Pulau Komodo: Tentang Catwalk dan Makna Pertemanan #2

KOMODO 01

 

 

Tidur di atas kapal yang diterpa angin dan ombak, membuat semalam saya sulit tidur nyenyak. Alhasil saya terbangun jam 4 pagi dengan badan yang kurang segar dan pergelangan kaki kanan yang cenut-cenut plus agak bengkak. Setelah meraih minyak tawon, saya mencoba mengurut sendiri kaki yang bermasalah itu. Entah karena bau minyak yang saya pakai, entah karena memang tidak bisa tidur, atau entah karena lapar, satu-dua teman mulai ikutan bangun. Lalu disusul yang lainnya.

 

Tapi kemungkinan besar penyebabnya karena lapar, karena mereka mulai membongkar bekal snack dari tas masing-masing. Pak kapten kapal yang kemungkinan tidak tidur, segera menawarkan kopi, yang langsung disambut kawan-kawan dengan antusias.

 




 

KOMODO 02

 

 

Minus kaki yang bengkak, sebenarnya situasi pagi itu sungguh sempurna. Secangkir kopi Flores, cemilan, pemandangan bukit-bukit yang seksi, lautan lengkap dengan beberapa kapal yang berlabuh, langit dengan semburat kemerahan, angin yang sibuk bertiup menyibakkan rambut kami dan matahari yang menyembul malu-malu dari balik bukit. Warbiyasaaaahhh! πŸ˜€

 

KOMODO 03

 

 

Saat kapten dan awak kapal sibuk menyiapkan sarapan, kami membantu membereskan dan membersihkan kapal yang berantakan dan agak kotor. Tak ada satupun yang berniat mandi saat itu. Selain airnya asin, juga karena malas. πŸ˜€

Kami menikmati sarapan nasi goreng dengan lauk telur dan ayam goreng. Pak kapten membawa kapal melaju menuju Loh Liang di Pulau Komodo.

 

 

LONG TREK DI LOH LIANG, PULAU KOMODO

 

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam sampailah kami di dermaga Pulau Komodo. Jam di pergelangan tangan saya menunjukkan jam 7 pagi. Begitu sampai, kami masing-masing sibuk mengambil gambar yang menjadi interest masing-masing. Saya memilih duduk-duduk di pinggir jalan sambil mengelus-elus pergelangan kaki. Tapi begitu ada yang menawarkan foto, saya langsung berdiri dan pose dengan manis, semanis-manisnya. πŸ˜€ πŸ˜€

KOMODO 04

 

 

Dari dermaga, saya menyaksikan keindahan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Lautan yang biru, pasirnya yang putih, pohon-pohon yang mongering kuning keemasan, lekukan bukit yang seksi dan semua itu dipayungi langit yang biru serta awan putih yang membentuk pola-pola unik.

KOMODO 05

 

 

Banyak sekali rusa yang saya temui di Pulau Komodo ini. Ada yang sedang mencari air di pinggir pantai, ada yang berjemur di balik pohon dan beberapa lainnya bergerombol di balik semak-semak di dalam hutan. Biarpun kelihatannya tengah menikmati suasana tampak sekali kalau mereka tetap waspada, jangan sampai menjadi santapan lezat komodo-komodo yang di pulau ini sengaja dibiarkan hidup liar dan mencari makan sendiri.

 

KOMODO 06

 

 

Setelah melewati gapura pintu masuk Pulau Komodo, di pinggir jalan sebelah kiri terdapat semacam los-los pasar tradisional tempat warga setempat menjual beragam kerajinan. Dari mulai patung komodo, kalung-kalung kerang, sampai ke beragam kain tenun. Sekilas saya perhatikan kain yang dijual di sini terbuat dari benang sintetis, bukan dari hasil pewarnaan alami. Meskipun, motifnya khas motif-motif kain tenun Nusa Tenggara Timur. Tak begitu tertarik, akhirnya saya merasa puas mengantongi sebuah souvenir patung komodo.

KOMODO 07

 

 

Sama seperti yang kami alami di Pulau Rinca, di Pulau Komodo ini, kami juga dipandu oleh dua orang ranger. Mereka juga memberikan briefing terlebih dahulu sebelum kami melintasi jalur komodo di pulau ini. Dan Seperti juga di Pulau Rinca di tempat ini terdapat pilihan trekking mulai dari short trek (1 km), medium trek (3 km) 1,5 jam, dan long trek (4,5 km) 2,5 jam.

Ketika ranger menanyakan tipe trekking yang akan kami pilih, lagi-lagi serempak kawan-kawan menjawab: long trekking. Saya hanya bisa meringis. β€œBolehkah saya memilih medium trek saja?” tanya saya pelan. Dika melirik saya sekilas, sementara Emin seolah memahami keadaan saya. Lalu mas-mas ranger itu memberikan jawaban yang melegakan, bahwa nanti ranger akan dibagi dua untuk menemani masing-masing rombongan yang menginginkan jalur trekking yang berbeda.

 

KOMODO 08

 

 

Perjalanan long trekking menyusuri jalur komodopun, segera dimulai. Saya sudah mengatur mindset bahwa yang akan saya lalui nanti bukan jalur yang berat, melainkan sebuah jalur catwalk yang ditonton ribuan orang sehingga saya perlu jalan cantik. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Tidak seperti di Pulau Rinca, di Pulau Komodo ini agak sulit berjumpa dengan hewan purba komodo. Menurut keterangan para ranger, alasannya karena komodo-komodo di sini dibiarkan agak liar mencari makan sendiri. Kami baru bisa bertemu satu komodo setelah mendekati tempat minum para komodo. Tempat itu terdiri dari batu-batu besar, dimana di tengah-tengahnya terdapat air.

 

KOMODO 09

 

 

Komodo itu tampak berjalan meninggalkan tempat sumber air. Mungkin dia baru saja menuntaskan rasa dahaganya di tempat itu. Jalannya tampak gagah dengan empat kakinya yang besar-besar. Ekornya panjang sampai menyentuh tanah. Dia melirik kami dengan ekor matanya yang tajam. Sereeeem!

Setelah komodo tadi menjauh, kami melanjutkan perjalanan. Melintasi jalur yang sebagian besar dipenuhi pepohonan dan ranting-ranting yang kering. Sering juga terdengar suara semak-semak yang terkibas. Juga deru nafas kami yang memburu karena memang sengaja tidak banyak mengeluarkan kata-kata.

 

KOMODO 10

 

 

Di sebuah persimpangan jalan yang akan memisahkan jalur medium trek dan long trek, kedua ranger meminta kami berhenti sebentar. Mereka menjelaskan, di sinilah saatnya untuk berpisah. Salah satu ranger akan mengikuti peserta yang memilih medium trek, dan satunya lagi mengikuti peserta yang memilih long trek. Sehingga, mereka menanyakan siapa saja yang akan memilih medium trek dan long trek?

Hanya saya seorang yang mengangkat tangan ketika ditanyakan soal pilihan medium trekking, semuanya memilih long trekking.

Dika mendekati saya dan bertanya, β€œLo yakin sendirian milih medium trek?”

β€œIya, gue yakin. Gue tahu batas maksimal kemampuan gue.”

β€œNtar lo nyesel lho.”

β€œNggak akan. Gue akan lebih nyesel, kalau gue ntar kenapa-kenapa dan malah menghambat perjalanan kalian lihat komodo.”

Emin datang mendekat, mendengar pembicaraan saya dan Dika.

β€œGue temenin lo deh, Tin, di medium trek.”

β€œHeh, gak usah lagi, Min. Lo jalan aja sama yang lain. Kan gue udah ditemeni ranger juga?” 

Tanpa banyak bicara Emin merangkul saya sambil mengajak berjalan bareng. Tapi dia tidak mengarahkan langkahnya menuju jalur medium trek, melainkan di jalur long trek. Huaaa… Jebakan batman! Huhuhu… πŸ˜€

 

KOMODO 11

 

 

Akhirnya saya terpaksa mengikuti jalur pilihan suara terbanyak long trekking, saudara-saudara! Meskipun begitu, Dika dan Emin agak melambatkan langkahnya agar tetap berada persis di belakang saya. Sayang juga kan, kalau mahluk semanis saya tetiba digondol komodo karena berjalan paling belakang? πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Dengan langkah tertatih, pada akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan jalur long trek. Saya berhasil mencapai lokasi Sulphurea Hill. Congrats me! πŸ™‚

KOMODO 12

 

 

Pemandangan dari puncak bukit Sulphurea itu sungguh menakjubkan dan membuat saya ternganga-nganga saking kagumnya. Saya hampir menangis menyaksikan keindahan Indonesia yang luar biasa saat itu. Perasaan saya campur aduk, antara senang bercampur sedih. Senang dengan kekayaan alamnya, sedih karena negeri yang cantik ini lebih sering dikelola oleh orang-orang yang rakus.

 

KOMODO 13

 

 

Puas menikmati keindahan dari atas puncak bukit, kami serombongan memutuskan untuk segera kembali. Dalam perjalanan pulang, kami sempat bertemu dengan seekor komodo dewasa muda yang sedang santai bobok-bobok siang. Dan sebelum benar-benar meninggalkan Pulau Komodo, saya menyempatkan diri untuk mengabadikan keindahan pantainya yang cantik.

 

KOMODO 14

 

 

Dari Pulau Komodo, kapten kapal membawa kami ke Pink Beach atau Pulau Merah. Kapal tidak ditambatkan di dermaga, melainkan di tengah laut. Atau tepatnya di mooring buoy yang disediakan di lepas pantai. Alasannya demi agar jangkar tidak merusak terumbu karang. Sehingga untuk mencapai pantai Pin itu, perlu berenang sekitar 20-30 menit.

Begitu menceburkan diri ke laut dan mencelupkan kepala ke air, saya langsung terpesona akan keindahan taman underwater-nya. Beberapa clownfish tampak sedang bersembunyi di dalam rumahnya, anemone.

Sayangnya, ketika saya ingin melanjutkan berenang mencapai pantai Pink, tiba-tiba kram menjalari kaki saya. Saya buru-buru naik ke atas kapal. Dan terpaksa, harus cukup puas menikmati keindahan Pink Beach dari kejauhan. Agak iri sebenarnya dengan beberapa orang yang kapalnya bisa sandar di dermaga, sehingga tak perlu keluar tenaga untuk berenang mencapai pantai itu. Konon, yang boleh sandar di dermaga, hanya tamu-tamu hotel yang menginap di pulau itu. Lho, jadinya, kapal yang sandar di tengah laut dan bukan di dermaga itu, alasannya demi menjaga keselamatan terumbu karang atau karena alasan uang sih?

 

KOMODO 15

 

 

Jam 3 sore, kami meninggalkan area Pink Beach untuk kembali ke Labuan Bajo. Hari sudah menjelang maghrib, kami segera melangkahkan kaki ke penginapan yang berada persis di depan pelabuhan. Setelah mandi dan bersih-bersih, kami bareng-bareng menikmati makan malam ikan bakar di dekat pantai. Sambil makan kami membahas rencana besok pagi. Tampaknya, Labuan Bajo akan menjadi spot terakhir kita bersama. πŸ™

 

Besok pagi, tujuan kami masing-masing sudah berbeda. Ada yang harus pulang ke Surabaya, Jakarta, ada yang berencana motoran ke Waerebo, dll. Emin dan Dika akan menuju Maumere yang akan dilanjutkan ke Merauke. Saya sempat diajak mereka, tapi saya punya tujuan sendiri. Saya akan overland Flores sendirian. Sendiri? Iya. Kenapa?

Begitulah pertemanan yang saya alami sepanjang perjalanan/traveling. Ada kebaikan, kepedulian dan kehangatan pada saat bersatu untuk tujuan yang sama. Tapi masing-masing tidak terikat harus memiliki tujuan yang sama. Masing-masing bebas menentukan destinasi pilihan. πŸ™‚

oOo

7 Comments - Add Comment

Reply