Napak Tilas ke Rumah Pengasingan Bapak Proklamator Bangsa

Kemerdekaan yang diraih bangsa kita pada 17 Agustus 1945, tak lepas dari campur tangan dan pemikiran brilian dari kedua Bapak Proklamator Bangsa, Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Meskipun ada beberapa sifat yang berbeda, kedua bapak bangsa ini memiliki banyak kesamaan. Mereka berdua, sama-sama suka melahap buku, suka menulis, dan yang paling utama: sama-sama punya mimpi besar, Indonesia menjadi negara yang merdeka dan bermartabat. Tak kurang-kurang perjuangan mereka untuk mewujudkan mimpi besar itu. Dari mulai dipenjara sampai diasingkan di pulau yang terpencil.

Untuk lebih mengenali kedua tokoh penting bangsa ini dan demi lebih memahami bagaimana keseharian mereka selama menjalani hari-hari selama pengasingan, saya menyempatkan diri mengunjungi dua lokasi situs bersejarah. Yaitu, rumah pengasingan Bung Karno di Ende, Flores  dan rumah pengasingan Bung Hatta di Banda Neira, Maluku.

soekarno hatta

 

Ende, Inspirasi Keberagaman Soekarno

Setelah dipenjara selama berbulan-bulan di Suka Miskin, Jawa Barat, akhirnya pada tahun 1934, Belanda membuang Soekarno ke Pulau Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tujuannya, agar  tokoh itu pelan-pelan merasa terasing dan frustasi, lalu selanjutnya menjadi gila sehingga meninggalkan dunia politik.

soekarno01

 

Awalnya, tinggal di rumah pengasingan yang sepi dan jauh dari tetangga, Soekarno memang sempat frustasi. Dia yang terbiasa dengan gelora massa, harus menghadapi kenyataan bahwa tak seorangpun bersedia mendekat padanya. Sebagian karena takut diawasi oleh pemerintah Belanda, sebagian lagi memang tidak mengenalnya. Karena, di jaman itu, era komunikasi seperti TV, seluler dan internet belum ada. Bahkan radiopun baru dimiliki oleh beberapa orang kaya saja. 

soekarno02




 

Bukan Soekarno namanya, kalau gampang menyerah begitu saja pada keadaan. Untuk menolak datangnya frustasi, dia menghabiskan waktu dengan melukis, berkebun dan membuat naskah sandiwara tonil. Soekarno juga mulai mendekati rakyat jelata, dari mulai nelayan, petani, pedagang sampai ke tukang jahit. Atau, kadang-kadang para rakyat jelata itu diundang menghadiri pengajian di rumahnya. Mereka dirangkul dan diajak bermain sandiwara tonil.  Upaya ini dilakukan demi untuk membangun kesadaran mereka tentang perlunya memiliki sebuah negara yang merdeka. Soekarno menulis belasan naskah tonil, selain mendekor sendiri panggung pertunjukannya, melatih para pemainnya, menyutradarai sampai ke menjual tiket pertunjukkannya.

soekarno03

 

Ende tampaknya memberikan pengaruh yang sangat besar bagi pemikiran Soekarno dalam menyusun landasan sebuah negara merdeka. Pada dasarnya, Ende menempati lokasi di wilayah sekitar pesisir pantai. Tidak heran, jika warganya terdiri dari beragam agama, suku dan etnik. Pergumulannya dengan masyarakat yang beragam namun dapat hidup dengan rukun dan damai, mengantarkan Soekarno pada pemikiran tentang sebuah negara merdeka yang diinginkannya kelak. Pemikiran tentang sebuah negara yang bisa merangkul keberagaman itulah yang seringkali direnungkannya di bawah pohon sukun yang bercabang lima. Tak heran, jika ada yang menyebutnya, pohon sukun bercabang lima yang lokasinya tak seberapa jauh dari rumah pengasingannya itu, merupakan titik lahirnya ide dasar pemikiran sila-sila Pancasila.

soekarno04

 

Sekarang, rumah pengasingan Bung Karno yang berlokasi di Jalan Perwira, Ende, masih terawat dengan baik. Rumah yang meskipun atapnya tidak terlalu tinggi itu, menempati lahan yang cukup luas dan dikelilingi pagar tembok. Bagian depan merupakan rumah induk, sementara di halaman belakang terdapat beberapa kamar pembantu, mushola, kamar mandi, ruang dapur dan sumur. Di ruangan depan, masih tersimpan beberapa koleksi peninggalan Bung Karno, dari mulai koleksi foto-foto tua, lukisan, biola, keramik, dan lain-lain. 2 buah tongkat yang disimpan di box lemari kaca yang paling menarik perhatian saya. Tongkat itu bukan tongkat komando, melainkan pelengkap gaya atau asesoris untuk keperluan jalan-jalan. Tongkat yang biasa-biasa saja, dipakai untuk jalan-jalan keluar kota. Sedangkan tongkat yang kepalanya ada pahatan berbentuk sosok monyet atau kera, dipakai pada saat harus melapor atau bertemu dengan orang-orang Belanda. Saban ketemu dan berbincang dengan orang Belanda, ujung tongkat monyet itu selalu diarahkan ke pihak lawan.

Banda Neira, Tempat Hatta Mengawali Segalanya

Mengasingkan Mohammad Hatta ke Boven Digul, Papua, yang dikeliling hutan rimba dan ancaman nyamuk malaria yang masif dan ganas, menyebabkan pihak Belanda menuai berbagai kritik. Bung Hatta, yang biasanya sabar dan tenang itu, menjadi mudah marah dan pelupa. Bahkan, menunjukkan gejala-gejala awal stres. Untuk meredam kritik, akhirnya pada tahun 1936, mereka memindahkan Bung Hatta ke Banda Neira, Maluku. Memang masih merupakan pulau terpencil, namun lebih manusiawi dibanding Digul.

hatta01

 

Di Banda Neira, Bung Hatta menyewa sebuah rumah dengan harga yang sangat murah. Mengingat ada desas-desus kalau rumah itu berhantu, meskipun ternyata tidak. Dan sama seperti yang dialami Bung Karno di Ende, Bung Hatta juga dijauhi oleh warga setempat yang memasang jarak dan bersikap hati-hati terhadap tahanan politik yang diasingkan. Untuk menghilangkan kejenuhan, dia menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan ke hutan bersama anak-anak, menulis untuk surat kabar dan mengajar anak-anak Banda dalam hal menulis, membaca, aritmatika dan Bahasa Inggris. Sekolah sore, tanpa memungut bayaran, dan dibatasi oleh Belanda hanya boleh menerima 14 anak saja. Rata-rata murid yang diajar adalah murid-murid yang kurang mampu secara ekonomi. Semua mata pelajaran disampaikan dalam Bahasa Belanda. Bung Hatta suka marah-marah, kalau ada anak-anak Banda yang tidak menguasai pelajarannya. Apalagi jika mengetahu ada lipatan kertas di buku-bukunya. Di tempat yang terpencil ini, semangat untuk merdeka justru semakin menguat. Bung Hatta, bersama dengan Bung Sjahrir, Iwa Kusuma Sumantri dan dr. Cipto Mangunkusumo, semakin sering mengadakan pertemuan untuk membahas undang-undang dasar negara sebagai persiapan menuju kemerdekaan.

hatta04

 

Sekarang, rumah pengasingan Bung Hatta, yang berlokasi tidak jauh dari Benteng Belgica itu, masih terawat dengan baik. Bangunan rumah itu cukup besar, terdiri dari bangunan utama di depan dan bangunan tambahan di belakang. Di rumah bagian depan, memamerkan koleksi-koleksi pribadi, seperti misalnya foto-foto tua, baju, jas, kacamata khas Bung Hatta, mesin ketik tua, surat-surat dari ibunda, kursi, tempayan/gentong tempat menampung air hujan sebagai sumber air minum, dll. Sementara di bagian belakang rumah, terdapat bangku-bangku sekolah yang digunakan Bung Hatta untuk mengajar, ruang dapur, kamar mandi dan sumur.

hatta03

Kedua rumah pengasingan tokoh proklamator ini, baik Soekarno di Ende maupun Hatta di Banda Neira, telah membuktikan bahwa upaya pengasingan demi menghentikan perjuangan mereka meraih kemerdekaan, tidaklah berhasil. Meskipun menahan sakit dan menderita, mereka berdua tetap rajin membaca buku, menulis, mengajar dan belajar sesuatu dari tempat mereka diasingkan. Mudah-mudahan ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kedua tokoh proklamator ini dan tidak menyia-nyiakan perjuangan berdarah-darah yang telah mereka sumbangkan bagi bumi pertiwi.

hatta02

 

 

TIPS

  • Rumah pengasingan Bung Karno di Ende, bisa dicapai melalui Bandara Udara H. Hasan Aroeboesman, Ende. Bandara ini bisa dicapai dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Dari bandara, bisa menggunakan kendaraan sewa, ojek atau kendaraan umum.

  • Sebaiknya datang di hari Senin s/d Jum’at, mulai jam 9 pagi waktu setempat. Karena situs pengasingan Bung Karno tutup pada hari Sabtu dan Minggu

  • Rumah pengasingan Bung Hatta di Banda Neira, bisa dicapai melalui Bandara dara Pattimura, Ambon. Dari sana bisa dilanjutkan dengan pesawat Avia Star selama 1 jam perjalanan atau melalui kapal Pelni selama 8 jam perjalanan.

  • Bisa datang kapan saja, karena situs pengasingan Bung Hatta buka setiap hari, dari jam 9 pagi.

Reply