Sukamade, Istana Penyu (Bukan) Destinasi Wisata Banyuwangi

Banyuwangi memang memiliki banyak destinasi wisata yang menarik. Kota yang mendapat julukan sebagai ‘The Sunrise of Java” ini berada di ujung timur Pulau Jawa dan berbatasan dengan Selat Bali dan Samudera Hindia. Tak heran jika wisata Banyuwangi menawarkan panorama pantai yang mempesona. Sebutlah macam Pantai Pulau Merah, Pantai Plengkung, Pantai Rajagwesi, Pantai Boom dan masih banyak yang lainnya. Di kawasan sekitar Banyuwangi juga terdapat tiga Taman Nasional, yang antara lain: TN Baluran, TN Alas Purwo dan TN Meru Betiri. Di kawasan Taman Nasional Meru Betiri inilah Desa Sukamade berada di dalam kawasannya.

pulau-merah-banyuwangi

Pulau Merah Banyuwangi

Penyu dan Sukamade Seolah Tak Terpisahkan
Penyu merupakan salah satu keajaiban di muka bumi ini. Ia bisa juga disebut sebagai mahluk purba. Karena menurut para ilmuan, penyu sudah ada sejak ratusan juta tahun silam atau seusia dengan dinosaurus. Sudah pasti, penyu ini akan musnah suatu saat. Musnahnya penyu ini dapat dipercepat oleh berbagai hal, seperti misalnya: konsumsi dan perdagangan illegal, perubahan iklim, bertumbuhnya wisata pantai, pertumbuhann industri dan lain sebagainya. Yang bisa kita lakukan hanyalah, memperlambat proses punahnya penyu-penyu tadi muka bumi.
Keberadaan penyu ini dapat ditemukan di hampir semua samudera di dunia. Indonesia termasuk yang beruntung, karena 6 dari 7 jenis penyu yang ada di dunia, terdapat di negeri tercinta ini. Dan 4 dari 6 jenis penyu yang ada di Indonesia dapat kita jumpai di Sukamade. Yaitu: Penyu Hijau, Penyu Lekang, Penyu Sisik dan Penyu Belimbing.

Pantai Sukamade Banyuwangi

Pantai Sukamade Banyuwangi

Menyebut nama Desa Sukamade, asosiasi kebanyakan orang langsung tertuju pada penyu. Cukup dimaklumi, karena sudah sejak ribuan tahun silam Sukamade menjadi tempat bertelur penyu-penyu yang datang dari Samudera Hindia dan Pacific. Entah bagaimana awal mulanya. Tapi kemungkinan besar dikarenakan lokasi Sukamade yang terpencil dan kondisi jalan yang tak mudah dijangkau oleh beragam jenis transportasi yang tersedia. Sehingga dengan demikian, penyu-penyu dapat bertelur dengan lebih aman, minim gangguan manusia dan habitatnya pun terjaga.




Berawal dari Surabaya
“Ikut Fun Trip Meru Betri, yuk!” Ajak Adrie, mas-mas arsitek itu, melalui WA.
Saya sempat menolak mentah-mentah, karena di e-flyer promo acara tersebut aktivitas utamanya adalah pelepas-liaran penyu. Tak ada menyebutkan acara menyelam di dalam air. Wah, padahal saat itu saya lagi kangen-kangennya nyelem. Males kalik, dolan ke pantai tapi gak pakai nyelem, kan?
Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, di sekitaran Banyuwangi ada tiga Taman Nasional yang masuk dalam daftar wajib saya, yaitu: TN Baluran, TN Alas Purwo dan TN Meru Betiri. Lha sekarang ada kesempatan ke Meru Betiri kenapa gak dijabanin? Apalagi perjalanan ke sana tidak mudah, jalanan yang berliku dan perlu ijin ini-itu. Akhirnya saya kembali mengontak Adrie dan menyatakan ingin ikutan Trip Meru Betiri.

Jum’at, 2 Desember 2016, jam 12.00 WIB saya sampai di Stasiun Pasar Turi. Setelah sempat menicipi Ayam Garuda di sekitaran Jalan Tidar Surabaya, akhirnya jam 18.00 sampailah kami di Masjid Al-Akbar, lokasi meeting point. Di pintu utama masjid itu, sudah terparkir sebuah bus pariwisata yang akan membawa kami ke Banyuwangi.

Hutan Tropis Taman Nasional Meru Betiri Banyuwangi

Hutan Tropis Taman Nasional Meru Betiri Banyuwangi

My Truck My Adventure
Melewatkan drama kemacetan menuju lokasi meeting point (Masjid Al-Akbar) dan seorang peserta yang terlambat datang, singkat cerita bus yang membawa kami berangkat juga sekitar jam 9 malam (molor 2 jam dari waktu yang ditentukan). Dan setelah menempuh perjalanan Surabaya-Banyuwangi-Jajag-Pesanggaran-Sungai Lembu-Kandangan sekitar 10 jam, sampai juga kami di Pasar Sarongan sekitar jam 7 pagi. Dari titik ini, kami akan melanjutkan perjalanan dengan berganti kendaraan dari bus ke truk. Memang, karena akses menuju Sukamade terhitung tidak mudah, maka hanya kendaraan model offroad sajalah yang bisa lewat, seperti misalnya: motor trail, jeep atau truk yang kami kendarai.
Dari Pasar Sarongan ke Desa Sukamade, rute yang akan kami lalui masih harus melewati 2 titik lagi, yakni: Pantai Rajegwesi dan Sumbersuko. Kira-kira butuh waktu sekitar 2-3 jam. Lebar jalan hanya muat untuk satu truk saja. Kalau berpapasan dengan motor, truk harus berhenti lebih dulu. Dan kami tidak melewati jalanan beraspal, melainkan bebatuan yang lumayan tajam. Jalan yang kami lalui berliku, menanjak dan terjal. Kadang, saking menanjaknya, truk yang kami tumpangi terpaksa mundur beberapa langkah. Kami yang ada di atas trus sempat bertanya ke pak sopir, perlu turun sambil dorong kah? Alhamdulillah, dijawab tidak. Sesekali truk harus menerjang jalanan yang berlumpur dan juga sungai kecil.

Welcome to Sukamade National Park

Welcome to Sukamade National Park

Di truk, sudah pasti tak ada tempat duduk. Kami semua harus berdiri dan dan harus berpegangan kuat-kuat kalau tak ingin jatuh. Hal ini mengingat, sepanjang perjalanan truk hampir tak pernah berjalan dengan santai dan damai. Selalu goyang asoy. Seringkali juga kami harus menundukkan kepala dan mengayunkan badan ke bawah, kalau tak ingin bertabrakan dengan ranting-ranting yang menjuntai manja di atas kepala persis. Kalaupun memaksa duduk, siap-siap saja pantat beradu dengan body truk. Sakiiittt!

Meskipun perjalanan menuju Sukamade penuh perjuangan dan doa, namun di sepanjang jalan tadi saya menikmati pemandangan yang eksotis. Perkebunan kakao dan kopi. Hutan yang sepi, lengkap dengan pohon-pohon besar yang berpadu dengan perdu dan dibalut dengan lilitan tumbuhan yang merambat Saat mendongakkan kepala, saya meilihat segerombolan monyet abu-abu berekor panjang yang bergelayutan di pohon-pohon raksasa. Sesekali saya menjumpai air terjun kecil, yang gemericik airnya semakin melengkapi simponi nyanyian hutan tropis.

Sekitar 10 kilo sebelum Sukamade, sampailah kami di sebuah perkampungan. Saya lupa nama desa itu, tapi inilah desa terakhir. Tak ada lagi desa di depan sana. Truk yang kami tumpangi berhenti. Di depan kami terhampar aliran sungai yang cukup deras. Tak ada cara lain, kami harus menyeberangi sungai itu dengan gethek.

Menyeberangi Sungai Sukamade Banyuwangi

Menyeberangi Sungai Sukamade Banyuwangi

Memang, di atas sungai itu pernah dibangun jembatan penyebrangan. Tapi konon belum sempat digunakan, jembatan tersebut hancur terkena banjir besar yang melanda desa itu. Akhirnya sekarang ini, bangunan jembatan itu tinggal separo saja. Sudah berkali-kali dilaporkan ke pihak terkait, belum juga ada penanganan. Entahlah, saya termasuk jahat atau tidak, karena justru berharap jembatan itu tak usah dibangun lagi. Biarkan demikian adanya. Agar akses ke Sukamade semakin sulit. Semakin sulit akses ke sana, semakin aman penyu-penyu itu datang dan bertelur.

Malam Mingguan dengan Penyu-penyu
Cuma 5 menit saja kami menyeberangi sungai dengan gethek. Lalu perjalanan kami dilanjutkan dengan menaiki truk lain yang sudah menunggu di seberang sungai. Perjalanan dari titik inipun, tak kalah serunya dengan hutan yang kami lewati tadi. Sekitar 15 menit kemudian, sampailah kami di Resort Sukamade. Istana Penyu. Tempat penyu-penyu kembali setelah melanglang-buana ke lautan lepas, untuk bertelur.

Penyu Bertelur di Pantai Sukamade

Penyu Bertelur di Pantai Sukamade

Malam itu, sekitar jam 8 malam saya dan rombongan berjalan kaki dari resort tempat kami menginap ke arah Pantai Sukamade untuk melihat Penyu mendarat dan bertelur. Jaraknya sekitar 700 meter dan melewati hutan. Kami mendapatkan wejangan dulu sebelum berangkat. Sampai di based pont, kami meminimalkan pembicaraan (berbicara hanya berbisik) dan tidak menyalakan lampu batere. Maklum, si emak penyu emang sensitif dengan suara dan lampu. Saat itu kami duduk-duduk di tepi pantai dalam diam. Hanya ombak yang berani memecah kebisuan kami. Untunglah, malam itu cuaca cerah. Sehingga menunggu kehadiran emak penyu jadi tidak membosankan. Kami bisa memandangi langit yang dipenuhi bintang-bintang.

Selang beberapa saat, kami mendapatkan informasi dari para ranger bahwa ada beberapa penyu yang mulai mendarat untuk bertelur. Hanya saja, perjanjiannya, satu hari kami hanya boleh melihat satu penyu saja. Tak mengapa. Ini demi kebahagiaan dan kelangsungan hidup penyu. Akhirnya, emak penyupun sudah dalam kondisi siap bertelur. Kami mengelilingi dia di belakang. Dilarang berdiri di depan penyu dan mengeluarkan lampu atau cahaya. Biasanya satu penyu betina bertelur rata-rata 100 buah per sekali bertelur. Di Sukamade rekor tertinggi pernah sampai 212. Namun, malam itu emak penyu yang kami kelilingi bertelur sebanyak 141 telur. Setelah puas melakukan pengamatan penyu yang mendarat dan bertelur, kami segera kembali ke penginapan. Instirahat. Besok pagi kami akan melepas-liarkan tukik-tukik ke laut.

Tukik-tukik yang siap di lepas-liarkan di Pantai Sukamade

Tukik-tukik yang siap di lepas-liarkan di Pantai Sukamade

Jam 6 pagi, setelah saya dan rombongan selesai menyimak panduan ranger, maka kamipun segera kembali berangkat ke based point Pantai Sukamade. Kami membawa dua ember yang berisi tukik-tukik yang siap dilepas-liarkan ke laut lepas. Sesampai di pantai, masing-masing anak memegang satu tukik. Kami dilarang memegang bagian depan atau perutnya, karena di situ bagian yang paling sensitif. Saat melepas tukik, kami juga harus berada di garis belakang mereka. Berada di depan, akan mengganggu memory print mereka saat harus kembali ke tanah kelahirannya. Benar, setiap penyu yang akan bertelur, mereka akan kembali ke tanah tempat mereka dilahirkan. Tukik yang akan kembali adalah ia yang tolah-toleh dulu (bukan langsung) saat berjalan menuju laut lepas. Tapi tukik yang saya pegang waktu itu, jalannya cepet banget. Buru-buru. Gak pakai tolah-toleh. Ah, ia pasti tak akan kembali. Sama seperti mantan. Eh, lho kok? Hahaha.

Salah satu tukik yang tengah fokus menuju Pantai Sukamade

Salah satu tukik yang tengah fokus menuju Pantai Sukamade

Pelepas-liaran tukik-tukik di tepi Pantai Sukamade merupakan aktivitas terakhir di desa itu. Kami segera beberes dan bersiap kembali ke Surabaya. Dan pastinya, kembali melewati jalan yang penuh perjuangan dan doa.

Tips dan Panduan Pengamatan Penyu

  1. Minimalkan kegaduhan dan pembicaraan dan bergeraklah sengan perlahan.
  2. Jangan mendekati penyu yang baru saja mendarat, karena saat itu ia sedang ada dalam tingkat kewaspadaan yang tinggi.
  3. Jika merasa tidak aman, ia tidak jadi mendarat dan segera kembali ke laut.
  4. Matikan penggunaan batere, sebaiknya menggunakan lampu merah.
  5. Jangan pernah mengambil foto dengan lampu blitz, karena ini akan membuatnya buta sesaat dan mengganggu penyu dalam menemukan jalan kembali ke laut.
  6. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari tukik, penyu dan Sukamade. Seperti misalnya, sejak dari kecil, tukik fokus pada tujuannya. Ke laut. Tunggu ya, di artikel selanjutnya? 😉

2 Comments - Add Comment

Reply