Menyusuri Jejak Peninggalan Eropa di Negeri Pala (3)

Iring-iringan Lumba-lumba di Pulau Hatta (Pulau Rosengin)

Selain sejarah, Banda Neira juga memiliki kekayaan bawah laut yang luar biasa. Masih tampak orisinil karena belum banyak yang berkunjung kesini. Jadi, rasanya sayang betul, kalau kita melewatkan kesempatan menikmati keindahan bawah lautnya.

Kali ini tujuan saya menyusuri Pulau Hatta atau yang dulunya dikenal dengan nama Pulau Rosengin (Rozengain). Saya tak lagi ditemani Saiful, melainkan bareng Ichy, seorang traveler yang baru saya kenal di Ora Beach Resort. Tadinya, saya pikir saya akan seorang diri berada di Banda Neira, tapi nyatanya Tuhan memberikan saya seorang teman pejalan. Jadi percayalah, kita akan selalu diberi teman dan tak akan dibiarkan sendirian dalam perjalanan yang jauh.

 

Pulau Hatta, merupakan pulau yang letaknya paling selatan sekaligus yang paling timur dari pulau-pulau lain di Kepulauan Banda. Lokasinya, kira-kira 9 km dari Pulau Banda Besar dan berhadapan-hadapan dengan Desa Waer. Untuk mencapai pulai ini, diperlukan waktu sekitar 1,5 jam dari Banda Naira. Akan lebih dekat jika dicapai dari Desa Waer yang berlokasi di bagian belakang Pulau Banda Besar.
Meskipun terkenal sebagai perajin gerabah, namun dulunya sumber utama perekonomian penduduk di Pulau Hatta adalah pala dan fuli. Sayangnya, pada 1634, seluruh pohon pala di pulau inu dimusnahkan Belanda untuk menegakkan monopoli perdagangan. Karena kehilangan mata pencaharian utama, akhirnya penduduk pulau ini bermigrasi ke Pulau Banda Besar dan ke Pulau Seram. Sehingga, bisa dikatakan, pada saat itu Pulau Hatta sudah kehilangan penduduk dan perkebunan pala. Pihak Belanda sendiri, pernah mengupayakan pembuatan batu bata di pulau ini dan penanaman pohon jati secara besar-besaran, namun setelah 25 tahun berjalan tidak menampakkan tanda-tanda keuntungan dan malah jatuh merugi, akhirnya usaha ini ditutup dan Pulau Hatta dijadikan sebagai tempat pembuangan saja.




 

Lalu bagaimana kondisi Pulau Hatta sekarang?
Sekarang, dengan luas sekitar 420 Ha, Pulau Hatta dihuni oleh 2 kampung, yaitu Kampung Lama dan Kampung Baru, dengan jumlah penduduk sekitar 1.000 jiwa. Meski dulu pala sempat dibumihanguskan Belanda, sekarang warga di pulau ini memiliki kebun pala. Dan memang masih ada beberapa pohon jati yang tumbuh di, sini, namun tidak seberapa banyak dan digunakan oleh penduduk setempat untuk membuat rumah atau dijadikan perahu. Dan jika dulu nenek moyang mereka ahli membuat batu bata dari tanah, sekarang beberapa diantara mereka ada juga yang masih membuat batu bata, namun dari bahan semen dan pasir.

 

Sama seperti Kampung Adat di Pulau Banda Besar, Pulau Ay atau Pulau Run, Pulau Hatta juga merupakan kampung adat. Tiap-tiap kampung adat memiliki kora-kora yang berbeda dengan nama yang berbeda pula. Itu sebabnya, penduduk Pulau Hatta juga memiliki kora-kora adat yang bernama Arumgese. Kora-kora atau belang adalah perahu adat masyarakat Banda.

 

Awalnya, perahu ini digunakan dalam upacara adat setempat atau menyambut tamu besar. Namun sejak bangsa Eropa berupaya menguasai Kepulauan Banda, perahu kora-kora berubah fungsi menjadi kendaraan perang di lautan untuk melawan penjajah. Untuk mengenang jasa dan perjuangan para pendahulunya, sekarang tiap tahun sekali diselenggarakan Festival Kora-kora di Banda Neira yang diikuti oleh berbagai desa setempat. Jika penasaran dengan wujud perahu kora-kora, anda bisa melihatnya di depan Istana Mini di Banda Naira, dekat dermaga.

Spot dive di perairan Banda Naira, merupakan surga bagi mereka yang menggilai aktifitas menyelam. Ada 22 spot dive yang bisa kita jelajahi untuk menikmati keindahan bawah lautnya. Salah satu spot dive yang menakjubkan ada di sekitar perairan Pulau Hatta. Tampaknya, spot-spot dive d Banda Neira ini lebih dikenal oleh para penyelam dari luar negeri. Terbukti, ketika berangkat ke Pulau Hatta, dari 8 orang yang bergabung hanya saya dan Ichy yang berasal dari Indonesia. Tour guide dan kapten kapalnya gak masuk hitungan ya?

Sungguh, saya dibuat terpana oleh berbagai jenis ikan yang besar-besar dan keragaman karangnya yang berwarna-warni. Hampir satu jam lebih saya menyelami keindahan bawah laut di sini, dan hal ini merupakan rekor terlama saya betah menikmati keindahan bawah laut dari semua laut yang pernah saya datangi. Sebenarnya, banyak spot-spot bawah laut yang bagus di sekitar Pulau Hatta. Di depan pulau dan di belakang pulau. Tapi kami hanya diberi kesempatan dua spot saja.

Di sebelah utara Pulau Hatta, terdapat pantai pasir putih yang indah sekali dan sangat mempesona. Di lokasi ini, juga merupakan tempat berlabuh yang baik untuk kapal-kapal.

 

Saat berkunjung ke Pulau Hatta, saya dan kawan-kawan rombongan, sempat beristirahat di pantai pulau ini setelah menyelam di spot pertama. Beristirahat sambil menikmati menu makan siang. Saya dan Ichy memilih berteduh di bawah pohon sambil menikmati menu makan siang: sayur sawi dan ikan goreng. Sementara 6 diver bule itu memilih tidur-tiduran di tepi pantai sebelum makan siang. Alamak! Padahal matahari tengah bersinar dengan teriknya. Mereka membiarkan kulit tubuhnya terbakar matahari, hanya kepalanya saja yang ditutupi handuk. Di sebuah gazebo dekat pantai, saya melihat beberapa warga yang sedang menyanyikan sebuah lagu daerah. Juga beberapa ikan yang dijemur di atas bambu.

 

Saat asyik menikmati makan siang, tiba-tiba serombongan lumba-lumba yang melenggang gembira dan melintas persis di depan pantai. Seru! Tapi para lumpa-lumba itu seolah sedang menggoda saja. Jika kami sedang lengah, mereka berlarian dan melompat-lompat di depan kami. Tapi saat kami bersiap dengan kamera, mereka langsung lari menjauh. Huh!
Setelah sekitar satu setengah jam beristirahat, saya dan kawan-kawan kembali melanjutkan aktivitas menyelam di spot yang terakhir, sebelum akhirnya kami kembali pulang ke pusat kota Banda Naira.

oOo

Reply