Kutemukan Berjuta Keajaiban Di Derawan

Kalau kita bicara tentang Derawan, pasti tak kan lepas dari nama-nama: Maratua, Kakaban dan Sangalaki. Derawan itu sendiri. Karena meskipun lokasinya berbeda-beda dan berjauhan, tempat-tempat tersebut seolah sudah satu paket dengan Derawan itu sendiri.

Kabar tentang epic-nya Derawan ini, rasanya telah berhasil menembus dinding-dinding penghalang. Sehingga, hati kecil ini seakan meronta-ronta mengajak dan memaksa saya untuk menyambangi pulau itu. Tapi aduh, saya selalu kesulitan mendapatkan teman seperjalanan, entah yang karena beralasan sibuk dan tak punya jatah cuti lagi atau karena alasan mahal. Padahal, saya belum pernah sekalipun pergi sendirian. Minimal ada satu-dua teman yang saya kenal baik, atau saya punya teman baik di tempat yang akan saya tuju. Makanya, lama sekali Derawan ini belum kesampaian.

Keajaiban #1 Derawan Tinggal Selemparan Baju

Kebetulan, waktu itu saya harus mengantar ibu ke Balikpapan karena ada urusan keluarga. Berada di tengah keluarga inti dan keluarga besar jelas berbeda. Berada di tengah keluarga besar, biasanya banyak pertanyaan bersifat pribadi yang mengemuka, sehingga seringkali membuat saya tidak nyaman. Belum kalau sudah mulai pada komentar ini-itu. Waduh, kalau kelamaan di sini, bisa-bisa kesehatan mental terganggu nih… Lalu saya mulai memutar otak, mencari cara agar tidak terlalu lama berada di tengah-tengah mereka. Lho, kenapa tak ke Derawan saja? Balikpapan-Derawan kan istilahnya tinggal selemparan baju? Lalu timbulah semangat saya untuk mencari tiket penerbangan ke Tarakan. Barangkali, inilah jalan yang memang Tuhan tunjukkan buat saya. Hihihi… maksa nih

Keindahan Derawan 




Keajaiban #2 Hampir Batal ke Derawan

Tak dinyana pesawat berlambang singa yang akan mengantar saya ke Tarakan ternyata delay 3 jam lebih! 2 kali pula delay! Seharusnya saya sampai di lokasin meeting point jam 11 tapi kalau delay 3 jam sampai sana jam 2 siang. Saya mulai panik! Berkali-kali ditelpon oleh biro wisata setempat dan ditanyai kapan sampai, karena teman-teman yang lain sudah kumpul siap berangkat ke Derawan. Rasanya saya mau nangis menahan kesal, meski akhirnya memutuskan untuk pasrah dan menyatakan, kalau memang saya tak bisa ditunggu lebih baik ditinggal. Untunglah, mas dari biro itu bilang bersedia menunggu sampai jam 2 siang, kalau lewat dari itu akan ditinggal, karena kesepakatan kumpul di meeting point memang jam 12 siang. Beruntunglah, saya sampai di Bandara Tarakan tepat jam 2 siang. Di pintu keluar, saya melihat wajah Mas Nanang dari biro wisata yang menjemput saya untuk mengantarkan ke pelabuhan Tarakan.

Pelabuhan Tarakan Kaltim

Keajaiban #3 Berkenalan Dengan Teman Lama dan Teman Baru

Sampai di pelabuhan, saya menjumpai wajah-wajah yang kurang ramah. Mungkin karena saya telat banget, dan mereka terpaksa harus menunggu lama. Bahkan teman sekamar saya yang dari Jakarta, menunjukkan sikap cuek saat saya sapa. Wah, ini nih yang saya kuatirkan kalau pergi ke suatu tempat tanpa bareng teman yang belum kita kenal sebelumnya. Hati sayapun jadi ciut. Mana nanti sekamar pula. Bisa bertahan gak ya? Tapi, ya sudahlah, kalau memang nantinya anaknya gak asyik, anggap saja angin lalu. Begitu tekad saya dalam hati.

Hari sudah hampir gelap ketika kami sampai di Derawan, karena memang jarak antara Tarakan sampai ke Derawan itu sekitar 4 jam. Begitu sampai kamar, saya mulai bebersih diri dan siap leyeh-leyeh, sambil membuka pembicaraan sedikit-dikit. Astaganagaaaaa! Ternyata teman sekamar saya itu dulunya kuliah di universitas yang sama dengan saya dan pernah siaran di radio yang sama pula! Bahkan, teman-teman dia, teman-teman saya juga! Hahahahaha… what a small world!

Sejak saat itu, kamipun menjadi akrab. Ada satu teman lagi dari Malaysia yang kemudian menjadi akrab dengan kami. Jadi, kemana-mana kami selalu bertiga. Makan bertiga, jalan-jalan cari souvenir bertiga, foto-foto bertiga, dan sebagainya. Ada satu hal yang saya pelajari ketika saya harus jalan sendiri. Ternyata, dengan sendiri, kita menjadi lebih terbuka dan mudah akrab dengan yang lain. Sementara kalau saya jalan dengan kelompok atau teman yang sudah kenal sebelumnya, saya cenderung lebih ekslusif. Ngobrol hanya dengan teman-teman satu genk saja. Kemana-mana juga satu genk saja.

Saya, Onie, Natalie

Keajaiban #4 Pulau Kakaban

Pagi itu hujan turun rintik-rintik, setelah semalaman hujan turun dengan lebat disertai angin kencang. Seharusnya, setelah sarapan kami langsung ke Kakaban. Tapi mengingat permukaan air naik, maka Nanang dari biro wisata meminta kita bersabar sampai hujan berhenti dan air tidak terlalu tinggi. Alhasil, kami berangkat dari Derawan ke Kakaban sekitar jam 10 pagi. Selama di perjalanan, saya tak henti-henti memanjatkan doa-doa yang saya ingat. Ngeri mengingat gelombang ombak yang tinggi dan turun dengan tajam. Pantat sampai terasa perih karena harus beradu dengan tempat duduk di kapal.

Perjuangan panjang yang melelahkan dan sempat bikin dag-dig-dug, akhirnya berhenti di depan dermaga Kakaban. Dari situ, saya bisa melihat jajaran karang-karang yang indah serta ikan-ikan kecil yang berlarian. Setelah melewati gerbang ucapan selamat datang, saya dibuat takjub dengan pohon-pohon dan tanaman lain yang bisa tumbuh di atas atau di sela-sela karang. Ajaib!

Di pulau ini, terdapat sebuah danau air payau. Airnya masih asin tapi tidak seasin air di laut. Di danau inilah hidup beribu-ribu ubur-ubur ubur-ubur jinak (jellyfish) yang fenomenal itu, karena di dunia ini hanya ada di Danau Kakaban. Untuk sampai ke danau ini, saya harus melewati jembatan kayu atau undak-undakan yang menanjak. Selain menanjak, jaraknya juga lumayan jauh. Beberapa pengunjung lain yang sudah agak tua, tampak berkali-kali perlu berisitirahat.

Kakaban

Sesampainya di danau, saya segera menceburkan diri untuk menyapa dan bersenda-gurau dengan si ubur-ubur yang unyu-unyu. Banyak sekali jumlahnya. Aiihhh, gemeeesssss!! Semua ubur-ubur ini termasuk mahluk langka di dunia, jadi sebaiknya kita memperhatikan beberapa hal demi kelangsungan hidup mereka.

Pertama, jangan memakai fin (alat selam katak) karena jika kesenggol bisa membunuh mereka.

Kedua, usahakan sesedikit mungkin kaki kita menyenggol atau menendang mereka, karena bisa membunuh mereka juga.

Ketiga, usahakan ke danau ini lebih dulu sebelum snorkeling atau menyelam di pantai/lautnya, karena dikuatirkan secara tak sengaja kita membawa mahluk dari laut yang akan memangsa ubur-ubur yang sudah terbiasa hidup nyaman di danau.

Keempat, jangan mengangkat ubur-ubur sampai ke permukaan air, karena ini juga akan membunuh mereka juga.

Setelah puas bersilaturahmi dengan para ubur-ubur ini, saya segera bersiap menikmati keindahan bawah air yang ada di seputaran Pulau Kakaban. Pinggiran pantai itu dipenuhi karang yang tajam-tajam, sampai luka-luka dan lecet-lecet kaki saya melewatinya. Luka-luka itu terobati, tatkala saya berhasil menikmati keindahan bawah lautnya. Ya Tuhan, indah banget! Hanya, agak seram juga ketika saya harus melewati palung atau semacam dinding laut berwarna biru yang seolah tak ada ujungnya. Curam banget! Dan tetap, indah banget!

Keindahan Dalam Laut Kakaban

Keajaiban #5 Pulau Sangalaki

Sebelum kapal melabuhkan jangkar, saya sudah melompat tak sabar untuk segera menginjakkan kaki di pulau ini. Lalu saya dan dua sahabat baru saya berlarian di sepanjang pantai yang pasirnya putih dan ditambah dengan langit yang biru. Saya tak henti-henti mengagumi keajaiban ini. Sungguh suatu mahakarya dari Sang Pencipta!

Pulau Sangalaki yang tak berpenghuni, memiliki resort yang sangat unik dan asri. Sayang waktu kesana, sedang tak ada seorangpun yang menyewa resort itu. Mungkin memang sedang bukan musim liburan. Sehingga ketika saya datang kesini, seolah-olah kamilah pemilik pulau ini. Tak heran, kalau beberapa teman malah bermain volley, sementara yang lainnya sibuk mengelilingi pulau sambil berharap bisa bertemu penyu.

Selain memiliki keindahan pantai yang menakjubkan, di pulau ini punya dua keajaiban lainnya. Pertama, karena kawasan ini merupakan daerah konservasi penangkaran penyu, maka hampir setiap hari ada penyu yang bertelur. Lalu kedua, keberadaan ikan Pari Manta (Manta Ray) yang suka berenang-renang di sepanjang pantai pulau ini. Saya penasaran ingin membuktikan seberapa besar ikan yang katanya tidak galak itu. Tapi sampai lelah mata ini menyapu dan mengawasi permukaan air laut, ikan pari itu tak juga menampakkan batang hidungnya. Bahkan saya juga sempat mengerahkan kekuatan pikiran, ‘datanglah kau wahai ikan pari… datanglah kau wahai ikan pari…’ tapi toh tetap saja nihil. Ya sudahlah, mungkin ini pertanda bahwa suatu saat saya harus kembali lagi ke sini. Hihihi… Maunya!

Sangalaki

Keajaiban #6 Pulau Maratua

Sebenarnya pulau Maratua juga memiliki keindahan yang kurang lebih sama dengan pulau-pulau sebelahnya (Derawan, Sangalaki, Kakaban, dll. Pantai yang indah, air yang biru jernih, terumbu karang yang keren, serta ikan-ikan yang berwarna-warni. Sayang sekali, karena semalaman hujan deras, saat saya menginjakkan kaki di pulau ini dan mencoba menyelami keindahan bawah lautnya, maka harapan saya tak terkabul. Airnya agak gelap, sehingga saya kesulitan melihat terumbu karang dan ikan-ikan yang menghuni lokasi itu. Selain juga ombak yang agak keras, sehingga saya agak takut berenang ke tengah lautan dan menjauh dari kapal. Ya sudah, setelah saya berhasil mengabadikan keindahan resort yang ada di pulau ini, kamipun bersepakat untuk segera meninggalkan Pulau Maratua.

Maratua

Keajaiban #7 Pulau Gusung

Pulau ini tidak terlalu jauh dari Pulau Derawan. Posisinya ada di tengah-tengah laut dan munculnya hanya pada saat air surut. Pulaunya tidak terlalu luas dan tak ada satupun pohon yang tumbuh di sini. Benar-benar sepanjang mata melihat yang ada hanyalah pasir belaka. Tapi jangan salah! Saya sangat mengagumi lekukan-lekukan pasirnya yang indah. Di sekitar pantainya, kita bisa melihat karang-karang yang mengagumkan.

Lalu aktivitas apa yang dilakukan di pulau ini? Macam-macam. Membiarkan kaki merasakan lembutnya pasir putih, mencari kulit kerang yang bentuknya seperti kancing, duduk-duduk di tepi pantai sambil bergalau-ria, foto-foto sudah pasti, dan sesuai nama pulaunya gusung/gosong kita bisa menggosongkan kulit. Hehehe…

Gusung

Keajaiban #8 Derawan

Pulau Derawan merupakan base camp kami atau tempat saya dan kawan-kawan menginap. Kamar saya tepat berada di atas laut, sehingga saya bisa memandang keindahan laut beserta kapal-kapal yang ditambatkan. Bahkan dari kamar, saya juga bisa menyaksikan beberapa penyu besar dan ikan-ikan yang berseliweran. Tiap kali memandang ke bawah, bawaannya pengin nyemplung. Hahaha…

Saya juga sempat jalan-jalan mengelilingi pulau ini. Di sepanjang jalan, banyak warga yang menjual berbagai kebutuhan pelancong, dari mulai: warung makan, toko kelontong sampai ke penjual asesoris, baju pantai, baju renang, dll.

Tengah malam pas bulan purnama, saya menyempatkan diri duduk-duduk di tepi pantai. Niatnya, saya ingin melihat penyu bertelur. Ternyata saya tak sendiri, panyak wisatawan lain yang juga ingin melihat penyu bertelur. Kebetulan, saat itu ada satu penyu yang naik ke pantai untuk bertelur. Yang bikin saya kesal, mereka ketawa cekikikan sambil berteriak-teriak. Tak tahukah mereka kalau penyu butuh kesunyian dan ketenangan untuk bertelur? Dan tambah kesal, ketika mereka menyalakan lampu untuk mengambil foto yang tengah mempertaruhkan nyawanya untuk bertelur? Lampu blitz dari kamera menyala dari arah mana-mana. Bahkan sebagian besar ingin memiliki foto sambil memegang penyu yang sedang berdiam diri seolah bertapa.

Penyu Bertelur

Saya hanya membayangkan, kalau saya atau keluarga saya sedang melahirkan, tentu tak ingin ada orang lain yang seenak udel memegang-megang sambil menyalakan lampu kamera. Untuk itu, sayapun mengurungkan niat untuk mengambil foto si penyu, kecuali foto saat banyak orang ramai-ramai mengerumuninya. Kata Nanang dari biro wisata, dulu di Derawan ini, hampir tiap hari selalu ada penyu yang naik ke pantai untuk bertelur. Tapi sekarang sudah sangat jarang sekali. Tampaknya ketidaknyamanan mereka saat bertelur, membuat mereka kapok merambah pulau Derawan. Kalaupun ada penyu yang akhirnya bertelur di sini, itu berarti penyu yang belum punya pengalaman di sini atau mereka penyu-penyu yang masih muda. Sedih ya?

4 Comments - Add Comment

Reply