Yang Masih Kokoh Berdiri di Tanah Hitu: Masjid Wapaue & Benteng Amsterdam

Dari Desa Tulehu saya dibonceng motor oleh teman Ofu menuju Tanah Hitu. Sekali lagi saya harus melewati dua desa yang membuat saya prihatin, yaitu Desa Seith dan Negeri Lima. Karena naik motor, kali ini saya bisa lebih agak dalam dan detil memperhatikan kondisi kedua desa tersebut. Di daerah Negeri Lima, akibat jebolnya bendungan alam Way Ela, banyak warga yang kehilangan rumah. Dan saat itu, mereka terpaksa masih harus menghuni tenda-tenda darurat sebagai tempat untuk berteduh. Di tenda-tenda itu terdapat stempel BNPB singkatan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Sementara di Desa Seith, pada saat itu, terlihat beberapa bekas rumah yang habis dibakar dan dirusak akibat pertikaian dua desa yang terjadi sekitar 2 bulanan lalu. Beberapa batu yang dipakai sebagai alat bertikai, masih berserakan di pinggir-pinggir jalan.

 

Entah karena perasaan saya sendiri atau bagaimana, saya masih merasakan suasana yang mencekam. Seolah ada beberapa pasang mata yang mengawasi keberadaan saya. Itulah sebabnya, saya mengambil foto-foto di kawasan ini dengan perasaan takut-takut. Saya makin takut ketika berpapasan dengan serombongan warga yang berjalan berombongan dengan membawa alat-alat tajam. Saking takutnya, saya sempat minta kembali saja ke Desa Asilulu. Tapi teman Ofu menjelaskan kalau orang-orang yang berpapasan dengan kami itu sedang bersiap menebang pohon sagu. Penjelasan dia itu membuat saya tertawa, menertawakan kebodohan saya sendiri. Hahahha..!

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, sampailah saya di Benteng Amsterdam yang berada di kawasan Tanah Hitu. Oh, lega sekali rasanya!

Benteng Amsterdam




Di Tanah Hitu ini, dulunya berdiri sebuah kerajaan besar, yaitu Kerajaan Tanah Hitu. Kerajaan Tanah Hitu merupakan kerajaan Islam yang terletak di Pulau Ambon, Maluku. Kerajaan ini pernah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang sangat vital di Maluku. Pada masa itu, Teluk Ambon merupakan jalur keluar masuk kapal-kapal dagang di perairan Maluku. Kondisi inilah yang menyebabkan Portugis dan Belanda saling bertikai untuk menguasai tanah ini.

Awalnya, Portugis mendirikan sebuah bangunan gudang yang fungsinya menyimpan hasil rempah-rempah hasil rampasan. Tapi setelah kalah melawan Belanda, Portugis terpaksa angkat kaki dari Tanah Hitu. Belanda yang datang pada tahun 1599 mulai mengganti bangunan yang berfungsi sebagai gudang menjadi benteng pertahanan dan markas para serdadu. Benteng itu diberi nama Benteng Amsterdam.

 

Dari jauh Benteng Amsterdam yang usianya sudah ratusan tahun ini, terlihat masih kokoh berdiri. Ia seolah diam bergeming oleh banyak perubahan dan peristiwa. Dan memang, faktanya benteng itu pernah diterjang gempa besar dan tsunami dahsyat yang terjadi pada tanggal 17 Februari 1674. Saking dahsyatnya, bencana hebat ini sempat memporak-porandakan sebagian besar wilayah Maluku dan menewaskan ribuan warga. Bahkan wilayah di sekitar Benteng Amsterdam, merupakan daerah yang mengalami kerusakan terparah akibat bencana alam tersebut. Bencana besar itu digambarkan sebagai air bah yang tiba-tiba naik ke ruang besar sampai ke atap benteng. Air juga menyapu bersih rumah-rumah di sekitar benteng dan menewaskan sekitar 1.461 jiwa.

 

Benteng Amsterdam berada di tengah-tengah pemukiman warga dan terletak persis di kawasan tepi pantai. Dari kawasan di sekitar benteng dan dari dalam gedung benteng itu, kita bisa melihat keindahan laut Maluku dan kapal-kapal yang melintas. Selain itu, kita juga akan menjumpai pagar tembok dan pohon-pohon besar yang tumbuh mengelilingi benteng.
Pada awal 1900 Benteng Amsterdam ditinggalkan oleh Belanda dalam keadaan rusak dan ditumbuhi pohon liar. Dan setelah Indonesia merdeka, pemerintah Propinsi Maluku melakukan beberapa kali pemugaran. Pemugaran terakhir dilakukan tahun 1997. Meskipun telah mengalami beberapa kali pemugaran, bentuknya masih diupayakan sesuai aselinya. Memang, ada beberapa yang sudah diganti seperti atap benteng, misalnya. Tapi lantai batunya, tembok semen, teras kayu di lantai dua dan kayu-kayu penopang serta tangga menuju lantai atas, semuanya itu masih aseli.

 

Memasuki ruangan dalam Benteng Amsterdam, saya merasakan kekecewaan. Ternyata bangunan benteng itu kosong melompong. Saya tak menemukan informasi yang cukup mengenai benteng ini. Saya juga tak menemukan perlengkapan perang milik Belanda dan juga barang pecah belah yang telah berusia ratusan tahun. Yang saya temui malah kelelawar yang terbang kesana kemari.
Benteng Amsterdam memiliki konstruksi bangunan seperti rumah berlantai tiga. Di lantai pertama, terlihat ruangan berbata merah. Dulunya, ruangan ini digunakan sebagai tempat tidur para serdadu. Naik ke lantai dua, terlihat ruangan dengan lantai berkayu besi. Dulunya, ruangan ini berfungsi sebagai tempat pertemuan para perwira. Di lantai terakhir, lantai tiga, kita juga akan menemukan ruangan dengan lantai berkayu besi lagi. Namun, ruangannya tidak segelap dan sepengap ruangan di lantai satu dan dua. Ruangan lantai tiga ini, dulunya berfungsi sebagai pos pemantau.

 

Dari ruangani lantai atas bangunan Benteng Amsterdam yang kayunya mulai rapuh itu, saya bisa memuaskan mata menikmati keindahan Tanjung Tetuyoga. Konon, tempat ini dipilih Belanda karena letaknya yang strategis untuk melawan rakyat Tanah Hitu dalam perang Wawane (1634-1643) serta perang Kapahaha (1643-1646).

Masjid Tua Wapaue

Sekitar 200 meter dari lokasi Benteng Amsterdam, terdapat bangunan masjid tertua di Maluku. Masjid Tua Wapaue. Menurut prasasti yang saya temui di depan masjid, di situ tertulis kalau Masjid Wapaue didirikan pada tahun 1414 oleh Perdana Jamilu. Perdana itu bukan nama seseorang, melainkan sekelompok orang. Ada 4 Perdana yang datang datang pertama kali ke Tanah Hitu. 4 Perdana ini merupakan awal datangnya manusia di Tanah Hitu sebagai penduduk asli Pulau Ambon. Empat Perdana Hitu juga merupakan bagian dari penyiaran agama Islam di Maluku. Dan Perdana Jamilu dari Kerajaan Jailolo merupakan perdana ketiga yang datang ke Tanah Hitu pada tahun 1465.

 

Bangunan Masjid Wapaue terdiri dari bangunan induk yang berukuran 10 x 10 meter dan bangunan tambahan (serambi masjid) yang berukuran sekitar 6 x 5 meter. Bisa dibilang, arsitektur bangunan masjidnya tergolong sederhana. Konstruksi bangunan induk, dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu. Tipologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Dinding masjidnya terbuat dari gaba-gaba pelepah sagu yang dikeringkan. Sedangkan atapnya terbuat dari daun rumbia.

Meskipun sederhana, namun saya menganggapnya sebagai bangunan yang kokoh dan hebat. Terbukti, gempa besar dan tsunami dahsyat yang melanda Tanah Hitu tahun 1674, tak sanggup melenyapkan Masjid Wapaeu ini.

 

Sampai sekarang, Masjid Wapaue yang letaknya di pemukiman penduduk Desa Kaitetu ini, masih digunakan sebagai tempat ibadah warga setempat. Baik salat 5 waktu maupun salat Jum’at. Banyak yang masih mempercayai, jika kita berdoa di masjid ini, keinginannya bakal terkabul. Baik itu keinganan punya anak maupun segera mendapatkan jodoh.
Di dalam bangunan induk mesjid tertua di Maluku ini, tersimpan peninggalan-peninggalan bersejarah, seperti misalnya: naskah sejarah yang ditulis pakai tangan, Al-Quran, timbangan zakat dari kayu, anak timbangan dari batu dan kapur, bedug, lampu, dan ada juga 2 buah bendera warna merah putih, yang dulunya merupakan panji-panji Kerajaan Majapahit kiriman dari Patih Gajah Mada.

 

Masjid Tua Wapaue sudah mengalami beberapa kali renovasi. Pertama kali masjid ini direnovasi oleh pendirinya, Jamilu pada tahun 1464 tanpa mengubah bentuk aslinya. Renovasi kedua dilakukan pada abad ke-19 M dengan penambahan serambi depan masjid. Setelah Indonesia merdeka, masjid ini mengalami perbaikan besar-besaran, yakni dilakukan pada tahun 1990, tahun 1993, 1995, dan 1997. Renovasi dilakukan untuk beberapa hal, seperti misalnya mengganti balok dan bumbungan, mengganti tiang, mengganti atap masjid yang semula terbuat seng menjadi atap nipah, dan seterusnya. Meskipun telah mengalami beberapa kali pemindahan dan perbaikan, namun arsitektur inti Masjid Wapauwe tetap dipertahankan sesuai bangunan aselinya.

Selain di dalam bangunan induk masjid, di serambi masjid juga tersimpan peninggalan-peninggalan kuno, seperti: tonggak-tonggak kayu, balok tiang penyangga mesjid, meru atau puncak masjid yang usianya sudah ratusan tahun, dan lain-lain.

 

Memperhatikan koleksi-koleksi peninggalan di Masjid Wapaue yang bernilai historis itu, sebenarnya saya agak miris. Saya kuatir, jika suatu saat koleksi-koleksi itu akan rusak atau hancur karena perubahan iklim atau hal lainnya. Selayaknya, benda-benda peninggalan bersejarah itu dirawat dan disimpan dengan lebih hati-hati. Semoga kekuatiran ini bisa dibaca dan dipahami oleh pihak-pihak terkait, agar segera dilakukan tindakan strategis.
Setelah puas mengamati Masjid Wapaue ini, saya segera beranjak dari situ. Sebenarnya, tidak jauh dari mesjid ini, terdapat sebuah gereja tua peninggalan Belanda dan Portugis. Namun menurut teman Ofu, gereja itu sekarang hancur akibat konflik Ambon tahun 1999 lalu. Ya sudah, akhirnya saya tinggalkan Tanah Hitu untuk kembali menuju Desa Asilulu.
Sambil dibonceng motor, banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran saya. Seperti misalnya: Benarkah masjid itu dibangun oleh Perdana Jamilu pada tahun 1441? Tapi bukankah perdana ketiga itu datang ke Tanah Hitu pada tahun 1465? Adakah kekeliruan penulisan? Atau saya yang kurang memahami sejarahnya? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Tapi seperti yang pernah ayah saya bilang, “We learn most from questions we cannot answer.”

 

oOo

Reply