyayang hewan, apalagi ini satwa langka, saya sudah pasti tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Akhirnya, sayapun langsung mengiyakan ajakan teman saya itu untuk bergabung dengan program wisata TNUK yang ditawarkan oleh salah satu biro perjalanan wisata di Jakarta.

Di tengah-tengah menunggu hari H, tepatnya 4 Oktober 2013, sebenarnya sempat muncul keragu-raguan setelah saya membaca daftar kegiatan wisata di TNUK. Loh kok banyak snorklingnya? Hmm, tapi tak apa lah.. kan masih bisa ketemu Badak Jawa? Tapi ketika kemudian Indri bilang, “Apa? Lihat badak? Lo dua minggu stay di sana aja, belom tentu ketemu badak!”  Waduh, saya langsung lunglai dan merasa semakin tipis harapan saya untuk bergabung dalam wisata ini. Soalnya, saya lebih suka wisata sejarah dan budaya. Dan snorkling, dulunya tidak masuk dalam genre wisata saya (jiahh.. wisata kok pake genre segala sih? hihihi…) Tapi sejujurnya sih, karena saya memang tidak bisa berenang (pssstttt…! Don’t judge me please…).

Akan tetapi, setelah Indri berhasil meyakinkan dan menguatkan saya, bahwa kita tidak bakalan menyesal ikut paket wisata ini, maka saya mulai agak-agak tertarik lagi. Apalagi Sansan, teman saya yang lain, yang tinggal di Jogja, juga berniat bergabung, dan diapun juga ngakunya tidak bisa berenang. Akhirnya, saya memantapkan tekad untuk mengunjungi TNUK. Langkah selanjutnya tentu saja, saya men-transfer uang sebesar Rp 825.000,- sebagai biaya perjalanan wisata TNUK ini.

Jadi saudara-sadara… informasi tentang snorkeling pastinya tidak akan kalian temui dalam kisah perjalanan saya ke TNUK kali ini. Tapi, kemudian, justru karena saya merasa iri melihat bagusnya foto-foto teman-teman yang ber-snorkeling, akhirnya di kemudian hari nanti, saya bertekad kuat untuk belajar renang sepulang dari sana. Tahu tidak? Ternyata, saya yang semula takut berenang, hanya butuh waktu 2 minggu (itupun seminggu cuma 3x), bisa berhasil menguasai gaya katak. Hebat gak tuh?

snorkeling kerenImage

Baiklah, kita kembali ke cerita wisata TNUK. Karena saya tinggal di Semarang, dan meeting point wisata ini ada di Jakarta (tepatnya di Senayan jam 7 malam), maka saya harus berangkat dulu ke Jakarta dulu. Saya yang dari Semarang dan teman saya yang lain yang tinggal di Jogja, janjian ketemu di Bandara Soetta. Dari sana, kami naik bus bandara menuju lokasi meeting point, Senayan.

Kami dan rombongan berangkat dari Senayan pintu 5 ke UK dengan mengendarai bus sekitar jam 10 malam. Hari Jum’at malam, tau sendiri, Jakarta pas padet-padetnya. Selepas pintu tol Serang dan memasuki kawasan Banten, dari mulai Cigeulis, Cimanggu, Cibaliung, dan ci ci lainnya, membentang rumah-rumah penduduk yang besar dan bagus-bagus. Ada perasaan ikut senang. Di depan rumah mereka, terpasang parabola. Tidak semuanya, tapi kebanyakan seperti itu. Dan memang, kondisi itu saya temui hanya di sepanjang atau pinggiran jalan yang saya lalui. Tapi kalo boleh menyimpulkan dengan agak sembrono, saya bilang, kehidupan mereka pasti agak lumayan. Mudah-mudahan saya benar.

Bus yang kami tumpangi tampak ngos-ngosan melewati jalanan yang menanjak, meliuk-liuk, tikungan tajem, sempit, dan tidak rata. Untung malam hari. Gak kebayang kalau lalu lintasnya pas padat. Dan satu hal yang saya sayangkan adalah, sepanjang jalan yang saya lewati, jalan-jalan banyak yang hancur dan rusak parah. Sayang ya? Harusnya pemerintah daerah sadar, bahwa untuk menarik wisatawan lebih banyak, maka perbaikan infrastruktur sangatlah penting.

Di tengah perjalanan, tepatnya di daerah Tanjung Lesung, kami sempat istirahat, turun dari bus dan ngopi-ngopi di warung terbuka yang menjual berbagai aneka makanan dan cemilan. Setelah perut saya sudah agak kenyang, refleks saya mengeluarkan dompet untuk membayar.

Tapi, si om dari biro pariwisata bilang, ‘Sudah… biar saya saja yang bayar mbak.’

Refleks saya bales, ‘Gak usah mas. Biar saya bayar sendiri.’

Bukan masalah apa-apa sih.. cuma tadi saya ngambil gorengannya 6 biji. Sementara yang lain, paling banter cuma makan 2 biji. Kan maluuuuu tauuuk…  Meski toh, pada akhirnya, saya dibayarin juga. hehehe

Sampai di Desa Sumur, desa tempat dimana dermaga menyeberang ke TN Ujung Kulon, sekitar jam 6 pagi. Beberapa penduduk sudah memulai aktivitasnya masing-masing. Ada yang membuka warung, berbelanja, membersihkan kapal, dll. Oh! Di sana minyak tanah masih banyak diperjual-belikan! Sembari mencoba mengikuti irama kesibukan warga setempat, kami saling bergantian mandi dan yang sudah selesai mandi bisa langsung menyantap sarapan yang sudah disediakan panitia rombongan.

ImageImage

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya kami mendapat kabar bahwa kapal yang akan membawa kami sudah tersedia. Sebelum meninggalkan posko di Desa Sumur, kami diberi bermacam-macam petunjuk atau pengarahan dan diajak berdoa bersama memohon keselamatan. Setelah itu, kami berjalan kaki menuju dermaga dengan durasi sekitar 10 menit.

ImageImage

Dalam perjalanan menuju dermaga, kami melewati pasar yang menjual beraneka kebutuhan masyarakat. Dari mulai sayuran, beras, sabun, dll. Warga setempat memandangi kami, dan kalau mata kami sempat bertemu, mereka akan membarikan seulas senyuman. Sementara di pinggiran pantai dermaga, tampak kesibukan warga setempat yang berjual-beli hasil laut. Sambil menunggu kapal yang ternyata belum datang, kami berpose sejenak di pinggiran dermaga

Image Image

Waduh, seandainya rumah saya dekat pasar ikan begini, saya pasti bahagia sekali bisa tiap hari makan sea-food favorit saya deh! Loh kok malah jadi ngomongin makanan sih? hihihi

Selang beberapa saat, kapal-kapal kecil mulai berdatangan. Kapal kecil itu tidak merapat langsung ke tepi pantai, tapi berjarak sekitar 3 meteran dari tepi pantai. Alhasil, untuk menaiki kapal kecil itu, saya harus berjalan dulu di air laut. Waduh, tahu gini, mending pakai celana pendek deh. Soalnya celana legging yang saya pakai sempat basah kena air. Bahkan untuk menaiki kapal kecil itu, saya juga perlu perjuangan dan doa. #lebay# Jadi disarankan, anda yang berniat wisata kesini, mending jangan pakai rok atau kebaya ya? hihihi

ImageImage

Kapal kecil di sini, semacam bus feeder pada bus Transjakarta. Jadi, kapal kecil itulah yang mentransfer (estafet) kita ke kapal yang lebih besar, yang tidak bisa mangkal dekat-dekat dermaga. Dan dari kapal kecil pindah ke kapal besar, jangan dikira tidak butuh perjuangan lho! Paling tidak, anda bisa membayangkan betapa tidak mudah usaha mbak berkaos merah ini untuk naik dari kapal kecil ke kapal besar. Beda ya, kalau kalau naiknya dari dermaga langsung ke kapal besar. Itu sih tidak terlalu sulit.

Image Image

Tujuan pertama kami ke Pulau Peucang.

Dulunya, dalam gambaran di benak saya, Taman Nasional Ujung Kulon itu semacam kebon binatang, yang menempati satu lokasi saja. Saya baru tahu, ternyata Ujung Kulon itu terdiri dari banyak pulau. Namun, wisata UK kali ini, hanya menyambangi 3 pulau saja, yaitu: Pulau Handeleum, Pulau Badul dan Pulau Peucang itu sendiri.

Setelah berada di kapal selama kurang lebih 3 jam, sampailah kita di Pulau Peucang sekitar jam 12 siang. Mata saya terbelalak melihat keindahan pantainya. Aiiihh… maha karya yang sempurna! Ombaknya yang nyaris tenang, berkolaborasi dengan warna lautnya yang hijau muda kebiru-biruan serta hamparan pasir putih yang halus.

ImageImage

Sesampai di Pulau Peucang, saya dan rombongan segera turun dari kapal, menuju ke tempat penginapan. Om-om dari biro wisata mulai membagi kamar. Masing-masing kamar berisi 3 orang. Di Peucang sini, listrik menyala hanya dari jam 6 malam sampai jam 6 pagi. Jadi, kalau ingin men-charge HP, kamera, dll, pastikan di jam sekian itu. Dan selain itu, di kawasan Ujung Kulon ini, tidak ada sinyal handphone dari provider manapun. Oleh penjaga pulau, kami diberitahu untuk menutup pintu kembali setelah membukanya, agar monyet yang berkeliaran di sekitar penginapan, tidak bisa masuk rumah dan mengambil barang-barang kami. Tapi sayangnya, ada beberapa teman yang kurang menganggap penting peringatan ini. Sehingga, saya terpaksa harus menengok ke pintu tiap kali ada yang membuka pintu. Kalau ada yang tidak menutup pintu kembali, saya bergegas untuk menutupnya.

Di seputar penginapan memang banyak berkeliaran satwa-satwa liar seperti: rusa (cervus timorensis), lutung jawa (trachypithecus auratus auratus), dan babi hutan (sus verrucosus).

ImageImage

Satwa-satwa liar itu, tampaknya tidak merasa terganggu dengan kedatangan orang-orang ke pulau ini. Mungkin karena sudah terbiasa pulau ini kedatangan tamu, sehingga mereka sudah menganggap biasa saja. Atau jangan-jangan… mereka sudah menganggap kita sebagai saudara ya? Hihihi.. Tapi kalau rusa, meskipun jumlahnya puluhan, hanya seekor saja yang berani kecentilan mendatangi kami. Yang lainnya tampak masih ogah-ogahan. Jadi gak heran kalau banyak teman-teman saya yg mengulurkan tangan memberi makanan, dari mulai kue kering, tahu, keripik kentang dll, bahkan ada yang memberinya tulang ayam. Ckk.. ckk.. heran, rusa kok dikasih tulang? Rupanya, perbuatan memberi makah ke rusa centil ini, membuat babi hutan menjadi iri. Si induk babi hutan pun, segera mendekati kami, yang kemudian disusul anak-anaknya. Pantat dan ekornya bikin saya pengen nabok deh! Hahaha…

ImageImage

Sepulang dari Ujung Kulon, saya sempat menunjukkan menunjukkan foto hewan-hewan menggemaskan itu ke 2 teman sekantor berjenis kelamin pria yang gak punya perasaan sama sekali: Yolly Yohandi dan Bimo Kadarusman

Saya: “Lihat nih… hewan-hewan ini cantik-cantik banget ya?”

Yolly: “Iya. dan tampak terlihat lezaaaat sekaleee.”

Bimo: “Wah, tambah lezat lagi kalau dipanggang.”

grrrrrrrhhhhh… menyebalkan!

Sekitar jam 2 siang, kami bersiap-siap menaiki kapal lagi menuju Pulau Cidaon. Sejak berangkat, kami disarankan sudah memakai baju renang, karena tidak ada ruang ganti, padahal rencananya setelah dari pulau itu, kami akan snorkeling dan menanti sunset di Karang Copong. Sekitar 1 jam kemudian, sampailah kita di Pulau Cidaon.

Cidaon merupakan padang penggembalaan yang sangat luas, dimana di wilayah ini, memiliki fasilitas berupa: dermaga, menara pengintai dan pos jaga.

ImageImage

Untuk sampai ke lokasi Padang Penggembalaan dari dermaga Cidaon, kita perlu jalan kaki (trekking) lebih dahulu sekitar 15 menit. Di sini, terdapat beraneka jenis pohon dan hamparan rumput yang menjadi tempat gaul dan mencari makanan bagi para penghuni pulau ini. Heh! Jangan salah… satwa juga butuh begowl kaleee… hihihi…

Dan konon katanya, penghuni Pulau Cidaon terdiri dari bermacam-macam jenis satwa, dari mulai: ayam hutan, burung merak hijau, kera ekor panjang, banteng, babi hutan, dan satwa langka lainnya. Sayang sekali, waktu saya kesana, hanya bisa menjumpai segerombolan banteng dandua ekor burung merak saja.

ImageImage

Banteng-banteng yang tinggal di Padang Penggembalaan Cidaon sini, lebih mirip seperti sapi, khususnya sapi-sapi warna cokelat yang saya lihat di daerah Lombok. Banteng di sini, sangat jauh dari bayangan banteng yang biasa saya lihat di TV dalam acara matador. Hahaha..

Yang membedakan dari sapi, banteng-banteng ini memiliki tanduk. Jenis kelamin banteng, dapat dibedakan dari warna kulitnya. Banteng betina mamiliki warna coklat kemerahan, sedangkan banteng jantan memiliki warna kulit hitam.

Untuk mengambil foto satwa-satwa ini, kita perlu merunduk-runduk dan tidak boleh berisik. Karena begitu mereka mengetahui keberadaan kita, mereka akan buru-buru menghindar masuk hutan dan kita tidak bisa mengambil foto mereka.

Image Image

Dari Pulau Cidaon, saya dan rombongan kembali menaiki kapal berlayar menuju Karang Copong. Saya lupa berapa menit jarak tempuh dari Cidaon ke Karang Copong. Kalau gak salah ingat, sekitar 20-30 menit.

Disebut Karang Copong karena di tengah laut Ujung Kulon ini, ada karang mati yang sangat besar yang memiliki lubang di tengahnya. Tapi ada juga yang bilang, gegara ada celah diantara dua karang mati yang ada di situ. Entah mana yang benar. Atau mungkin, masih ada penjelasan versi yang lain.

ImageImage

Karang-karang besar yang ada di lokasi Karang Copong ini, dikelilingi air laut dan sesekali disapu hempasan ombak yang kadang kecil, kadang besar pula. Kono, saat air sedang pasang, setengah dari karang tersebut akan terendam.

Dan kalau kita lihat sekilas, pemandangan di Karang Copong ini agak mirip-mirip dengan pemandangan di Tanah Lot Bali. Iya gak sih? Tapi yang pasti, Karang Copong adalah lokasi paling tepat untuk melihat matahari terbenam yang terindah di Pulau Peucang.

ImageImage

Setelah puas menikmati sunset di Karang Copong sambil apalagi kalau gak ber-berfoto-foto, kamipun segera kembali ke penginapan di Pulau Peucang. Kamipun segera mandi, lalu makan malam dan bersiap-siap untuk acara barbeque nanti malam.

ImageImage

Well, sebenernya bukan barbeque beneran sih… karena kalau acara barbeque kan kita sambil membakar ikan sambil makan. Ikannya masih panas-panas gimanaaa… Tapi, kalau acara barbeque yang ini, ikan-ikan sudah dibakar sebelumnya (cenderung sudah dingin) dan kita tinggal makan saja. Bumbunya juga saos sambel dan mayones. Udah gitu aja. Jadi lebih tepatnya, kalau menurut saya, makan ikan bakar di tepi pantai.

Cuma hal itu gak menjadi masalah bagi saya, karena toh baru saja selesai makan malam? Seharusnya gak perlu ada acara makan-makan ikan bakar di tepi pantai.

Esok paginya saya bangun pagi-pagi sekali karena tidak ingin melewatkan sunrise di Pulau Peucang. Di luar masih gelap. Setelah sikat gigi dan cuci muka, saya bergegas ke dermaga. Sesampai di dermaga, ternyata oh ternyata… disana sudah ramai teman-teman yang telah berfoto-foto sejak dari tadi. Bujug! Bangun jam berapa ya mereka-mereka itu? Soalnya, panorama masih gelap. Dan widiihh… lihat dermaga saat matahari belum muncul, ternyata agak-agak serem juga ya? Saya jadi keinget film yang pagi-pagi buta ombak sudah menghantam suatu desa yang dekat pantai. Sereeeemmm! Daripada makin kepikir yang enggak-enggak, mending saya segera join sama teman-teman untuk berfofo-foto saja deh!

ImageImage

Sampai capek foto-foto, ternyata matahari belum muncul juga. Kami saling beradu pandang. Aduh, jangan-jangan matahari gak akan muncul hari ini gegeara ketutup awan? Kecewa donk penonton! Akhirnya, kami bersepakat, kita gak boleh manyun dan harus tetap bergerak sembari menunggu kemunculan matahari. Saya ajak mereka untuk mencari spot-spot bagus yang lain untuk berfoto-foto.

Saya dan teman-teman mencopot sandal dan sengaja bertelanjang kaki demi untuk merasakan halusnya pasir putih yang ada di sepanjang tepi pantai. Sesekali saya merunduk karena menemukan kerang yang bagus untuk dipajang di aquarium di rumah. Melihat aktivitas saya itu, teman-teman yang lain ikut mencari kerang. Kalau mereka dapat yang bagus, segera diberikan ke saya.

Setelah berjalan agak jauh dari dermaga, akhirnya… Eureka! kami berhasil menemukan spot yang bagus untuk berfoto-foto. Di lokasi ini, banyak pohon-pohon yang menjulurkan ranting/dahannya ke tepi pantai. Keren sekali!

Image Image

Foto-foto sudah, jalan agak jauh sudah, tapi matahari pagi belum nongol juga. Hadeeehh… niat nongol gak sih? Takut sudah terlalu jauh dari rombongan dan tampaknya ombak di dekat situ agak-agak besar, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke dermaga. Perutpun mulai keroncongan. Untunglah, salah satu dari kami ada yang membawa roti. Dia lalu menawarkannya ke kami untuk dimakan beramai-ramai. Di tengah-tengah kami menikmati roti, tiba-tiba terlihat di ujung kiri matahari yang kami tunggu-tunggu tampak malu-malu menongolkan wujudnya. HOREEE!!

Imagematahari nongol

Fiuuhhh! Akhirnya tidak sia-sia juga penantian kami selama ini, sejak pagi buta. #lebaylagi# hihihi..

Beberapa teman yang lain yang semula masih berada di penginapan, begitu mendengar matahari telah terbit, mereka juga segera bergegas ke dermaga untuk tujuan berfoto ria. Dan karena momen matahari terbit ini adalah momen yang kita nanti-nanti sejak dari tadi, maka saya dan teman-teman mengabadikannya dalam berbagai pose. Aselinya sih emang narsis yaaa? Hahaha..

Ada 30-an pose barangkali, tapi saya akan berbagi di blog ini cukup dua saja. Seperti semboyan: 2 anak, cukup! Hahaha..

pose1

pose2

 

Capek foto-foto, sambil menunggu jam sarapan, saya dan teman-teman bersepakat ingin mengeksplore hutan di depan penginapan. Kami sempat bertanya ke penjaga pulau setempat, apakah aman menjelajahi hutan. Penjaga pulau tadi memberitahu, kalau ingin masuk ke hutan, kami harus dikawal oleh salah satu petugas yang memang sudah mengenal betul wilayah ini. Tapi kami berkilah, hanya akan bersenang-senang di pinggiran hutan saja, tidak sampai masuk ke dalam, jadi tampaknya tidak perlu menyewa jasa petugas pulau.

Hutan pulau Peucang merupakan salah satu ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah. Ada berbagai jenis tumbuhan atau tanaman yang hidup di wilayah itu. Bapak penjaga pulau tadi sempat menjelaskan tentang jenis pohon-pohon yang ada di sana, mulai dari bungur, merbau, kiara, dan lainnya saya lupa. Kiara yang paling saya ingat dan ingin saya ketahui lebih jauh. Pohon ini semacam benalu atau parasit. Dia hidup dan besar dari hasil melilit, mencekik dan menghisap tubuh pohon yang ditempelnya. Tapi, selama saya berada di pinggiran hutan itu, tidak nemu pohon Kiara. Mungkin dia berada di lokasi hutan yang agak ketengah sana.

Saya melihat begitu banyak pohon di hutan pulau Peucang ini. Dan sayangnya, saya tidak paham banyak mengenai tetumbuhan. Sehingga saya tidak bisa membedakan mana yang A, mana yang B, dlsb. Hanya satu pohon yang saya tahu. Itupun karena ada papan namanya. Hehehe.. Namanya: Hea. Atau dalam bahasa ilmiahnya: Eugenia Polycephala. Pun, ejaan di papan nama yang nempel di pohon itu berarti salah kan?

hutan peucang1

hutan peucang2

Dari hasil googling, akhirnya saya tahu apa itu jenis pohon Eugenia Polycephala. Pohon itu adalah nama lain dari gowok, kupa, atau kepa. Dia masih termasuk  anggota suku jambu-jambuan atau Myrtaceae yang berasal dari Indonesia, khususnya Jawa dan Kalimantan. Buahnya namanya buni. Warnanya ungu tua kehitam-hitaman. Rasanya masam atau asam manis agak sepet. Dan ada juga dijual di pasar-pasar.

Lalu, apa yang kami lakukan di pinggir hutan Pulau Peucang? Tepat tebakan anda! Foto-foto doooonnk! Hihihi…

foto hutan1 foto hutan2

Setelah puas berfoto-foto, kamipun segera kembali ke penginapan, mandi, dan sarapan yang sudah disediakan di pinggir pantai.

Sekitar jam 8 pagi, kami segera merapikan barang-barang bawaan, karena setelah ini akan langsung check out dari penginapan. Rencananya, setelah dari Pulau Hadeuleum dan Pulau Bedul nanti, kami akan langsung menyeberang ke Desa Sumur untuk selanjutnya pulang kembali ke Jakarta.

Dari Pulau Peucang ke Pulau Handeuleum kira-kira butuh waktu 1,5 jam dengan mengendarai kapal. Banyak hal yang dilakukan teman-teman di kapal dalam perjalanan itu. Ada yang foto-fotoan, ada yang ngobrol, ada yang tidur, bahkan ada juga yang tiap naik ke atas kapal, ini anak selalu cari posisi yang pas untuk tidur. Tidak pernah tidak tidur selama dia di kapal.

Pulau Handeuleum dikelilingi hutan mangrove. Sama seperti pulau-pulau lainnya di sekitar Ujung Kulon, pulau ini juga dikelilingi hutan dengan pohon-pohon yang rantingnya menjuntai ke laut. Tidak ada hal penting yang kita lakukan di sana, selain foto-foto. Tidak ada satwa yang saya temui. Saya sendiri hanya duduk-duduk di pinggiran pantai sambil mencari kerang yang nantinya bakal menghuni aquarium saya. Tapi mungkin, panitia rombongan perlu kemari, karena wajib lapor, bayar restribusi dan memesan kano. Entahlah, karena memang segalanya, dari mulai pesan penginapan, kapal, bus, makan-minum, dll, semuanya telah diurus dengan baik oleh biro pariwisata. Kita hanya tahu beres saja.

handeuleum1 handeuleum2

Setelah beberapa saat, tebakan saya setelah om-om dari biro pariwisata menyelesaikan urusan administrasi, akhirnya kita meninggalkan Pulau Handeuleum menuju Sungai Cigenter. Kita akan menyusuri sepanjang sungai Cigenter dengan menggunakan cano. Jadi, dari kapal yang kita tumpangi ini, akan transfer ke cano yang lebih kecil. Jiahh… alamat bakal ada usaha, perjuangan dan doa lagi deh nih!

naik cano1 naik cano2

Hal yang paling bikin jleb! adalah… sebelum kita naik cano, om-om dari biro wisata wanti-wanti ke kita semua, bahwa di sepanjang Sungai Cigenter banyak sekali buaya. Jadi dimohon tidak dengan sembarangan memasukkan tangan ke dalam air sungai. Biasanya kan orang suka penasaran pengen megang air yak? Selain itu, si om juga menceritakan, dulu pernah ada yang meninggal di Sungai Cigenter dimakan buaya. Hadeeeeehhhhhh…! Om, om… gak ada cerita yang lebih serem dari itu yak? Kita udah mau berangkat nih…!

Dari kapal besar, masing-masing orang menaiki cano yang telah tersedia. Masing-masing cano diisi 6-9 orang ditambah 1 orang ‘sopir’ resmi cano. Saya satu cano bareng Indri, Sansan, Indah, dan 3 teman lainnya. Indah ini, duduknya di depan saya persis. Mungkin karena terpengaruh oleh cerita om-om dari biro pariwisata, tiap kali cano kami agak miring ke kiri atau ke kanan, dia langsung panik teriak-teriak histeris. Agak susah membuat dia santai, sampai saya bersuara agak kencang menyuruh dia lebih santai sedikit. Bukannya apa-apa, kalau dia panik dan gerak-gerak gak jelas, justru cano nya malah oleng sana-sini. Hadeeehhh…

klp saya1 klp saya2

Yang duduk paling belakang, itulah si ‘sopir’ resmi cano. Gak tau juga apakah perlu semacam SIM untuk menjadi sopir cano. Hihihi.. Yang pasti, di belakang pinggang bapak itu, terselip parang/clurit yang dari kilatannya, sudah kebayang betapa tajamnya benda itu. Mungkin buat jaga-jaga ya… semisal nanti ketemu ular phyton atau buaya. Tapi amit-amiiiiittt… deh jangan sampai ketemu!

Setelah masing-masing rombongan menempati posisi di cano nya masing-masing, maka kamipun segera mulai menyusuri Sungai Cigenter. Entah karena takut buaya atau memang suasananya yang mencekam, awalnya tidak ada yang bersuara diantara kami satu cano. Jadi yang terdengar hanyalah suara air yang beradu dengan dayung dan suara satwa-satwa liar yang khas. Sambil menyusuri sungai yang lingkungannya masih alami ini, kita bisa melihat hutan tropis di sepanjang sungai.

hutan tropis1 hutan tropis2

Sebelumnya tadi, om-om dari biro wisata bilang, kalau kita beruntung, kita akan bertemu dengan burung yang langka, seperti: burung Raja udang atau burung Srigunting yang sering terlihat di sekitar sungai. Sayang sekali, tidak nampak seekor burungpun sepanjang kami melintasi Sungai Cigenter. Tapi, kami cukup senang bisa melihat reptile: ular dan biawak yang sedang melintas di pinggir sungai.

biawak ular

Setelah menyusuri sungai Cigenter selama lebih dari 1 jam, kami mendayung cano masing-masing ke kapal besar. Semua group berhasil menyelesaikan rutenya dengan baik.

Meskipun, ada beberapa rintangan yang harus dilalui. Seperti misalnya, pohon yang tumbang. Jadi untuk tetap bisa menyusuri sungai, kita harus melewati sela-sela pohon tumbang tadi. Hanya kelompok si Ferdi yang agak kasihan. Tampaknya dia mendayung sendirian. Dia koar-koar sambil bercanda, “Payah nih, kelompok gue isinya artis semua. Maunya duduk-duduk ama foto-foto doank. Gak ada yang mau mendayung. Untung gue dulu juara cano tingkat nasional, jadi cano gue bisa mengimbangi laju cano-cano yang lain.”

Hahaha… Tabahkan hatimu ya nak!

cano artis cano rintangan

Ketika semua anggota rombongan wisata Ujung Kulon ini kembali ke kapal besar, makan siang sudah tersedia di kapal. Menunya ikan goreng, ayam, sop, dll. Dan dengan berakhinya acara canoing tadi, berarti tinggal 1 spot lagi yang akan dikunjungi. Cara untuk sampai ke pulau tersebut, yaitu dengan snorkeling. Jadi, teman-teman sebagian ada yang snorkeling sementara saya dan yang lainnya tetap di kapal. Sambil menunggu, saya mengobrol dengan teman-teman yang stay di kapal. Inginnya baca buku, tapi saya gak bawa buku 1 pun. Bosan ngobrol-ngobrol, saya foto-foto. Bahkan saya sempat memfoto Pulau Badul yang tampaknya kecil, tidak terlalu luas, kalah luas bila dibanding  Pulau Peucang.

snorkling badulpulau badul

Setelah berfoto-foto dengan teman-teman di kapal, kebosanan kembali menyerang saya. Mau ngobrol dengan teman-teman yang stay di kapal, tampaknya materi obrolan mereka agak-agak personal. Jadi lebih baik saya menjauh saja. Dan daripada saya mati gaya, mending saya ngobrol dengan bapak tua yang sedang duduk termangu. Siapa tahu saya bisa dapat insight kan? Akhirnya pelan namun pasti, saya bergerak mendekati bapak-bapak tua yang duduk-duduk di ujung kapal.

Selama di kapal, pekerjaan bapak tua itu menurunkan dan menaikkan jangkar. Dia lebih sering duduk di ujung kapal bagian depan. Saya lihat, dia sering menerawang ke laut lepas. Dari bapak tua itu, saya tahu kalau sewa kapal itu seharinya 3 juta rupiah. Dan utk sekali jalan, kapal butuh 100 liter solar. Waktu saya goda betapa penghasilannya itu besar, dia bilang kalau kapal itu bukan miliknya. Si empunya kapal, warga setempat juga, dan dulunya punya 3 kapal, tapi sekarang tinggal 2 saja. Konon, 1 kapal lainnya pecah menabrak karang gegara nahkodanya ketiduran. Menurut bapak itu, kapal yg saya tumpangi ini, usianya sudah 20 tahun. 20 tahun??? Masih kuatkah?? Waduh, jadi agak-agak galau saya. Selamet aja deh. Amin.

ujung kapal1 ujung kapal2

Sambil menunduk, bapak tua itu bercerita kalau penyewa kapal tidak seramai yang dulu-dulu. Biasanya, dalam seminggu bisa 5 penyewa, bahkan lebih.Ttapi sekarang-sekarang, maksimal hanya 2 penyewa dalam seminggu. Wajahnya jelas menampakkan kekuatiran yang sangat. Menurut dia, berkurangnya wisatawan yg datang ke ujung kulon, gegara harga sewa hotel/rumah singgah yang mahal. Dulu sewaktu masih dipegang dinas perhutanan, sehari hanya 300 ribu rupiah (sudah tms makan)/kamar. Tapi sejak dipegang swasta, harga menjadi 1 juta rupiah/kamar perhari. Bahkan kemarin ada serombongan yang datang, tapi batal dan balik lagi, gegara melihat harga kamar yang ampun-ampun itu. Sayangnya, waktu saya tanya kenapa ada pergantian pengurus dari dinas kehutanan ke swasta, bapak tua itu tidak bisa memberikan jawaban. Meski begitu, ada 1 hal yg membuat saya lega. Di laut sini, dari cerita bapak tua tadi, ada larangan keras dari pemerintah. Dilarang menggunakan alat semacam pukat harimau untuk menangkap ikan. Jadi nelayan-nelayan yang memakai alat tradisioanal, tidak terganggu mata pencahariannya.

Usai ngobrol dengan bapak tua itu, tidak berapa lama kemudian, teman-teman yang snorkeling, satu per satu naik ke kapal. Tidak ada kamar mandi di kapal ini, itu berarti, mereka akan memakai pakainnya yang sekarang sampai ke Desa Sumur nanti.

Sampai di Desa Sumur,  kami bergantian mandi. Setelah semuanya siap, kami naik ke dalam bus yang sudah menunggu dan siap mengantar kami kembali ke Jakarta.

bis

r tunggu garuda

Di tengah perjalanan, bus yang kami tumpangi sempat mengalami kerusakan pada rem-nya. Kami berhenti lama, sekitar 1 jam. Sambil menunggu bus diperbaiki, kamipun menyerbu warung yang ada di dekat situ. Ada yang memesan mie goreng, mie rebus, kopi, jajanan kecil, dll.

Setelan bus beres, kamipun melanjutkan perjalanan. Hampir seisi bus tepar dengan suksesnya. Bangun-bangun, kami sudah berada di RM Sunda yang menjual otak-otak. Sambil makan, saya memesan otak-otak untuk oleh-oleh.

Setelah makan selesai, bus kembali melaju. Saya dan temen saya, Sansan, minta berhenti di Lippo untuk terus ke Bandara Soetta. Sampai di Soetta, saya dan dia berpisah. Saya di ruang tunggu ke Semarang, Sansan di ruang tunggu ke Jogja.

Saya sampai di Semarang dengan selamat. Dan, hei! kamu Indri, benar sekali. Saya memang tidak menyesal ikut perjalanan wisata ke Ujung Kulon ini, dan justru sebaliknya, sangat menikmati perjalanan wisata kita kali ini. Sampai ketemu lagi di perjalanan yang lain!

11 comments

    1. wkwkwkw… tetep nulis donk ndri… kan beda sudut pandang je..
      salam dr badak kuterima.. salam balik ya buat badak.. bilangin jangan sensian.. dikit2 ngumpet.. kan susahhhh… hihihihi

    1. abis gmn lil.. klo kamera ato hp ku yg diambil si monkey kan repot juga? drpd.. drpd.. kan?

      ahhh.. mau ke karimun aja lil.. yuukk.. yuukkk.. klo ombaknya udh gak gede 😉

    1. iya deff.. jaoh sebelum batavia.. soalnya bulan oktober. klo batavia kan desember yak? eh iya kan? tp sbenernya pengen jg wisata ke muara angke 😀

  1. iya.. mari ke UK.. gw gak kuat klo kemping. anginnye gede. takut masuk angin. trus kudu siul2 spanjang hari kan gak lucu? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*