Maumere: Berburu Tenun di Desa Sikka

Meninggalkan Kota Moni sore hari, suttle bus membawa saya bertemu dengan Kota Maumere pada malam hari. Untungnya, sehari sebelumnya saya telah memesan hotel, sehingga bisa langsung diantarkan di depan hotel persis. Sebuah hotel standar, yang lokasinya persis di jalan raya. Di dekat-dekat hotel banyak penjual makanan, sehingga saya tak perlu takut kelaparan. Tapi yang paling penting, hotel itu ber-AC, mengingat cuaca di Kota Maumere ternyata cukup panas.

Setelah perut lumayan kenyang oleh sepiring nasi goreng yang dijual di depan hotel, saya mulai mencari informasi tentang keberadaan kampung tenun. Dari Kak Iping, salah satu petugas hotel, saya mendapat informasi kalau Desa Sikka merupakan salah satu sentra penghasil tenun di Maumere. Bahkan mamanya salah seorang penenun pula di desa itu.

Kak Iping bersedia mengantar saya ke sana. Dia mengajak saya berangkat jam ½ 6 pagi, karena akan melipir lebih dulu ke Bukit Bunda Maria. Aih, senangnya! Selama traveling alone ini, terkadang saya suka kaget sendiri dengan kemudahan dan kebaikan yang saya terima dari orang-orang yang sebelumnya belum pernah saya kenal.

Sunrise di Bukit Bunda Maria

Begini pemandangan matahari terbit dari Bukit Bunda Maria

Kenapa perlu mendatangi Bukit Bunda Maria dan berangkat pagi-pagi sekali? Karena bukit ini merupakan salah satu tempat terbaik di Maumere untuk menyaksikan matahari terbit. Untuk sampai ke lokasi itu dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dari hotel tempat saya menginap.




Sunrise Bukit Bunda Maria Maumere

Sunrise bukit Bunda Maria

Dalam perjalanan menuju bukit itu, saya disuguhi pemandangan perbukitan dan area perkebunan milik warga lokal. Kondisi jalan cukup aman untuk dilalui, meskipun perlu hati-hati karena sebagian tepi jalan berupa tebing yang cukup terjal. Dan yang lebih penting, meski jalannya menanjak, bisa dilalui kendaraan. Sehingga saya tak perlu menguras tenaga dengan berjalan kaki. Hahaha…

Yang disebut Bukit Bunda Maria itu sebenarnya sebuah bukit yang berlokasi di Bukit Nilo, dimana di puncak bukit itu dibangun sebuah patung Bunda Maria berukuran raksasa yang menghadap lepas ke Kota Maumere dan Laut Flores.

Patung Bunda Maria

Patung Bunda Maria

Tempat itu merupakan tempat ibadah dan ziarah bagi umat Katholik. Tempatnya rapi dan terawat dengan baik. Saat saya kesana, tak satupun sampah yang saya jumpai. Karena saya datang pas musim kemarau, maka di sekitar kawasan Bukit Nilo itu dipenuhi pepohonan yang kering dan berwarna kecokelatan. Buat saya, kondisi seperti itu justru membuat bukit itu terlihat lebih eksotis.

Patung Bunda Maria berada di sebuah taman yang indah di posisi paling puncak Bukit Nilo. Hiasan bermotifkan tenun ikat Flores terlihat di sana-sini. Di sekeliling taman itu dipagari dengan dinding beton, dimana di dindingnya terdapat relief yang menceritakan kisah Yesus seperti dalam alkitab. Di bagian depan patung terdapat deretan bangku-bangku panjang melingkar. Bangku-bangku itu tidak terbuat dari kayu, melainkan terbuat dari semen.

Taman Patung Bunda Maria

Taman dilokasi patung Bunda Maria

Puas menikmari keindahan Bukit Nilo, sayapun segera melanjutkan perjalanan menuju Desa Sikka. Desa Sikka berada di wilayah selatan Kabupaten Sikka. Di sepanjang jalan menuju desa itu, kita akan disuguhi pemandangan pantai yang sangat indah. Dan itu sebabnya, warga lokal menyebut pantai itu sebagai Pantai Selatan.

Posisi Desa Sikka langsung menghadap Laut Sawu, laut yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Ombak di perairan ini sangat besar dan mengerikan, apalagi di kala musim barat. Meskipun begitu, saat tenang, kondisinya sangat bagus dan menakjubkan. Warna airnya yang hijau kebiru-biruan, riak-riak kecil gelombang, dilengkapi dengan pasir pantainya yang hitam. Keren. Seperti yang saya temui saat itu.

Laut Sewu Maumere

Memang, kondisi jalan menuju ke Desa Sikka tidak terlalu lebar dan berkelok-kelok. Namun tak akan pernah membosankan, karena di sepanjang perjalanan mata saya sangat dimanjakan oleh pemandangan yang mempesona di sepanjang jalan itu.

Di tengah perjalanan menuju ke Desa Sikka, saya tak bisa menahan diri untuk tidak berhenti di sebuah perkampungan nelayan. Bahkan saya sengaja mendatangi mereka yang saat itu baru saja pulang dari laut dan memanen ikan dari jala-jala ikan. Seru lho! 😀

Akhirnya, setelah berkendara selama hampir 1 ½ jam, saya sampai juga di rumah orang tua Kak Iping di Desa Sikka. Saya bisa melihat bagaimana mama Kak Iping yang tengah menenun di samping rumahnya.

Tenun Desa Sikka

Ibu pengrajin tenun di Desa Sikka

Hampir sebagian besar ibu-ibu di Desa Sikka melakukan aktivitas menenun. Hampir setiap rumah di desa ini memiliki peralatan tradisional untuk menenun. Jika sebagian besar para ibu melakukan aktivitas menenun, maka pekerjaan utama para pria dewasa di desa ini adalah melaut.

Untuk semakin mengenal lebih dekat kampung nelayan ini, Kak Iping mengajak saya mengelilingi desa itu lalu berhenti di bawah pohon di tepi pantai, tempat pemberhentian kapal-kapal tradisonal. Katanya, salah satu kapal itu milik ayahnya yang berprofesi sebagai nelayan.

Nelayan Desa Sikka Maumere

Mengingat ombaknya yang cukup keras, sebagai seorang nelayan di desa ini tentu butuh stamina dan teknik melaut yang di atas rata-rata. Tidak heran kalau kemudian nenek moyang Desa Sikka terkenal sebagai pelaut yang tangguh. Mereka hanya pergi ke ladang pertanian jika musim sedang tidak bersahabat atau ketika tengah musim panen pertanian.

Baca juga: Melipir ke Kampung Nelayan Desa Sikka Flores

Beberapa wisatawan mancanegara, khususnya dari Portugis, seringkali mengunjungi Desa Sikka ini. Entah sekedar untuk wisata sejarah dan budaya atau membeli kain tenun. Tampaknya, antara Sikka dan Portugis memang telah terjalin suatu ikatan khusus sejak dulu kala. Sejarah mencatat, Sikka pernah menjadi pusat pemukiman orang-orang Portugis. Bahkan di desa ini terdapat gereja tua yang dibangun pada tahun 1899, yang sampai sekarang tiap sebulan sekali melakukan ibadah dengan menggunakan Bahasa Portugis.

Gereja di Desa Sikka Maumere

Gereja tua di Desa Sikka Maumere

Bangunan gereja tua ini cukup menarik. Arsitekturnya bergaya Eropa kuno, langit-langit atapnya sebagian besar terbuat dari material kayu yang terlihat kokoh. Konon, kayu-kayu itu sengaja didatangkan dari Portugis. Ketika memasuki ruangan gereja, saya dibikin takjub dengan kondisi ruangan yang dipenuhi dengan hiasan kain motif tenun khas Flores.

Interior gereja tua di Desa Sikka

Interior gereja tua di Desa Sikka

Selesai melihat-lihat ruangan dalam gereja tua di Desa Sikka, saya kembali ke rumah orang tua Kak Iping. Di sana saya disuguhi air kelapa yang diambil langsung dari pohonnya. Kondisi pesisir yang panas dan terik kala itu, membuat air kelapa yang saya minum tampak lebih segar dari biasanya. Sembari menikmati daging kelapa yang saya sendok, Kak Iping menanyakan apakah saya bersedia mendonasikan uang sebesar Rp 250.000,- demi untuk menyaksikan demo pertunjukan menenun yang akan diperlihatkan oleh ibu-ibu penenun di Desa Sikka. Saya bilang, saya tak berkeberatan dan justru senang dengan tawaran itu.

Saya bahkan sangat menikmati suguhan atraksi atau demo pembuatan kain tenun tradisional yang menggunakan bahan-bahan alami, khususnya bahan alami kapas pohon. Kita bisa melihat langsung pohon yang menjadi bahan utama dalam pembuatan kain tenun itu, karena ditanam di area demo pertunjukan.

Pohon Kapas

Warga setempat menyebut pohon kapas dengan sebutan ‘kapa ai’. Biasanya pohon kapas ini ditanam di kebun dan menghasilkan buah selama satu musim saja, yaitu di musim kemarau. Jika daya berbuahnya sudah hilang, pohon itu akan kering dan mati.

Untuk menghasilkan selembar kain tenun, prosesnya dimulai dari mengeluarkan kapas putih dari kelopak atau cangkangnya. Kapas putih yang masih banyak bijinya tadi, kemudian dijemur di panas matahari. Jika kapas sudah kering dan ringan, itu berarti langkah berikutnya adalah mengeluarkan biji kapas. Cara mengeluarkan biji kapas disebut keho kappa atau ngeung kappa.

Pemintalan Kapas

Untuk memisahkah kapas dari bijinya, dipakai sebuah alat tradisional yang disebut ngeung atau keho. Alat itu sangatlah sederhana kontruksinya dan sebagian besar terbuat dari kayu. Lalu bagaimana caranya mengeluarkan atau memisahkan putih kapas dari bijinya dengan memakai alat ngeung?

Kira-kira seperti ini… tangan kanan menggerakkan alat pemutar, sementara tangan kiri mengisi atau memasukkan kapas diantara 2 kayu bulat melintang. Memasukkankan kapas ini harus cepat meskipun jumlahnya tidak boleh langsung banyak, namun harus sedikit demi sedikit. Kapas yang bersih jatuh ke bagian depan alat, sedangkan biji-bijinya jatuh ke belakang.

Memasukkan kapas untuk memisahkan dari bijinya disebut wotik, yang berarti menyuapi. Jadi pekerjaan ini butuh kesabaran dan ketenangan luar biasa, layaknya seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya.

Meskipun kapas telah dipisahkan dari biji-bijinya, namun tidak otomatis selesai dan bisa digunakan, karena kotoran masih tetap ada. Karena itu, untukmembersihkannya kapas dibiarkan kering dengan menjemurnya.

Penjemuran Kapas

Proses membersihkan kapas dilakukan oleh 2 perempuan yang memukul-mukul kapas dengan 2 tongkat kayu di atas tikar. Keduanya memukul secara silih berganti. Karena terus menerus dipukul serta dibolak-balik, maka kapas menjadi lembek, sehingga kotoran-kotoran mudah dibersihkan.

Setelah kapas dibersihkan, maka serat kapas tadi dihaluskan dengan alat semacam busur kecil, dengan dipilin menggunakan telapak tangan. Pilinan kapas ini kemudian dipintal menjadi benang panjang yang tidak terputus.  Cara memintal kapas menjadi benang, menggunakan alat yang dinamakan jantra atau kincir. Onderdil alat ini terbuat dari kayu yang berbentuk seperti roda.

Proses kapas jadi benang

Jika kapas sudah menjadi benang, maka tahapan berikutnya adalah mengikat motif dan ragam hias. Benang direntangkan pada alat yang disebut laing tebong yang terbuat dari 2 kayu yang melintang. Setelah benang direntangkan, maka pekerjaan yang berikutnya adalah membuat ikat motif atau ragam hias geometris. Pekerjaan ini dilakukakn oleh 2 orang, dengan cara saling memberi dan menerima benang. Yang satu mengatur agar tiap urat benang dimasukkan dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas, yang lainnya, mengembalikan urat benang ke pangkalnya. Lalu dengan hitungan tertentu, mereka membentuk motif yang diinginkan.

Pemrosesan kapas jadi benang

Jalur-jalur ikat tenun dibedakan atas beberapa pola, yang antara lain: pola besar yang dominan (pola ibu), pola besar sedang, dan pola kecil. Semua jalur ikat baik yang besar maupun yang kecil dengan motif atau ragam hias tertentu, bisa memenuhi satu bahan sarung tenun ikat. Penataannya tergantung pada rasa seni si pembuatnya.

Kain tenun desa sikka

Benang-benang yang sudah diikat dan membentuk pola-pola dengan motif tertentu tadi, kemudiam akan melalui proses pewarnaan benang. Proses ini dimulai dengan mencelupkan benang kedalam adukan minyak kenari dan minyak kemiri untuk pengawetan.

Dalam mewarnai benang, pengrajin tenun ikat tradisional menggunakan bahan dasar alami, seperti: daun dan akar mengkudu (warna merah); daun tarum (warna biru indigo), kunyit (warna kuning), dan lain sebagainya. Setidaknya ada 11 warna tercipta dari bahan alami yang ramah lingkungan.

Pewarnaan alami kain tenun maumere

Pewarnaan benang dapat dilakukan berulang-ulang, demi menghasilkan warna yang khas. Dalam pewarnaan benang yang menggunakan bahan dasar alami, memang warna terlihat tidak secerah (kurang kinclong) layaknya kalau memakai benang modern (sintetis). Tapi pewarnaan yang alami seperti ini, justru lebih tahan lama dan jika kain dikenakan dalam jangka waktu yang lama, justru akan semakin menguak warna yang makin lama semakin indah.

Usai pewarnaan, benang dibiarkan hingga kering, lalu direntangkan pada rangka benang untuk kemudian ditata sedemikan rupa menjadi pola hias.

Jika rentangan benang sudah membentuk motif dan pola hias tertentu, maka tahapan berikutnya adalah menenun. Saat menenun, seorang mama penenun akan melakukan beberapa hal, seperti misalnya: mengangkat benang sambil mengeluarkan alat panjang seperti tombak (pedang tenun), memasukkan benang dengan memakai tabung kecil (legung), menyentak-nyentak dengan memakai pedang tenun, merapikan benang yang disebut plehok, dsb.

Pengrajin kain tenun di Desa Sikka

Selama proses menenun, seorang perajin tenun dengan lincah menggerakkan kedua tangannya dan menyatukan hati serta pikirannya, bersamaan dengan peralatan tradisional yang melilit pinggang. Mereka bekerja dari mulai matahari setinggi tombak hingga menjelang sore hari. Butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk bisa menghasilkan selembar kain tenun yang berkualitas sekaligus bercitra seni tinggi.

Kain Tenun Desa Sikka Maumere

Kain Tenun Desa Sikka

Setelah menyaksikan demonstrasi menenun tadi, saya semakin paham dan menyadari betapa panjangnya proses menenun. Ada sekitar 20 tahapan yang harus dilalui demi menghasilkan sehelai kain tenun yang indah. Harga yang kita bayar demi sehelai kain tenun, semahal apapun itu menurut kita, rasanya sepadan dengan ketekunan dan kesabaran para penenun itu. Bukankah begitu?

Desa Sikka merupakan destinasi terakhir ekpedisi tenun saya di Flores, NTT. Memang, masih banyak tempat atau destinasi lainnya yang belum sempat saya sambangi. Tapi, besok, saya sudah akan melanjutkan perjalanan ke Maluku, khususnya Banda Neira.

Baca cerita tentang Banda Neira:

Ada banyak hal dan pemahaman baru yang saya dapatkan selama perjalanan ke Flores sendirian. Tapi yang paling penting adalah, satu pemahaman baru bahwa, kalaupun kita bepergian sendiri tanpa teman, Tuhan selalu akan memberikan teman dalam perjalanan kita. Kemanapun itu. 🙂

 

oOo

8 Comments - Add Comment

Reply