Tuyuhan dan Srepeh, Ikon Kuliner Rembang

KULINER REMBANG 01

 

Saya bisa masak, kalau tidak boleh disebut jago. Mau rendang, rawon, kepiting saos tiram, sampai spaghetti. Bisaaaa… Tapi saya bukan pencerita kuliner yang baik. Penyebabnya ada banyak hal. Dari kecil saya sudah dibiasakan selalu makan di rumah. Sekali saja saya tak makan di rumah, besokannya ibu saya tak mau masak. Sehingga ketika dewasa, saya tak terlalu suka meng-explore kuliner. Selain itu, ada beberapa jenis makanan yang memang tak mau akrab dengan perut saya. Mungkin lidah bisa terima, tapi perut berontak.

 

 

Hanya saja, ketika selesai menyusuri jejak Pecinan di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, rasanya tak akan lengkap kalau tidak sekalian menjajal kuliner khas aseli dari daerah Rembang. Ada beberapa jenis makanan yang menjadi ikon kota itu. Yang antara lain: Lontong Tuyuhan, Sate Srepeh dan Lontong Tahu. Dari ketiga jenis masakan itu, rasa-rasanya semuanya itu lumayan akrab untuk kondisi perut saya. Sehingga, saya berniat untuk mencobanya. Dan lagi, ketiga jenis masakan itu memang sudah terkenal di seantero Pantura Timur.

 

 

Ada satu hal yang menarik perhatian saya, saat mengunjungi tempat dimana menu-menu itu disajikan. Yang berjualan dan sekaligus menyajikan menu, kesemuanya berjenis kelamin laki-laki. Entahlah, apakah ini berkaitan dengan kota Rembang yang menjadi peristirahatan terakhir pahlawan pejuang emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini, atau karena alasan professional saja. Biasanya, dalam menyajikan suatu menu, chef laki-laki lebih konsisten (tidak moody) dibanding chef wanita yang punya masa PMS. 😀

 

 

 

 

LONTONG TUYUHAN 

 

 

 

 

Penjual lontong Tuyuhan sebenarnya bisa kita temui dimana saja. Waktu saya menikmati bakso di alun-alun Rembang, saya sempat melihat beberapa penjual lontong Tuyuhan. Bahkan di kota Semarang daerah saya tinggal, juga ada yang menjual lontong Tuyuhan.

 

 

Akan tetapi jika ingin menikmati lontong Tuyuhan yang khas dan ikonik, kita perlu menginjakkan kaki ke Pusat Wisata Kuliner Lontong Tuyuhan yang berlokasi di Desa Tuyuhan, Rembang.

 

 

KULINER REMBANG 02

 

 

 

 

Ketika sampai di lokasi, jangan berharap kita akan menemui sebuah warung makan kelas atas atau rumah makan bergengsi ya? Karena letak Desa Tuyuhan itu berada di antara kaki Bukit Bugel dan pegunungan Lasem. Di sekelilingnya terhampar tanaman padi dan tanaman tebu yang hijau. Dan justru itulah yang bagi saya membuat menu lontong Tuyuhan menjadi istimewa. Kita bisa sekalian kuliner, sekaligus juga memanjakan indera dengan alam pedesaan yang sejuk.

 

 

 KULINER REMBANG 03

 

 

 

 

Hari Minggu yang masih agak pagi, ketika saya sampai di lokasi Pusat Lontong Tuyuhan. Jalanan di depan lokasi dan ruang parkir yang luas masih terlihat sepi. Dari tempat parkir, saya melihat sederetan los-los sederhana tempat para penjual menjajakan lontong Tuyuhan. Banyak penjual yang masih belum datang. Dari sedikit penjual yang sudah siap berjualan, ada seorang penjual yang paling banyak dikerumuni pembeli. Seorang bapak setengah baya yang senyumnya selalu siap diberikan kepada setiap pengunjung. Dia duduk di sebelah angkringan yang terbuat dari bambu. Di atas angkringan itu terdapat 2 buah baskom yang berisi tempe, dan potongan-potongan ayam kampung. Potongan-potongan tadi berupa dada bawah, paha atas, paha, sayap (swiwi), punggung, ekor (brutu), kepala (ndas) dan jerohan (ati, ampela, dll). Setiap pembeli bisa memilih sendiri potongan bagian mana yang ingin disantapnya.

KULINER REMBANG 04

 

 

 

 

Saya perhatikan, tangan bapak itu begitu luwes memotong-motong lontong yang masih utuh menjadi beberapa bagian di atas piring. Potongan lontong itu dituangi kuah kental berwarna kuning, dan di atasnya, diletakkan satu potongan daging ayam kampung. Lalu, sajian menu yang sudah lengkap itu diberikan ke salah seorang pembeli yang sudah mengantri dari tadi.

 

 

Saya sendiri memilih bagian paha ayam bawah (pupu) dan sepotong tempe untuk saya santap. Dagingnya empuk sedang, dan kuahnya terasa banget rempah-rempahnya. Khususnya kunyit dan jintennya yang paling berasa. Sepintas rasanya mirip perpaduan antara kuah kare dengan opor ayam.

 

 

Bayangkan, menyantap sepiring lontong Tuyuhan, sambil menikmati hamparan sawah dan pegunungan yang hijau, dan ditambah semilir angin yang sejuk segar khas hawa pegunungan… itu rasanya sukar dilukiskan!

 

 

 

 

 

LONTONG TAHU DAN SATE SREPEH

 

 

 

 

Kenyang dan puas menikmati Lontong Puyuhan, saya berkeliling ke beberapa tempat di Rembang sembari mencari oleh-oleh. Saya sebenarnya ingin membelikan ibu saya ikan asin gabus. Tapi sampai muter-muter kelelahan tak ketemu juga. Akhirnya, saya terpaksa harus puas dengan hanya membeli beberapa snack atau makanan ringan khas aseli Rembang.

 

 

Hari sudah agak sore ketika saya selesai membeli oleh-oleh. Saat itu, hujan turun dengan deras. Lapar mulai mendera. Saya segera menuju ke lokasi warung sate Serepeh (Srepeh) dan lontong tahu milik Pak No di Jalan Gambiran, Rembang. Agak kecewa, karena warungnya tutup. Lalu saya segera menuju ke pertokoan pecinan di Jl. A Yani, Rembang. Di seberang toko mebel, di emperan jalan, ada warung Tenda Biru yang menjual lontong tahu dan sate Srepeh.

 

 

KULINER REMBANG 05

 

 

 

 

Saat memasuki warung itu, sudah banyak pembeli yang antri. Sebagian orang Jawa dan sebagian lagi Tionghoa. Mereka membaur dan duduk di kursi yang mengitari sebuah angkringan. Di atas angkringan itu tersedia beragam jenis cemilan. Dari mulai bakwan jagung, tempe goreng, peyek udang, sate Srepeh dan tahu goreng. Saya mencomot tempe goreng sembari menunggu pesanan lontong tahu.

 

 

 

KULINER REMBANG 06

 

 

 

 

Sebenarnya sajian menu lontong tahu ini, tak jauh bedanya dengan lontong tahu Magelang. Atau agak-agak mirip juga dengan gado-gado. Hanya saja, lontong tahu Rembang lebih berkuah santan.

 

 

Sambil menunggu pesanan, saya memperhatikan bagaimana bapak penjual sedang menyiapkan bumbu kacang. Tangannya nampak luwes sekali menghaluskan bumbu-bumbu di atas cobek. Setelah bumbu kacang selesai dibuat, dia mengambil piring yang dilembari daun jati. Di atas daun itu, dia masukkan beberapa potongan lontong dan tahu goreng dengan ditambahkan taoge atau kecambah. Lalu dia mengguyurnya dengan bumbu kacang yang tadi dibuatnya dan dilanjut dengan mengguyur sayur lodeh labu. Tak lupa dia menaburi bawang goreng dan perasan jeruk pecel sebagai pelengkap.

 

 

 

KULINER REMBANG 07

 

 

 

 

Sebenarnya selain dengan lontong, menu tahu bumbu kacang tadi bisa disantap juga dengan nasi. Jadi tergantung selera, mau nasi atau lontong. Biasanya, sate Serepeh dijadikan sebagai lauk pendamping saat menyantap lontong/nasi tahu.

 

 

Satu tusuk sate Srepeh terdiri dari beberapa potongan daging ayam yang berbentuk pipih dan diiris tipis-tipis. Setelah diiris-iris, daging-daging itu dikukus bersama bumbu dan kemudian dibakar, layaknya seperti sate-sate lainnya. Yang berbeda adalah cara menyajikannya. Sate Srepeh disajikan dengan dituangi kuah bumbu kacang santan yang agak kental. Saya sempat mencomot satu tusuk. Pinggiran daging ayam yang dibakar, terasa sekali di lidah. Sedangkan bumbu kacangnya sendiri, terasa gurih, asin dan pedas.

 

 

KULINER REMBANG 08

 

 

 

 

Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, akhirnya pesanan saya tersaji. Sepiring lontong tahu yang disajikan di atas piring berlapiskan lembaran daun jati. Sejujurnya, daun jatinya itu memunculkan aroma dan sensasi tersendiri. Sukar dilukiskan, tapi yang pasti, semakin menggugah selera makan. Karena tak terlalu suka daging ayam, saya menyanta lontong tahu bersamaan dengan peyek udang. Wah, peyek udangnya mantab! Cuma sayang, udangnya kurang gede dikit. Saya sudah berusaha memilih dan mencari peyek yang udangnya agak besaran, eh ketemunya udang yang imut lagi. Tak apa, toh akhirnya saya menghabiskan 5 buah peyek udang. 😀 😀 😀

 

 

 

 

 

oOo

12 comments

  1. Kulinernya menggoda banget, kak! Apalagi di lokasi Lontong Tuyuhan yang berada di pedesan itu. Nikmat banget rasanya. Jadi, kenapa bisa dinamakan Tuyuhan dan Srepeh?

    Oh ya, itu spasi antar paragrafnya sengaja direnggangkan kayak gitu, kak?

    1. Wah iya Nug, wajib dicoba ini. Mungkin bsok2 pengen nyoba nginep di desa Tuyuhan hehehe..

      Wa itu klo soal sejarah awal mula menu itu gak gitu paham. Orang asli Lasem sndiri jg masih penasaran soal itu.

      Tp klo soal desa Tuyuhan itu ada yg bilang, di desa itulah Sunan Bonang mengejar musuh bebuyutannya sampe terkencing2, yg klo dlm bhs Jawa disebut kepuyuh2. Dari situlah, konon nama desa Tuyuhan berasal. Tp ini baru sekedar rumor, blom ada klarisifikasinya.
      Sementara klo soal Srepeh, asalnya dari rasa sate itu yg manis. Tapi dugaanku kok ini berasal dr bhs Tionghoa ya? Entahlah, minim referensi soalnya.

      Kalau soal spasi, nha ini.. Kalo kurapetin, tulisannya nempel di foto, klo dijauhin malah renggang2 banget *bikin emosi, bolakbalik ngedit* akhirnya pasrah 😀

        1. Ho’oh konon ada yg meyakini air desa Tuyuhan itulah yg bikin lontong ama kuahnya berbeda dr tempat lain, meskipun mereka masak dg bumbu dan takaran yg sama.
          Iya, sampe skrang aku masih penasaran dg kata Srepeh. Pasti ada asal-usulnya. Tp temen2 dr Lasem Heritage jg masih nyari2. Hihihi..

          Soal spasi, biarin aja gitu dulu. Drpd aku stress mikirin spasi tp gak nulis2 kan?

          BTW, blogmu gak ada fasilitas komen yak? Gatel mw komen dr kemaren2

  2. Halo, saya asli orang Rembang.

    Kata serèpèh (huruf è pada suku kata rèpèh diucapkan seperti pada kata “remeh”) bukan dari bahasa cina, tapi asli kosa kata bahasa Jawa dialek Rembang. Serèpèh adalah nama bumbu yang berwarna merah itu.

    Di dialek rembang banyak kata bahasa jawa baku yang berakhiran “ih” diucapkan menjadi “èh”, contoh: mulih (pulang) menjadi mulèh, sedih menjadi sedèh, tapih menjadi tapèh, ngelih menjadi ngelèh (atau kalau orang Rembang lebih sering mengatakan “lesu” untuk lapar).

    Demikian juga dengan huruf “u” di suku kata kedua, dalam dialek Rembang berubah menjadi “o” yang diucapkan seperti pada kata “sombong” atau “emoh”. Jadi kalau orang semarang bilang “telung puluh” maka orang Rembang akan mengucapkan “telung puloh”, suruh diucapkan suroh dsb….

    Semoga membantu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.