Oleh-oleh dari Rumah Nenek Moyang kita, Museum Sangiran

Masuk ke kawasan Museum Sangiran, kita akan menjumpai sebuah gapura yang megah yang dimodifikasi ala sepasang gading yang bertautan. Saat memasuki gapura ini, kita diwajibkan membayar tiket sebesar Rp 5,000,-

Saat pertama saya menyatakan keinginan untuk mengunjungi Museum Sangiran ini, salah seorang teman yang pernah ke sana, sempat berujar bahwa tempat ini meskipun sekarang bangunannya sudah bagus namun sepi.

gapura museum purbakala sangiran
Gapura museum purbakala Sangiran

Entahlah, saya kurang mengeksplor pernyataannya tadi, apakah sepi yang dimaksud di sini adalah sepi pengunjung. Tapi kalaupun benar itu yang dimaksud, memasuki kawasan Museum Sangiran ini, ternyata pengunjung cukup ramai. Bahkan menurut salah seorang satpam, semenjak sebelum lebaran, pengunjung museum ini cukup ramai. Ikut senang saya mendengarnya, karena berarti banyak pihak yang ternyata memiliki minat tinggi untuk mengetahui sejarah manusia purba atau pra sejarah di Sangiran.

Baca juga: Trowulan: Berawal dari Candi Wringin Lawang

Museum Manusia Purbakala Sangiran ini, dibangun di atas lapisan tanah berusia 1,8 juta tahun, hasil aktivitas erupsi Gunung Lawu Purba. Gedungnya cukup megah, terbagi menjadi beberapa ruangan. Hanya terdapat 2 ruangan display untuk umum yang memajang beraneka penemuan benda bersejarah, miniatur, serta berbagai informasi dalam bentuk gambar maupun komputer.

astin soekanto di museum sangiran sragen

Memasuki ruang display yang pertama, kita akan mendapatkan informasi lengkap tentang bagaimana bumi ini tercipta sejak 4,5 milyar tahun lalu. Dan mulai era vendian, cambrian, ordovician, silurian, devonian, permian, sampai ke quaternary. Di situ juga terdapat penjelasan dari masing-masing era/periode.

Misalnya, disebutkan kalau Permian itu terjadi jaman es, iklim kering dan terbentuk gurun-gurun yang luas. Hewan amphibia berevolusi menuju bentuk peralihan reptilia mamalia besar. Banyak jenis hewan laut trilobit punah. Sementara, di era Jurassic, berbagai jenis dinosaurus besar bermunculan baik di darat maupun di laut. Kerang kumparan atau ammonit juga banyak di laut. Burung paling awal muncul dari reptil pemanjat pohon.

Baca juga: Pesona Cemara Udang di Pantai Lombang

Di ruang display pertama juga menceritakan tentang bagaimana kehidupan kehidupan Homo Erectus. Dari mana mereka ini berasal?

Teori Migrasi Out menyatakan, kalau Homo Erectus melakukan migrasi dari daerah asalnya Afrika (sejak 1,8 juta tahun lalu), ke Pulau jawa melalui jembatan darat (paparan Sunda) yang terbentuk karena adanya jaman es. Pada jaman es, Laut Jawa dan Laut China Selatan yang berkedalaman 100 meter akan menjadi daratan. Mereka hidup selama lebih kurang dari 1  juta tahun dan punah sekitar 150 tahun lalu.

display homo erectus di museum sangiran

Sementara Replacement Theory menyatakan bahwa manusia modern berasal dari Homo Erectus yang berevolusi menjadi Homo Sapiens di Afrika. Dari sini mereka lalu tersebar luas ke berbagai dunia dan menggantikan Homo Erectus yang terlebih dahulu bermigrasi dan hidup di berbagai tempat di dunia. Homo Erectus di luar Afrika semuanya sudah punah. Secara genetika, telah dibuktikan bahwa seluruh manusia di dunia ini berasal dari satu ibu yang dulunya tinggal di Afrika.

gading gajah purbakala di museum sangiran
Gading gajah purbakala di museum sangiran

Di ruang display pertama ini, kita juga akan mendapatkan informasi berbagai jenis hewan purba, seperti gajah, kuda nil, dll. Rata-rata, hewan pada masa purba besarnya 2 sampai 4 kali hewan yang sekarang. Itu sebabnya, gading yang dimiliki gajah purba lebih besar 4 kali lipat dibanding gajah yang sekarang ini. Ini berbeda dengan manusia. Besar dan tinggi manusia purba tidak berbeda jauh dengan manusia modern sekarang ini. Tingginya sekitar 1,5 sampai 1,8 meter.

ring of fire di museum sangiran

Lalu, memasuki ruang display yang kedua, kita akan menemukan lebih banyak dan lebih lengkap lagi informasi yang berkaitan dengan material yang tersedia di ruang display pertama tadi. Di ruang ini kita akan mendapat penjelasan tentang kenapa di Kepulaian Indonesia ini banyak sekali gunung berapi. Tidak lain, karena wilayah negara kita ini masuk dalam lingkaran atau rangkaian ‘The Ring of Fire.’

Selain itu, juga dijelaskan tentang bagaimana terbentuknya Pulau Jawa. Pulau jawa terbentuk sekitar 10 juta tahun pada masa Kala Miosen, diawali dengan hadirnya rangkaian gunung api di laut selatan daratan asia. Mulai akhir Kala Pliosen hingga Kala Plestosen Bawah (sekitar 2 juta – 700 ribu tahun lalu) proses pengangkatan daratan semakin intensif, khususnya mengangkat bagian selatan pulau ini, seperti terbukti dari munculnya pegunugan kapur yang membentang barat-timur dari selatan Jawa Barat hingga ujung Jawa Timur.

Di utara rangkaian bukit kapur ini, terdapat selat dangkal dengan gunung2 api yang sangat aktif. Aktivitas gunung api yang meningkat menyebabkan material erupsinya mengisi laut2 dangkal untuk membentuk dataran baru. Di utara rangkaian gunung api, terdapat pula pegunungan kapur utara dan Perbukitan Kendeng, yang muncul sebagai akibat pelipatan. Perbukitan ini membentang dari sebelah barat Semarang hingga Surabaya dan Madura.

Baca juga: Sumenep, kepingan puzzle kerajaan Majapahit yang terlupakan

Karena proses itulah maka Pulau Jawa ditandai, terutama, oleh 4 bentang alam, yaitu pegunungan gamping di pantai selatan, rangkaian gunung api di tengah pulau, pegunungan kendeng di utara, dan depresi yang subur di sela2 rangkaian bukit kapur di utara dan selatan dengan deretan gunung api di tengah pulau ini.

liburan ke museum sangiran

Benda-benda penemuan bersejarah juga bisa kita temukan di ruang display yang kedua ini. Seperti misalnya, Textite, yang ditemukan di situs Sangiran ini. Textite ini, merupakan serpihan benda angkasa yang meledak dan jatuh ke bumi. Textile ini merupakan bukti bahwa telah terjadi ledakan-ledakan bintang, beberapa milyar tahun lalu di tata surya.

Rekaman kehidupan di masa lalu dari endapan sedimen tua di Bumi Sangiran, juga ditampilkan di ruangan ini, dari mulai: batu gamping foraminifera, breksi laharik, lempung hitam, lempung diatome, konglomeratan polimiks, breksi laharik, sampai ke batu pasir tufaan.

textite museum sangiran purbakala

Di ruang display yang kedua ini, juga dijelaskan lebih rinci mengenai Homo Erectus yang tinggal di Sangiran. Homo Erectus Sangiran, memiliki masa hidup lebih dari 1 juta tahun. Ada 2 tingkatan evolutif Homo Erectus, yaitu ARKAIK dan TIPIK.

Image

Homo Erectus Arkaik hidup antara 1,5 juta – 1 juta tahun lalu. tipe ini merupakan tipe yang paling kekar dengan volume otak sekitar 870 cc.

Sementara keturunannya: Homo Erectus tipik hidup antara 0,9 juta – 0,3 juta tahun lalu. Kontruksi tengkoraknya lebih ramping, meskipun dahi masih landai dan agak tonggos. Volume/kapasitas otaknya sekitar 1000 cc.

Homo Erectus yang paling muda, disebut Homo Erectus PROGRESIF, hidup antara 200 ribu hingga 100 ribu tahun lalu. volume otaknya sudah mencapai 1.100 cc, dengan atap tengkorak yang lebih tinggi dan lebih membundar (tipe ini ditemukan di luar Sangiran, yaitu: blora, sragen, selopuro-ngawi).

Pada 500 ribu tahun lalu, merupakan jaman keemasan Homo Eerectus di Sangiran. Mereka hidup di lingkungan hutan terbuka, diantara 2 gunung berapi dengan aliran sungai dan danau di sekitarnya, serta aneka ragam fauna yang sangat kaya raya. Mereka melakukan aktivitas sehari-hari seperti membuat alat batu, berburu dan meramu.

Homo Erectus mempunyai kecerdasan dalam memilih bahan untuk pembuatan alat batu. Mereka menggunakan beberapa jenis batu dengan kadar silika dan tingkat kekerasan tinggi, sehingga bila dipangkas akan menghasilkan bagian yang tipis dan tajam. Beberapa jenis batu atau bahan dasar alat yang digunakan sebagai alat, antara lain: kuarsit, kalsedon, kersikan, andesit, dll.

Image

Sementara alat-alat batu yang digunakan oleh Homo Erectus ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu: alat batu masif dan alat batu non masif. Alat batu masif, adalah alat batu dengan ukuran besar dan tebal. Sedangkan alat batu non masif, adalah alat batu dengan ukuran tipis dan kecil. Yang termasuk dalam jenis alat batu masif, antara lain: kapak perimbas, proto kapak genggam, bola batu, dll. Sementara yang termasuk dalam jenis alat batu non masif, antara lain: serpih, bilah, serut, dll.

Display di museum purbakala sangiran sragen

Itulah sedikit oleh-oleh yang saya bisa bawakan dari hasil berkunjung ke Museum Sangiran, Sragen. Kalau tertarik ingin menambah wawasan, sempatkan waktu untuk berkunjung ke sini. Tidak ada ruginya kok. Sedikit yang perlu saya tambahkan di sini, para staff yang berjaga di museum ini cukup ramah. Jadi, jangan sungkan, kalau memang belum mengetahui banyak tentang seluk beluk manusia pra sejarah, mintalah seorang pemandu. Karena terkadang, gambar, miniatur, tulisan, benda-benda, dll, belum bisa bercerita banyak. Rugi besar, kalau kita sudah berupaya ke sana, namun tidak banyak hal yang bisa kita ketahui. Sedangkan untuk soal kebersihan, museum ini bisa dikatakan cukup bersih dan rapi. Kamar mandinya juga bersih dan harum pula.

Nah, jadi kapan nih mau berkunjung ke sini?  😉

Writer. Lecturer. Travel Blogger. Broadcaster

Related Posts