Melipir ke Kampung Nelayan, Desa Sikka, Flores

Saya tidak akan mengelak dengan apa yang dikatakan situs
sunsigns tentang tanggal kelahiran saya yang jatuh pada 10 Agustus, bahwa saya orangnya cenderung spontan dan impulsif, suka menuruti kata hati. Karena memang begitulah adanya.

10-august-birthday-leo

 

Dalam perjalanan mengelilingi Flores NTT beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Desa Sikka yang jaraknya sekitar 1,5 jam perjalanan dari kota Maumere.

sikka2

 

Sepanjang perjalanan menuju lokasi desa itu, mata saya dimanjakan oleh pemandangan tepian pantai yang luar biasa indah! Di pinggir kanan jalan yang meliuk-liuk seperti ular, saya menyaksikan warna biru air laut, buih ombak yang bergulung-gulung, pasir yang hitam dan batu karangnya, seolah membentuk suatu karya yang sempurna. Para warga di sini, menyebutnya Pantai Selatan.

sikka1

 

Di tengah-tengah perjalanan, mata saya menangkap sebuah perkampungan nelayan. Perkampungan itu terdiri dari beberapa rumah yang terbuat dari kayu beratapkan ilalang. Ada beberapa pohon kelapa yang tumbuh di tengah-tengah perkampungan itu.

sikka3

 

Saya memohon ke pak sopir untuk mengijinkan berhenti sebentar. Perkampungan itu tampak sepi. Seolah tidak berpenghuni. Tapi kemudian, saya menangkap keramaian di balik perkampungan itu. Saya mencoba mencari sumber suara. Oh! Ternyata, para warga di situ sedang beramai-ramai memanen ikan yang baru saja mereka tangkap dari laut. Saya mencoba mendekat sambil menebarkan senyuman. Para nelayan itu membalas dengan senyuman pula. Serasa mendapat angin, sayapun meminta ijin untuk dibolehkan mengambil ikan-ikan yang tersangkut di jaring. Mereka tertawa-tawa melihat apa yang saya lakukan. Saya ikut tertawa, meski tak mengerti apa yang mereka katakana. Karena mereka berbicara dalam bahasa daerah.

sikka4

 

Beberapa ibu membawa ikan-ikan yang sudah dibersihkan ke dalam rumah. Bau harum ikan yang sedang digoreng membuat hidung saya kembang-kempis. Selang beberapa saat, mereka memanggil kami semua untuk masuk ke dalam rumah. Di meja yang sederhana, para ibu menyediakan singkong rebus dan ikan yang masih panas.

sikka5

 

Tidak baik jika saya menolak, karena itu berarti saya mengabaikan kebaikan hati mereka menawarkan menu andalan warga kampung di sini. Apalagi, khusus untuk saya mereka menyediakan satu piring special berisi singkong rebus dan beberapa potongan ikan. Saya berencana akan menghabiskan suguhan itu, meski singkongnya terasa keras. Tapi melihat beberapa anak kecil melihat kea rah saya, akhirnya singkong dan ikan itu saya berikan ke mereka. Siapa tahu mereka belum makan, atau masih lapar.

Setelah piring itu ludes, sayapun segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanan menuju Desa Sikka. Sambil tak lupa mengucapkan terimakasih atas kebaikan para warga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.