Takabonerate, Pesona Magis di Ujung Sulawesi Selatan

Tentang Perjalanan yang Sempat Tertunda

Pernahkah hatimu tertambat pada sesuatu? Entah tertambat pada paras seseorang, pada arsitektur rumah yang menawan, atau pada suatu tempat yang eksotis. Pada kondisi demikian, ada getar-getar yang sulit diungkapkan. Ada keinginan untuk selalu kesana atau memiliki sesuatu itu. Dan alangkah perih kalau kita tak bisa memenuhi keinginan itu. Itulah yang pernah saya alami. Dulu, tiga tahun yang lalu.

Senja di Samudera Selayar

28 September 2014. Pelabuhan Bira, Bulukumba. Hari masih pagi. Sudah sekitar dua bulan saya meninggalkan Semarang, kota tempat tinggal saya, untuk menyesap udara dan menikmati perjalanan seorang diri dari Bali, Lombok, Labuan Bajo, Komodo, Ende, Ruteng, Bajawa, Kelimutu, Maumere, dan nantinya akan berakhir di Banda Neira. Namun sebelum sampai sana, naluri saya mengatakan bahwa saya harus menjejakkan kaki lebih dulu di Makassar lalu lanjut ke Bira, Bulukumba. Sesampai di pelabuhan, serentetan pertanyaan bergulat di kepala. Apakah saya harus segera masuk ke kapal yang bersiap berangkat ke Selayar untuk selanjutnya ke Takabonerate? Masih kuatkah saya? Bagaimana kalau dana tidak mencukupi? Sementara tujuan akhir waktu itu adalah Banda Neira. Tidak, tidak. Saya harus berhitung dengan hati-hati.

Pasir putih dan gradasi warna laut di Tinabo




20 Mei 2017. Pelabuhan Bira, Bulukumba. Hari masih pagi. Saya sudah berada di atas kapal ferry yang siap berlayar menuju Pelabuhan Pamatata, Selayar. Dari atas kapal ternyata saya lebih mudah mengedarkan pandangan. Tampak lalu-lalang kendaraan roda empat di sekitar pelabuhan dan juga sederetan kapal phinisi yang bersandar di pelabuhan. Daripada berdiam diri di ruang VIP yang ber-AC, saya memilih berdiri di pinggiran kapal. Dari situ, ketika kapal mulai jalan, saya bisa menikmati angin sepoi-sepoi dan hamparan air laut yang berwarna biru kehijau-hijauan. Inilah yang membuat perjalanan selama dua jam menjadi tidak berasa.

Pesona Bunging Tinabo

Pesona Magis Takabonerate

Di tahun 2014 dulu, sesungguhnya saya belum begitu paham dimana letak menariknya Takabonerate. Yang saya tahu hanyalah lokasinya berada di ujung selatan Sulawesi Selatan dan berbatasan dengan Laut Flores. Sudah, itu saja. Tapi entah kenapa, saya merasa harus mengunjungi destinasi ini. Seolah-olah ada suara-suara yang memanggil tiba-tiba. Entahlah, mungkin juga memang sudah takdir. Dan entah mengapa, meskipun sudah tiga tahun berlalu keinginan untuk pergi kesana tak pernah padam sedikitpun.

Semakin kesini saya semakin penasaran dan semakin menggali lebih banyak lagi informasi. Semakin kesini, pikiran saya semakin sulit lepas dari ingatan Takabonerate. Bagaimana tidak? Karena ternyata Takabonerate merupakan atol terbesar di Indonesia dan yang ketiga di dunia. Atol adalah pulau karang yang di bagian tengah atau cekungannya terisi oleh air laut.

Terumbu Karang yang Memukau

Takabonerate sendiri sebenarnya merupakan nama sebuah kecamatan di Kabupaten Selayar. Kawasan ini terdiri dari gugusan 21 pulau, baik yang dihuni maupun yang tidak. Biasanya, pulau-pulau di kawasan Takabonerate dinamai secara berpasangan. Seperti misalnya Pulau Tinabo Kecil – Tinabo Besar, Rajuni Kecil – Rajuni Besar,  Latondu Besar – Latondu Kecil, dst. Satu-satuya pulau yang tak punya pasangan hanyalah Pulau Tinanja, makanya ia mendapat julukan sebagai Pulau Jomblo. (Nah, yang saat ini masih jomblo juga, silakan merapat kesini. Siapa tahu jodoh dengan si pulau kan? #eh #talktomyhand) 😀 😀 

Takabonerate memiliki luas 530.765 hektar. Selain memiliki terumbu karang yang memikat, Taman Laut Nasional ini juga memiliki berbagai jenis ikan yang berwarna-warni. Ada lumba-lumba, napoleon, ikan pari, trevallies, dan masih banyak ragam lainnya. Karena memiliki biodiversitas biota dan terumbu karang yang sangat tinggi, makanya Takabonerate didapuk menjadi salah satu Taman Nasional`di Indonesia.

Nemo di Takabonerate

Hopping Island

Gugusan pulau-pulau yang ada di Takabonerate membentuk lingkaran yang dikeliling terumbu karang yang sangat indah mulai dari hard coral sampai ke soft coral. Konon ada sekira ratusan jenis terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh, sehingga keindahannya tak perlu diragukan lagi. Selain itu juga terdapat sekira 526 spesies ikan yang berwarna-warni yang menghuni bawah lautnya. Tak pelak lagi, Takabonerate menjadi tujuan wisata alam dan bahari yang menarik. Dan aktivitas yang dapat dilakukan di kawasan inipun tak jauh-jauh dari main air. Dari mulai snorkeling, diving, mancing atau canoeing.

Pulau Tinabo

Sampai di pulau ini hari sudah malam. Hanya terdengar deru ombak yang menyapa tepian pantai. Setelah hampir 16 jam menempuh perjalanan darat dan laut, istirahat memang pilihan yang paling pas. Entah berapa jam saya tertidur. Yang pasti pagi-pagi sekali saya dibangunkan baby shark berlarian kesana kemari di bibir pantai. Keberadaan baby shark ini memang menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi Pulau Tinabo.

Baby Shark bermain-main di Tinabo

Pulau Tinabo merupakan sebuah pulau kecil yang dikelilingi pasir putih sangat lembut dan air laut yang bening berwarna hijau tosqa. Pulau ini menjadi pusat kawasan Taman Nasional Takabonerate. Pengunjung yang datang ke Takabonarate, biasanya menginap di pulau ini. Karena di sini terdapat satu buah cottage dan restoran. Meskipun kalau boleh saya sarankan, cobalah mendirikan tenda dan tidur di depan pantai. Tidur diiringi deburan ombak dan dinaungi bintang-bintang di langit, itu punya sensasi tersendiri. Dan satu lagi, bagi pemburu sunrise dan sunset, pulau ini adalah surga. Kita bisa menyaksikan keduanya di satu lokasi ini.

Pulau Latondu

Pulau Latondu merupakan pulau atau daratan terbesar di kawasan Takabonerate. Pulau ini dihuni oleh sekitar 500-an kepala keluarga. Mungkin lebih. Suku aseli yang menghuni pulau ini adalah Suku Bajo dan Suku Bugis. Meskipun sama-sama memiliki rumah adat yang berbentuk rumah panggung, namun rumah suku Bajo dapat dikenali melalui atap dan dindingnya yang terbuat dari rumbai atau daun kelapa.

Rumah Suku Bajo di Latondu

Sama seperti pulau-pulau lainnya di Takabonerate, Pulau Latondu juga dikelilingi air laut yang bening sebening kristal. Di sepanjang tepian pantainya, berderet kapal-kapal kayu atau kapal tradisional. Tak heran, karena pulau ini merupakan pusat kampung nelayan. Kalau di Tinabo banyak tumbuh pohon cemara laut, maka di Latondu banyak ditumbuhi pohon kelapa. Makanya, jika mampir ke pulau ini, jangan lewatkan menikmati suguhan air kelapa yang segar. Sangat pas kita teguk saat dahaga menyerang karena terik yang luar biasa.

Pulau Bunging Tinabo

Pulau ini merupakan daratan yang bisa timbul, bisa pula tenggelam. Tergantung pada pergerakan pasang-surut air laut. Sama seperti pulau-pulau lainnya di Takabonerate, Bunging Tinabo juga dikelilingi pasir putih dan air laut yang jernih dan berwarna hijau tosqa. Bentuknya seperti bulan sabit.

Satu-satunya Aktivitas yang bisa dilakukan di Bunging Tinabo. Selfie

Bunging Tinabo terletak di antara pulau Rajuni dan Pulau Tinabo Kecil. Di kawasan ini, tidak ada tumbuh-tumbuhan atau vegetasi. Sehingga, terasa sangat panas dan terasa terbakar berada di pulau ini. Kulit saya langsung menghitam seketika, meskipun sudah saya olesi sunblock berkali-kali. Pantas saja jika banyak yang menyebut pulau ini sebagai Pulau Gosong/Gusung.

Pulau Tinanja

Kami sengaja tidak menjejakkan kaki di pulau ini. Namun dari jauh kita bisa melihat bahwa pulau Tinanja atau yang mendapat julukan Pulau Jomblo ini, merupakan pulau yang kosong tanpa penghuni. Ia juga dikelilingi air laut yang berwarna hijau tosqa dan pasir putih. Meskpun tanpa penghuni, pulau ini  ditumbuhi beberapa pohon dan tumbuhan kecil semacam rumput.

Pulau Tinabo Menjelang Petang

Lokasi Pulau Tinanja berada di sebelah timur Pulau Tinabo. Kira-kira 1-2 jam naik kapal kayu/nelayan. Kami menyempatkan snorkeling di depan pulau ini. Memakau banget. Dari atas kapal saja, bayang-bayang terumbu karang terlihat dengan jelas. Menurut tour guide, lokasi ini merupakan zona inti atau daerah perlindungan. Jadi, suatu keberuntungan yang luar biasa, jika kita bisa menikmati keindahan bawah lautnya yang memikat.

Bagaimana Untuk Sampai ke Takabonerate?

Memang perjalanan ke Takabonerate merupakan perjalanan panjang mengarungi samudera yang luas. Untuk sampai ke Pulau Tinabo, lama perjalanan (darat) sekira 16-18 jam dari Makassar, Ibukota Sulawesi Selatan. Sebagai bahan perbandingan, saya akan beberkan detilnya.

02.00 – 07.30 : Makassar – Pelabuhan Bira, Bulukumba (darat)

09.30 – 11.30 : Pelabuhan Bira – Pamatata, Selayar (laut)

11.30 – 14.00 : Pamatata – Kota Benteng – Pelabuhan Pattumbukang (darat)

14.00 – 19.00 : Pattumbukang – Pulau Tinabo, Takabonerate (laut)

TIPS

  • Waktu terbaik datang ke Takabonerate adalah Maret, April sampai pertengahan Mei. Atau pertengahan September sampai Desember. Di luar waktu itu sangat tidak disarankan karena ombak terlalu besar dan angin bertiup sangat kencang.
  • Usahakan sesedikit mungkin membawa sampah plastic.
  • Iritlah memakai air, karena air bersih yang tersedia sangat terbatas.
  • Bawalah charger lebih karena listrik menyala hanya dari jam 6 sore sampai 12 malam saja.
  • Siapkan diri karena hanya ada satu resto/warung makan dengan menu sederhana.
  • Hindari makan makanan pedas atau yang rasanya tajam, agar perut tidak bermasalah (ingat, persediaan air terbatas)
  • Siapkan permainan/games biar gak bosen selama perjalanan.
  • Jika pengin terima beres dan gak perlu ribet selama trip, pakailah jasa Bugis Makassar Trip di no. WA 087841486660 (kak Ayit). Dijamin gak mahal. Beneran.

 

 

oOo

2 Comments - Add Comment

Reply