Menyusuri Jejak Peninggalan Eropa di Negeri Pala (2)

Perkebunan Pala Terbesar Ada di Pulau Banda Besar & Desa Lontor

Gugusan Kepulauan Banda Naira di Propinsi Maluku terbentang di Laut Banda, di tenggara Pulau Ambon, dan di selatan Pulau Seram. Pulau terbesar dalam gugusan kepulauan ini adalah Pulau Banda Besar yang bentuknya mirip bulan sabit dengan luas 2.800 Ha. Di pulau ini terdapat batu karang menjulang yang dari jauh tampak seperti kapal kandas, taman laut yang terhampar di sepanjang pulau dan sebuah Gunung Api yang beberapa kali pernah memuntahkan lahar dan menimbulkan bencana yang dahsyat. Tercatat, letusan terakhir terjadi pada pada 8 Mei 1988.

 

Dahulu di Pulau Banda Besar terdiri dari Kampung Adat Lontor, Selamon, Waer. Tiap-tiap desa dikepalai oleh Kepala Desa yang dulu disebut Orang Kaya atau Regent. Sekarang, secara administratif Banda Besar dibagi menjadi 6 desa dan administratif dan 3 desa petuanan adat, yaitu Lonthoir, Selamon dan Waer. Selamon berada paling ujung sebelah timur Pulau Banda Besar, Lonthoir berada di bagian paling barat, sementara Waer ada di bagian belakang Pulau Banda Besar. Dengan jumlah penduduk yang kurang lebih 6.000 jiwa, mereka tersebar di berbagai wilayah. Sebagian tinggal di bukit, dan sebagian lagi tinggal di pesisir atau dekat pantai.
“Dulu perekonomian Belanda diatur dari Banda. Nenek moyang anda sukses membangun Belanda melalui keuntungan besar dari perdagangan pala. Sekarang setelah merdeka, kenapa pemerintah kami tidak sehebat nenek moyang anda?”
“Oh, kalau begitu, ijinkan kami menjadi tuan di tempat anda lagi…”

Begitulah penggalan tanya-jawab bernada humor yang terselip disela-sela percakapan antara Saiful dengan para turis dari Belanda saat mereka menyusuri perkebunan pala yang sangat luas (nutmeg plantation), yang lokasinya di sebelah barat Lonthoir, Pulau Banda Besar. Dan tentu, masih banyak pertanyaan bernada humor lainnya, seperti misalnya, ‘Apakah mereka masih berniat menukar Pulau Run dengan New Amsterdam seperti nenek moyangnya dulu?’ Yang tentunya dijawab dengan penolakan keras oleh mereka. Saya sampai terbahak ketika Saiful menceritakan percakapan itu. Saiful yang memang fasih berbahasa Inggris itu, sudah berkali-kali menjadi pemandu wisata bagi wisatawan asing yang ingin mengenang sejarah dan mengenal lebih dekat Banda Neira. Dan Pulau Banda besar merupakan salah satu tujuan utama dalam lawatan para turis yang kebanyakan sudah lanjut usia tersebut.




Berdua dengan Saiful, saya menyeberangi laguna biru yang dalam yang memisahkan Banda Naira dengan Banda Besar. Tidak sampai 20 menit kami sudah sampai di dermaga Banda Besar. Hampir sebagian besar daerah ini dipenuhi pohon pala sekaligus pohon kenari yang akarnya tampak menonjol keluar, besar dan kokoh. Fungsi pohon kenari itu tak lain sebagai pelindung bagi pohon-pohon pala yang tumbuh subur di sekitarnya. Selama di pulau ini saya berjalan kaki sambil menikmati semilir angin, suara-suara burung berkicau, pemandangan pantai yang cantik, buah-buah pala yang menyembul diantara daun-daun, dan suasana yang asri. Biasanya, di tempat ini para turis asing duduk-duduk santai di kebun pala sambil menikmati wine.

Saya membayangkan betapa sangat ramai dan menyenangkan bisa menikmati dan melihat langsung suasana panen pala tiba. Musim panen pala terjadi sebanyak 4 kali di pulau ini. Musim panen kecil terjadi 3 kali dalam setahun dan panen besar hanya terjadi setahun sekali di saat pala berbuah sangat lebat. Bisa memetik buah pala langsung dari pohonnya pastinya memunculkan sensasi tersendiri. Sayang sekali, saya datang berkunjung bukan di saat musim panen sedang berlangsung.
Dahulu, di jaman kolonial Belanda, panen dilakukan secara beramai-ramai oleh seluruh pekerja perkebunan. Saat itu, setiap perkernir (pemilik perkebunan) memiliki rumah tinggal semacam asrama barak (perek) yang dihuni para pekerjanya. Mereka bekerja kepada tuannya berdasarkan cluster dan lokasi pemilik perkebunan. Setelah merdeka, para pekerja itu tidak lagi tinggal di perek, melainkan mendirikan rumah di sekitar perek. Dan para buruh yang semula bekerja di lahan tuannya itu, pada akhirnya menjadi pemilik kebun-kebun pala. Sekarang, pemilik perkebunan pala di Pulau Banda adalah mereka para anak-cucu keturunan dari orang tua yang pada jaman kolonial dulu bekerja di perkebunan pala. Sehingga saat musim panen tiba, memanen pala dilakukan secara beramai-ramai oleh masing-masing keluarga pemilik blok (lahan) perkebunan.
Puas menyusuri kebun-kebun pala di Banda Besar, kami kembali menaiki kapal untuk melanjutkan perjalanan menuju Benteng Hollandia. Benteng ini berlokasi di Desa Lontor (Lonthoir) yang berada di kawasan Pulau Banda Besar. Desa Lontor ini termasuk pemukiman yang padat penduduk dan tampaknya tengah membangun jalur transportasi darat. Meskipun, saat itu saya melihat hanya ada satu truk saja yang mengangkut bahan material jalan. Warganya mendiami rumah-rumah dari pinggir pantai sampai ke atas bukit. Uniknya, bentuk rumah dan perabotannya hampir mirip-mirip satu sama lain. Tidak tampak jurang perbedaan antara yang miskin dan yang kaya.
Satu-satunya cara untuk sampai ke Benteng Hollandia, kita harus berjalan kaki menaiki anak tangga yang jumlahnya sekitar 300 buah. Anak-anak tangga itu merupakan jalan utama bagi warga desa Lonthoir, jadi mau tidak mau saat kita berada di Lonthoir, kita pasti melewatinya. Anak tangga yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1642 ini, tampak masih kokoh dan kuat. Selesai melewati anak tangga, saya perlu berjalan kaki lagi sekitar 15 menit untuk sampai ke puncak bukit dimana lokasi benteng dibangun. Meskipun masih berupa bentuk bangunan benteng, namun beberapa bagian sudah tidak utuh atau runtuh serta kurang terawat. Beberapa pohon pala tumbuh di dalam lokasi benteng. Dari lokasi tadi, saya bisa melihat pemandangan yang sungguh mempesona. Jantung saya hampir berhenti dibuatnya. Pemandangan yang terhampar, merupakan kolaborasi antara pemandangan dari Pulau Gunung Api, warna laut yang biru kehijau-hijauan, batu-batu di pinggir pantai, dan pohon-pohon pala. Saya jadi bisa memahami mengapa Belanda mendirikan sebuah benteng di lokasi strategis ini. Karena dari lokasi itu, mereka lebih mudah memonitor lalu lintas dan aktivitas perdagangan pala dan fuli yang melintasi selat antara Neira dan Lontor.
Saya masih ingin berlama-lama di tempat itu, tapi Saiful mengingatkan bahwa sebentar lagi petang akan menjelang, rugi besar kalau tidak kebagian panorama matahari tenggelam. Akhirnya kami bergegas turun untuk menaiki perahu kembali. Kami menunggu hadirnya matahari terbenam di tengah laut yang berada diantara Desa Lontor dengan Pulau Gunung Api. Sembari menunggu sunset, saya menyiapkan kamera, Saiful menyiapkan alat pancingnya. Sunset akhirnya muncul di atas perairan Pulau Lontor dengan Pulau Ay dan Pulau Run. Ya Tuhan, indah sekali! Saya segera mengambil beberapa gambar, sementara Saiful masih tetap asyik memancing. Kami bersiap kembali pulang, ketika sunset sudah benar-benar tenggelam. Di tengah perjalanan, saya sempat kuatir saat melihat 3 bocah kecil menaiki perahu dayung. Tapi Saiful mencoba menenangkan saya, dengan mengatakan bahwa anak-anak itu baru selesai memancing, sebuah aktivitas yang dia sendiri sering lakukan pada usia yang sama.

 

oOo

Reply