Toraja, Kota yang Merayakan Kematian

Saya percaya, hampir sebagian besar orang pernah berkunjung ke Toraja, Sulawesi Selatan. Dari yang saya baca, di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar, berbagai suku berpolitik demi mempertahankan eksistensi mereka. Tapi, tidak seperti suku Bugis-Bone dan suku Makassar-Tallo, orang-orang Toraja tidak terlalu suka berkecimpung dalam politik. Mereka lebih memilih hidup berdamai dengan yang lainnya.

Kepercayaan yang mereka yakini sampai sekarang, berhasil memelihara tatanan hidup yang mendatangkan kedamaian. Kepercayaan itu disebut Aluk Todolo, suatu kepercayaan yang memiliki pandangan bahwa keharmonisan atau kedamaian bisa dicapai dengan cara menjaga kelestarian alam dan menghormati leluhur. Kepercayaan ini memiliki 7777 larangan atau pamali yang diimplementasikan dalam aturan dan upacara adat yang dipatuhi dan bahkan menjadi pergangan hidup sehari-hari.

Lalu, bagaimana aturan dan upacara adat itu berdampak dalam kehidupan warga Toraja sehari-hari? Dari hasil ngobrol sana-sini dengan beberapa warga setempat, saya mendapatkan cerita, bahwa di Tana Toraja hampir tidak pernah ada pencurian. Motor diparkir depan rumah berhari-hari tanpa dikunci tidak bakal hilang. Beda ya, dengan di daerah saya? Motor sudah disimpan dan dikunci di dalam garasi saja masih bisa hilang. Hehehe…

 

Karena aturan adat untuk menghargai leluhur, maka tak heran jika warga di sini member penghormatan lebih kepada leluhur mereka melalui upacara-upacara kematian yang bisa menghabiskan dana ratusan juta bahkan milyaran. Bedanya dengan saya yang orang Jawa, saya setengah mato bekerja mencari uang untuk bertahan hidup, sedangkan masyarakat Toraja berjuang mengumpulkan uang demi membiayai pesta pemakaman orang tua atau keluarganya.

Daya magis, keunikan budaya dan ritual yang dimiliki Toraja menjadikannya sebagai kandidat Situs Warisan Dunia UNESCO. Jepang termasuk Negara yang mendukung hal ini. Tak heran, kalau beberapa peneliti dari Jepang sering mondar-mandir ke Toraja. Sebagai orang aseli Indonesia, sayapun tak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri keunikan tadi. Jadi, meskipun hanya punya waktu sehari saja, saya perlu memaksakan diri untuk tetap kesana.

Tana Toraja

24 Desember 2013, saya dan seorang teman, menginjakkan kaki di Terminal Bus Daya Makassar setelah bermacet-macetan, mengingat malam itu malam Natal. Sekitar jam 10 malam, kami berangkat dari sana menuju Toraja.

Setelah menempuh perjalanan yang berkelok-kelok sekitar delapan jam lebih, akhirnya bis yang saya tumpangi sampai juga di Toraja. Semalaman saya sempat dilanda kebosanan, karena hanya bisa menatap kegelapan dari balik kaca dan wajah-wajah yang tertidur pulas di bus. Baru setelah menjelang pagi, saya bisa memanjakan mata menikmati pemandangan. Bukit-bukit, tebing, sungai, sawah-sawah, rumah-rumah tradisional, serta kerbau banyak saya lihat di sepanjang jalan.

Sesampainya di Rantapao penat dan kebosanan yang saya alami semalaman langsung menghilang. Rantapao ini sering juga disebut sebagai gerbang wisata Toraja, karena posisinya yang strategis. Mau menuju ke lokasi wisata manapun, entah itu ke Ketekesu, Londa, Batutumonga, dan lainnya, pastilah melewati kota ini.  Rantepao itu sendiri, jauh sebelum kehadiran Belanda, sudah memiliki banyak peran penting. Selain sebagai pusat budaya, dahulu orang-orang dari daerah pegunungan akan datang ke Rantepao untuk membeli keperluan sehari-hari. Saat Belanda berkuasa, Rantepao difungsikan sebagai pusat aktivitas masyarakat Toraja. Dan sekarang, kota ini menjadi lokasi pilihan bagi para turis asing untuk menginap, mengingat lengkapnya fasilitas yang tersedia bagi mereka.

Rantapao

Di Toraja banyak berdiri bangunan-bangunan gereja. Istilahnya, kalau di Jawa tiap sepuluh langkah kita ketemu masjid, di sini, tiap sepuluh langkah ketemu gereja. Maklum saja, karena hampir 65% penduduk sini menganut agama Kristen. Selain bangunan gereja, di sepanjang jalan utama kita bisa menyaksikan gedung-gedung perkantoran yang arsitekurnya mengadopsi model Tongkonan, rumah adat Toraja. Meskipun, ada juga gedung yang masih mempertahankan arsitekur Belandanya, yaitu RS Elim. Inilah rumah sakit pertama yang berada di Toraja, yang didirikan pada tahun 1929 oleh Pemerintah Belanda (Zelf Bestuur Luwu).

Lokasi mana saja yang wajib dikunjungi selama di Toraja? Ada banyak, tapi karena malamnya harus sudah kembali ke Makassar, kami memutuskan hanya ke beberapa tempat saja.

Batutumonga

Toraja merupakan kawasan pegunungan, tak heran jalan menuju kesana cenderung menanjak. Sementara Batu Tumonga yang menjadi salah satu destinasi wisata di Toraja ini, merupakan puncak tertinggi di Rantepao, Toraja. Lokasinya di lereng Gunung Sesean yang merupakan gunung tertinggi di Toraja. Makanya, untuk sampai ke Batu Tumonga, kita akan melewati pemandangan gunung ini.

Batutumonga

Hari masih pagi ketika saya sampai di sana. Hawa dingin dan sekumpulan awan putih membalut wilayah itu. Suasananya cenderung lengang. Tak ada papan petunjuk, sehingga saya hampir tak sadar bahwa tanah yang sedang saya injak saat itu adalah Batu Tumonga. Hanya sebuah guest house-café yang bertuliskan ‘Batu Tumonga’ yang meyakinkan saya bahwa saya telah sampai di Batu Tumonga. Di samping kanan guest hpuse, bertebaran batu-batu megalith dan beberapa rumah tradisional. Dari ketinggian Batu Tumonga ini, kita bisa melihat keindahan pemandangan kota Toraja, pohon-pohon yang asri, sawah yang membentang dan kerbau bule yang sedang merumput.

Lembang Tonga Riu (Lo’komata)

Turun dari Batutumonga untuk melanjutkan perjalanan, saya menjumpai sebuah batu besar di sisi kanan jalan. Itulah Lembang Tonga Riu (Lo’kamata). Batu yang besar tadi, betuknya bulat menyerupai kepala manusia, dimana di sepanjang dinding batu terpahat ceruk/lubang (semacam goa kecil) yang memiliki pintu. Pahatan ceruk atau goa kecil berpintu ini, merupakan makam leluhur dan kerabat warga Toraja yang telah digunakan sejak abad ke-14.

Lembang Tonga Riu




Biasanya 1 lubang diperuntukkan bagi 1 keluarga besar, yang berarti dalam satu ceruk bisa berisi lebih dari 1 jenazah. Saat jenazah siap untuk dikubur di dalam batu, maka keluarga harus menyediakan puluhan ekor kerbau (bule). Untuk memasukan jenazah ke dalam lubang batu, ada 2 prosesi yang harus dilewati, yaitu membuka dan menutup pintu makam batu. Untuk membuka pintu, dilakukan upacara penyembelihan kerbau. Begitu pula saat menutup pintu.  Selama belum melakukan upacara penyembelihan kerbau, pintu itu tidak boleh ditutup. Jadi, berapa total biaya untuk proses pemakaman? Jangan tanya!

Londa

Londa memiliki pemandangan tebing hijau yang indah. Di sela-sela tebing itu bersemayam makam para leluhur Toraja. Semakin tinggi lokasi makam, semakin tinggi derajad jenazah yang dimakamkan di situ.

Londa

Di bawah tebing tersebut, terdapat 2 buah goa tempat pemakaman. Di depan kedua goa, terdapat semacam bangsal atau balkon yang menempel di dinding goa. Di balkon itu, berjejer patung yang menyerupai orang yang meninggal (Tau-tau).  Bahan patung terbuat dari kayu nangka, dengan biaya pembuatan 1 patung berkisar 15 jutaan rupiah.

Kete Kessu

Kete Kesu ini merupakan suatu desa wisata yang masih kental memelihara adat dan kehidupan tradisional masyarakatnya. Memasuki kawasan desa wisata ini, kita akan melewati areal persawahan yang luas.

Memasuki kawasan Kete Kesu, terlihat deretan rumah adat (tongkonan) yang epic banget. Usianya sudah ratusan tahun. Di masing-masing bangunan rumah adat tadi, terdapat hiasan kepala kerbau dan ukir-ukiran yang memiliki banyak makna dan filosofi.

Selain Tongkonan, disini juga terdapat lumbung padi, museum dan toko yang menjual souvenir. Kebanyakan benda-benda hasil ukiran karena perkampungan ini memang terkenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh warganya. Sementara, di bagian belakang perkampungan adat tersebut, kira-kira sekitar 10 meter, terdapat kompleks pemakaman bagi kaum bangsawan. Disini ditemukan kuburan purba tergantung dari atas dinding-dinding batu disertai patung-patung (tau-tau).

Kete Kessu

Saya membeli beberapa souvenir, termasuk kerajinan ukiran khas Toraja. Yang saya tahu, makna ukiran berbentuk Bulan dan Matahari (Pa’ Bare’ Allo) melambangkan suatu tatanan aturan tingkah laku seperti bulan dan matahari yang sudah tetap; ada terbit dan terbenam. Sedangkan ukiran berbentuk kepala kerbau (Pa’ Tedong), melambangkan kesejahteraan. Entahlah, ukiran yang saya beli itu melambangkan apa, saya kurang paham.

Rante Kerrassik

Saya melewati perkampungan rumah penduduk untuk sampai ke kawasan ini, karena memang, Rante Kessik ini dikelilingi pemukiman penduduk. Meskipun, lokasi sebenarnya berada lapangan rumput yang luas. Suasana sepi ketika saya sampai di sana, hanya ada 2 anak muda yang sedang bersantai di atas motor.

Yang menarik dari Rante Kerrasik ini adalah batu-batu megalitikum (menhir) besar yang tertancap megah di atas tanah. Jumlahnya ada puluhan dengan tinggi yang bervariasi, bahkan ada yang sampai 7 meteran. Sebagian juga masih ada yang terkubur di dalam tanah. Batu menhir ini adalah simbol bahwa telah sekian banyak upacara adat pemakaman bangsawan Rambu Solo’ Rapasan dilaksanakan di lokasi tersebut.

Rante Kerrassik

 

Rante Kerrasik merupakan lokasi terakhir yang saya kunjungi di Tana Toraja. Masih banyak sebenarnya yang ingin saya kunjugi, tapi hari sudah menjelang malam. Saya harus bergegas ke pool bus, karena jam 8 malam kami akan kembali ke Makassar.

Reply