Lombok, mutiara yang terpendam

Berkunjung ke Lombok ini saya lakukan pada bulan Maret 2 tahun lalu, selama kurang lebih 5 hari. Sebuah perjalanan yang lumayan lengkap, karena meliputi: seni, budaya, keindahan alam, adventure, dll.

Dan sudah menjadi kebiasaan saya, setiap kali saya berkunjung ke suatu tempat, lokasi pertama yang saya datangi adalah museum. Setelah membayar tiket Rp 2.000,- saya segera masuk ke dalam museum. Kalau menurut saya, museum NTB tidak terlalu luas, tapi cukuplah untuk saya mengetahui bagaimana sejarah kehidupan masyarakat NTB. Di dalam museum NTB terdapat berbagai jenis pakaian tradisional, peralatan seni musik, miniatur-miniatur yang menggambarkan kehidupan dan mata pencaharian masyarakat NTB, juga beberapa manuskrip (surat tanah Kesultanan Bima, naskah Angling Dharma, Kitab Mujarabat, Kitab Mahabharata, dll). Sayang sekali, ketika saya menanyakan dimana saya bisa menikmati seni musik tradisional NTB, saya mendapatkan jawaban bahwa kesenian semacam itu hanya digelar di hotel-hotel atau tempat tertentu dan dalam waktu tertentu pula. Mendengar jawaban ini, saya menjadi kuatir, kalau-kalau suatu saat kesenian aseli dari wilayah ini akan musnah. Mudah-mudahan tidak!

 

Selesai menjelajahi isi museum, saya segera menuju ke Taman Mayura, dimana di sekitar taman ini terdapat Bale Kambang, Pura Jagad Nata, Pura Meru Kelepung, dan lain-lain. Taman Mayura merupakan saksi keberadaan kerajaan Singasari dan orang-orang Bali di Lombok pada abad ke-19. Uniknya di taman ini kita akan menemui betapa sejak dahulu kala semangat perbedaan sudah ada dipelihara oleh raja-raja Singasari dan Mataram. Bale Kambang atau bangunan terapung di tengah kolam Taman Mayura menceritakan hal itu. Arsitektur bangunan tersebut memperlihatkan pengaruh Hindu dan juga Islam, sedangkan di sekitar tempat itu, patung dibuat dari batu dengan nuansa haji. Bale Kambang ini, konon kata sejarah, dulunya dipergunakan atau berfungsi sebagai pengadilan sekaligus juga sebagai balai pertemuan.

 




Setelah puas menikmati Museum NTB dan Taman Mayura, saya sempat mampir ke toko yang menjual perhiasan-perhiasan mutiara. Tapi begitu mengetahui harganya, hati saya langsung menciut. Aiiihhh mahalnyaaaa!! Akhirnya, saya memutuskan kembali ke hotel sambil menikmati suasana sore di Pantai Senggigi. Saat duduk-duduk santai di tepi pantai, saya ditawari oleh beberapa penjual yang bersliweran, dari mulai perhiasan dari kerang, tattoo, bahkan ada juga yang menawari ganja. Aiiihhh, memangnya saya punya style ala Bob Marley kah? Tapi saya menolak dengan halus ke pemuda yang menawari saya ganja itu. Mungkin untuk menebus rasa bersalahnya itu, dia mengatakan bahwa suasana pantai sore itu menjadi lebih sempurna karena keberadaan saya di tempat itu. Bedeuh, rayuan gombal. Lalu dia menawarkan untuk mengambil foto saya. Saya sempat menolak, tapi akhirnya pasrah pada tawarannya itu. Hihihi…

Keesokan harinya, saya memutuskan menyeberang ke Gili Trawangan. Saya memutuskan akan menginap di sana. Sebelum saya sampai ke tempat penyebarangan, saya berhenti sebentar di Malibu untuk foto-foto. Ternyata, banyak wisatawan lain melakukan hal yang sama. Mereka foto-foto di Malibu, sampai jalanan agak macet.

Puas foto-foto di Malibu, akhirnya saya sampai di tempat atau bangsal penyeberangan. Karena biaya sewa kapal private mahal, saya memutuskan untuk membeli tiket kapal umum seharga Rp 10.000,-

 

Kurang lebih ½ jam kemudian sampailah saya di Gili Trawangan. Pertama kali menginjakkan kaki, mata saya terbelalak menatap keindahan pantainya.

 

Setelah mendapatkan hotel yang lumayan bagus dan murah, saya beristirahat sebentar. Kebetulan juga matahari pas berada di tengah-tengah. Tapi karena merasa sayang waktu, tidak lama kemudian saya memutuskan untuk mengelilingi Pula Gili Trawangan dengan bersepeda. Biaya sewa sepeda sebesar Rp 25.000,-/hari.

Baru setengah perjalanan, saya merasa hampir pingsan, tidak kuat disengat terik matahari. Ngos-ngos-an betul. Mau balik ke hotel sudah tanggung. Kebetulan ada seorang pria yang tengah berlari. Saya menanyakan, apakah masih jauh kalau saya memutari pulau ini. Pria hitam manis ini menjawab, kalau jaraknya sudah dekat. Dia juga menambahkan, kalau dia biasa berlari mengitari pulau ini sebanyak 2-3 kali/hari. Ini yang membuat saya kembali bersemangat untuk menyelesaikan rencana mengitari pulau. Tapi ternyata, yang dibilang dekat itu, masih jauh. Butuh waktu sekitar 3 jam untuk mengitari pulau itu. Dan ketika kembali ke tempat start, waktu sudah agak sorean, sekitar jam 5-an. Dan di sana, sudah mulai berdiri café-café tenda yang menawarkan berbagai jenis minuman dengan iringan musik ajeb-ajeb. Bawaannya jadi pengin dugem. Hihiii.. dan sekedar catatan saja, hampir sebagian besar yang mengunjungi Guli Trawangan adalah wisatawan dari luar. Saya sempat mengobrol dengan beberapa, diantaranya dari Australia, Kanada, dan Inggris.

Dan ketika hari sudah sore, matahari sudah tidak gahar lagi, saya merasa inilah saatnya untuk melihat keindahan di dalam laut Gili Trawangan. Setelah meminjam alat-alat snorkling, sayapun menuju pantai. Mencelupkan kepala ke dalam laut untuk melihat keindahan di sana. Saya berharap anda tidak akan tertipu oleh foto yang saya tampilkan ini, karena sesungguhnya saya tidak bisa berenang. Hahaha..

Keesokan harinya, saya menyeberang kembali dari Gili Trawangan ke Lombok. Rencananya, saya akan jelajah air terjun, kerajinan tangan, pantai, dan desa adat.

Kita semua tahu, bahwa Lombok juga mewarisi kerajinan tenun, maka saya sengaja mampir ke sebuah toko tenun (kampung tenun) dimana di halaman depannya terdapat pos-pos pengrajin tenun yang sedang bekerja. Saya sempat menjajal menenun, ternyata rumit juga. Perlu ketelatenan dan kesabaran penuh untuk menenun. Dan meskipun saya sangat menghargai hasil kerja keras penenun itu, namun saya tidak membeli hasil karya tenun itu. Kantong saya tidak sanggup. Saya hanya sanggup membeli beberapa kerajinan keramik. Mohon dimaklumiiiiii…

 

Dari kampung tenun dan keramik, saya melanjutkan perjalanan ke 2 dusun tradisional, yaitu Sade dan Sigenter. Dusun yang pertama saya datangi adalah Dusun Sade. Di dusun ini, konon pemerintah memang sengaja memfilter atau bahkan sengaja menghalangi masuknya budaya dan tehnologi canggih. Bahkan, mereka masih menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa sehari-hari mereka. Hanya 1-2 orang (terutama yang memandu saya) yang bisa memahami Bahasa Indonesia. Tapi meskipun saya tidak bisa berkomunikasi dengan mereka memakai bahasa adat mereka, saya tetap merasakan bahwa saya disambut dengan ramah oleh warga di sini. Bahkan ada yang memeluk Penghasilan utama warga dusun ini adalah bertani dan menenun. Saya sempat membeli beberapa kain tenun yang dijual di dalam wilayah dusun tradisional ini.

 

Dusun tradisional berikutnya adalah Dusun Sigenter. Berbeda dengan di Sade, di sini saya merasa agak dicuekin. Tidak ada sambutan hangat dari warga di sini. Tapi memang, saat itu sedang ada persiapan pernikahan dari salah satu warga, sehingga hampir seluruh warga (baik yang kecil maupun yang dewasa) berkumpul di satu tempat untuk menyiapkan masakan/menu pesta. Beberapa dari mereka melemparkan senyum, dan sayapun memblasa senyum mereka. Saya tidak ingin berlama-lama di dusun ini, karena tidak hendak menggangu kesibukan mereka. Akhirnya, setelah berpose sejenak, sayapun pamit ke beberapa warga untuk melanjutkan perjalanan.

 

Laut adalah tujuan saya berikutnya, yaitu Tanjung Aan dan Pantai Kuta Lombok. Tidak banyak aktivitas yang saya lakukan di sini. Apalagi di Pantai Kuta. Saat itu, air laut di Pantai Kuta sedang sedikit atau berkurang banyak sekali, sehingga pemandangan di sini tidak begitu menarik perhatian saya. Saya hanya mampir untuk membuat tulisan nama saya di pasir pantai itu. Sedangkan di Tanjung Aan, saya agak lama berada di sini. Bahkan saya sempat berkenalan dengan 2 orang yang sedang memancing ikan. Merekapun sempat menawarkan diri untuk mengambil foto saya, dimana tawaran itu tanpa menunggu 2x langsung saya terima dengan tangan terbuka. Setelah meneguk es kelapa muda seharga Rp 5.000,- sayapun segera pergi dari situ melanjutkan perjalanan.

 

Perjalanan berikutnya berlanjut ke wisata air terjun. Tujuan saya adalah air terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep. Kedua air terjuan ini berada di kawasan Gunung Rinjani. Sesampai di kawasan parkiran air terjun, ada beberapa orang yang menawarkan diri untuk menjadi pemandu dengan biaya Rp 75.000,- Setelah saya pikir-pikir, karena lokasi menuju kesana sangat luas dan tampak masih liar, maka daripada saya tersesat lebih baik saya menyewa jasa mereka. Untuk sampai ke air terjun Sendang Gila, kita harus menuruni tangga (undak-undakan) yang lumayan panjang. Butuh sekitar ½ – 1 jam untuk sampai ke sana. Yang terpikir waktu itu, waduh saya masih punya tenaga gak ya untuk kembali dan menaiki tangga-tangga yang berliku-liku itu. Kalau turun sih masih mendingan, tapi kalau naik? Aduh makjaaann…

 

Setelah berpose sejenak di Sendang Gila, saya melanjutkan perjalanan ke air terjun Tiu Kelep. Perjalanan ini lebih berat dan terjal. Bahkan, sepasang warga Swedia yang juga kebetulan akan ke sana, sepatunya sampai jebol. Gimana gak jebol, karena untuk sampai ke Tiu Kelep, kita harus menyeberang sungai, dimana di dalam sungai itu banyak batu-batuan yang lumayan tajam. Selain menyeberang sungai, kita juga perlu melewati jembatan yang di tengahnya banyak lobang-lobang yang lebar. Belum lagi, saya harus melewati hutan segala. Mana pas hujan deras pula.

 

Tapi segala ‘pengorbanan’ berlelah-lelah seperti itu, seakan hilang dan terbayarkan, saat sampai di air terjun Tiu Kelep. Sungguh luar biasa pemandangan yang ada di sana. Saking ternganga-nganganya, seolah-olah saya berat untuk beranjak pulang dari sana.

Tanpa terasa hari sudah beranjak sore, sebentar lagi menjelang gelap. Saya harus menaiki tangga-tangga yang panjang dan mendaki tadi untuk keluar dari kawasan air terjun ini, dan sebelumnya saya harus melewati lorong air yang panjang dan gelap. Sempat kuatir, nanti kalau di tengah perjalanan di lorong itu terjadi sesuatu gimana ya? Ah, tapi segera saya tepis keraguan itu. Dan alhamdulillah, saya berhasil keluar dari lorong itu dengan selamat.

 

Kunjungan air terjun ini mengakhiri perjalanan wisata saya di Lombok, Mataram. Saya sempat ke Mal Mataram untuk membeli beberapa makanan khas daerah sebagai oleh-olah. Juga beberapa kaos oblong. Juga beberapa asesoris. Juga.. (fade out. capek. namun puas dan bahagia).

2 Comments - Add Comment

Reply