Blusukan ke Kota Lembu Suwana, Tenggarong

 

 

Lambang hewan Lembu Suwana, bisa kita temui di hampir setiap lokasi penting di Kota Tenggarong. Baik itu di depan tempat penyeberangan Mahakam Ulu, di depan keraton kesultanan, di Museum Kayu, dan lain-lain. Hewan itu digambarkan sebagai sejenis hewan berkepala singa, memakai mahkota, berbelalai gajah, bersayap garuda dan bersisik ikan.

Menurut sejarah singkat yang sempat saya baca di Museum Kayu, hewan mitos ini dianggap keramat dan bertuah. Konon, ketika Sungai Tanjung Riwana (sekarang Anggana, Kutai Lama) sedang bergelombang dan petir menyambar-nyambar, tiba-tiba muncul seekor Lembu Suwana yang berdiri di atas naga. Di kepala hewan itu mengusung sebuah gong besi yang di dalamnya terdapat seorang bayi perempuan. Bayi itulah yang menjadi cikal bakal raja-raja Kutai Kartanegara ing Martadipura. Lalu sejak masa Kesultanan Kutai yang ke 17 (1850-1899), Lembu Suwana dijadikan lambang kerajaan Kutai Kartanegara. 

Gerbang Kota Raja

 

Tujuan utama saya datang ke Tenggarong ibu kota Kutai Kartanegara waktu itu, untuk menyaksikan Festival Erau yang berlangsung pada bulan Juni 2014. Meskipun begitu, saya membuka peluang untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata yang ada di kota itu. Istilahnya, sambil menyelam minum air.

Tentu saja. kota yang mempunyai julukan Kota Raja ini, memiliki banyak sekali nilai historis. Baik sejarah yang telah terungkap maupun yang belum terungkap. Di kota ini, terdapat Museum Mulawarman yang menyimpan benda-benda sejarah yang pernah digunakan oleh Kesultanan seperti singgasana, pakaian kebesaran, tombak, koleksi keramik China, Prasasti Yupa serta Patung Lembu Swana, yang dibuat di Birma pada tahun 1850.

Museum Mulawarman

 

Sayang sekali, keinginan saya untuk mengunjungi Museum Mulawarman tidak kesampaian. Museum yang merangkap sebagai keraton kesultanan ditutup selama event Erau berlangsung.

Di kota Tenggarong ini, pola penyebaran penduduk sebagian besar mengikuti pola transportasi yang ada. Sungai Mahakam merupakan jalur arteri bagi transportasi lokal. Kondisi ini menyebabkan hampir sebagian besar pemukiman penduduk terkonsentrasi di tepi Sungai Mahakam dan anak-anak sungainya. Daerah-daerah yang agak jauh dari tepi sungai, dimana belum terdapat prasarana jalan darat, relatif kurang terisi dengan pemukiman penduduk.

Rumah Sepanjang Sungai

 

Kondisi itulah yang mungkin menyebabkan banyak bangunan-bangunan penting dan rumah-rumah mewah yang didirikan di sekitar kawasan tepi sungai. Selain Museum Mulawarman, makam-makam raja Kutaipun ada di kawasan ini. Akhirnya, saya melangkahkan kaki ke arah sebelah kanan bangunan gedung museum. Di sana, terdapat makam para raja dan keluarganya yang dibangun dengan indah. Rapi dan bersih. Hampir semua bangunan makam terbuat dari bahan kayu yang dicat hitam dengan tulisan kuning keemasan. Kayu-kayu itu sendiri tampak mengkilat, seolah tak ada satupun debu yang menempel.

Makam 1

 

Ada sebagian makam yang diletakkan di dalam rumah kecil, sementara yang lainnya berada di dalam pagar. Beberapa orang tampak berfoto-foto dengan ceria di makam itu, tapi sebagian lagi sedang melakukan ziarah di makam tersebut. Mereka tampak khusuk melantunkan doa-doa. Saya sendiri mencoba mengamati dari dekat, makam-makam yang berjejer dari ujung ke ujung.

Makam 2

 

Sama seperti pada umumnya kota lainnya di Kalimantan Timur, Tenggarong memiliki kekayaan sumber daya alam, potensi keindahan alam serta beragam budaya masyarakat yang sangat unik. Sebagai kabupaten yang memiliki APBD di atas Rp 9 triliyun, Pemda setempat memberikan berbagai fasilitas dan kemudahan bagi masyarakatnya, seperti jalan pedestrian, taman, tempat bermain seperti skate park, tata ruang yang baik, dan lain-lain.

Makam 3

Dari makam raja-raja Kutai, saya melanjutkan jalan kaki menuju ke bangunan yang berada di sebelah kiri Museum Mulawarman. Terdapat papan tulisan ‘Mini Mol Museum Tenggarong Kota Raja.’ Suasananya ramai. Di depan bangunan itu, banyak orang menjajakan makanan. Semula saya agak ragu melangkah. Tempat apakah itu? Mal, pasar, food court, atau apa? Beberapa orang terlihat keluar masuk dari gedung itu. Akhirnya saya memberanikan diri melangkah ke sana.

mini mol 1

 

Olala! Begitu memasuki kawasan mini mal tadi, saya baru tahu bahwa ternyata di situ tempat para pedagang menjual berbagai barang cindera mata khas Kalimantan Timur. Dari mulai kaos, baju, baju adat, batu perhiasan, tas, dompet, asesoris, senjata, sarung, dan bermacam-macam lagi.

mini mal 02

 

Memasuki kawasan mini mol itu seolah kita disuguhi benda-benda yang warna-warninya merupakan perpaduan yang sangat indah. Warna-warna merah, biru, hijau, kuning… seolah menyatu dengan suara-suara dari para penjual dan pembeli yang asyik melakukan tawar-menawar. Lalu, sayapun tertarik untuk menyatukann diri dengan mereka dalam irama tawar-menawar.

mini mol 3

 

Setelah berhasil membawa t-shirt, sarung, mahkota manik-manik khas kaltim dan scarf/selendang manik-manik, saya segera berlalu dari mini mal itu. Dan bergerak keluar dari kawasan Museum Mulawarman menuju Planetarium Jagad Raya.

planetarium 1

 

Sampai dua kali saya mendatangi planetarium ini. Kunjungan yang pertama gagal, karena belum buka. Lalu kunjungan yang kedua, gagal juga, karena harus menunggu kuota 25 orang. Dan seseorang penjaga di meja resepsionis menjelaskan, ada kemungkinan planetarium tidak buka. Mengingat, beberapa diantaranya terlibat sebagai panitia dalam Festival Erau.

planetarium 2

 

Jelas saya kecewa. Tapi saya tidak ingin kekecewaan ini merusak mood traveling saya. Sudah jauh-jauh dari Semarang ke Tenggarong, masak iya perjalanan ini rusak gara-gara nila setitik? Karena hari mulai siang dan tak ingin melewatkan acara-acara di Festival Erau, saya segera angkat kaki dari planetarium.

Masih dengan berjalan kaki, saya menyusuri jalan yang berada di antara Museum Mulawarman dan Planetarium Jagad Raya. Beberapa meter kemudian, di samping kanan saya tampak bangunan megah Pendopo Odah Etam. Gedung itu merupakan rumah dinas bupati Tenggarong. Di sini, biasa digelar berbagai acara seperti silaturahmi Lebaran, lomba baca puisi, diskusi, dan lain-lain.

pendopo

 

Di depan Pendopo Odah Etam dan di belakang Museum Mulawarman, terdapat bangunan masjid yang bersejarah, yaitu Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin. Masjid ini merupakan masjid tertua di kota Tenggarong dan dibangun pada tahun 1874.
masjid 1

Tidak seperti bangunan-bangunan masjid di Jawa, bangunan ini puncaknya berupa limas segi lima. Mirip-mirip dengan puncak masjid yang saya temui di wilayah Nusa Tenggara. Arsitekturnya bercorak rumah adat Kalimantan Timur dengan atap tumpang tiga. Konon sebelum direnovasi, masjid ini dibangun dengan tidak menggunakan paku satupun, selain kayu itu sendiri.

masjid 2

 

Sebenarnya saya ingin sekali memasuki bangunan masjid tua itu, untuk melihat setiap detil bangunannya. Tapi mengingat sesaat lagi akan diadakan sholat Jumat, maka saya mengurungkan niat itu.

Di depan Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin, terhampar sebuah taman yang luas. Di dalam taman itu, tersedia kursi-kursi warna-warni tempat untuk bersantai. Dan di dalam taman itu terdapat sebuah monument berbentuk Pancasila. Tak ada penunjuk apapun mengenai nama monument itu. Hanya saja tertulis: ‘Monumen ini diresmikan pada tanggal 6 November 1983 oleh Gubernur Kalimantan Timur.’

monumen pancasila

 

Di depan monumen tersebut dan di sebelah kiri masjid persis, ada lagi sebuah bangunan megah. Kedaton Kutai Kartanegara. Dibangun pada tahun 2002, arsitektur Kedaton Kutai Kartanegara merupakan perpaduan antara gaya modern dengan rumah adat Kalimantan Timur yang sarat dengan kayu.
Kedaton Kutai Kartanegara merupakan singgasana Sultan Kutai Kartanegara. Entah ada apa dengan di dalam bangunan itu, karena saya tak sempat memasukinya. Selain juga pintunya rapat terkunci. Hanya saja, dari luar saya melihat taman yang cantik dengan dominasi warna hijau dan kuning, yang ada di depan rumah itu. Di sekitar taman itu, terdapat beberapa patung-patung naga dan harimau.

kedaton

 

Selesai sudah saya berjalan kaki mengelilingi kawasan istana kesultanan, dari mulai museum, masjid sampai kedaton. Saatnya saya menuju kawasan Sungai Mahakam tempat diselenggarakan lomba Kapal Naga. Masih dengan berjalan kaki. Ada 2-3 mobil dan beberapa motor yang menawari tumpangan, tapi saya tolak dengan halus. Rasanya, dengan berjalan kaki, saya tidak akan melewatkan momen-momen penting.

Ternyata oh ternyata, setelah berjalan sekian kilo, kaki saya menemukan lokasi Pasar Seni Tepian Pandan. Pasar ini tidak berbeda jauh fungsinya dengan mini mal yang ada di kawasan Museum Mulawarman. Hanya saja, beberapa barang yang dijual di sini, kualitasnya tidak sebagus dengan mini mal, sehingga harganya bisa lebih murah.

pasar seni 1

 

Saya sempat melepas dahaga di sebuah warung sambil ngobrol-ngobrol dengan beberapa pedagang di situ. Saya juga sempat ngobrol dengan dua orang penjual tas di pasar itu. Mereka menceritakan, bahwa berdagang di Tenggarong itu untungnya cepat. Konon ada beberapa teman mereka pindahan baru dari Banjar, yang semula belum punya rumah, dalam waktu beberapa tahun saja, dagangannya maju dan sudah punya 5 rumah. Wah, apa saya ikut pindah ke Tenggarong saja ya? Hihihi…

pasar seni 2

 

Pasar Seni Tepian Pandan ini, hanya beroperasi pada saat Festival Erau berlangsung. Jika, tidak ada Erau, kawasan itu sepi. Masih menurut keterangan kedua pedagang tadi, konon kawasan pasar ini ada kemungkinan akan dijadikan mal besar. Aduh! Ini lho Pak Jokowi! Tolooooonggg…!

taman seni tepian pandan

 

Saat urusan di Pasar Seni Tepian Pandan selesai, maskudnya saya sudah kenyang dan tidak haus lagi, saya berencana akan langsung ke Museum Kayu Tuah Himba. Tapi menurut penjelasan beberapa orang, museum itu lokasinya agak jauh dari situ. Sementara acara lomba Kapal Naga sudah dimulai. Akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi museum besoknya, pagi-pagi sekali.

museum 1

 

Keesokan harinya, saya menyewa jasa ojek untuk mengantar dari hotel menuju Museum Kayu Tuah Himba yang lokasinya berada di antara hutan-hutam dan Danau Panji. Sampai di sana terasa sekali hawa yang sejuk dan bersih. Sudah ada beberapa pengunjung museum sudah datang dan melihat-lihat koleksi yang dipajang. Beberapa diantaranya pengunjung dari luar negeri. Kemungkinan dari negara yang berpartisipasi dalam Erau.

museum 2

 

Arsitektur bangunan Museum Kayu Tuah Himba, berbentuk seperti rumah panggung dengan bahan-bahan yang semuanya terbuat dari kayu. Di halaman depan museum ditanami pohon-pohon tertentu dan dikasih penjelasan nama dari pohon tersebut. Sementara di dalam museum terbagi-bagi dalam beberapa ruangan. Ruangan utama dimana kita bisa menyaksikan fosil buaya muara yang berusia 60-70 tahun, miniatur rumah adat dayak, log, dll. Di ruangan kayu kita bisa melihat beragam jenis kayu yang jumlahnya ratusan. Sementara di ruangan hasil kerajinan, kita bisa melihat beberapa hasil kerajinan yang terbuat dari kayu termasuk rotan.

museum 3

 

Mengunjungi Museum Kayu Tuah Himba, memberikan kita pengetahuan yang banyak mengenai jenis kayu-kayu yang ada serta sekaligus pemanfaatannya untuk apa. Apakah untuk mebel, rumah, peti mati, senjata, dan lain sebagainya. Mengunjungi museum itu, membuat saya lagi-lagi tersadar, betapa sesungguhnya negeri kita ini subur dan kaya raya. Betapa sebenarnya besar sekali anugerah yang bangsa ini telah terima.

 

TIPS

Untuk sementara, obyek wisata Pulau Kumala masih dalam renovasi, belum bisa dikunjungi, tapi kita bisa menyewa kapal hanya untuk mengelilingi pulau tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*