Tersihir Magnetisme Kota Melaka

“If you don’t know history, then you don’t know anything. You are a leaf that doesn’t know it’s a part of the tree.” (Michael Crichton).

The Tripster Goes to Melaka with Air Asia
Banyak teman yang mengernyitkan kening ketika saya berlama-lama di sebuah museum atau situs sejarah. Tak jarang mereka menjadi tak sabaran menunggui saya berlama-lama dan memilih meninggalkan saya sendirian di tempat itu. Saya sendiri tak keberatan ditinggal sendiri dan justru merasa lebih lega, karena dengan begitu berarti saya dapat melaksanakan ritual tetap saya. Yaitu, merekam catatan yang ada di museum atau situs tersebut dan/atau mencari titik temu atau koneksi yang dapat menghubungan rekaman catatan sejarah yang selama ini tersimpan dalam ingatan saya.

Makanya, ketika Air Asia menawari The Tripster (saya, Bobby, Taufan Gio, Fahmi dan Richo) untuk mengunjungi kota Melaka, Malaysia, saya merasa seperti mendapat durian runtuh. Melaka? Ya Tuhan, itu kota yang menyimpan banyak koneksi sejarah masa silam. Sebagai kota pusat pelabuhan, tentunya banyak kebudayaan dan kisah yang saling berinteraksi di tempat itu. Menyaksikan langsung suatu lokasi yang menjadi saksi sejarah masa lalu, jelas akan memberikan sensasi tersendiri.

Silsilah Keluarga di Kampung Ketek

Silsilah Keluarga di Kampung Ketek

Kota Malaka, atau Melaka, atau Malacca, masih memiliki koneksi dan hubungan darah dengan para petinggi kerajaan-kerajaan di Indonesia. Bagaimana tidak, jika pendirinya sendiri, yaitu Parameswara (Iskandar Syah), merupakan salah satu pangeran dari Kerajaan Majapahit yang melarikan diri karena dipicu perang Paregreg.




Selain terkait dengan pendirinya, tak kurang-kurang para petinggi kerajaan-kerajaan dari Indonesia yang ikut menyingsingkan lengan untuk membantu Malaka keluar dari cengkeraman musuh. Yang paling fenomenal tentunya bantuan Pangeran Adipati Unus dari Kesultanan Demak-Jawa Tengah, yang meskipun akhirnya gagal mengalahkan Portugis, namun dunia mengakui keberaniannya. Ia bahkan kemudian diberi gelar Pangeran Sabrang Lor (Pangeran yang menyeberang ke Utara).

Dengan berbekal titik-titik pemicu yang menghubungkan sejarah Indonesia dengan Malaka ini, saya yakin perjalanan saya ke Kota Melaka akan sangat membahagiakan. Pasti banyak momen yang selama ini hanya terdiam dan tersimpan di benak saya, akan keluar dengan liar untuk menemukan titik-titik penghubung yang lain.

Fly with Air Asia

Fly with Air Asia

Melancong ramai-ramai tentu punya plus-minusnya tersendiri dibanding traveling sendirian. Karena terdiri dari lima kepala, tentu di setiap akan mengambil keputusan, aka nada lima pendapat. Terkadang perbedaan kecil saja dapat memicu pertengkaran. Apalagi kalau urusannya soal duit. Itu sebabnya, kami anggota The Tripster menyepakati beberapa aturan dan berbagi tugas. Seperti misalnya: kesepakatan berapa jumlah iuran dan siapa yang memegang jabatan penting Menteri Keuangan. Setelah melakukan voting yang alot, akhirnya Fahmi Anhar-lah yang terpilih menjabat posisi penting itu.

Saya, Bobby, Fahmi dan Taufan Gio berangkat dari Jogja menuju Kuala Lumpur, sedangkan Richo berangkat dari Bali. Meskipun berangkat dari lokasi yang berbeda, kami berlima bertemu di bandara KLIA2 sekitar jam 11 siang. Dan ternyata, perut kami berlima tak mengenal kata kompromi. Mereka saling berlomba berteriak paling kencang. Maka, daripada terjadi hal-hal yang tak diinginkan, kamipun segera melipir ke salah satu rumah makan untuk membungkam rasa lapar.

Di Dalam Bus Menuju Melaka

Di Dalam Bus Menuju Melaka

Dari Bandara KLIA2, kami naik bus menuju Malaka. Yang keren, bus-bus di sini jadwal keberangkatannya tertera di layar pengumuman, jadwal keberangkatan tidak ngaret, tidak ngetem dan bersih. Penumpang dilarang makan dan minum selama naik bus. Selain itu, tempat duduknya sangat nyaman. Sehingga perjalanan sekitar 5 jam dari Kuala Lumpur ke Malaka tidak terasa. Tahu-tahu kami sudah sampai. (Well, sebenarnya kami ketiduran sih… hehehe…)

Sampai di kota Melaka, bus yang kami tumpangi berhenti di alun-alun kota (baca: Red/Dutch Square). Karena weekend, jalanan agak padat saat itu. Turun dari bus, kami langsung jalan kaki sambil menggeret koper masing-masing menuju Hotel Casa del Rio, tempat kami menginap. Sampai di hotel, kami langsung disambut dengan ramah. Sebelum merebahkan badan di kasur hotel yang empuk, kami diberitahu bahwa besok jadwal kami adalah heritage walk seharian. Berjalan kaki menyusuri tempat-tempat bersejarah di Malaka dengan ditemani Om Eddie, sejarahwan sekaligus tour guide yang meskipun usianya 70 tahun namun tetap energik. Can’t wait!

Clock Tower

Clock Tower

Jonker Walk, Kampung Segala Bangsa
Hari masih pagi saat itu. Saya membuka jendela kamar hotel, untuk sekedar menghirup udara segar dan mengintip kesibukan pagi di sepanjang Sungai Melaka. Dari teras tempat saya duduk, belum terlihat nadi-nadi kehidupan. Suasana masih sepi, matahari juga masih malu-malu menampakkan diri. Hanya beberapa orang terlihat sedang jogging. Rata-rata mereka yang berlari usianya sudah tidak muda. Kemungkinan besar mereka itu penduduk setempat.

Di depan saya persis, di seberang hotel saya menginap, ada sebuah hotel juga. Saya lihat, beberapa tamu hotel itu juga melakukan aktivitas seperti yang sedang saya lakukan. Mereka duduk-duduk sambil melakukan pengamatan. Yang saya tak habis mengerti, banyak sekali berseliweran burung gagak di sepanjang sungai. Beberapa bahkan ada yang berani hinggap di teras hotel kami. Warna bulunya hitam. Suaranya memekakkan telinga. Barangkali itulah cara mereka mengucapkan syukur, bahwa hari telah berganti pagi.

Menyimak Om Eddie di Lobby Casa del Rio Hotel

Menyimak Om Eddie di Lobby Casa del Rio Hotel

Selesai sarapan di Resto River Grill kami berlima segera menuju lobi hotel. Di sana sudah menanti dengan sabar seorang pria baya dengan perawakan yang tinggi dengan badan yang besar. Dialah pemandu tour kami, Om Eddie. Sebelum berangkat, ia sempat mengedarkan foto-foto yang menggambarkan Malaka puluhan tahun silam. Salah satunya, foto Sungai Malaka ketika masih banyak nelayan yang lalu-lalang di sungai itu serta beberapa rumah kayu tradisional yang berada di pinggiran sungai itu. Tentunya sembari tak lupa Om Eddie mengisahkan cerita di balik foto-foto yang dibawanya itu.

Selesai berkenalan dan sedikit mendengarkan sejarah Melaka dari Om Eddi, kami segera beranjak dari hotel untuk memulai petualangan menyusuri daya tarik masa silam Kota Malaka. Dari Hotel Casa del Rio kami berbelok ke arah kiri menuju Heeren Street, salah satu kawasan Jonker Walk. Jonker Walk sendiri, merupakan kawasan yang paling popular bagi para pejalan kaki. Banyak kampung-kampung bertebaran di kawasan ini. Di kampung-kampung ini, bermukim warga dari segala penjuru bangsa, baik Melayu, Jawa, Belanda, maupun Peranakan.

Jonker Walk

Jonker Walk

Heeren Street atau jalan Tun Tan Cheng Lock ini, luas jalannya tidak terlalu lebar dan hanya bisa dilewati satu mobil yang searah saja. Aselinya kawasan ini bernama Kampung Belanda, karena dulunya merupakan pemukiman warga Belanda di Malaka. Saya membayangkan, dulunya kawasan ini merupakan kawasan elit. Hanya orang-orang sosialita saja yang bisa tinggal di sini.

Di sepanjang jalan ini, berderet rumah-rumah klasik perpaduan gaya Tiongkok dan Eropa. Yang paling mencolok tentunya bangunan The Chee Mansion bercat putih yang berlokasi di Heeren Street no. 117. Mansion bergaya Belanda ini dibangun oleh Chee Swee Cheng, boss pertama Bank OCBC, untuk didedikasikan pada ayahnya, Chee Yam Chuan. Sayang sekali, saat The Tripster sampai di mansion ini, pintu pagarnya yang tinggi tertutup rapat sehingga kami hanya bisa memandanginya dari luar pagar saja.

Selain rumah-rumah penduduk yang masih dijaga keorisinalitasannya, Heeren Street juga dipenuhi bermacam-macam toko souvenir, museum, kuil dan di depan persis Che Mansion berdiri sebuah hotel yang tak kalah klasik, Hotel Puri. Di ujung jalan kami sempat bertemu pasar tumpah yang menjual beragam barang-barang klasik.

The Chee Mansion

The Chee Mansion

Dari Heeren Street, Om Eddie mengantar kami menyusuri jalan yang dikenal punya beragam nama. Ada yang menyebutnya Jalan Tukang Emas, ada juga yang menyebut Jalan Tukang Besi dan ada pula Jalan Tokong. Sementara turis bule umumnya menyebut jalan di kawasan ini dengan nama Temple Street. Sementara buat saya pribadi, nama yang paling favorit adalah Harmonious Street. Jalan Harmoni.

Kenapa favorit Jalan Harmoni? Kalau menurut penjelasan Om Eddie, karena di kawasan jalan ini terdapat empat rumah rumah ibadah dari empat agama. Yang pertama, ada dua tempat ibadah yang saling berhadap-hadapan. Yaitu Klenteng Cheng Hoon Teng (Tao, Buddha) yang merupakan klenteng Buddha tertua sekaligus yang termegah di Melaka. Tak heran jika klenteng ini ramai sekali didatangi para peziarah.
Sementara di seberang klenteng tersebut terdapat Vihara Xiang Lin Si (Buddha) yang bangunannya terdiri dari dua lantai. Di dalam tempat ibadah itu terdapat patung pendeta wanita yang sangat besar. Lagi-lagi menurut Om Eddie, inilah satu-satunya vihara yang pendetanya perempuan.

Dari Lantai #2 Vihara Xiang Lin Si

Dari Lantai #2 Vihara Xiang Lin Si

Mau tahu apa yang paling asyik berada di lantai dua Vihara Xiang Lin Si? Dari situ, kita dapat memandang rumah-rumah aseli penduduk Malaka. Atap-atap rumah yang bernaungkan awan biru itu seolah dapat membawa kita ke suatu masa dimana para leluhur mereka sangat menghargai perbedaan dan dapat hidup berdampingan dengan damai. Mereka saling berinteraksi, berbagi ruang tinggal yang sama. Kondisi inilah yang sepantasnya dapat kita jadikan teladan di era dimana sekarang ini banyak pihak yang sulit menerima perbedaan dan cenderung memaksakan keyakinannya terhadap pihak lain.

Tempat ibadah lainnya yang dapat kita temui di Jalan Harmoni ini adalah Kuil Sri Poyatha Moorthi (Hindu). Tidak seperti klenteng dan vihara yang terdapat di kawasan ini, kuil Hindu ini tampak tertutup rapat. Tak banyak yang saya ketahui tentang kuil tersebut, hanya tulisan yang tertera di depan kuila yang menyatakan bahwa bangunan itu milik kaum Chetty Melaka dan didirikan pada tahun 1781.

Klenteng Cheng Hoon Teng

Klenteng Cheng Hoon Teng

Kira-kira 100 meter dari Kuil Sri Poyatha Moorthi terdapat Masjid Kampung Keling yang dibangun pada tahun 1748. Menurut Om Eddie lagi, nama Kampung Keling diambil karena dulunya di kawasan ini merupakan perkampungan orang-orang Muslim yang berasal dari India Selatan. Konon, masjid ini dibangun di era penjajahan Belanda untuk menarik simpati warga muslim Melaka yang telah sekian lama dilarang mendirikan masjid oleh pemerintahan Portugis.

Suasana tidak terlalu ramai ketika kami sampai di masjid ini. Hanya kami dan beberapa pengunjung lainnya. Tak ada yang sedang menjalankan ibadah sholat, karena waktu itu masih sekitar jam 11 siang. Fahmi Anhar sempat menengok ruangan dalam masjid tersebut. Sementara sayapun hanya melihat-lihat dari luar saja. Dari luar saya menangkap banyak keunikan dari masjid ini. Masjid ini merupakan perpaduan dari arsitektur Eropa, China dan Melayu. Misalnya, kita dapat melihat tiang-tiang lampu-lampu bergaya Eropa yang terpasang di mimbar masjid. Lalu, Atap atau kubah masjid ini tidak berbentuk umbi yang mau tumbuh seperti yang lazim sekarang ini kita temui, melainkan berbentuk limasan bersusun tiga yang banyak saya temui di masjid-masjid tua di nusantara (Bima, Kutai-Kalimantan, Jawa, dll). Sementara menara masjid yang bangunannya terpisah dari masjidnya, tampilannya mirip Pagoda China.

Masjid Kampung Keling

Masjid Kampung Keling

Di ujung jalan di kawasan Jalan Harmoni ini, berderet pedagang-pedagang yang khusus menjual aneka jenis kue. Menurut Om Eddie, dulunya kawasan ini sepi pengunjung. Namun sejak diputuskan bersama-sama bahwa kawasan ini special menjual kue-kue, maka kawasan ini sekarang hampir tidak pernah sepi oleh pengunjung yang ingin membeli oleh-oleh. Selain kue-kue, di kawasan ini juga menyediakan aneka bumbu-bumbu, dari mulai bumbu kari, bumbu ayam pongteh, dbakkutteh, belacan, gula`Melaka, dan lain-lain.

Satu hal yang paling saya sesali adalah saya tidak sempat membeli bumbu-bumbu ini. Saya berpikir, ah nanti saja. Toh kalau beli sekarang, nanti keliling Melaka malah bawa bawaan berat kan? Gak lucu juga kalau misalnya naik ke Bukit Famosa bawa tentengan belacan? Begitu. Tapi akhirnya nanti setelah keliling Malaka, saya malah tak sempat mampir ke kawasan ini untuk beli oleh-oleh. Nyesel. Nyesek.

Kedai Chua Soon Hup, diserbu pembeli

Kedai Chua Soon Hup, diserbu pembeli

Saya sempat memaksa Om Eddie untuk mengantarkan saya mengunjungi Kampung Ketek, salah satu kampung tua di Melaka. Ada 1-2 rumah yang bentuk bangunannya mirip rumah-rumah di Sumatera. Salah satu ibu-ibu pemilik rumah tersebut mempersilakan saya mampir. Karena penasaran, gayungpun bersambut. Saya memasuki ruangan per ruangan di dalam rumah tersebut. Saya juga mengamati foto-foto dan silsilah keluarga itu. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan kepada ibu itu. Andai tersedia waktu banyak.

Memang masih banyak lokasi di kawasan Jonker Walk ini yang ingin saya eksplor secara mendalam. Namun untuk sementara, saya merasa puas dapat menyusuri kawasan kawasan bersejarah ini. Ada banyak hal yang saya pelajari dan terekam di benak saya. Dan sebelum benar-benar meninggalkan kawasan itu, kami sempat mengunjungi ke makam Syekh Syamsuddin As Sumatran (ulama besar dan sastrawan asal Aceh) dan makam Hang Jebat.

Jembatan Kampung Jawa

Jembatan Kampung Jawa

Perseteruan Portugis, Belanda dan Inggris di Kota Melaka
Dari kawasan Jonker, kami bergerak menuju ke kawasan A Famosa. Om Eddie mengajak kami menyusuri jalan-jalan tikus untuk sampai ke sana. Di kanan dan kiri jalan yang sempit itu, berjejer rumah-rumah penduduk. Meski tinggal di kawasan yang agak sempit, toh tak menyurutkan kreativitas warga untuk tetap membuat rumah mereka asyik dipandang. Atau mungkin karena ruang sempitlah yang justru memicu kreativitas mereka? Entahlah. Yang pasti kami, The Tripster, tak bosan-bosannya berhenti sejenak di lokasi itu untuk berfoto-foto. Sementara Om Eddie dengan sabar menunggui kami yang sibuk mengambil satu objek foto dengan berbagai angle dan berbagai pose.

Setelah berjalan kaki sekitar empat jam menyusuri jalan-jalan bersejarah di Kota Melaka, perut kamipun mulai nyaring berteriak. Kami segera mencari kedai makan dan berhenti di seberang jembatan Kampung Jawa, Di sana ada kedai yang menawarkan sajian berbagai mie dan es cendol. Selesai makan siang, kami segera melangkahkan kaki kembali, menyusuri jalan-jalan yang menyimpan banyak sejarah. Saya sempat mengagumi jalan pedestrian yang berada di tepi Sungai Melaka. Jalan itu bersih, hampir tak ada sampah barang satu bijipun. Di pinggir sungai itu dibangun hotel-hotel, café, toko buku, dan lain sebagainya. Selain itu, banyak bunga dan tanaman yang menambah kecantikan tepi sungai.

Pedestrian di Tepi Sungai Melaka

Pedestrian di Tepi Sungai Melaka

Setelah ratusan langkah menyusuri jalan pedestrian tepi sungai, sampailah kami di kawasan depan Gereja St. Frais Xavier yang berlokasi di Jalan Laksamana. Di antara lokasi gereja dengan tepian Sungai Melaka, terdapat reruntuhan situs Benteng Bastion Victoria. Benteng ini merupakan benteng yang cukup penting bagi Portugis saat itu, karena diposisikan sebagai benteng pertahanan bagi Benteng A Famosa yang berlokasi di Bukit St Paul. Benteng ini dihancurkan Belanda pada tahun 1641 dan kondisinya makin parah ketika Inggris masuk Melaka pada tahun 1807. Kawasan Bastion Victoria itu sekarang dipagari, meski kita masih bisa melihat bagaimana kondisinya.

Di sekitar kawasan Bastion Victoria dan Sungai Melaka, tumbuh subur pohon-pohon yang lumayan bisa mengurangi hawa panas yang menebar di lokasi tersebut. Itulah pohon buah Malaka. Menurut Om Eddie, nama Kota Melaka berasal dari nama pohon itu. Meskipun ada juga versi lain yang menceritakan kisah awal nama Malaka. Sumber dari Arab menyebut berasal dari kata ‘malaqat,’ sedangkan sumber dari China menyebut berasal dari kata ‘Man-la-chin.’

Bastion Victoria dan Pohon Malaka

Bastion Victoria dan Pohon Malaka

Hari sudah semakin siang. Jam di tangan saya sudah menunjukkan angka 1:31 PM. Tanpa sempat memasuki Gereja St. Francis Xavier yang dibangun di atas Gereja Dominica itu, kami segera bergegas berbelok ke arah kanan dan berhenti di pemakaman kuno Dutch Graveyard. Di samping pemakaman kuno ini terdapat jalan kecil yang agak menanjak menuju Kota A Famosa. Di kawasan inilah Portugis membangun benteng pertahanan, gedung-gedung pemerintahan dan gereja. Dengan benteng itu mereka berhasil menguasai Melaka hingga ratusan tahun lebih.

Saya terpekur sejenak di reruntuhan puing-puing Gereja St. Paul. Ah, betapa banyak darah yang tumpah di kawasan ini demi kekuasaan dan uang. Sebelum Portugus membangun A Famosa, dulunya bukit ini merupakan kawasan istana Sultan Malaka. Namun untuk menghilangkan hal-hal yang berkaitan dengan Melaka, Portugis memusnahkan semuanya. Semua makam pembesar Melaka dari Parameswara, Iskandar Syah, Sultan Abu Said, dan lain sebagainya dimusnahkan. Istana dan buku-buku dibakar. Habis sudah tak ada sisa. Yang dapat kita saksisan sekarang hanyalah replika istana Melaka saja.

Replika Istana Kesultanan Malaka abad XV

Replika Istana Kesultanan Malaka abad XV

Satu hal yang semua orang pasti tahu namun jarang menyadarinya adalah kekuasaan tidak akan bertahan selamanya. Begitunya juga kekuasaan Portugis segera digantikan oleh Belanda. Kota A Famosa sempat rusak parah, meskipun beberapa bangunan kemudian diperbaiki kembali. Namun ketika Ingris berkuasa menggantikan Belanda, Kota A Famosa diluluh-lantakkan hampir tak tersisa. Pemusnahan meliputi hampir seluruh kota.

Sekarang Kota A Famosa yang dulunya megah, mempunyai empat bastion, dinding yang sangat tebal dan selalu dibentengi dengan senjata yang kuat, sekarang tinggal menyisakan satu pintu kotanya, yaitu Porta de Santiago.

Pintu Porta de Santiago

Pintu Porta de Santiago

Hampir jam dua siang saat itu. Sinar matahari menyengat dengan sadisnya. Peluh kami sudah bercucuran kemana-mana. Om Eddie yang usianya sudah 70-an tahun itu masih kelihatan bugar dan bersemangat menceritakan kisah-kisah menarik masa silam. Saya mulai kesulitan membagi perhatian, baik mendengarkan Om Eddie yang tengah bercerita, mengambil foto dan menancapkan kisah di ingatan. Saya tak banyak mengambil foto di lokasi ini. Beberapa foto hasil jepretan saya malah mulai miring-miring. Tanda sudah tidak focus. Anggota The Tripster yang lain juga tampaknya mengalami hal yang sama.

Hanya sekitar 15 menit kami berada di St. Paul Hill, lalu bergegas turun menuruni bukit. Sempat menengok ke lokasi replika Istana Kesultanan Melaka, namun hanya sejenak. Lalu melanjutkan perjalanan menuju kawasan Red Dutch.

Red Square Kota Melaka

Red Square

Kalau pemerintahan Portugis dulunya berpusat di St. Paul Hill, maka ketika Belanda berkuasa di Kota Melaka, pemerintahannya berpusat di kawasan Stadhuys atau Red Square ini. Bangunan berwarna merah yang dulunya digunakan sebagai pusat pemerintahan itu sekarang beralih fungsi sebagai museum sejarah dan etnografi, museum sastra, museum Cheng Ho, dan lain-lain, dengan harga tiket yang sangat murah dan bahkan ada yang gratis.

Di sekitar kawasan Red Square berdiri sebuah bangunan Christ Church yang merupakan gereja Kristen tertua di Malaysia, juga sebuah tugu peringatan untuk menghormati ratu inggris yang dilengkapi dengan air mancur air mancur Queen Victoria. Menurut saya, lokasi inilah yang paling banyak pengunjungnya. Karena memang di sinilah pusatnya segala atraksi wisata Kota Melaka. Jangan heran kalau banyak pedagang yang berjualan di sekitar sini dan juga becak-becak berhias warna-warni yang menawarkan jasa keliling kota. Sayang, waktu itu saya kurang tertarik naik becak. Jadi setelah puas berlama-lama di Red Suare, kami memutuskan kembali ke hotel untuk istrahat dan melanjutkan perjalanan besokannya.

oOo

Terimakasih kepada Air Asia yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk mengunjungi Malaka. Sungguh luar biasa pengalaman mengeksplor kota bersejarah ini.
Tak lupa terimakasih juga kepada Hotel Cassa del Rio Melaka yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk merasakan pengalaman menginap yang memorable sangat. Terimakasih juga telah menawarkan Om Eddie untuk menjadi tour guide kami selama heritage walk di Kota Melaka.

5 Comments - Add Comment

Reply