Mencintai Bumi Indonesia, Maka Saya Menolak PLTN

Earth Day Belitong

Photo by Elmiko SRD

Pernahkah kalian membayangkan adegan ini?

“Ma, katanya Bangka Belitung yang kita tinggali ini, dulunya negeri yang indah dan pernah jadi destinasi favorite para traveler? Tapi kok sekarang untuk bernafas saja sulit, kita harus pakai tabung yang ada filternya? Berarti, kisah indah tentang Bangka Belitung itu cuma mitos saja kan?”

“Mama rasa kisah itu fakta, nak. Kalau menurut cerita nenek-moyang kita dulu-dulu sih… tempat kita ini dulunya memang indah mempesona. Tapi sejak ditemukannya uranium sebanyak 24 ribu ton, lalu bahan itu diolah di luar, kemudian limbahnya dikembalikan ke sini lagi, jadilah beratus tahun kemudian Bangka Belitung seperti yang kita lihat sekarang.”

Atau adegan lainnya:

“Pa, tauge itu pohon atau tanaman sih? Bentuknya seperti apa?”

“Hmm… bentuknya kecil, hampir setengah jari kelingking kita. Dulu, tanaman ini dikasih air ditaruh di mangkok juga hidup.”

“Iya, tapi kira-kira bentuknya seperti apa? Adik kurang jelas.”

“Seperti apa ya? Yah, kira-kira… seperti benang yang ada kepalanya.”

“Benang yang ada kepalanya? Seperti apa sih?”

“Susah juga papa jelasinnya. Yuk, papa ajak kamu ke museum untuk melihat tauge.”

Lalu kedua ayah-anak itu berangkat menuju museum dengan mengenakan baju atau kostum anti radiasi yang menutupi tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mirip-mirip baju astronot.

Earth Day Astronot

Photo by liputan6 SCTV

Pernah ngebayangin kejadian seperti itu?

Memang agak-agak drama sih ya, tapi kejadian tadi bukan mustahil terjadi. Bumi yang kita tinggali ini usianya sudah tua. Sangat, sangat tua. Sudah milyaran tahun. Sudah saatnya dirawat dengan tingkat kehati-hatian yang maksimal. Layaknya kakek-nenek atau orang tua kita yang usianya sudah beranjak senja. Mereka perlu lebih hati-hati lagi menjaga kesehatannya. Mengurangi konsumsi garam dan gula, tidak mengkonsumsi daging kambing, tidak mengkonsumsi sayuran tertentu, mulai rajin berolahraga, dlsb.

Tapi, paparan yang saya sampaikan tersebut merupakan sebuah anjuran yang sudah usang. Artinya sudah lama sekali didengung-dengungkan. Anjuran yang lebih baru dan radikal disampaikan oleh Allan Weisman dalam bukunya ‘The World Without Us’ (Dunia Tanpa Manusia). Di dalam bukunya itu, si penulis membalikkan cara berpikir bahwa kita perlu merawat bumi yang usianya sudah milyaran tahun. Cara berpikir kita perlu merawat bumi, merupakan cara berpikir yang sudah usang. Ia justru menyatakan sebaliknya, bahwa sudah milyaran tahun bumi telah berbaik hati kepada manusia dan kita berhutang banyak atasnya karena tidak bisa membalas kebaikan itu. Jadi, kitalah yang sesungguhnya perlu menjaga keselamatan kita sendiri dengan cara merawat bumi agar ia tidak marah dan membinasakan kita. Bahwa kitalah yang sesungguhnya membutuhkan bumi sebagai tempat tinggal. Bumi justru akan hidup layaknya taman firdaus tanpa keberadaan manusia satupun.

Alih-alih membalas kebaikan bumi, justru selama ini manusia (termasuk saya) dengan jumawa membalas bumi dengan air tuba. Allan Weisman dalam bukunya ‘The World Without Us,’ menyebutkan beberapa tindakan manusia yang menorehkan luka yang dalam pada permukaan bumi. Dari mulai pemangkasan puncak gunung di West Virginia, pemisahan dua benua melalui Terusan Panama, sampai dengan penodaan pada atmosfer Chernobyl.

Di suatu siang di bulan Maret, ketika pekerjaan tidak terlalu menggila, tangan saya mulai iseng memencet-mencet smartphone mengulik media sosial. Di salah satu time line di twitter, mata saya terbelalak membaca sebuah judul artikel dari akun Jakarta Globe “East Kalimantan plans to begin a feasibility study for a nuclear power plant.”

Earth Day East Kalimantan

Seketika saya lalu membayangkan keindahan bumi di Pulau Derawan yang sebentar lagi akan bertambah lagi lukanya. Saat itu saya sudah begitu sedih melihat kondisi laut di sekitar kota Tarakan yang bercampur dengan minyak di sana-sini serta kapal-kapal tongkang yang bersliweran di atasnya. Ini apalagi.

Babak yang menyedihkan itu semakin bertambah, ketika tidak lama kemudian mata saya juga tersangkut pada judul berita dari akun KompasTV yang menyebutkan “Menteri Nasir: Tidak membangun PLTN Indonesia Menjadi Negara Terbelakang.”

Earth Day Menteri Nasir

Saya bukan tidak sepakat dengan pendapat yang menyebutkan bahwa nuklir akan menghasilkan energi yang luar biasa di era yang katanya lebih modern seperti seperti sekarang.

Yang saya tidak sepakat adalah kualitas SDM yang ada di negara kita. Berapa banyak kejadian perbaikan jalan raya yang dilakukan tapi hanya bertahan beberapa bulan saja? Atau, coba di-check berapa jumlah alat AQMS (Air Quality Monitoring System) atau alat ukur polusi udara yang masih berfungsi di kota kalian masing-masing?

Earth Day Alat AQMS

Polusi udara yang bisa berupa debu, asap, gas, uap dll, membahayakan kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan. Bisa mengurangi kemampuan berpikir anak, tingkat IQ rendah dan pertumbuhan fisik yang terganggu. Selain itu dalam sebuah studi melaporkan, bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat polusi udara tertinggi ke tiga di dunia. Dan Jakarta, menurut World Bank, menjadi salah satu kota dengan kadar timbal yang tinggi.

Kalau terhadap tehnologi yang meskipun penting tapi boleh dibilang presisinya sederhana kita masih tidak terlalu peduli, teledor atau meneledorkan diri, bagaimana dengan tehnologi yang berpresisi tinggi?

Jerman sudah memutuskan untuk menghentikan penggunaan nuklir di negaranya dan merencanakan untuk mengakhiri penggunaan tenaga nuklirnya di tahun 2022. Sementara Jepang juga sudah mulai mengurangi pos-pos tenaga nuklirnya dan menggantinya dengan sumber energi yang lain untuk listrik .

Mungkin Jepang telah belajar dan mulai pempertimbangkan dampak dari kerusakan yang dihasilkan oleh kecelakaan nuklir Chernobyl di tahun 1986 dan bencana di Fukushima di negerinya sendiri tahun 2011. Perlu waktu puluhan tahun untuk menonaktifkan reactor Fukushima yang bocor. Tak heran, jika peraih nobel sastra dari Jepang, Kenzaburo Oe, dengan keras mewanti-wanti kita agar Indonesia tidak membangun PLTN.

Earth Day Kenzaburo

Jepang begitu kewalahan dan pontang-panting mengatasi kejadian mengerikan yang terjadi di Fukushima. Itu Jepang, sebuah negara yang memiliki budaya disiplin dan kepedulian lingkungan yang tinggi. Bagaimana dengan Indonesia yang budaya disiplinnya masih rendah dan budaya korupsinya masih tinggi?

Beberapa hari yang lalu, saya menerima kiriman beberapa majalah dari Geo Times. Begitu membuka majalah yang edisi Desember 2014, saya langsung sedih. Di majalah itu menyebutkan bahwa dari tahun ke tahun semakin besar masyarakat yang setuju dibangunnya PLTN di Indonesia.

Earth Day Riset PLTN

Meskipun sedih, tapi saya bisa memahami kenapa masyarakat setuju memilih dibangunnya PLTN. Hasil riset menyebutkan, karena mereka menginginkan kemudahan mendapatkan pasokan energi listrik yang stabil dan harganya murah. Mungkin mereka sudah lelah mendapat pasokan listrik yang byarrr pet… byarrr pet… melulu (masyarakat miskin energi). Buat saya, kondisi yang demikian ini, ibaratnya pemerintah sedang melakukan intimidasi kepada rakyatnya. Semacam perampok yang mengintimidasi korbannya. “Pilih harta atau nyawa?” Tentunya, hampir sebagian besar korban akan memilih nyawa. Dan tentu saja, karena selama ini pasokan listrik mengecewakan, masyarakat memilih PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir).

Sesungguhnya, banyak sekali sumber energi yang bisa menggantikan energi fosil. Sumber energi yang lebih ramah terhadap bumi. Tuhan begitu sayang terhadap rakyat Indonesia. Indonesia dianugerahi sumber energi alternatif yang berlimpah dan siap diolah serta dikembangkan. Sepatutnya para pemimpin negeri ini juga lebih sayang ke rakyatnya dengan tidak memaksakan nuklir sebagai salah satu sumber energi alternatif.

Betul, bahwa cadangan energi fosil kita mulai menipis, tapi masih ada sumber lain yang bisa kita manfaatkan. Negara kita ini memiliki sumber energi yang beragam: energi angin, air, matahari, bio energi dll. Keberagaman sumber energi di Indonesia, membuat negeri ini di tahun 2013 ditetapkan Dewan Energi Dunia sebagai negara yang memiliki pasokan energi yang cukup bagus dibanding negara-negara Asean lainnya. Namun ironisnya, dalam Indeks Keberlanjutan Energi (ESI-Energy Sustainability Index), Indonesia berada di bawah Malaysia, Singapura, dan Filipina. Negara-negara yang sumber energinya lebih terbatas.

Sudah selayaknya negeri ini memaksimalkan beragam sumber energi yang dianugerahkan Tuhan. Energi alternatif bio-fuel, bio-etanol, bio-diesel bisa kita dapatkan dari biji tanaman Jarak yang banyak tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Bisa juga dari buah kelapa, kelapa sawit. Bisa jamur, jagung, batang tebu, singkong. Atau bisa juga dari tanaman Nyamplung (chalophyllum) yang dianggap sebagai sumber energi bio-fuel paling potensial. Tanaman ini tersebar dari mulai Sumatera Barat, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur hingga Papua.

Di Situbondo, sudah memproduksi minyak dari buah kelapa yang bisa menggantikan solar yang digunakan warga untuk bahan bakar mesin perahu, diesel pengairan atau irigasi sawah. Dan merupakan sumber energi bagi alat pertahanan keamanan TNI.

Negara Brazil, telah mengembangkan bio etanol yang bersumber dari tebu yang digunakan pada kendaraan sejak tahun 1925. Sementara Korea mengembangkan bio diesel yang berasal dari tumbuhan kedele sejak tahun 2002.

Selain bio nabati, sebenarnya kita masih bisa mendapatkan sember energi dari bio gas. Bio gas merupakan gas yang dihasilkan oleh fermentasi dari bahan-bahan organik yang diantaranya: kotoran manusia, kotoran hewan, limbah rumah tangga, sampah organik dll.

Masyarakat di Sumba, NTT, merupakan salah satu contoh yang menggunakan kotoran hewan sebagai sumber energi bio gas. Dari foto dan penjelasan seorang video jurnalis Dandhy Dwi Laksono ini, diceritakan saat Heinrich Dengi sedang menggelontor kotoran babi dengan air agar masuk ke ‘inlet’ dan diproses di reactor menjadi gas metan untuk bio-gas. Di Waingapu, pulau Sumba NTT, tak ada elpiji subsidi 3 kg. Bio-gas yang dikembangkan Henrich dari 4 ekor babi, memangkas 90% pembelian minyak tanah.

Earth Day Bio Gas

Photo by Dandhy Dwi Laksono

Begitu melimpahnya sumber energi terbarukan yang dimiliki negara kita, yang sayangnya, pemanfaatan energi terbarukan masih terlalu mewah. Hal ini disebabkan karena biaya pengembangannya masih cukup mahal. Tentunya kita tahu, biaya pengembangan yang terlalu mahal, otomatis akan membuat harga sebuah produk menjadi mahal. Tanpa subsidi besar-besaran, energi terbarukan hanyalah mimpi karena tak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Sekali lagi, saya mencintai bumi, khususnya bumi di mana negara saya berada: Indonesia. Saya tak rela melihat Flores, Papua, Bangka Belitong, Kalimantan, Maluku, dll, menjadi rusak parah. Saya juga tak ingin keindahan dan pesona pulau-pulau itu dikira hanya mitos belaka.

Memang, ada banyak cara untuk menunjukkan rasa cinta kita ke bumi Indonesia. Bisa mengurangi pemakaian berbahan plastik dan styrofoam, mengurangi pemakaian listrik, pemakaian AC, dll. Namun saya memilih menolak pendirian PLTN di bumi Indonesia. Kalau anda?

Ditulis dalam rangka memperingati Hari Bumi (Earth Day) ke 45 tahun.

oOo

9 Comments - Add Comment

Reply