Saking Cintanya, Rakerpun di Candi Gedong Songo

“What barrier is there that love cannot break?” (Mahatma Gandhi)

Bicara soal CINTA, memang ada beberapa definisi. Tapi saya memilih untuk menggunakan term CINTA dari Dr. David R. Hawkins, bahwa “Love is unconditional, unchanging, and permanent. It doesn’t fluctuate. Its source isn’t dependent on external factors. Loving is a state of being.” Jadi, CINTA yang dimaksud di sini adalah cinta yang tidak bersyarat, tidak berubah, tulus dan permanen. Cinta di sini tidak berfluktuasi karena sumber cinta berasal dari dalam diri orang yang mencintai, dengan demikian tidak bergantung pada faktor eksternal.

Dan ada banyak hal yang dilakukan orang-orang untuk membuktikan cintanya pada seseorang atau sesuatu. Pahlawan-pahlawan kita membuktikan cinta mereka pada bumi pertiwi dengan mempertaruhkan jiwa raga demi membela negara. Bung Hatta membuktikan cintanya pada pengetahuan dengan cara membuka sekolah gratis bagi anak-anak Banda Naira yang kurang mampu. Muhammad Yunus membuktikan cintanya kepada kaum miskin di Bangladesh dengan mendirikan Grameen Bank.

Lalu, kalau kamu, Tin? Dengan cara bagaimana kamu mencintai pariwisata Indonesia pada umumnya dan Jawa Tengah khususnya?

 
Saya belumlah seperti orang-orang hebat yang sudah saya contohkan tadi. Saya seorang penyiar dan traveler yang suka menulis. Tujuan terbesar saya saat ini adalah bisa menyambangi bumi pertiwi dari Sabang sampai Merauke lalu menuliskannya baik melalui blog, surat kabar maupun majalah. Saya tak akan menulis destinasi wisata luar negeri, sebelum destinasi Indonesia selesai. Memang, baru sebagian tempat saja yang sudah saya datangi, jadi Pe-eR-nya masih banyak.




Lalu, sebagai penyiar, saya menggagas sebuah program sisipan dimana setiap Jum’at sore saya akan menghubungi orang-orang penting dari Dinas Pariwisata seperti misalnya: Pak Puji (Panitia Festival Jamu dan Kuliner Magelang), Pak Joko (Ketua ASITA Jawa Tengah), Pak Trenggono (Kabid Pemasaran Dinbudpar Jawa Tengah), Pak Taufan (Dinbudpar Pemkot Semarang), dll. Saya dan partner siaran saya, Nadia Ardiwinata, mewawancarai mereka untuk menggali informasi terkait event-event yang sedang dan akan berlangsung di Jawa Tengah. Tujuannya, agar pendengar lebih terinformasi secara detil dan kemudian tertarik mengunjungi tempat-tempat wisata di Jawa Tengah.

Jum’at, 12 Juni 2015 lalu, Pak Trenggono dari Dinbudpar Jateng menceritakan tentang aktivitas 13 pendongeng dari seluruh Indonesia yang berkumpul di sekitaran Candi Gedong Songo. Aih, kayaknya seru sekali acara itu. Sayang, saya tak ada di sana untuk lebih detil mengamati dan merasakan serunya peristiwa itu. Sesekali, kalau ada acara wisata semacam itu, undang juga kami para awak media ini donk, pak… #ehh

 

Selesai berbincang dengan Pak trenggono, ingatan saya langsung menuju ke Candi Gedong Songo yang berlokasi di kawasan Bandungan itu. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya sudah berkali-kali saya mengunjungi destinasi wisata itu. Misalnya: dulu waktu masih kuliah bareng kawan-kawan, saat bareng keluarga, dan bahkan ketika kawan-kawan dari luar kota minta diantar kesana, saya akan dengan senang hati mengantarkan. Memang, kadang saya tak sampai ke lokasi paling atas, seperti saat saya mengantar Indri Juwono dari Travel Blogger Indonesia dan Sansan dari Goodreads Indonesia Yogyakarta. Saya hanya menunggu di lokasi parkiran. Tapi lain waktu, saya akan mengantar sampai ke lokasi paling atas. Seperti saat saya menemani kawan-kawan Gank Gokil dari Komunitas Jalan-jalan. Saat itu, saya penasaran karena mereka menantang saya naik Candi Gedong Songo dengan mengendarai kuda, yang selama ini belum pernah saya lakukan.

 

Dari sekian kali berkunjung ke Candi Gedong Songo, pengalaman paling fenomenal yang saya alami adalah pada saat kantor kami menggelar Raker di seputaran Candi Gedong Songo. Tepatnya di Van Prastha Gedong Songo Park. Kami menginap selama 3 hari 3 malam. Bayangkan, saya tidur dikelilingi hutan pinus di kawasan pegunungan yang tinggi. Wow, sensasinya itu lho, luar biasa!

Namanya juga raker, sudah pasti agenda kami tak jauh dari induksi, presentasi, diskusi, dll. Kalau ada yang bertanya-tanya induksi seperti apa yang dilakukan dalam raker di kawasan wisata cagar budaya itu? Macam-macam materinya. Seperti misalnya: mengenali siapa target market, materi seperti apa yang akan kita siarkan, apa filosofi perusahaan, visi-misi perusahaan, dll. Yang intinya, agar tidak terjadi ‘gap’ antara tujuan perusahaan dengan yang dikerjakan oleh karyawan.

 

Meski acaranya cukup padat, dimulai dari jam 8 pagi hingga jam 12 malam, tapi saya hampir tak melihat tanda-tanda kelelahan dari kawan-kawan satu team. Sebaliknya, saya justru melihat antusias dan semangat yang menggebu dari kawan-kawan untuk berbagi ide. Saya sempat terheran-heran, karena ada beberapa kawan yang biasanya kalau di meeting agak pasif, namun saat berada di lokasi Candi Gedong Songo mereka cukup lancar menggulirkan ide-ide kreatif. Ada apa dengan Candi Gedong Songo, sehingga bisa membuat mereka berubah seperti itu?

 

Usut-punya usut, ternyata di komplek Candi Gedong Songo yang terletak di lereng Gunung Ungaran dengan ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut ini, memiliki bio energi alam yang terbaik di kawasan Asia. Bahkan, konon, lebih baik dari bio energi yang ada di pegunungan Tibet. Paling tidak, pernyataan itu keluar dari seorang ahli pernafasan, Dr. Jannet, yang berasal dari Australia. Dengan menghirup bio energi, maka pikiran kita menjadi segar sehingga bisa melahirkan ide-ide segar. Jadi, rupanya itulah rahasianya kenapa kawan-kawan tetap antusias menggulirkan ide-ide cemerlang selama raker.

Selama raker, kami mendiami rumah-rumah heritage yang terbuat dari kayu jati yang usianya ratusan tahun. Rumah-rumah itu terlihat sangat kokoh. Tak perlu ada AC, karena di kawasan kami menginap suhunya rata-rata 19 derajad celcius. Alhasil, meski tanpa AC-pun, kami perlu selimut tebal agar bisa tidur dengan pulas. Jika tidak, udara yang sangat dingin yang akan menyelimuti tubuh dan merasuk ke pori-pori kulit. Brrrr…!!!

 

Selama 3 hari 3 malam menginap, saya jadi semakin mengenali lekuk-lekuk keindahan dan sisi-sisi lain menarik lain dari Candi Gedong Songo. Sisi lain itu misalnya, saya tak akan mandi kalau sudah lewat jam 3 sore, karena begitu jam 3 sore datang kawasan itu mulai menebarkan hawa dingin yang luar biasa. Belum lagi, kalau sudah jam 3 sore ke atas, kabut mulai datang menutupi kawasan itu. Jika malam mulai menjelang, terdengar nyanyian pohon pinus yang banyak tumbuh di kawasan itu. Sesekali terdengar suara hewan-hewan bersahut-sahutan. Jika pagi hari, terdengar gemericik air dari got atau saluran air yang mengalir. Dan saking dinginnya, setiap kali kita membuka mulut untuk berbicara, seperti ada asap yang keluar dari mulut.

 

Saat pagi menjelang, sebelum kegiatan utama raker dimulai, saya mengajak Nadia untuk menyempatkan diri menikmati pesona taman yang dikelola oleh pihak perhutani. Taman itu cukup luas dan cukup dikelola dengan baik. Tak lupa, saya berjalan kaki ke kawasan candi sembari melihat puncak gunung-gunung yang mengitari kawasan Gedung Candi Songo. Ada gunung Merbabu, Sindoro, Merapi dan Sumbing. Sungguh luar biasa, indah sekali pemandangan yang saya saksikan saat itu.

 

Dalam Bahasa Jawa, Gedong berarti bangunan. Dan Songo berarti Sembilan. Jadi, Candi Gedong Songo bisa kita artikan sebagai bangunan berjumlah 9 unit candi. Memang tidak semua candi yang ada di kawasan Candi Gedong Songo masih utuh dan kokoh. Lima candi masih utuh bangunannya, namun sisanya lagi sudah tinggal pondasi dan puing-puing bangunan saja.

Bangunan candi-candi tadi, lokasinya berpencar meskipun posisinya berderet dari bawah hingga ke atas perbukitan. Candi pertama menempati lokasi paling bawah, lalu disusul candi kedua, ketiga dan seterusnya. Jarak antara satu candi ke candi lainnya bervariasi, namun yang pasti jalannya selalu menanjak.

 

Mengingat jalur yang menanjak, tak heran kita butuh tenaga yang prima untuk menjelajahi kawasan candi ini. Jika tidak, kita akan mudah lelah dan nafas ngos-ngosan. Tapi jangan kuatir, karena di kawasan ini juga tersedia beberapa gazebo untuk beristirahat. Meskipun begitu, kalau ada teman yang minta antar berkunjung ke lokasi wisata ini, saya memilih menunggu di parkiran saja atau di warung-warung makanan yang berjejer di depan pintu masuk kawasan Candi Gedong Songo. Daripada ngos-ngosan, kan mending ngemil? Hihihi…

 

Berdasarkan catatan para arkeolog, Candi Gedong Songo ditemukan pertama kali oleh Loten pada tahun 1740 dan mulai dikenal setelah Raffles menemukannya pada tahun 1804. Dengan mempertimbangkan bentuk arsitekturnya, para sejarahwan menebak kalau candi-candi di kawasan ini merupakan bangunan peninggalan Hindu dan Kerajaan Mataram Kuno dengan rajanya Putera Sanjaya. Sejauh ini, belum ada kepastian siapa sesungguhnya pendiri candi-candi ini.

Tapi, jika kita merujuk pada kisah-kisah mitos yang beredar di kalangan warga setempat, Candi Gedong Songo ini dibangun oleh para jin peri khayangan yang diutus oleh seorang raja kala itu sebagai wujud kecintaannya pada Dewa. Sementara sebagian masyarakat lainnya meyakini, kalau candi-candi itu didirikan oleh Ratu Sima sebagai persembahan kepada Dewa. Konon, jika sedang ada masalah yang berat, Sang Ratu akan bersemedi demi mendapatkan jalan keluar. Dan candi yang sering digunakan bersemedi adalah candi yang terletak di deretan paling atas.

 

Kisah-kisah itu belumlah seberapa. Masih ada mitos lainnya yang beredar di kalangan masyarakat. Konon, jika ada yang berhasil melihat 9 candi di Candi Gedong Songo, usianya tak kan lama lagi. Wih,seram ya?

Tapi yah, namanya juga mitos. Boleh percaya, boleh tidak. Selain masih perlu penelitian arkelogis lebih dalam lagi, tampaknya misteri dan mitos masih akan terus menyelimuti kawasan wisata Gedong Candi Songo.

Saya pribadi tak keberatan dengan adanya mitos-mitos yang beredar itu. Biarlah hal itu tetap menjadi misteri yang abadi. Kadang, sebuah mitos bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke sebuah destinasi. Semakin misterius dan jawabannya semakin kabur, justru membuat sebuah destinasi semakin diminati.

 

Lihat saja Jembatan Gembok Cinta di Paris, Perancis. Jembatan itu menjadi destinasi wisata favorit para pasangan dari segala penjuru dunia. Atau Terowongan yang disebut Tunnel of Love di Ukraina. Banyak pasangan yang meyakini permohonan mereka akan terkabul jika diucapkan di dalam terowongan itu. Terbukti kan, kalau mitos suatu lokasi wisata menjadi daya tarik tersendiri?

Hanya saja, kadang-kadang, saat saya mencermati betul bangunan candi dan menyentuh batu-batu yang menjadi bahan bangunan candi, saya membayangkan betapa hebatnya nenek moyang kita jaman dahulu. Dari mana batu-batu itu diambil? Bagaimana cara mengangkut batu-batu sampai ke tempat setinggi itu? Lalu, bagaimana cara menyusun batu-batu itu satu demi satu? Lagi-lagi, misteri. Namun satu hal yang pasti, ukiran yang disematkan pada batu-batu itu, bagi saya, sudah merupakan bukti betapa tingginya seni dan budaya yang dimiliki oleh nenek moyang kita pada jaman dahulu.

 

Saat berkunjung ke Candi Gedong Songo, jangan lewatkan juga untuk menikmati sumber air panas dengan kandungan belerang yang tinggi yang lokasinya berada di antara Candi III dan Candi IV. Bau belerangnya cukup menyengat, ketika saya mampir ke lokasi ini dan kepulan asapnya cukup pekat. Selain mandi, wisatawan juga tampak berfoto-foto di lokasi ini. Ada seorang kawan yang pernah bilang, kalau kawasan di pemandian belerang ini merupakan spot terbaik untuk fotografi.

Tidak hanya pemandian air hangat, tempat wisata cagar budaya Candi Gedong Songo ini juga menawarkan area outbound. Saya sempat melihat jaring-jaring yang diikatkan pada pohon pinus juga jembatan kayu yang dikaitkan pada 2 pohon. Sewaktu saya mengajak Nadia untuk mencobai fasilitas itu, dia menolak dan mengingatkan bahwa raker akan dimulai sesaat lagi. Ya sudah, kami segera beranjak dari kawasan itu menuju ke penginapan untuk mandi.

 

Selesai mandi kami segera menuju ruang raker, tentunya setelah sarapan terlebih dahulu. Kamipun kembali disibukkan dengan induksi, presentasi dan diskusi. Sesuai agenda raker. Kedekatan kami selama 3 hari 3 malam di Candi Gedong Songo, pada akhirnya memunculkan sebuah pemahaman dan kesepakatan atas motto kami bersama dalam “Memandu dan Membantu.”

 

Mantap kan benefit dan sensasinya? Jadi, kalau ada perusahaan yang ingin memperoleh ide-ide segar dan kreatif dari para karyawannya dan sekaligus menikmati pesona wisata Jawa Tengah, saya merekomendasikan Candi Gedong Songo.

 

oOo

 

Reply