Menyusuri Jejak Peninggalan Eropa di Negeri Pala (1)

“Selamat datang di Negeri Pala!” sambut Saiful sambil tersenyum, begitu saya menginjakkan kaki di Banda Neira, Maluku Tengah. Sama seperti sebagian besar warga di kota ini, pria berperawakan kurus itu menawarkan senyum dan keramahan yang tulus kepada para wisatawan. Dan pria berusia tigapuluhan kelahiran Banda ini, termasuk salah satu sosok muda yang sangat peduli dan cukup dalam mengenal seluk-beluk dan sejarah kota kelahirannya. Saya akan banyak menghabiskan waktu bersama dia selama berada di Banda Neira.

Banda Neira merupakan pusat kota administratif yang terdiri dari 3 pulau besar, yaitu Pulau Gunung Api, Pulau Banda Besar termasuk Lontor (Lonthoir) dan Pulau Neira. Kota ini juga sekaligus merupakan titik awal untuk melakukan eksplorasi ke pulau-pulau lain di kawasan Kepulauan Banda. Meskipun terdiri dari 6 desa, wilayahnya tidak terlalu luas, sehingga saat mengelilingi kota ini, saya lebih banyak berjalan kaki. Sesekali saya berpapasan dengan pengendara sepeda motor, tapi jarang atau bahkan hampir tidak pernah bersua dengan pengendara mobil.

 

Menyusuri setiap sudut kota Banda Neira yang berusia 5 abad lebih ini, kita akan merasakan suasana khas Eropa klasik. Seolah hampir tidak percaya, ada sebuah kota bergaya khas Eropa di sebuah tempat terpencil di wilayah nusantara. Akan tetapi kalau menelusuri kembali sejarah kota Banda Neira, kita akan paham kenapa kota sekecil ini sanggup memikat negara-negara kuat Eropa ratusan tahun silam.

Setara Dengan Emas




Sampai dengan abad XIV aktivitas perekonomian dunia beroperasi melalui 2 jalur utama, yaitu jalur darat Silk Road (Jalur Sutera) yang bermuara di Konstantinopel, dan jalur laut yaitu Mediterania (Laut Tengah). Kawasan tersebut merupakan tempat bertemunya para saudagar besar, baik dari Barat (Eropa) maupun dari Timur (Arab, Persia dan Gujarat). Mereka saling bertukar barang dagangan, baik itu besi, senjata, keramik, sutera, dll. Akan tetapi, hanya rempah-rempahlah yang menjadi primadona serta harganya sangat mahal. Selain digunakan sebagai bumbu masakan, bahan pengawet dan bahan obat-obatan, rempah-rempah juga digunakan sebagai alat tukar yang harganya setara dengan harga emas.

 

Meskipun harganya terhitung mahal, biasanya, para pedagang Eropa dapat dengan mudah memperoleh pasokan rempah-rempah. Namun ketika Kota Konstantinopel mulai jatuh ke tangan Turki Usmani pada tahun 1453, aktivitas perdagangan antara Barat dan Timur menemui jalan buntu. Sultan Mahmud II, penguasa Turki, mempersulit pedagang Eropa beroperasi di kawasan itu. Dan tidak heran kalau kemudian harga rempah-rempahpun semakin melambung dan semakin dicari.

Kondisi yang demikian, membuat negara-negara Eropa berusaha keras untuk menemukan langsung pusat penghasil rempah-rempah. Kita tahu bahwa surga rempah-rempah dunia ada di Maluku. Jika cengkeh bisa diperoleh di Halmahera, Ternate dan Tidore, maka Kepulauan Banda adalah satu-satunya tempat yang dikaruniai Tuhan dengan hasil pala dan fuli (kulit tipis berwarna merah yang membalut biji pala) yang melimpah. Upaya pencarian sumber rempah-rempah inilah yang kemudian melahirkan Age of Discovery (Era eksplorasi atau penjelajahan).

 

Saya akan membahas sedikit mengenai biji/buah pala. Biji/buah pala terdiri dari beberapa bagian, seperti: kulit luar, daging buah, kulit fuli dan biji pala itu sendiri. Kalau dari gambar di bawah ini, yang warna kuning adalah kulit luar yang menyatu dengan daging pala. Daging pala ini biasanya dibuat manisan ato sirop. Yang berwarna merah, namanya fuli. Harga fuli umumnya lebih mahal dibanding buah pala. Sedangkan yang bentuknya bulat berwarna hitam, namanya buah pala. Biasanya dipakai untuk bumbu. Bahan-bahan dari tanaman pala, seperti daun pala, fuli dan buah pala bisa diproduksi menjadi minyak astari.

 

Menurut penjelasan Syaiful, tanaman atau pohon konon pala yang tumbuh di Banda Neiraeira, berbeda dengan pala-pala yang tumbuh di daerah lain. Bibit tanaman pala Banda Neira, jika misalnya ditanam di Pulau Seram, seringkali pohonnya tidak bisa berbuah. Kualitas buah pala yang berasal dari Banda Neira sendiri, susah dicari tandingannya.

Kembali ke kisah penjelajahan Eropa di Banda Neira. Mendengar kabar burung adanya sumber rempah-rempah, maka para pemimpin negara-negara Eropa tidak tanggung-tanggung dalam menginvestasikan kekayaan negaranya untuk membiayai ekspedisi pencarian sumber rempah-rempah. Belum lagi, para pelaut Eropa yang rela mempertaruhkan nyawanya mengarungi samudera ribuan mil, melawan topan badai dan melawan penyakit mematikan selama dalam ekspedisi. Selama era Age of Discovery inilah, sejarah sempat mencatat lahirnya nama-nama besar seperti Ferdinand Magellan, Vasco Da Gama, dan tentunya yang paling legendaris Christopher Columbus. Dari sini, kita bisa memperkirakan betapa pentingnya posisi Banda Neira pada saat itu.
Banda Neira Kini

Banda Neira masih menyimpan peninggalan sejarah berupa gedung-gedung tua peninggalan masa penjajahan Portugis dan Belanda. Di sekitar lokasi pelabuhan, kita bisa menemukan bangunan-bangunan tua yang dulunya merupakan rumah pengasingan para pejuang kemerdekaan seperti Sutan Sjahrir, dr. Cipto Mangunkusumo, Iwa Kusumasumantri, dll.

 

Sedangkan di area sekitar desa Kampung Ratu, bangunan-bangunan tua dapat kita temukan pada Istana Mini, Benteng Belgica, Benteng Nassau, Gereja Tua, serta rumah-rumah besar (mansion) yang kokoh dan megah.

 

Pada era kolonialisme, kawasan Kampung Ratu merupakan kawasan elit. Dahulu tempat ini hanya ditinggali oleh para pejabat penting dan orang-orang kaya Belanda pemilik perkebunan (perek) pala di Banda Besar. Mereka para orang kaya itu, membangun rumah-rumah besar (mansion) berarsitektur Eropa. Rumah-rumah itu sekarang, sebagian besar kosong, bahkan sebagian ada juga yang dibiarkan rusak dan tidak terawat. Meskipun begitu, kekhasan Eropanya masih belum hilang. Masih terlihat tiang penyangga rumah yang berbentuk bulat lonjong, langit-langit rumah yang tinggi serta jendela-jendela dan pintu yang berukuran besar.

 

Jarak rumah-rumah besar tadi dengan Istana Mini – sebuah bangunan yang paling megah dan indah di kawasan tersebut dan dibangun Belanda di tahun 1622 – menunjukkkan status sosial mereka. Semakin dekat jaraknya dengan Istana Mini, maka semakin tinggi status sosial pemiliknya. Dan tentunya, harganya semakin mahal. Jadi dengan demikian, tidak sembarang orang bisa melenggang bebas melintasi kawasan ini.

 

Sekarang kawasan elit itu sudah jauh lebih ramah. Kawasan ini sudah menjadi pemukiman padat penduduk. Siapa saja bisa melintas dengan bebas. Banyak pohon-pohon besar dan tua yang tumbuh di sekitar kawasan ini, sehingga menjadi semakin asri dan cocok untuk bersantai. Bahkan saya sempat melihat beberapa pegawai kantor dan anak-anak bermain atau duduk-duduk di sebuah taman yang dibangun di dekat dermaga pantai di depan Istana Mini. Menyenangkan sekali, duduk-duduk di sekitar kawasan ini sambil menikmati keindahan laut dan beberapa perahu yang lalu-lalang. Perahu memang menjadi alat transportasi utama bagi masyarakat untuk melintas antar pulau.

 

Setelah meluangkan waktu mengunjungi rumah pengasingan Bung Hatta yang masih terawat dengan baik, saya tak tahan untuk tidak mendekati sebuah rumah mansion yang letaknya paling dekat dan bersebelahan dengan Istana Mini. Karena dekatnya, saya memperkirakan kalau di masanya dulu rumah inilah yang paling mahal. Bangunan rumah itu dibiarkan terbuka dan seorang ibu berusia limapuluhan tahun tampak sedang menyapu teras rumah yang ternyata kosong tanpa perabotan satupun. Semula saya hanya minta diijinkan mengambil gambar rumah tua itu, tapi si ibu yang minta dipanggil Mbak Sri ini, malah mempersilahkan saya masuk dan bahkan menyediakan segelas sirup dan setoples kue bertaburkan kenari khas kue Banda Neira.

 

Mbak Sri bercerita panjang lebar tentang siapa pemilik rumah itu sekarang sampai ke hal rencana renovasi yang tak kunjung dilaksanakan. Hampir satu jam saya menghabiskan waktu bersama Mbak Sri untuk berbincang. Suaranya yang renyah dan penerimaannya yang ramah ke pendatang yang baru dikenalnya ini, membuat saya tidak enak hati kalau mampir hanya sebentar saja.

Sifat ramah, mudah tersenyum dan penerimaan yang tulus ke pendatang (baik lokal maupun manca) yang baru dikenal, tampaknya merupakan karakter terkuat yang dimiliki oleh hampir semua warga Banda Neira. Inilah yang membuat saya merasa ‘hommy’ selama tinggal di Banda Neira, karena seperti bukan orang asing. Dan justru seolah merupakan bagian dari keseharian mereka.

 

Kenapa masyarakat Banda Neira secara umum ramah dan terbuka kepada pendatang baru atau wisatawan?

Sejarah telah mencatat kisah kelam tentang pembunuhan massal yang pernah dilakukan Gubernur VOC Jan Pieterszoon Coen terhadap masyarakat Banda demi memonopoli hasil pala. Hampir tidak ada warga yang tersisa, karena 6000 jiwa meninggal, lalu sebagian dijadikan budak di Batavia dan sebagian lagi melarikan diri ke pulau-pulau lain.

Apa yang telah dilakukan JP Coen itu, bukan saja merupakan genosida terhadap nyawa, tapi juga sekaligus genosida terhadap budaya, etnis dan peradaban masyarakat Banda. Bahkan menurut pengakuan Syaiful, sampai sekarang Banda tanah kelahirannya itu tidak memiliki bahasa daerah.

 

Setelah menghabisi masyarakat Banda, Belanda mulai membawa masuk orang-orang dari berbagai wilayah di Indonesia untuk dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan pala. Merekalah yang nantinya justru akan menjadi cikal bakal warga Banda sampai sekarang ini. Perkebunan pala itu, sampai sekarang masih ada. Lokasinya berada di Kepulauan Banda Besar yang berpenduduk lumayan padat.

 

Kita tahu, masyarakat Bandaneira berasal dari nenek moyang yang berbeda-beda. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Sumatera, Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Buton dll. Karena hal itulah, maka berbagai budaya, bahasa dan karakter bawaan masing-masing daerah saling bertemu, berkomunikasi dan saling menerima. Berangkat dari kondisi ini, maka munculah karakter yang sekarang melekat pada sebagian besar masyarakat Banda, yaitu terbuka, penuh toleransi dan bersahabat.

Mbak Sri masih menggebu-gebu menceritakan masa lalunya, tapi waktu sudah beranjak siang. Dengan sangat terpaksa dan dengan perasaan tak enak, akhirnya saya berpamitan juga ke Mbak Sri untuk melanjutkan perjalanan menyusuri jejak peninggalan Eropa di Negeri Pala, Bandaneira.

 

oOo

Reply