Ter-Nemo Ku di Pahawang, Lampung

PAHAWANG 01

 

 

Pasca Lebaran tahun lalu, saya perlu melarikan diri dari rumah ke suatu tempat yang lokasinya tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Sempet mau melipir ke Bromo, tapi si Racun Laut keburu menelpon dan mengajak cabut ke Pahawang.

 

Sudah lama kata Pahawang itu terekam di benak saya. Yang pernah saya dengar, destinasi wisata yang berlokasi di bagian selatan Provinsi Lampung itu masih terhitung alami. Terumbu karangnya masih sehat-sehat dan banyak terdapat anemon. Anemon merupakan rumah sekaligus benteng pertahanan bagi ikan Nemo (clownfish), sehingga tak jarang yang menyebut Pahawang sebagai surga bagi ikan Nemo.

 




Untuk sampai ke Pahawang, saya dan si Racun Laut sudah siap berada di Pelabuhan Merak sekitar jam 11 malam. Kami duduk-duduk di pinggiran laut, sambil menunggu kedatangan Mbak Fairuz, Indra, Mas Erwin, Suci, Nufus, dan lainnya. Sampai jamuran menunggu kedatangan mereka, tak heran kalau dua cangkir kopi dan beragam cemilan mulai masuk ke dalam perut.

 

Sambil menikmati cemilan, saya perhatikan beberapa kapal yang pergi dan berlabuh. Diterangi lampu yang kerlap-kerlip, suasana di sekitar Pelabuhan Merak tampak cantik sekali. Di hadapan kami, banyak pasangan muda-mudi yang duduk-duduk sambi bermesraan dan memandang keindahan laut malam hari. Maklum, weekend. *di situ kadang saya merasa sedih* 😀 😀 😀

 

Setelah hampir satu jam, akhirnya teman-teman yang lain mulai berdatangan. Saling berceloteh jalanan macetlah, inilah-itulah. Lalu kami beramai-ramai membeli tiket kapal untuk menuju Pelabuhan Bakauheni. Dari Merak ke Bakauheni, butuh waktu sekitar 2 jam perjalanan laut. Sedangkan dari Bakauheni ke Dermaga Ketapang (Desa Batumenyan) butuh waktu sekitar 3 jam dengan mobil carteran.

 

 

 

TER-NEMO DI HARI PERTAMA 

 

 

Kami sampai di Desa Batumenyan (Dermaga Ketapang), sekitar jam 6 pagi. Suasana desa masih agak sepi. Hanya 1-2 warung yang sudah buka. Kami menitipkan barang bawaan di rumah Pak Yanto yang kapalnya kami sewa. Rencananya kami akan menginap di rumah ini.

 

PAHAWANG 02a

 

Ketika saya menyebut Pahawang, itu artinya bukan Pulau Pahawang saja yang akan kami singgahi. Ada gugusan pulau lainnya, seperti: Kelagian, Tanjung Putus, Maitem dan Pulau Tegal.

 

Kalau saya datang sendirian kesini, kemungkinan besar saya akan menyusuri ke dalam pulaunya, desa-desa, alamnya, masyarakatnya, dll. Tapi berhubung saya datang bersama tim hore, maka tujuan kami datang ke Pahawang hanya snorkeling dan hopping island.

 

 

PAHAWANG 02b

 

 

Begitu sampai Demaga Ketapang, tanpa pakai istirahat lebih dulu, kami langsung merealisasikan tujuan bersnorkeling dan hopping island. Sempet agak ragu sebenarnya. Duh, kalau body ini protes gimana? Maklum deh, faktor U. Tapi yah, skedulnya memang ketat sih. Di hari pertama ini, tujuan kami ke Pahawang Kecil, Kelagian Besar, Tanjung Putus dan Pahawang Besar.

 

Satu persatu dari dari kami mulai menaiki kapal dari dermaga. Di kapal, kawan-kawan berceloteh riang, sesekali kami tertawa mendengar Nufu dan Mas Erwin yang saling cela-celaan tanpa henti. Saya sendiri sesekali ikut tertawa, sambil tak lupa memandang panorama yang terbentang di depan sana.

 

 

PAHAWANG 03

 

 

Ada sebersit rasa malu yang tetiba hinggap. Saya tak pernah menyangka kalau Lampung ternyata memiliki keindahan seperti yang saya saksikan saat itu di depan mata. Gugusan bukit-bukit yang menyerupai gunung, pohon-pohon yang hijau, air yang berwarna biru kehijau-hijauan… seperti sebuah karya lukisan yang agung. Kejernihan air lautnya juga sungguh memukau. Dari atas kapal, saya bisa melihat terumbu-terumbu karang yang hidup di bawah air laut.

 

 

 

 

PAHAWANG 04

 

 

Di lokasi pertama yang kami datangi, Pahawang Kecil, tumbuh terumbu karang yang bentuknya unik-unik. Ada yang menyerupai telapak tangan, ada yang bulat-bulat seperti telur, ada juga yang menyerupai bunga mawar. Sinar matahari memantul di sela-sela terumbu karang. Indah sekali. Ikan-ikan kecil yang beragam jenis dan berwarna-warni, berlarian kesana-kemari. Hanya saja, di sini, saya belum menemukan mahluk yang menjadi mascot, Nemo.

 

 

PAHAWANG 05

 

 

Saya baru bisa menjumpai ikan Nemo dan anemon saat berada di sekitar Kelagian Besar dan Pahawang Besar. Di dua lokasi spot snorkeling ini, kemanapun saya berenang, selalu ketemu ikan Nemo. Kalau saya diam, ikan-ikan itu dengan gagah berani menjauhi anemone rumahnya, tapi kalau saya mendekat ingin mengambil foto, mereka buru-buru ngumpet ke dalam rumah. Lucu, seolah mengajak bercanda.

 

 

PAHAWANG 06

 

 

Ada empat lokasi yang kami kunjungi hari ini, dan Tanjung Putus merupakan lokasi yang ketiga. Di pulau ini, terdapat pinggiran pantai yang pasirnya putih bersih, juga beberapa rumah kayu bergaya tradisional Jawa. Sayang, banyak sekali kapal yang sudah berlabuh di sana. Penuh sesak, sampai kapal yang kami tumpangi kesulitan untuk mendarat. Dan sudah barang tentu, banyak orang juga yang berkerumun di sekitar lokasi itu.

 

 

PAHAWANG 07

 

 

Agak-agak gimana ya, kalau suatu tempat sudah dijejali banyak orang seperti itu? Mau menikmati keindahan pulaunya juga susah. Akhirnya, setelah makan siang di kapal, kami hanya bermain-main di air yang agak jauh dari lokasi pantai pulau Tanjung Putus. Dari situ kami meneruskan perjalanan ke Pahawang Besar. Di lokasi ini, keindahan bawah lautnya lebih bagus dibanding dua lokasi snorkeling sebelumnya. Airnya lebih jernih dan lebih dalam. Ikan Nemo yang kami jumpai juga lebih banyak.

 

 

 PAHAWANG 08


 

 

Sekitar satu jam kami menghabiskan waktu menyelami keindahan bawah laut di Pahawang Besar. Waktu sudah menunjukkan jam ½ 4 sore. Kamipun segera bergegas kembali ke Desa Batumenyan (Dermaga Ketapang).

Selesai membersihkan diri, saya dan Onie kembali ke dermaga sembari menanti momen matahari terbenam. Beberapa anak muda setempat mencoba menyapa kami dan menanyakan sesuatu hal. Kami menanggapinya dengan tertawa-tawa.

 

 

PAHAWANG 09

 

 

Kami tetap bertahan duduk-duduk di dermaga tepi laut, meskipun matahari semakin menghilang di balik hamparan laut dan pegunungan. Beberapa kawan juga mulai berdatangan. Sambil menikmati semilir angin dan udara malam, menikmati cemilan, kami asyik ngobrol banyak hal. Dan sambil tak lupa tentunya, acara curcol! #eaaaa

 

 

 

TER-NEMO DI HARI KEDUA 

 

 

Di hari kedua, hanya dua lokasi yang akan kami sambangi. Yaitu:  Maitem dan Pulau Tegal. Kegiatan masih sama, snorkeling dan hopping island. Namun hanya akan berlangsung sampai jam 1 siang, lalu pulang.

 

Pulau Maitem, sebenarnya pulau tanpa penghuni. Meskipun, saya sempat melihat dua orang yang sedang berkemah. Sempat kepikiran, asyik kali ya, suatu saat berkemah di pulau ini? Soalnya pulau ini cantik. Kecantikan itu semakin kentara, setelah kami melakukan trekking kecil dari lokasi kapal disandarkan.

 

 

PAHAWANG 10

 

 

Beragam batu dan batu karang memenuhi tepian pantai Pulau Maitem ini. Sementara di seberang sana, terhampar pemandangan laut dan gugusan bukit. Selain foto-foto, tak ada aktivitas lain yang kami lakukan di sini. Maka, tak butuh waktu lama dan segera beranjak dari situ untuk menuju spot snorkeling yang tak jauh dari Pulau Maitem.

 

 

PAHAWANG 11

 

 

Di lokasi spot snorkeling Maitem yang ini, pemandangan bawah lautnya paling bagus menurut saya. Airnya lebih jernih, lebih dalam dan lebih berwarna kehijau-hijauan. Arusnya juga lebih kencang. Selain itu, terumbu karang dan jenis ikannya juga jauh lebih beragam. Ikan Nemo sih jelas, sudah pasti ada.

 

 

PAHAWANG 12

 

 

Melihat taman bawah laut yang mempesona seperti itu, rasanya gemes banget. Beda banget ama aquarium di rumah yang isinya cuma 3 ekor Oscar. Ya iyalaaahh… 😀

Hari sudah semakin siang. Puas tidak puas, kami harus segera beranjak dari situ menuju lokasi terakhir. Pulau Tegal. Pulau ini banyak ditumbuhi pohon kelapa. Tidak jauh dari situ, terdapat budidaya ikan kerapu yang dimiliki nelayan setempat.

 

DI sini, kami tidak melakukan snorkeling. Hanya menikmati keindahan pemandangan pantainya. Pasirnya putih bersih. Air lautnya membentuk tiga gradasi. Putih, biru muda dan biru tua. Senada dengan warna awan saat itu. Di sekelilingnya, terdapat pulau dan bukit-bukit yang dari jauh tampak berwarna biru tua.

 

Karena tak melakukan aktivitas snorkeling, satu-satunya acara favaorit adalah berfoto. Foto dengan berbagai gaya. Mulai gaya putri duyung, yoga, ada juga yang love-love-an, jumping, dan sebagainya. Sambil tak lupa foto beramai-ramai dengan gaya yang ini. Madness!!!

 

 

PAHAWANG 13

 

 

Puas foto-foto gila-gilaan, kapalpun segera kembali ke Dermaga Ketapang. Setelah acara bebersih, packing dan makan siang, mobil carteran telah siap mengantarkan kembali ke Pelabuhan Bakauheni. Senyum puas dan ketawa bahagia yang kami bawa pulang kembali ke Jakarta.

 

 

 

oOo

 

7 Comments - Add Comment

Reply