Ke Makassar, Mengenang Masa Kejayaannya

Makassar, Kota Kecil Terindah di Seluruh Hindia-Belanda. Itulah julukan bagi kota Makassar pada abad XIX yang diberikan oleh seorang penulis ternama, Joseph Conrad. Pada masa itu, banyak kapal-kapal baik dari dalam negeri maupun dari berbagai negara yang berlabuh di kota ini untuk melakukan perniagaan.

Lalu, seperti apakah wajah kota yang pernah menjadi bandar internasional itu sekarang? 

Penasaran, akhirnya saya putuskan untuk mengunjungi kota ini dan wilayah sekitarnya. Pertama menginjakkan kaki di Bandara Hasannudin, Makassar, ada perasaan kagum melihat betapa megahnya bandara itu. Rasa itu sempat saya tuangkan melalui status di salah satu media social, dan ternyata beberapa teman yang pernah kesini, memberikan respon yang kurang lebih sama.

Setelah melewati kemacetan selama hampir satu jam, akhirnya saya sampai juga ke Hotel Bugis Ocean yang berlokasi di depan Pantai Losari. Di sudut pantai itu, bisa terbaca jelas huruf-huruf besar yang bertuliskan Makassar, Toraja, Mandar dan Bugis. Hal yang bisa jadi melambangkan suku-suku besar yang bermukim di Sulawesi Selatan.

Benteng Fort Rotterdam dan Museum La Galigo

Sejak dulu orang Makassar dan orang Bugis menjadi suku-suku yang dominan dalam hal politik dan populasi di Sulawesi Selatan. Tapi tampaknya, orang Makassar dari Kerjaaan Goa selangkah lebih maju. Pada abad XV mereka telah mendirikan sebuah benteng pertahanan yang kuat. Pada masa pemerintahan Kerajaan Gowa, benteng ini memiliki peranan penting, yaitu untuk melindungi Benteng Somba Opu yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan Kerajaan Gowa di abad XV.

Benteng ini berbentuk seperti seekor penyu yang seolah merangkak turun ke lautan. Bentuk itu mewakili filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pula dengan Kerajaan Gowa yang ingin berjaya baik di daratan maupun di lautan.

Image

Fort Rotterdam dan Museum La Galigo

Di awal-awal dibangun, benteng ini berbahan dasar tanah liat, lalu diperbaiki dengan bahan batu padas. Dalam kompleks beteng ini awalnya terdapat beberapa bangunan rumah adat Makassar (rumah panggung), tapi setelah Belanda (VOC) mengalahkan Raja Gowa, bangunan panggung itu dirobohkan, lalu diganti dengan bangunan permanen seperti yang sekarang ini. Dan namanya diganti menjadi Fort Rotterdam, sesuai daerah kelahiran Cornelis Speelman di Belanda.

Di dalam kompleks Benteng Fort Rotterdam yang luasnya hampir sekitar 3 hektar ini, terdapat 15 buah gedung yang terdiri dari 14 buah gedung peninggalan Belanda, dan 1 lagi peninggalan Jepang. Masing-masing gedung diberi nama dengan guruf abjad dan memiliki fungsi masing-masing. Tentu saja fungsi gedung di jaman colonial dan di jaman sekarang jelas berbeda. Seperti misalnya, gedung D, yang dulunya berfungsi sebagai wisma bagi setiap pejabat tinggi Belanda yang berkunjung ke Makassar, sekarang gedung D ini beralih menjadi Museum La Galigo.

Meskipun belum semodern Museum 10 November Surabaya atau Museum Sangiran Sragem, namun koleksi Museum La Galigo terhitung cukup lengkap. Museum ini memamerkan benda-benda dari jaman kebuadayaan megalitik, berbagai peralatan kesenian tradisional, berbagai peralatan transportasi era dahulu, berbagai koleksi kapal, kain tradisional, manuskrip, dll. Sayang saya tidak menemui naskah yang paling ingin saya lihat di situ, yaitu naskah kuno La Galigo.

Benteng Somba Opu

Pada pertengahan abad ke 17, Kerajaan Goa yang menguasai hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan hingga Lombok dan Kepulauan Aru-Kei, menjadi salah satu kerajaan terkuat dan terbesar dalam sejarah nusantara. Pada abad ke-16, Makassar menjadi pusat perdagangan yang dominan di Indonesia Timur, sekaligus menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara. Kekayaan hasil perdagangan internasional menjadikan Goa sebagai kerajaan kelas atas yang tak terkalahkan di Sulawesi Selatan, Begitu hebatnya kekuatan dan kekayaan Kerajaan Goa, hingga orang-orang di Indonesia Timur sulit percaya kalau VOC-Belanda berani menantang kekuasaan Kerajaan Goa.

Keberhasilan yang diperoleh Kerajaan Goa mau tidak mau menyemai kecemburuan ekonomi orang Bugis dan Soppeng. Sekian lama menjadi musuh bebuyutan Kerajaan Goa, akhirnya Bugis berkomplot dengan dengan VOC yang juga mulai menyadari pentingnya wilayah ini untuk tujuan utama mereka: pedagangan rempah. Hasil kolaborasi VOC dan Bugis, pada akhirnya berhasil juga menghancurkan Somba Opu. 24 Juni 1669, Somba Opu yang selama ini telah menjadi symbol kejayaan Kerajaan Goa, akhirnya luluh lantak mengenaskan. Dan dengan begitu, berakhir pulalah pertahanan dari dalam Somba Opu yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin. Belanda yang mengakui bahwa perang merebut Somba Opu ini merupakan perang tersulit yang pernah dihadapinya di Timur, Tak mau mengalami kerugian, VOC segera memastikan bahwa benteng itu tak akan pernah lagi digunakan sebagai benteng utama. Maka, seluruh senjata (termasuk meriam) yang ditemukan di benteng dan dinding yang menghadap ke utara dan ke laut serta bastion laut dihancurkan.

Ada peristiwa yang menggelikan saat saya berkunjung ke Situs Somba Opu, akhir tahun 2013 lalu. Setelah melewati pintu gerbang serta bangunan-bangunan rumah-rumah adat dari berbagai suku Baruga Somba Opu, saya belum juga berhasiil menemukan benteng yang saya maksud. Bahkan teman saya yang mengantar saya ke situ dan aseli Makassar, juga tidak tahu dimana lokasi tepatnya. Dia berkilah, ke Somba Opu baru sekali dan itupun waktu masih SD. Padahal situs itu luasnya berhektar-hektar. Daripada kesasar, akhirnya saya bertanya ke bapak-bapak yang berjualan di warung kecil. Bapak itu dengan tidak yakin menunjuk kea rah sebuah museum. Museum Karaeng Pattingaloang!

Karaeng Pattingaloang adalah putera salah seorang penguasa Kerajaan Goa. Dia memiliki minat yang sangat tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Dia tidak hanya menguasai bahasa Perancis, Spanyol, Latin, Portugis dan Arab, bahkan dia juga menguasai sastra dari berbagai bahasa itu. Dia juga mengoleksi buku-buku Eropa, peta-peta, teropong dan bola dunia. Dia tak segan-segan memesan secara khusus benda-benda paling mutakhir (kalau sekarang, mungkin gadget ya?) dari seluruh pelosok bumi. Inilah yang kemudian menjadikan Kerajaan Goa salah satu pusat ilmu pengetahuan terdepan pada zamannya.

Koleksi buku dan peta, sesuatu yang pada zaman itu masih langka di Eropa, yang terkumpul di Makassar, konon merupakan salah satu perpustakaan ilmiah terbesar di dunia. Dan diduga, dari pengetahuan yang didapatnya itu, Pattingaloang berhasil menemukan kunci dan strategi yang dapat membuat Kerajaan Goa bisa setara dengan bangsa-bangsa Eropa. Peninggalan penting dari Karaeng Pattingaloang, yaitu semua buku-buku, peta dan benda lainnya itu, sekarang disimpan di museum itu. Di depan bangunan museum, diletakkan sebuah replica senjata meriam. Mengecewakannya, museum itu tertutup rapat-rapat. Padahal saya penasaran dengan koleksi-koleksi yang ada di museum itu. Apakah karena hari itu hari Minggu? Saya jadi kesal, kenapa museum-museum kita kalau Minggu dan Hari Besar malah tutup. Padahal kan orang-orang justru punya waktu luang pada hari-hari itu?

Di depan Museum Karaeng Pattingaloang, banyak berkumpul anak-anak sekolah, dari mulai SD sampai SMA. Dalam benak saya, karena mereka anak sekolahan, pasti tahu lokasi Benteng Somba Opu. Tapi buktinya tidak. Beberapa anak saya tanya, malah balik bertanya, ‘Benteng Somba Opu? Apa sih itu?’ Hadeh. Saya sudah hampir putus asa, sampai ketika seorang penjual tali sepatu yang berjualan di depan museum menanyai saya, apakah benar saya mencari Benteng Somba Opu. Saya mengiyakan pertanyaan itu tanpa berharap apapun. Lalu dia menjawab, kalau benteng itu sudah hancur, tinggal sisa puing-puingnya saja. Kalau ingin melihat sisa puingnya, silakan lihat di dekat pertigaan depan itu. Jaraknya kira-kira 10 meter dari tempat kami berdiri. Kalau ingin keseluruhan peninggalan benteng, ya lihat saja seluruh kawawan ini. Begitu dia memberi penjelasan.

Olala! Saya lupa! Dinding-dinding benteng itu kan sudah dihancurkan saat perang Makassar tahun 1669 ya? Tak mungkinlah masih berupa bangunan utuh. Akhirnya saya berjalan kaki mengelilingi seluruh kawasan ini. Dari hasil melihat sana-sini, saya baru bisa paham bagaimana seseungguhnya yang disebut kawasan situs Benteng Somba Opu di masa sekarang.

 Image

somba opu

Kawasan situs benteng ini sangat luas, hampir seluas Benteng Fort Rotterdam. Tak ada lagi sisa-sisa kejayaan Kerajaan Goa, kediaman para bangsawan atau para pegawai kerajaan. Setelah memasuki gapura situs, kita akan menemui bekas tembok benteng yang terbuat dari batu bata. Konon pagar tembok itu, dulunya tinggi dan kokoh sekali. Bentuknya segi empat yang memanjang, melingkari kawasan Kerajaan Goa. Setelah itu, ada beberapa rumah adat yang ada di sebelah kanan dan kiri. Ada rumah adat Bugis, Tator, Luwu, Bulukumba, Soppeng, Mandar, Mamuju, Majene, dll. Di tengah kawasan itu terdapat taman yang luas, yang bisa digunakan masyarakat untuk bersantai. Setelah taman, baru kita museum yang tadi sudah saya ceritakan.

<

p style=”text-align:center;”>Image

Ternyata, apa yang saya baca dari buku sejarah dan kemudian saya bayangkan, tidak selalu sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Itulah kenapa saya suka dan selalu tertarik mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan museum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*