Menyapa Taman Nasional Baluran di Musim Penghujan

Keeksotisan Taman Nasional Baluran di musim kemarau tak ada yang menyangsikan lagi. Pemandangannya indah banget. Saat kemarau tiba, kita akan menyaksikan hamparan padang savana yang berwarna kuning keemasan, pohon-pohon yang meranggas, serta sinar terik matahari yang kilaunya bersiborok dengan hewan-hewan yang berkeliaran mencari air demi melepas dahaga. Meski demikian, sesungguhnya pemadangan Baluran di musim penghujan juga tak kalah memesona. Di musim penghujan, savana terlihat seperti hamparan permadani yang hijau dan pepohononan yang digelayuti embun. Karena itulah saya datang dan menyapa Baluran di sekitar bulan April. Bulan dimana sebenarnya siap-siap memasuki musim panas, namun curah hujan masih sering turun.

Pohon Ziziphus Mauritiana atau lebih dikenal dengan pohon Raisa, pohon heits di Baluran
Pohon Ziziphus Mauritiana atau lebih dikenal dengan pohon Raisa,, pohon heits di Baluran

Taman Nasional Baluran terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo, atau tepatnya berada di sebelah utara Kabupaten Banyuwangi. Kawasan taman ini luasnya sekitar 25.000 hektar, atau 1/7-nya luas wilayah Situbondo. Dengan kekayaan alam yang dimilikinya, boleh dibilang, Baluran merupakan paket wisata alam yang lengkap. Bayangkan saja, savana ada. Lalu ragam hutan dari mulai hutan evergreen forest, hutan pantai, sampai hutan mangrove juga ada. Belum lagi gunung, laut dan satwa-satwa liar yang beragam dari mulai merak, monyet ekor panjang, rusa, babi hutan, biawak, banteng hingga macan tutul. Sayangnya, satwa-satwa liar itu agak sulit kita temui di musim penghujan, karena cekungan-cekungan sumber air di permukaan tanah Baluran semuanya sudah terisi air sehingga ketika satwa itu ingin mencari air minum mereka tak perlu harus ke tengah savana.

Drama Penginapan di Savana Bekol

Gerbang pintu masuk ke Taman Nasional Baluran
Gerbang pintu masuk ke Taman Nasional Baluran. Pos Jaga di sebelag kiri

Hari sudah beranjak siang ketika saya dan Natnat turun dari Bromo. Kami janjian ketemu dengan genk Arek Malang, yaitu: Rifqi, Anggrek dan Syauqi, untuk bareng-bareng berangkat pakai 1 mobil ke Baluran. Padahal perjalanan dari ‘meeting point’ ke Baluran butuh waktu sekitar 5 jam. Apalagi kami berhenti di beberapa tempat, baik untuk keperluan shalat Jum’at, makan siang, belanja beras dan lain sebagainya. Alhasil, kami sampai di depan pintu gerbang Taman Nasional Baluran sudah jam 5 sore lebih. Sebentar lagi maghrib tiba. Kamipun masuk ke Baluran dari Pos Penjagaan Batangan.

Wisma Pilang, penginapan di dalam area Baluran. Lokasi di depan Pantai Bama. CUkup untuk ber-6
Wisma Pilang, penginapan di dalam area Baluran. Lokasi di depan Pantai Bama. CUkup untuk ber-6

Setelah membayar tiket di pos penjaga yang ada di samping pintu gapura masuk Taman Nasional Baluran, maka hal penting yang harus segera kami urus adalah masalah penginapan. Soalnya kami datang sudah agak malam dan apalagi saat itu week-end (peak season). Di dalam area Baluran memang menyediakan penginapan yang harus dipesan terlebih dahulu, karena jumlah kamarnya terbatas. Dan kami berlima sudah jauh-jauh hari memesan kamar. Penginapan yang ada di dalam area Baluran ini berada di 2 lokasi. Lokasi pertama, Wisma Rusa dan Wisma Merak, berada di area sekitar padang Savana Bekol. Sedangkan lokasi kedua, hanya ada 1 wisma saja yaitu Wisma Pilang, berada di sekitar area Pantai Bama. Berdasarkan informasi yang kami dapat dari internet, masing-masing wisma/kamar hanya bisa untuk 2 orang saja. Sehingga akhirnya kami memesan, 2 kamar di Wisma Rusa (Syauqi, Rifqi dan Anggrek) dan 1 kamar di Wisma Pilang (saya dan Natnat).

Masak sendiri, Makan sendiri. DI wisma Pilang Baluran
Masak sendiri, Makan sendiri. DI wisma Pilang Baluran

Perjalanan dari pos penjaga Batangan sampai ke padang Savana Bekol terhitung lumayan jauh. Mungkin sekitar 10 kiloan lebih. Hari sudah beranjak gelap. Tak bisa lagi kami lihat hijaunya hutan sepanjang tahun (evergreen forest) yang terbentang di sisi kiri dan kanan jalan yang kami lewati. Hujanpun mulai turun rintik-rintik. Dengan bantuan lampu mobil, saya bisa melihat kondisi jalan yang tak terlalu mulus. Aspalnya rusak dan batu kerikilnya kemana-mana, pun masih ditambah dengan genangan air hujan. Selain itu, lebar jalan tak terlalu luas, tak lebih dari jarak 2 mobil yang bersisian. Dengan kondisi jalan yang demikian dan masih ditambah demi keselamatan hewan yang barangkali mendadak menyeberang jalan, maka perlu extra hati-hati saat mengendarai mobil. Kecepatannya sekitar 10-20km/jam saja. Alhasil, dari pos penjaga pintu masuk sampai ke savana Bekol, butuh waktu sekitar 1 jam s/d 1,5 jam. Lumayan lama kan? Psst…! Di dalam mobil ada 2-3 orang yang teriak-teriak menahan pipis. Hihihi…

Kondisi Jalan d Musim Penghujan di area Baluran
Kondisi Jalan d Musim Penghujan di area Taman Nasional Baluran

Sampai di lokasi savana Bekol, hari sudah benar-benar gelap. Kami segera ke kantor wisma penginapan untuk melakukan reservasi. Kami pikir, manajemen pengurus penginapan di savana Bekol dan di pantai Bama sama, tapi ternyata berbeda. Pengurusnya sendiri-sendiri. Akhirnya kami segera menuju ke penginapan kedua yang berlokasi di sekitar Pantai Bama. Kami sempat bertemu dengan ratusan rombongan rusa dan beberapa banteng yang matanya menyala. Tapi mobil kami tetap melaju, karena sudah tak bisa melihat dengan jelas.

Spot wajib di Savana Bekol Baluran
Spot wajib di Savana Bekol Baluran

Dari Bekol ke Pantai Bama memang tak terlalu jauh. Sekitar 3 kilo saja. Hanya sekitar 20 menit. Tapi, alamak! Gelap sekali suasana di sekitarnya. Sepi dan serem auranya. Hanya ada 1 wisma di situ. Tak ada wisma lainnya. Artinya taka da orang lain. Saya dan Natnat tak mungkin berani berdua saja tidur di penginapan ini. Selain itu, ternyata yang disebut Wisma Pilang ini sebenarnya cukup untuk ditiduri ber-enam. Ruangannya luas. Terdiri dari 1 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang makan dan dapur. Jadi kenapa harus menyewa kamar di Wisma Rusa tadi? Kan ber-5 cukup di satu wisma ini saja? Akhirnya kami ber-5 berunding tentang bagaimana caranya meminta kembali uang sewa yang sudah kami bayarkan di Wisma Rusa yang berlokasi di savana Bekol tadi. Tak perlu cerita bagaimana kronologisnya (masih ngakak kalau ingat cerita ini), namun pada akhirnya kami berhasil mendapatkan kembali uang sewa tersebut.

Pose di sini, Biar dianggap sah sudah pernah datang ke Baluran
Pose di sini, Biar dianggap sah sudah pernah datang ke Baluran

Drama penginapan selesai. Karena lapar sudah tak tertahankan, kami langsung membongkar bahan-bahan makanan untuk kemudian dimasak dan dimakan ramai-ramai. Sempat bermain kartu sebentar, sebelum kami semua akhirnya tepar dengan sukses!

Baca juga: Sukamade, istana penyu (bukan) destinasi wisata Banyuwangi

Berharap Sunrise di Pantai Bama

Pantai Bama merupakan salah satu destinasi wajib bagi wisatawan yang dengan berkunjung ke Taman Nasional Baluran. Pantai ini memiliki hamparan pasir putih serta ombak yang relatif tenang. Makanya, jika pas cuaca lagi cerah, kita bisa berenang atau snorkelling agak ke tengah untuk mendapatkan pemandangan terumbu karang dan ikan yang indah. Jika pas bukan musim liburan, kita bisa menikmati suasana pantai yang sepi, rerimbun pepohonon serta angin yang bertiup sepoi-sepoi. Hal menarik lainnya, Pantai Bama ini dikelilingi oleh tumbuhan mangrove atau pohon bakau.

Merak yang berkeliaran di Taman Nasional Baluran
Merak yang berkeliaran di Taman Nasional Baluran

Penginapan saya dan kawan-kawan tepat berada di depan Pantai Bama. Buka pintu dikit, langsung tersaji pemandangan laut yang cantik. Jalan sedikit dari penginapan, bisa langsung bermain air di pantainya. Tapi perlu waspada dengan keberadaan monyet abu-abu berekor panjang yang jumlahnya banyak banget. Monyet-monyet di sini cukup agresif dan bahkan berani mengambil benda yang ada di tas kita. Bukan salah mereka juga sih, melainkan salah kita yang tanpa berpikir panjang suka memberikan makanan ke mereka.

Mendung menghalangi kami bertemu sunrise di Pantai Bama Baluran
Mendung menghalangi kami bertemu sunrise di Pantai Bama Baluran

Pagi itu kami berlima sengaja bangun pagi untuk hunting foto sunrise. Konon foto sunrise dari Pantai Bama hasilnya akan memukau. Maka segala peralatan fotografi disiapkan lalu diangkut ke bibir pantai. Sembari menunggu, kami bermain ayunan yang terpasang di pohon dekat pantai. Kami juga sempat berfoto dengan berbagai pose untuk mengusir kebosanan. Selang beberapa saat menunggu, kami baru tersadar. Ah, rupanya kami sedang tidak beruntung. Ada mendung tebal menggelayut di ujung langit. Ya sudah, kami segera bangkit dari duduk dan mulai melangkahkan kaki ke arah sebelah kiri pantai. Hutan mangrove. Eksotis. Beberapa kali kami menghindari pohon mangrove dengan cara merunduk dan melompat. Sampai akhirnya tiba di sebuah pantai yang penuh bebatuan. Lumayan menarik juga pemandangan di sekitar sini ternyata.

 

Menikmati Savana Bekol yang Memesona

Keindahan Baluran kadang membuat siapaun jadi lebih berani berekspresi..
Keindahan Baluran kadang membuat siapaun jadi lebih berani berekspresi. Ini buktinya…

Padang savana Bekol adalah hamparan padang rumput yang luas dengan satu atau dua batang pohon khas padang rumput yang tumbuh di kejauhan. Luas padang rumputnya meliputi 40% dari keseluruhan luas Taman Nasional Baluran. Destinasi ini merupakan ikon dan landmark utama Taman Nasional Baluran. Dan mengingat kemarin datang terlalu malam sehingga tak bisa melihat jelas Savana Bekol, maka saya dan kawan-kawan sengaja check out lebih pagi agar bisa berlama-lama menikmati keindahannya lebih lama, sembari jalan pulang.

Ini Pantai yang kami temui setelah berjalan ke arah kiri dari Pantai Bama dan melewati hutan mangrove
Ini Pantai yang kami temui setelah berjalan ke arah kiri dari Pantai Bama dan melewati hutan mangrove

Dari Wisma Pilang menuju Savana Bekol, kami lebih banyak terdiam menikmati keindahan hutan yang terhampar di sisi kiri dan kanan jalan. Sesekali kami berteriak, jika melihat merak atau rusa yang melenggang berjalan santai di pinggir hutan. Selain berteriak, kami juga saling berebut duduk dekat jendela agar lebih mudah mengambil foto-foto satwa liar yang kami temui. Sesekali kami berhenti, jika ketemu spot foto yang bagus. Tapi paling lama kami berada padang rumput savana Bekol. Saya tak henti-henti mengagumi pemandangan dramatis yang tercipta dari keindahan padang savana dan dilatarbelakangi Gunung Baluran serta dipayungi warna langit yang pas banget lagi biru-birunya. Indonesia itu indah banget ya gaes?

Kupu-kupu beterbangan di savana Bekol Baluran
Kupu-kupu beterbangan di savana Bekol Baluran

Sama seperti para traveler mainstream lainnya, kami berlima juga berpose di spot-spot yang sudah mainstream, seperti misalnya: spot papan bertuliskan Savana Bekol, atau pose di bawah pohon Bidara Bukol (Ziziphus Mauritiana) dan tak lupa juga berpose di pertigaan dimana terdapat gerbang kayu yang digantungi tengkorak-tengkorak kepala banteng dan kerbau liar. Konon ada yang bilang, berfoto di lokasi kerangka ini adalah bukti jika kita sudah sah menginjakkan kaki di Taman Nasional Baluran. Katanya begitu. Alhasil, kami berpose dengan berbagai gaya sepuasnya sampai lelah. Tak peduli meskipun kontur tanah di sekitar situ becek, bergumpal lunak dan lengket di sepatu. Jangankan kami, sepasang calon pengantin juga tampaknya tak peduli dengan kondisi becek-becek itu. Mereka terus berpose dengan berbagai gaya demi keperluan foto pre-wedd mereka.

Ibu dan anak rusa mengawasai kami yang berkeliaran di Baluran
Ibu dan anak rusa mengawasai kami yang berkeliaran di Baluran

Hari semakin siang. Pengunjung semakin banyak. Semakin berebut pula berfoto di spot-spot mainstream. Kami lalu sepakat untuk meninggalkan Taman Nasional Baluran. Sambil berjanji akan kembali di musim ketika Baluran berwarna kuning keemasan. Bukankah demikian gaes Sauqi, Anggrek, Natnat, Pak Dhe Rifqy?

Baca juga: 7 tips sukses traveling bareng teman

***

Tips mengunjungi Taman Nasional Baluran

  • Pastikan kendaraan dalam kondisi prima dan bahan bakarnya cukup.
  • Bawa makanan dan minuman ringan maupun berat karena jarang ada warung makanan
  • Hati-hati dengan barang bawaan, apalagi makanan. Banyak monyet liar yang agresif.
  • Jika menginap, pasang tongkat/kayu di samping pintu. Ayun-ayunkan tongkat (jangan digebuk-kan) untuk mengusir monyet.
  • Jika menginap, bawa perlengkapan masak sendiri. Kantin/café hanya buka pas musim libur saja.
  • Bawa obat mata, khususnya di musim kemarau
  • Buang sampah pada tempatnya

Writer. Lecturer. Travel Blogger. Broadcaster

Related Posts