Kuliling Dalam Kota Ambon

Atau jalan-jalan di seputar Kota Ambon.
Sesampai di bandara Pattimura Ambon, saya langsung menuju ke loket penjualan tiket dari Ambon ke Banda Naira. Betapa terkejut dan kecewanya saya, begitu mengetahui bahwa penerbangan menuju Banda Naira sudah penuh sampai 2 minggu ke depan. Dan pada akhirnya, saya pilih memesan tiket Pelni yang tanggal atau jadwal berlayarnya masih terhitung lebih cepat dibanding saya harus naik pesawat .
Masalahnya, apa yang akan saya lakukan selama dua mingguan ke depan di Ambon? Bagaimana kalau budget saya tidak mencukupi? Karena sebelumnya, saya sudah menggunakan budget Banda Naira ini untuk mencicipi keindahan Bali, Lombok, Labuan Bajo dan keliling Flores. Itupun, masih ditambah melipir ke Makassar segala. Sebagai traveler mandiri, saya jadi agak-agak berpikir keras. Tapi berpikir dalam dalam kondisi tertekan seperti itu sering tidak membuahkan hasil, maka saya memutuskan untuk berjalan-jalan di seputar pusat kota Ambon. Kemana sajakah itu?

Setelah berhasil membeli tiket Pelni di area Pelabuhan Yos Sudarso yang merupakan salah satu pelabuhan utama di Ambon, saya berjalan kaki tak tentu arah. Di dekat situ saya melihat Masjid Raya Al Fatah. Bangunannya sangat megah dengan warna kuning keemasan.
Di samping masjid Al Fatah berdiri bersebelahan masjid jami yang berwarna hijau. Di lokasi masjid ini, pada tahun 2012 lalu pernah diselenggaran kejuaran MTQ yang berjalan dengan sukses. Tak heran jika masjid Raya Al Fatah menjadi bangunan kebanggaan dan icon masyarakat muslim di Ambon sekaligus menjadi tujuan para pendatang untuk beribadah.

 

Asyik juga sebenarnya berjalan kaki menyusuri kota Ambon. Jalan darat tidak seramai jalan-jalan di Jawa. Mungkin juga karena masyarakat di sini lebih banyak menggunakan kapal sebagai alat tranportasi. Kita tahu bahwa Ambon merupakan ibu kota provinsi Maluku yang terdiri dari pulau-pulau dan perairan laut. Sehingga, untuk menjangkau satu daerah ke daerah lain tersedia berbagai jenis kapal yang juga menjadi alat transportasi penting.

Satu hal yang sangat membekas yang saya rasakan, masyarakat Ambon sangat menghargai pejalan kaki. Paling tidak, itulah yang saya alami. Saat mengetahui saya akan menyeberang jalan, kendaraan (baik motor maupun mobil) langsung mengerem dan menghentikan laju kendaraannya. Sebagai pejalan kaki, saya merasa tersanjung. Baru kali ini pejalan kaki serasa dimanusiakan. Mungkin di kota-kota lain di Indonesia juga ada, tapi saya baru merasakannya di Ambon Manise ini.

 

Di tengah matahari yang terik, akhirnya kaki saya sampai juga ke Taman Pelita. Di taman itu, dibangun sebuah monumen Gong Perdamaian Dunia atau World Peace Gong. Tujuannya untuk menandai berakhirnya konflik kerusuhan yang didasari isue SARA yang pernah terjadi di Ambon pada tahun 1998. Selain di Ambon, Gong Perdamaian juga didirikan di berbagai wilayah Indonesia, juga di berbagai negara di dunia.
Gong Perdamaian yang berada di Ambon sendiri, merupakan gong yang ke 35 di dunia. Tak heran kalau monument itu dipenuhi dengan gambar bendera dari tiap negara, yang berjumlah sekitar 200 bendera dan juga simbol tiap agama di dalam lingkarannya.
Banyak traveler yang berkunjung ke tempat ini sambil berfoto-foto. Sayangnya, sebelum saya sempat selfie di depan monumen Gong Perdamaian itu, sudah keburu diusir oleh seorang fotografer yang sedang sibuk memotret ibu-ibu PKK entah dari daerah mana. Ya sudahlah, masak mau ribut-ribut sih di di depan Gong Perdamaian? Peace, men!

 

Saya segera menyeberang jalan untuk menuju Lapangan Merdeka. Lapangan Merdeka dikenal sebagai satu-satunya ruang publik yang representatif di jantung Kota Ambon. Tak jarang musisi-musisi beken semacam Glen Fredly, Slank, Gigi, dll, menggelar konsernya di lapangan ini.
Jika mengedarkan pandangan mengelilingi lingkaran kawasan lapangan ini, maka kita bisa melihat beberapa bangunan megah, seperti Kantor Gubernur Maluku dengan arsitektur modern, Balai Kota tempat ngantornya walikota Ambon, Gereja Maranatha dan Taman Pattimura. Tak lupa terpampang tulisan Ambon Manise di dekat-dekat lapangan itu.

 

Di sekitar Taman Pattimura, banyak ditumbuhi pepohonan yang rindang sehingga membuat suasana di sekitar tempat itu menjadi sejuk. Karena di sekitar taman itu tersedia banyak bangku, saya mencoba duduk-duduk sambil beristirahat. Saya tak sendirian, karena beberapa keluarga juga tampak sedang asyik bersantai sambil menikmati kudapan.
Di taman itu, berdiri monumen dan patung Pattimura yang berdiri tegak mengangkat parang dan salawaku. Melalui patung itu, rakyat Maluku ingin selalu mengenang perjuangan Pattimura merebut Benteng Duurstede di Saparua dan sekaligus perlawanannya terhadap penjajahan di negeri para raja itu. Konon di sekitar tempat ini juga, pahlawan asal Maluku itu digantung oleh penjajah demi membela rakyatnya.

 

Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan beberapa keluarga yang bersantai di Taman Pattimura itu, saya mendapat cerita kalau patung pahlawan Maluku yang berada di taman itu sebenarnya bukan yang asli tapi sudah duplikat. Sambil setengah berbisik, salah seorang ibu bahkan menambahkan, kalau konon patung yang lama menolak untuk digantikan yang baru. Patung yang lama menangis saat akan dipindahkan. Duh, si ibu! Moga cerita ini bukan sekedar deramah (baca: drama) belaka ya?
Saya segera mohon diri ke beberapa orang yang tadi sempat saya ajak ngobrol, mengingat hari sudah menjelang sore. Prediksi saya, jam kantor sudah bubar. Maka saya segera melangkahkan kaki ke kantor KONI Ambon untuk menemui Kak Sonya, yang lokasinya tak jauh dari Taman Pattimura.
Setelah ngobrol ini-itu sembari mengudap cemilan, kami bersepakat untuk makan seafood. Dan akhirnya, malam itu saya menutup hari dengan makan malam bersama Kak Sonya, Adlin, Wildan dan Ufu di sekitaran Ambon Plaza (orang sini menyebutnya Amplaz).

 

Di kawasan kuliner Amplaz sini, banyak sekali penjual kaki lima yang menyediakan menu seafood. Kita tinggal memilih ingin dibakar atau digoreng. Satu porsi sekitar Rp 20.000,00 – Rp 30.000,-
Lumayan lezat kok. Tapi ada lagi tempat kuliner seafood yang lebih lezat. Tunggu di tulisan edisi berikutnya ya? Doa’in aja ada kesempatan dan penyakit males gak mampir. Hihihi…

 

oOo 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*