Serunya Pesta Budaya Erau di Kutai Kartanegara!

 

Kutai Kartanegara berlokasi di Propinsi Kalimantan Timur dan merupakan daerah kabupaten yang menempati wilayah di sepanjang tepi Sungai Mahakam. Ibu kotanya, Tenggarong, pernah menempati urutan pertama sebagai kabupaten terkaya di Indonesia.

Dalam buku-buku sejarah banyak menyebutkan bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Nusantara, karena berdiri sekitar abad ke 4 dengan raja pertamanya Maharaja Kudungga yang berasal dari Campa (Kamboja). Kerajaan yang terletak di Muara Kaman itu, kemudian lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kutai Martadipura (Martapura) yang mengalami masa kejayaannya di era kekuasaan raja Mulawarman.

Di kawasan lain Sungai Mahakam, tepatnya di Tepian Batu atau Kutai Lama, berdiri sebuah kerajaan lain bernama Kutai Kartanegara. Kerajaan ini berdiri sekitar abad ke 13 dengan raja pertamanya Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Dua kerajaan yang berada dalam kawasan yang berdekatan seperti itu, tentunya memunculkan friksi-friksi diantara keduanya. Akhirnya pada abad ke 16 meletuslah peperangan besar yang menyebabkan raja ke 25 Kutai Martadipura, Maharaja Dharma Setia, tewas di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. 

Untuk selanjutnya, sekitar abad 17, kerajaan Kutai Kartanegara berubah menjadi kerajaan Islam dan berganti sebutan dengan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.

Apa yang saya sampaikan ini, masih banyak menjadi perdebatan di kalangan sejarahwan. Dan tentunya, masih butuh penelitian dan perlu digali lebih dalam lagi untuk menghasilkan fakta yang lebih akurat.

  Kutai Kartanegara Sekilas Pandang

Di Tenggarong, ibu kota kabupaten Kutai Kartanegara, ada sebuah event budaya berskala internasional. Event itu bernama Festival ERAU yang diikuti oleh berbagai negara, dari mulai Malaysia, Pilipina, Singapura, Australia, dan masih banyak lainnya. Event ini terselenggara setiap setahun sekali, biasanya diadakan saat menjelang bulan puasa. Sayang sekali, tak ada jadwal atau tanggal pasti tentang kapan diselenggarakannya festival ini. Setiap tahun bisa berubah-ubah. Bisa saja festival diselenggarakan di bulan Agustus, atau September, ataupun Juni seperti yang diselenggarakan pada tahun 2014.

Erau merupakan ritual adat tahunan masyarakat Kutai yang dipusatkan di kota Tenggarong. Erau berasal dari kata eroh, yang bisa diartikan untuk tujuan melestarikan seni dan budaya adat masyarakat Kutai Kartanegara serta mengenalkannya ke luar negeri. Festival Erau menampilkan berbagai seni, tari-tarian, upacara adat, serta berbagai perlombaan tradisional.

Saya sudah lama tertarik untuk datang ke acara Erau ini, tapi setelah sekian lama belum juga datang kesempatan itu. Sampai akhirnya, saat saya harus mengantar ibu mendatangi acara keluarga di Samarinda, saya memaksakan diri untuk datang. Saya hanya diantar oleh keluarga sampai menyeberang ke Tenggarong saja, selepasnya, saya menyusuri kota itu sendirian. Sendirian siapa takut?

tenggarong,mahakam ulu

Dari Samarinda menuju Tenggarong, saya melewati jalanan aspal yang berkelok-kelok dan naik turun disertai pemadangan pohon-pohon dan pebukitan yang hijau. Mendekati Tenggarong, jalanan belum begitu ramai, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Perjalanan darat ini akan berhenti sejenak di jembatan penyeberangan Mahakam Ulu. Di sekitar lokasi penyeberangan ini, tampak deretan mobil-mobil yang mengantri untuk menyeberangi sungai Mahakam yang merupakan sungai terbesar di Kalimantan Timur.

Setelah menyeberang sungai Mahakam selama sekitar 10 menit, sampailah saya di kota Tenggarong. Tepat di depan lokasi penyeberangan, terlihat bangunan semacam tugu atau monumen berbentuk tangan yang menyangga patung Lembuswana dengan kokoh. Lembuswana adalah sejenis hewan berkepala singa, memakai mahkota, berbelalai gajah, bersayap garuda dan bersisik ikan. Dan ia telah menjadi lambang Kerajaan Kutai hingga Kesultanan Kutai Kartanegara.

tenggarong.lambang

 

  Erau Adat Kutai International Folk Art Festival (EIFAF) 2014

Sampai di Tenggarong, saya melihat di hampir setiap sudut jalan terpasang umbul-umbul warna-warni serta spanduk-spanduk yang menginformasikan berbagai kegiatan yang diselenggarakan selama Festival EIFAF 2014 berlangsung.

tenggarong.menonton

Hari masih pagi ketika saya menyusuri tepian sungai Mahakam. Di area skate park, beberapa orang terlihat bergerombol untuk mengikuti lomba olah raga tradisional begasing atau permainan yang dilakukan dengan menggunakan alat bernama gasing. Lomba begasing ini terbuka untuk masyarakat umum. Dan tidak hanya begasing yang dilombakan, namun juga ada lomba perahu katingting, egrang, bahempas bantal, kelom sandal, dan permainan tradisional lainnya.

tenggarong.kapal naga

Saya meninggalkan area lomba olah raga tradisional ketika hari telah beranjak siang. Tidak jauh dari area itu, tepatnya di depan gedung DPRD akan segera diselenggaralkan acara pembukaan lomba Kapal Naga yang diikuti oleh team dalam negeri dan luar negeri. Sampai di lokasi, sudah banyak kendaraan yang terparkir rapi di pinggir jalan. Para penjual kaki limapun juga ambil posisi menggelar dagangannya. Sementara masyarakat umum, baik tua, muda, anak-anak, mulai memadati area lomba sembari mengembangkan payung mereka agar terhindar dari terpaan sinar matahari.

Meskipun tidak mendukung team yang saat itu tengah berlomba, saya cukup bersemangat dan menikmati jalannya lomba Kapal Naga. Bahkan sampai hampir lupa, kalau sesaat lagi upacara adat Dayak Benuaq akan segera digelar di area skate park tepian Mahakam.

ritual dayak benuaq

Upacara adat ini diawali dengan ritual ‘makan nyahu’ atau upacara memanggil roh. Upacara ini mensyaratkan sesajian yang terdiri dari berbagai jenis bahan dan makanan, seperti beras yang berwarna-warni, dedaunan, sarung, telur dan ayam ingkung. Setelah tetua adat membacakan doa, upacara dilanjutkan dengan tarian Melewai dan Belian, tarian dari suku Dayak Benuaq.

tarian dayak benuaq

Di akhir tarian, para penari mengajak para penonton untuk ikut menari. Tak boleh menolak jika kebetulan para penari itu memberikan selendangnya ke kita. Tak hanya Dayak Benuaq yang mempertunjukkan upacara adatnya, masih ada upacara adat Dayak lainnya, seperti misalnya upacara adat Dayak Kenyah. Tentunya dengan prosesi upacara yang berbeda. Sedangkan Dayak Modang, menampilkan tarian tradisional mereka yang bernama tari Hudoq.

tari hudoq

Berbagai jenis seni dan tarian tradisional juga turut meramaikan Festival EIFAF 2014. Tak hanya dari Kalimantan saja, tapi berbagai negara (Filipina, Latvia, Belgia, Belanda, Mesir, dll) juga turut menyumbangkan tarian tradisional mereka.

tarian dari pilipina

Sayang sekali, pertunjukan seni tari tradisional ini diselenggarakan di jam yang hampir bersamaan, tapi di tempat yang berbeda-beda dengan jarak yang lumayan berjauhan. Pertunjukkan seni dan tari tradisional diselenggarakan di 4 lokasi, yaitu di panggung Skatepark tepian Sungai Mahakam, di jalanan depan kantor bupati (street performance), panggung Stadion Rondong Demang dan di panggung Taman Ulin. Sehingga, kalau tak ingin kehilangan satupun momen tarian tersebut, kita perlu berlarian kesana-kemari, seperti yang saya lakukan waktu itu.

tarian dari latvia

Dari ke 4 lokasi itu, hanya area seni Stadion Rondong Demang yang diberi pagar. Mereka yang hanya memiliki undangan saja yang diperbolehkan masuk. Tapi saya nekad tetap memasuki area itu, walau akhirnya dihalang-halangi oleh pak polisi yang menjaga pintu masuk. Motivasinya, tak ingin terlewat satupun acara seni yang berlangsung selama Festival Erau.

“Acara ini hanya untuk undangan.” “Tapi saya penulis dari media, pak.” “Boleh saya lihat ID pers-nya?” “Wah, saya kan penulis dari media blog saya sendiri, pak. Mana ada ID pers?”

Lalu pak polisi itu melototi saya sambil memelintir kumisnya. Iya, deh, pak, Iyaaa… saya nyerah. Begitu saja pakai melotot. Huuu… payah! Mentang-mentang cuma penulis blog. Blog media juga kan, pak? Begini ini nih, penderitaan sebagai seorang penulis yang belum punya media resmi.

tarian dari mesir

Akhirnya, setelah mencoba memutari pagar dan ternyata tak menemukan satupun pintu masuk, saya mencoba berkeliling sebentar di pasar malam. pasar itu penuh sesak, sehingga untuk berjalanpun susah. Akhirnya, malam itu saya habiskan dengan melihat pameran yang saat itu sedang berlangsung. Setelah hampir semau stand saya datangi, akhirnya saya kembali ke hotel. Hari sudah larut malam pula. Saya harus segera beristirahat dan bersiap-siap karena besoknya paginya, adalah hari terakhir atau puncak dari Festival Erau Kutai Kartanegara

keraton kesultanan

Prosesi puncak Festival EIFAF 2014 ditandai dengan serangkaian prosesi, yaitu Mengulur Naga dan di lanjutkan dengan prosesi Belimbur.

  IMG_8224

Kedua prosesi upacara ini, sama-sama dimulai dari halaman Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara atau Museum Mulawarman, meskipun berakhir di lokasi yang berbeda. Mengulur Naga akan berakhir di Kutai Lama, Anggana, setelah replika naga menyusuri sepanjang sungai Mahakam. Ada dua ekor naga yang keluar dari sisi sebelah kiri dan sebelah kanan bangunan keraton kesultanan.

mengulur naga

Sedangkan prosesi Belimbur, berakhir di jalan raya sampai ke pelosok-pelosok kampung. Di mana dalam prosesi acara ini, masyarakat bisa dengan bebas saling melempar atau mengguyur air. Di depan keraton kesultanan terparkir dua buah mobil pemadam kebakaran. Saya bertanya ke salah satu petugas untuk apa kendaraan itu terparkir disana. Memangnya pernah ada huru-hara atau bagaimana? Dan dijawab, ‘Jam 9 nanti, begitu acara Belimbur dimulai, maka 2 mobil blanwir yang tangkinya sudah penuh air ini, akan disemprotkan ke masyarakat yang hadir atau lewat di lokasi tersebut.’

Waduh! Bahaya! Sayapun buru-buru kabur dari situ dan segera kembali ke hotel. Bahaya, kalau sampai kamera andalan ini kena guyuran air.

belimbur di depan keraton

Siapapun yang terkena guyuran air di acara Belimbur, tidak boleh emosi atau marah-marah. Mereka harus menerima guyuran air dengan biasa-biasa saja. Syukur-syukur tersenyum. Lihatlah dua orang pemuda-pemudi di foto ini, Dia tetap tenang membersihkankan helmnya yang basah, sementara baju mereka telah basah kuyup disiram air.

IMG_8241

Masyarakat sangat antusias menyambut acara Belimbur ini, karena terlihat beberapa kelompok anak-anak yang membawa ember-ember besar, dan di depan rumah penduduk, masing-masing sudah siap dengan pipa air yang siap diguyurkan siapa saja yang lewat di depan rumah mereka.

belimbur di jalan umum

Lalu, apakah tanpa Festival Erau apakah kota Tenggarong masih tetap menarik untuk dikunjungi? Tentu saja. Masih banyak tempat menarik di kota ini. Saya akan lanjutkan ceritanya besok ya? Sudah jam 3 dini hari di Semarang sekarang. Janji deh, besok saya akan lanjutkan menulis lagi. Kalau sampai ingkar, boleh lah saya dihukum dengan dibayarin jalan-jalan kemana gitu… #eh

TIPS

  • Tenggarong bisa dicapai melalui Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Balikpapan. Dari Balikpapan menuju ke Tenggarong membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam dengan mengendarai mobil.

  • Banyak tersedia hotel atau penginapan murah, tapi saya memilih Hotel Fatma yang lokasinya dekat tepian sungai Mahakam. Sehingga hanya perlu berjalan kaki selama festival Eray berlangsung.

  • Di sepanjang tepian Sungai Mahakam, juga mudah sekali menemukan tempat makan atau café-café.

  • Karena pembangunan kembali jembatan Tenggarong akan selesai nanti pada tahun 2015-2016, maka satu-satunya akses untuk menyeberang hanya di lokasi penyeberangan Mahakam Ulu.

3 comments

  1. Haiii Mbak, Salam kenal,
    Salam Jalan – Jalan.
    Wah… seandainya kita sudah terhubung yah sebelum ke Erau, mungkin kita bisa ketemu disana.
    Kebetulan pas acara itu ikutan juga eh… waktu masih kerja d Kaltim waktu itu.
    ditunggu kunjungan baliknya mbak 😀

    1. salam kenal balik ratih.. iya, seandainya udah knal wkt itu aku gak celingak-celinguk sndirian ya? masih di kaltim skrg?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.