Pulau Komodo: Tentang Catwalk dan Makna Pertemanan #1

KOMODO 01

Sebenarnya saya sudah membayar uang muka untuk mengikuti paket tour Pulau Komodo. Akan tetapi sebelum hari H-nya, teman-teman dari BPI Jabotabek mengajak saya untuk bergabung dengan mereka menjelajahi pulau ajaib yang dihuni oleh hewan purba yang fenomenal itu.

Saya berpikir, selama ini saya melakukan banyak traveling dengan berbagai jenis teman. Dari mulai sahabat, teman sekantor, teman yang saya kenal akrab dari berbagai komunitas, dan teman yang baru saya kenal pada saat mengikuti suatu paket tour. Sehingga, apa salahnya saya mencoba bergabung dengan teman-teman dari BPI ini? Sebuah tantangan, saya kira.

Akhirnya, demi mendapatkan pengalaman yang berbeda, saya bergabung dengan mereka meskipun untuk itu saya harus rela kehilangan uang DP yang sudah saya bayarkan ke pihak agency tour.

Hari sudah sore ketika kami sampai pelabuhan Labuan Bajo. Beberapa kapal kecil sudah disandarkan. Beberapa orang tampak berjajar di pinggir pelabuhan untuk menunggu sunset. Jelas, wajah kami sudah kusut, badan pegal-pegal dan baju acak-acakan, mengingat kami berangkat dari Lombok dan hampir semalaman telah melintasi daerah Sumbawa, Bima dan sekitarnya dengan moda transportasi bus, mini bus dan kapal.

KOMODO 02

Sampai di tempat, kami duduk-duduk sebentar di sekitar pelabuhan sembari berbagi tugas. Sebagian akan mencari kapal, sebagian lagi mencari penginapan saya juga beberapa lainnya mencari menu makan malam, sementara yang lainnya stay di pelabuhan untuk menjaga barang bawaan.

Selang dua jam kemudian, kami berkumpul kembali. Sembari melahap menu saat itu, kami berdiskusi mengenai jenis kapal yang tersedia dan harga sewanya, serta penginapan mana yang akan kami pilih. Begitu ada kesepakatan, kami langsung menuju penginapan yang berada persis di depan pelabuhan Labuan Bajo.

Setelah menyempatkan diri menikmati keindahan sunset di pelabuhan, lalu membeli kue-kue kecil dan minuman di mini supermarket buat bekal, kamipun kembali ke penginapan untuk beristirahat. Besok pagi jam 8, kami akan bersiap menjelajahi Pulau Komodo. Rasanya gak sabar, ingin bertemu dengan saudara tua itu.

 

LONG TREK DI LOH BUAYA, PULAU RINCA 

 




 

Tepat jam 8 pagi kami bersepuluh ditambah 2 perempuan asal Perancis sudah siap di pelabuhan Labuan Bajo. Setelah memindahkan barang-barang bawaan ke dalam kapal, kapalpun segera memulai perjalanan melintasi samudera Flores menuju Loh Buaya di Pulau Rinca.

KOMODO 03

Di sepanjang perjalanan menuju ke Pulau Rinca, mata saya terpukau oleh gundukan bukit-bukit yang ada di sepanjang perairan laut yang kemi lewati. Lekukan-lekukan bukit atau pulau tanpa penghuni itu, berdiri anggun dan seksi di mata saya. Sedangkan permukaan lautan berwarna biru seolah merupakan refleksi pantulan warna dari langit dan awan di atas sana.

Kapal kayu yang kami sewa melaju dengan kecepatan sedang. Tak ada ombak sama sekali. Semuanya begitu tenang dan damai, hanya semilir angin yang membelai rambut kesana-kemari. Seolah kondisi pada saat itu memang sengaja diciptakan agar kami lebih leluasa melahap keindahan Sang Pencipta.

KOMODO 04

Setelah 2 jam menempuh perjalanan laut, akhirnya kami sampai juga di dermaga Loh Buaya. Kami disambut beberapa monyet yang bersliweran di dermaga. Seekor monyet bahkan rela menyebur ke dalam laut demi kulit pisang yang dilempar salah seorang awak buah kapal. Tega ih. 🙁

KOMODO 05a

Dari dermaga menuju pintu gerbang atau gapura selamat datang di Taman Komodo Nasional, kita perlu berjalan sekitar 10-15 menit. Sementara teman-teman yang lain asyik berfoto-foto di depan gapura, mata saya tertancap di sebuah papan besar yang berisi tentang sebuah pesan. Saya sempat terkekeh-kekeh membaca isi pesan itu. “Komodo bukanlah komedi, apalagi komedo.” Jika pesan itu dimaksudkan untuk memberi tahu (mengingatkan) ke semua pengunjung bahwa komodo adalah hewan yang berbahaya, tampaknya pesan itu agak kurang sampai isinya. Buktinya, saya malah cekikikan baca pesan di iklan itu.

KOMODO 05b

Sementara dari gapura selamat datang di Taman Komodo Nasional kami perlu berjalan sekitar 15-20 menit menuju loket pembelian tiket masuk Taman Komodo Nasional. Pembelian tiket hanya diurus oleh dua wakil kami, yaitu Emin dan Iqbal. Begitu urusan tiket selesai, kami menyempatkan diri berfoto bersama petugas tiket.

KOMODO 06

Sebelum perjalanan dimulai, salah seorang ranger memberikan briefing terlebih dahulu. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 10.30 waktu Pulau Rinca. Beuh, panasnya. Salah seorang ranger menanyakan jenis trekking yang kami pilih. Terdapat 3 pilihan trekking mulai dari short trek (1 km), medium trek (3 km) 1,5 jam, dan long trek (4,5 km) 2,5 jam. Hampir sebagian besar menyerukan, “long trek!” What??? 4,5km??? Tengah hari begini?! God, help! Pekik saya dalam hati. Saya mencoba mempengaruhi teman-teman untuk memilih medium trekking saja, tapi saya mendapat jawaban bulat: tidak. Telak. Huhuhu… Sniff-sniff. 🙁

KOMODO 07

Akhirnya, long trekking Pulau RInca segera dimulai. Kami berhenti agak lama di sebuah rumah panggung yang menjadi pos para ranger. Tampak para ranger duduk-duduk santai di situ, meskipun di bawah rumah itu para komodo asyik berkumpul. Mungkin sambil ngerumpiin menu siang para ranger. Komodo memang sangat sensitif indera penciumannya. Sementara rumah para ranger sedang melakukan aktivitas memasak daging yang menebarkan aroma yang mengundang. Tak heran para komodo itu betah berkumpul di situ.

KOMODO 08

Perjalanan menyusuri jalur komodo di Pulau Rincapun berlanjut. Hari sudah semakin siang, dan matahari semakin bersinar dengan  terik. Musim kemarau tengah berlangsung. Tak heran di sepanjang perjalanan yang saya lewati, didominasi pohon-pohon dengan ranting yang kering. Padang sabana yang terhempas luas di hadapan saya, meskipun gersang namun tampak eksotis dengan warna kuning keemasan.

KOMODO 09

Di tengah perjalanan, saya sempat tergelincir. Karena rute yang kami lewati naik-turun bukit dengan perpaduan tanah pasir dan batu-batu kerikil. Sakit sekali rasanya. Saya sudah hampir menyerah di rute medium trek. Tapi Emin menguatkan saya dan mengatakan, “Jangan lihat semua ini sebagai padang gersang dengan rute yang berat. Anggap saja kamu sedang fashion show. Anggap rute ini sebagai catwalk. Dan kamu sedang memamerkan koleksi baju yang paling indah di dunia.”

Abrakadabra! Akhirnya saya mencoba merubah mindset saya seketika. Saya menganggap bahwa saat itu saya sedang berjalan di atas panggung dengan jutaan pasang mata yang menonton saya berjalan. Dan tetiba, saya merasakan ada semangat baru yang tiba-tiba mengaliri tubuh saya. Meskipun sambil menahan kaki yang sakit, saya akhirnya berhasil menyelesaikan rute long trekking ini dengan baik.

KOMODO 10

Sekitar jam 1 siang kami tiba di atas puncak Pulau Rinca. Dari titik itu, saya bisa melihat lanskap yang sangat mempesona. Lekukan dari gugusan pulau yang seksi, birunya air laut, langit biru dan awan-awan yang putih, seolah suatu lukisan yang terbingkai sempurna. Padahal, ini bukan lukisan. Tapi nyata. Keindahan alam Indonesia yang nyata. Terik matahari yang menyengat kulit, lelah dan sakit yang saya alami, rasa haus yang menyerang, tak sebanding dengan keindahan yang bisa saya saksikan saat itu.

KOMODO 11

Pulang dari Pulau Rinca, kami melanjutkan ke beberapa spot underwater. Di antaranya: Manta Point dan Pulau Kanawa. Kami sempat bertemu serombongan manta pari yang lewat cepat di depan kapal. Sampai untuk mengambil fotonyapun tak sempat. Dan mengingat kondisi kaki yang terkilir tadi, sayang banget, saya agak kurang maksimal menikmati keindahan bawah lautnya. Tapi ya sudahlah, mungkin ini sebagai penanda bahwa suatu saat saya akan kesini lagi menyelami keindahan bawah lautnya dengan sepuas mungkin.

KOMODO 12

Dan hari itu, kami akhiri dengan menginap di atas kapal yang stay di permukaan laut sekitar daerah Gili Lawa. Sebelum benar-benar tertidur, saya sempat mendengar Dika yang mengingatkan saya untuk minum vitamin dan pain killer. Baiklah boss. Dia memang hobi mengingatkan yang lainnya untuk minum obat mencegah sakit. Bukan, bukan karena dia perhatian atau apa, tapi dia menghindari ada salah seorang dari kami yang sakit. Kalau ada satu yang sakit, tentunya akan menghambat yang lainnya meneruskan perjalanan. Saya segera mengoprek tas dan meminum obat.

Sesungguhnya, mencoba tidur dengan kapal yang diombang-ambingkan ombak dengan keras dan angin yang maha kencang itu, rasanya seperti tidur sembari ditampar-tampar dan ditendang-tendang, trus dibanting-banting. 🙁 😀 🙁

oOo

4 Comments - Add Comment

Reply