Merayakan Kemerdekaan RI di Candi Prambanan

Kalau 17 Agustus kemarin kebanyakan orang memperingati dengan upacara dan mengikuti lomba-lomba semacam: balap karung, tarik tambang, makan krupuk, dll, saya memilih untuk merayakannya di Candi Prambanan.

Kunjungan saya ke Candi Prambanan kali ini sudah untuk yang ke sekian kalinya. Sebelum-sebelumnya, saya sudah pernah datang ke sini. Biasanya, saya sampai di sini tengah hari atau sore hari, sehingga ketika kita mengabadikan momen-momen di kawasan ini dengan sempurna, selalu saja keramaian dan kerumunan orang yang menghalangi.

ImageImage

Berbeda dengan waktu sebelum-sebelumnya, kali ini saya datang ke Candi Prambanan pagi-pagi sekali, sekitar jam 6 pagi kurang. Pintu taman kawasan masih dibuka, lapangan parkir juga baru ada 1 mobil saja. Bahkan pintu loket tiket-pun juga belum dibuka. Hihihi…

Tapi tepat jam 6 pagi pas, pintu loket dibuka dan saya pun membeli tiket masuk ke kawasan candi seharga Rp 30.000,- Kalau dulu-dulu tiketnya masih berbentuk kertas, tapi sekarang mungkin karena sudah paperless, tiket yang sekarang ini berbentuk elektronik. Unik tiketnya, sayang gak bisa dibawa pulang untuk kenang-kenangan.




Begitu memasuki kawasan candi, spot pertama yang saya jadikan sebagai objek pose adalah air mancur, yang berada di depan baliho ucapan selamat datang.

ImageImage

Sesaat kemudian, saya berjalan menuju lokasi candi. Saya pandangi kawasan di sekitar situ. Ah, suasana masih tampak lengang. Meskipun sudah ada beberapa orang yang sudah berada di sana. Bahkan ada seorang pemuda yang tampaknya dia datang sendirian, karena sedari tadi saya lihat dia mengambil foto-fotonya sendirian melalui kamera yang sudah disetel sedemikian rupa.

ImageImageImage

Saya jadi teringat cerita mitos yang disampaikan teman, bahwa kalau kita datang ke Candi Prambanan bersama pasangan, maka dalam waktu yang tidak lama akan mengalami putus hubungan. Apakah pemuda tadi memang sengaja tidak membawa pasangannya karena takut putus? Atau, dia sengaja datang sendirian agar bisa menemukan pasangan yang putus dari pasangan lainnya? Hihihi.. Tapi toh, pada akhirnya saya mengajak berkenalan juga pemuda itu. Bukan, bukan maksud saya untuk saya jadikan pasangan, tapi untuk saya mintai tolong mengambil foto saya berduaan bersama teman saya. *maap ya mas’e.. 😀

Image

Image

Puas berpose sejenak di sekitar taman yang berada di depan candi, saya segera melangkahkan kaki menuju candi. Di pintu masuk, sempat diminta oleh petugas agar saya mengenakan kain. Sayapun menuruti permintaannya. Sementara 2 pria pengunjung yang datangnya hampir besamaan dengan saya, sempat menolak memakai kain tersebut. Tapi saya bilang ke kedua orang itu, bahwa kain ini dipinjamkan secara gratis. Akhirnya, kedua orang itupun bersedia memakainya. Sampai di depan lokasi candi, saya merasa ada sesuatu yang berbeda. Tanpa keramaian atau kerumunan orang yang biasanya saya temui, Candi Prambanan tampak begitu megahnya di mata saya.

Saya berkeliling mengamati candi-candi yang ada di situ, baik itu candi apit, candi angsa, candi brahma, candi nandi, candi garuda, candi wisnu, candi kelir, dll. Saya juga sempat melempar pandangan ke sekeliling candi. Ada beberapa wisatawan asing yang melakukan aktivitas sama seperti saya mengamati candi, ada juga 2 pria paruh baya yang sedang asyik ngobrol, ada sepasang muda-mudi yang duduk-duduk (ati-ati lho mas, mbak, ntar bisa putus), ada juga petugas yang sedang menyapu dan ada juga yang sedang asyik meditasi (eh, itu saya denk! hehehe…)

ImageImageImage

Cukup puas saya menelusuri candi-candi yang ada di kawasan Candi Prambanan. Tapi, kunjungan kali ini semakin lengkap karena saya juga menyaksikan pertunjukan Sendratari Ramayana yang digelar malam hari di panggung terbuka di kawasan Candi Prambanan. Sebelumnya, saya telah memesan tiket pertunjukan melalui agen (internet). Dari agen tadi, saya dikirimi e-voucher melalui email. Saya hanya tidak mau mengalami resiko kehabisan tiket kalau membeli di lokasi. Anda bisa mendapatkan tiket pertunjukan sendratari panggung terbuka dari mulai Rp 100.000 (kelas II) hingga Rp 350.000 (kelas VIP). Dan e-voucher tadi, perlu ditukar terlebih dulu di tempat pembelian tiket, sebelum pertunjukan dimulai. Cukup ngantri, karena ternyata banyak juga yang ingin membeli tiket. Sekilas saya perhatikan, banyak wisatawan asing yang berbondong-bondong ingin menyakasikan pertunjukan juga.

ImageImage

Agak susah juga menemukan pintu masuk ke pertunjukan sendratari. Semula saya pikir, pintu masuknya sama dengan pintu masuk ke candi. Ternyata berbeda. Pintu masuk candi yang biasa dibuka siang hari, kalau malam ditutup rapat. Akhirnya, saya bertanya ke salah seorang satpam, dan diberitahu kalau pintu masuk pertunjukan sendratari ada di sisi yang berseberangan dengan pintu masuk candi kalau siang hari. Seandainya ada papan pengumuman atau petunjuk (arah panah), pasti akan lebih memudahkan bagi orang-orang yang belum mengetahui informasi pintu masuk pertunjukan.

Dan akhirnya, setelah tanya sana-sini, ketemu juga pintu masuk itu. Begitu masuk, saya langsung menukarkan e-voucher ke tiket lebih dahulu. Dan karena saya membawa kamera maka saya wajib membeli tiket sebagai izin pemakaian kamera di ruang pertunjukan sebesar RP 5.000,- Ketika urusan tiket sudah selesai, saya melihat di depan pintu masuk ada dua orang (pria & wanita) yang memakai pakaian tari jawa yang menyediakan diri untuk berfoto bersama dengan para pengunjung. Sebagian besar orang mengira, kedua orang penari itu adalah pemain utama alias pemeran Rama dan Shinta. Padahal sebenarnya tidak. Coba saja bandingkan keduanya. Tapi, bisa jadi kedua orang penari itu, juga termasuk salah satu penari yang jumlahnya ratusan, baik dari usia anak-anak maupun dewasa.

ImageImage

Saat itu, suasana sudah begitu ramai oleh pengunjung. Sebelum masuk ke area pertunjukan, saya harus melewati petugas pemeriksa tiket yang berpakaian beskap lengkap dengan blangkonnya. Kalau kita membawa kamera, dia akan menanyakan tiket untuk izin pemakaian kamera. Begitu sudah sampai di dalam area, saya merasakan sambutan yang hangat dan sangat ramah. Di sebelah kanan ada beberapa penjual kerajinan tangan, sementara di sebelah kiri tersedia kedai minuman. Di depan pintu masuk persis, ada box yang menyediakan sinopsis pagelaran sendratari, baik dalam bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Perancis, Jerman dan Spanyol. Beberapa langkah dari situ, say menjumpai sekelompok musisi Jawa lengkap gamelan yang mengiringi 2 sinden yang cantik-cantik. Alunan musiknya yang syahdu, seolah menjadi pengantar ke suasana pertunjukan seni yang agung. Saya sempat mampir dan ngobrol dengan mereka menanyakan ini-itu. Seperti misalnya, sudah berapa lama mereka menekuni karir ini, kalau sedang tidak tugas apa aktivitasnya, apakah anak-cucunya juga diajarkan dan mencintai langgam jawa, dlsb. Agak cerewet yak? Maklum, bawaan orok selaluuuuu… ingin tahu 😀

ImageImage

ImagePuas ngobrol ini itu, saya segera melangkahkan kaki menuju panggung pertunjukan. Sempat ditanya mas-mas berbeskap dan mbak-mbak berkebaya, di kursi mana saya duduk. Lalu, mereka menunjukkan arah atau lokasi dimana balkon yang harus saya tuju. Setelah menaiki tangga menuju balkon tempat saya duduk, sampailah saya di depan persis panggung pertunjukan terbuka ini. Saya mendongakkan kepala, di sana terbentang langit gelap yang seolah tiada ujung, sementara di ujung sebelah kanan atas, berdiri dengan megah dan anggunnya Candi Prambanan yang menyala terang oleh lampu sorot berwarna kuning keemasan. Di sisi kiri dan kanan panggung, sudah ada sejumlah pemain yang siap memainkan seperangkat alat gamelan, dari mulai kenong, gambang, saron kendang, dan gong.

Saya sempat mengedarkan pandangan ke sekeliling balkon. Ternyata lumayan penuh. Di kursi VIP bahkan tidak tersisa kursi. Dan kebanyakan yang duduk di sini adalah wisatawan asing. Meski tidak sedikit juga wisatawan lokal. Dan yang membuat saya bangga adalah mereka mengajak putera-puterinya. Bahkan di tengah-tengah perpertunjukan nanti, mereka tidak segan-segan menceritakan jalan cerita yang bagi anak-anak kecil mungkin masih belum begitu paham benar. Benar-benar membanggakan! Mudah-mudahan masih banyak orang tua yang bersedia mengajak putera-puterinya untuk mencintai kesenian daerah agar tidak punah

Image.

ImageTepat jam 19.30 WIB, pertunjukan sendratari Ramayana dimulai. Dan nanti akan berakhir am 21.30 WIB. Acara dimulai dengan ucapan selamat datang dari MC yang bertindak sekalugus sebagai narator  atau penutur cerita, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Kisah di dalam sendratari Ramayanan ini, secara lengkap bisa kita temukan dengan mudah. Tinggal googling, pasti ketemu. Sehingga di sini rasanya saya tidak perlu menuliskan kisahnya secara detil dan lengkap. Dan secara singkat, sendratari Ramayana menceritakan tentang kisah cinta Rama dan Shinta dari Kerajaan Ayodya, yang kemudian mendapat gangguan dari Rahwana penguasa Alengka. Berbagai tipu muslihat dilancarkan Rahwana untuk merebut Shinta dari tangan Rama. Tapi kekuatan cinta mereka berhasil mengalahkan niat buruk Rahwana.

ImageImage

Babak pertama pagelaran sendratari diawali dengan masuknya beberapa penari yang sebagian membawa tombak dan sebagian lagi membawa panah. Tarian itu menceritakan tentang bagaimana pelaksaaan sayembara di Kerajaan Mantili.

Entahlah, begitu acara ini dimulai, saya merasakan aliran darah yang mengalir cepat di dalam tubuh saya. Mendengar langgam jawa dan para penari menggerakan tangan, kaki, kepala, tubuhnya, seolah-olah seluruh jiwa saya juga ikut menari. Saya yakin sekali, kalau jiwa atau passion saya berada di sana. Gerakan-gerakan tari Jawa yang dulu pernah saya pelajari sejak masih SD, seolah-seolah mengajak saya untuk menggerakkan tarian. Rasanya saya ingin berlari ke panggung itu, dan menarikan sebuah tarian. Tapi ya daripada saya dilempari batu-batu yang ada di sekitar candi, mending saya urungkan niat itu. Hihihi…

<

p style=”text-align:center;”>Image

Dari sekian scene atau adegan di seluruh pertujukan panggung terbuka ini, ada 2 adegan yang saya sukai, yaitu (1) atraksi ketika Rama memanah dari jarak jauh dan benar-benar tepat kena sasaran. Lalu adegan yang paling favorit buat saya (2) adegan ketika Hanoman harusnya dibakar hidup-hidup, namun dia justru berhasil membakar Kerajaan Rahwana. Puluhan obor dan bola api mewarnai panggung saat itu.

Image

Menurut saya, kebakaran di Alengka tadi adalah scene terbaik pada panggung terbuka Sendratari Ramayana ini. Ini adalah adegan paling klimaks menurut saya. Jadi ketika, setelah adegan itu, penonton diminta istirahat, dan setelah 10 menit kemudian pertunjukan dilanjutkan di babak kedua (terakhir), justru membuat pertunjukan menjadi anti klimaks. Selain itu, adegan-adegan yang agak kurang menurut saya, adalah adegan yang menampilkan Marica menjadi kijang, Shinta dengan dengan brahmana tua, dan seekor burung garuda bernama Jatayu.

adegan.kijang adegan.brahmanatua

adegan.jatayu

Entahlah, menurut saya, ketika adegan itu ditampilkan, panggung yang megah itu seolah menjadi lengang atau kosong.

Image

Barangkali perlu ditambah ‘asesoris’ lain pada adegan-adegan tadi, sehingga bisa mengisi ‘kekosongan’ di panggung terbuka yang luas ini. Selain itu, durasi antara babak pertama dan babak kedua juga agak kurang balance. Adegan pertama terlalu penuh, sedangkan adegan kedua terlalu sedikit waktunya.

Sehingga saya semula sempat berpikir semula, kalau pagelaran agung ini berakhir ketika terjadi kebakaran di akhir babak pertama. Padahal, pertunjukan sendratari ini berakhir dengan bersatunya kembali Rama dan Shinta. They are lived happily ever after. Oh well…

Reply