LASEM 01B

Hari Raya Imlek tahun ini jatuh pada tanggal 19 Februari 2015. Dalam rangka ikut meramaikan hari besar ini, saya akan mengusung tulisan tentang perjalanan warga Tionghoa di tanah Lasem sampai akhirnya membaur bersama warga Pribumi.

 

 

Lasem merupakan salah satu kota kecamatan yang dalam administrasi masuk dalam wilayah kabupaten Rembang. Lokasinya di sepanjang jalur pantura, sekitar 110 km dari Semarang.

 

Dari Semarang, saya dan teman saya, Lila, berkendara roda empat menuju Lasem. Sebelum sampai Lasem, kami sempat mampir-mampir dulu ke beberapa lokasi dimana lokasi terakhir yaitu Benteng Portugis di Jepara. Dari sana, saya melihat papan penunjuk arah ke Tayu, Pati. Saya ikuti saja penunjuk jalan itu. Dari pengalaman ini terbukti, bahwa perjalanan dari situ menuju ke Lasem itu, ibaratnya sebuah pengalaman yang menguras andrenalin. Bagaimana tidak, hampir di sepanjang perjalanan yang tampak hanyalah hutan-hutan, gunung-gunung kapur, dan jalan yang rusak dan berliku.

 



“Kalau ini pagi atau siang hari, asyik ya, Tin. Kita bisa turun sebentar sambil selfi-selfian,” kata Lila di tengah-tengah ketegangan saya menyetir.

“Iya, tapi ini udah deket maghrib. Mana hujan deras pula. Kita harus cepat-cepat keluar dari area hutan ini.”

“Iya sih. Apalagi di jalan sudah gak ada orang, kecuali kita. Serem ih.”

 

 

Setelah berjalan sekian lama dalam kondisi yang seperti itu, akhirnya kami berhasil juga menemukan jalan raya. Entah jalan apa. Berkali-kali saya mencoba mengabaikan saran dari mas-mas dan mbak-mbak GPS dari HP Lila yang berteriak “turn left, turn right.” Tapi berhubung tidak sampai-sampai juga perjalanan menuju ke Lasem, akhirnya saya tergoda mencoba mengikuti sarannya untuk berbelok ke kiri. Kebetulan memang ada jalan yang menurut perkiraan saya mobil bisa masuk. Mencoba sekali saja, tapi hasilnya?! Alamaaaak! Kami malah masuk tambak garam/bandeng ternyata!! Kasep. Mobil tak bisa memutar balik. Akhirnya, saya minta Lila turun untuk memberi aba-aba mundur agar tidak terjebak masuk ke dalam empang. Selain itu, yang ngeri adalah jalan di belakang itu jalur pantura dimana bis-bis malam dan truk tronton melaju cepat. Untungnya malam hari, sehingga jumlah yang lewat tidak terlalu banyak.

 

“Starting from now, Lil, jangan pernah lagi denger saran dari mas-mas dan mbak-mbak itu. Bunuh mereka kalau perlu. Menyesatkan!”

Saya mengomel. Lila lantas mematikan HP. Mungkin dia sudah lelah dan ngantuk, tapi pastinya tak berani memejamkan mata. Karena saya sudah wanti-wanti, kalau dia sampai tidur, mobil akan saya pinggirkan dan saya akan ikutan tidur. 😀 😀 😀

 

Sembari meneruskan perjalanan, saya mencoba membayangkan bagaimana para warga Tionghoa itu bisa menempuh perjalanan dari negeri asal mereka sampai ke Lasem. Apakah diantara mereka ada yang sempat kesasar seperti saya? Hihihi…

 




 

 

 

PECINAN LASEM RIWAYATMU KINI

LASEM 02B

Pecinan merupakan sebutan bagi kawasan pemukiman masyarakat Tionghoa (China) dengan ciri khas budaya dan tradisi dari negara asal mereka. Bangsa Tionghoa yang datang ke Lasem berasal dari berbagai suku. Namun, jika dilihat dari tata cara ibadah dan dewa-dewi yang dimuliakan di klenteng-klenteng Lasem, maka diperkirakan sebagaian besar mereka berasal Zhangzhou, Fujian (Hokkian).

 

Lalu, sejak kapan bangsa Tionghoa datang ke Lasem dan apa saja alasannya?

 

 

Bangsa Tionghoa mulai menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan di pesisir Indonesia sejak awal abad V Masehi. Kerajaan-kerajaan yang berada di pesisir Indonesia, antara lain: Jakarta, Banten, Tuban, Lasem, dan lain-lain. Lokasi Lasem memang cukup strategis untuk dijadikan sebagai kota pelabuhan dan perdagangan.

 

Pada tahun 1351, Lasem diperintah oleh Bhre Lasem (Dewi Indu) di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Pada saat itu, Radjasa Wardhana, suami Bhre Lasem, adalah seorang Dampo Awang (petinggi angkatan laut) sekaligus juga seorang saudagar besar yang menjalin relasi dagang dengan bangsa Tionghoa.

 

 

Sekitar tahun 1382, pemerintahan Lasem beralih ke putra Bhre Lasem yang bernama Badra Wardhana. Pada periode itu, seorang saudagar sekaligus pujangga asal Campa, Bi Nang Un (Binangun), berniat menetap di Lasem untuk menyebarkan agama Islam. Ia datang bersama rombongan Laksamana Cheng Ho yang bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan Hayam Wuruk, penguasa Kerajaan Majapahit. Dari tujuh kali pelayarannya ke Indonesia, Cheng Ho melakukan enam kali pelayaran ke Jawa.

 

 

Pada tahun 1679, Lasem melawan serangan VOC yang ingin mendapatkan monopoli perdagangan dipesisir pantai utara Jawa. Terjadilan peperangan yang panjang dan berlarut, dimana peperangan itu menimbulkan kebencian warga Lasem (warga Pribumi maupun Tionghoa telah membaur) terhadap Belanda maupun Mataram sebagai penguasa boneka Belanda.

 

 

Pada tahun 1740 , akibat pembantaian orang Tionghoa di Batavia, kurang lebih 1.000 orang Tionghoa Batavia lari dan mengungsi di Lasem.

 

 

Pada tahun 1741, akibat kerusuhan yang menyebabkan jatuhnya Kesultanan Mataram, banyak orang Tionghoa mengungsi ke Lasem. Mereka tidak ragu mengungsi ke Lasem, melihat adipatinya Oey Ing Kiat (keturunan Bi Nang Un) seorang Tionghoa Islam yang sangat mengayomi.

 

LASEM 03B

 

 

 

Dari catatan sejarah tadi, terjawab sudah beberapa alasan kenapa warga Tionghoa datang dan kemudian menetap di kota Lasem. Kehadiran mereka, ikut membentuk karakteristik kota tersebut. Menyusuri kawasan Pecinan Lasem, nampak sekali pengaruh budaya Tionghoa yang mendominasi pada banyak sendi kehidupan kota Lasem. Di sebuah tikungan di Pecinan Lasem, saya melihat bangunan-bangunan tua berusia ratusan tahun yang kebanyakan bernuansa arsitektur khas Tionghoa, meski beberapa ada juga yang bernuansa Eropa klasik. Tak salah jika orang Perancis menyebut Lasem sebagai ‘Le Petit Chinois’ atau Tiongkok Kecil. Atau ada juga yang menyebutnya sebagai ‘The Little Beijing Old Town.’

 

Tidak semua bangunan tua di Pecinan Lasem masih terawat baik. Diantaranya bahkan hanya tersisa sedikit arsitektur asli, karena pelebaran jalan telah membabat habis masa lampau dan menggantinya dengan ruko-ruko yang memberi penampilan identik sama dengan semua kota di Indonesia.

 

LASEM 04B

 

 

 

Sementara beberapa rumah tua yang masih asli, catnya sudah mengelupas disana sini. Bahkan beberapa bangunan sudah ambruk. Seperti yang saya lihat saat saya bertamu ke rumah Opa Kajarni (Lo Khing Gwan). Ia tinggal bersama istri dan seorang asisten rumah tangga yang telah puluhan tahun menemaninya.

 

Memasuki bangunan tua peninggalan orang tua Opa Kajarni, juga ngobrol banyak hal dengan opa, saya menemukan kenyataan pahit. Mereka tak lagi bisa mengikuti perayaan dan ritual (termasuk Imlek) dari leluhurnya karena terbentur kondisi ekonomi. Memasakpun, mereka masih menggunakan kayu bakar. Bahkan ketika saya memasuki ruang belakang, terlihat bangunan sumur tua serta ruang dapur yang sudah rubuh. Tak ada biaya untuk renovasi.

 

LASEM 05B

Seharusnya untuk bangunan berusia ratusan tahun yang belum sekalipun dipugar, rumah itu layak mendapat perhatian dari pemerintah dan para pemerhati budaya-purbakala. Sungguh sayang kalau bangunan itu sampai rubuh sia-sia. Apalagi, saya juga menemukan beberapa catatan dengan tulisan Mandarin yang tampaknya perlu digali lebih dalam. Ah, sayang, saya tak paham tulisan Mandarin.

 

 

 

 

 

 

KLENTENG DI PECINAN LASEM

 

 

LASEM 06B

 

 

Salah satu elemen penting dalam pembentukan Pecinan adalah klenteng. Keberadaan klenteng merupakan pertanda adanya komunitas masyarakat Tionghoa. Penyebutan nama klenteng sebenarnya hanya terjadi di Indonesia. Entah kenapa bisa disebut demikian. Sebagian peneliti menyebutkan bahwa, sebutan klenteng berasal dari bunyi genta pelengkap ibadah yang berbunyi “klenteng-klenteng.” Pada mulanya istilah aseli untuk menyebutkan klenteng adalah kuil. Sedangkan dalam Bahasa Mandarin seringkali klenteng disebut dengan Bio atau Miao.

Setiap klenteng memiliki keunikan masing-masing, tidak ada yang persis sama. Dan meskipun memiliki tujuan yang sama-sama baik, setiap unsur yang ada di sebuah klenteng merupakan simbol dan memiliki makna filosofi tertentu. Misalnya, meskipun arsitektur atap klenteng merupakan salah satu komponen yang menjadi ciri khas, namun bentuk atap bangunan klenteng yang satu dengan yang lainnya tidak selalu sama. Ada kelenteng yang atapnya dipasang ornament naga, ada yang tidak. Ada klenteng yang atapnya dipasang dua naga yang saling berhadapan, ada juga dua naga yang salung membelakangi. Ada naga yang warnanya hijau, ada pula yang wananya kuning keemasan. Lalu, bagaimana dengan klenteng-klenteng nyang ada di Lasem? Mari kita lihat perbedaan antara Klenteng Cu An Kiong dengan Ghie Yong Bio.

 

 

 

 

 

 

 

Klenteng Cu An Kiong

 

 

 

LASEM 07B

Klenteng Cu An Kiong berlokasi di jalan Dasun dan merupakan klenteng terbesar di antara 3 klenteng lainnya di Lasem. Memang masih belum ada penelitian resmi sejak kapan klenteng ini didirikan, namun selembar peta buatan Belanda di tahun 1500 sudah memasukkan klenteng ini ke dalam peta itu, sehingga diperkirakan klenteng Cu An Kiong sudah didirikan sekitar tahun 1450. Bisa jadi juga usianya lebih tua dari itu. Tak heran, jika beberapa pihak menyebut klenteng berarsirektur indah dan meriah ini merupakan klenteng tertua di Jawa.

Saat memasuki halaman parkiran Klenteng Cu An Kiong, saya melihat patung dua penjaga di depan gerbang pintu masuk. Kedua penjaga itu, U Te Kiong dan Cen Siok Po, berdiri gagah seolah menyiratkan keteguhan mereka untuk menjaga klenteng dari gangguan energi negatif. Dari jauh kita juga bisa melihat atap genting yang berujung runcing dengan ornament dua naga yang meski berhadapan tapi saling berjauhan di sisi kiri dan kanan. Di antara dua naga itu, terdapat ornamen hewan unicorn (qilin). Hewan mistik ini sering digambarkan memiliki kepala naga, berbadan rusa, dan ekor mirip harimau. Bagi warga Tionghoa, hewan ini melambangkan nasib baik, kebesaran hati, panjang umur serta kebijaksanaan.

LASEM 08B

Selain itu, pintu gerbang klenteng juga dilengkapi dengan patung dua singa berwarna kuning dan dua naga berwarna hijau yang saling berhadapan sambil mengapit bola api. Di tembok pintu gerbang, juga terukir beberapa relief hewan seperti gajah dan kuda.

Dari beragam ornamen yang disematkan di pintu gerbang ini, kira-kira kita bisa membaca simbol-simbol yang ingin disampaikan. Misalnya, warna kuning melambangkan keseimbangan, warna hijau melambangkan pertumbuhan dan perkembangan. Sedangkan ornament singa melambangkan kejujuran hati, gajah melambangkan kebijaksanaan, sedangkan dua ekor naga yang sedang bermain bola api, melambangkan pembawa pesan dari langit ke bumi dan pembawa hujan bagi para petani.

Semakin memasuki ruang dalam bangunan klenteng Cu An Kiong, semakin beragam warna, simbol-simbol dan ornamen yang disematkan. Ada yang dipasang d meja persembahan, di pintu-pintu, di balok atau pilar penyangga bangunan. Yang paling unik menurut saya, di dekat pintu ruang utama terdapat lukisan yang terbagi-bagi dalam kotak panel semacam storyboard.

LASEM 09B

Lukisan itu berjumlah sekitar limapuluh kotak panel dan setiap kotak berisi satu adegan. Lukisan-lukisan yang menghiasi dinding hingga ke langit-langit itu mengisahkan tentang negara yang bernama Fengshen Yanyi (The Investiture of The Gods). Sayang, tak seorangpun mengetahui apa makna dari masing-masing adegan di lukisan itu.

 

 

 

Klenteng Ghie Yong Bio

LASEM 10B

Untuk masuk ke klenteng Ghie Yong Bio yang berlokasi di jalan Babagan ini, terlebih dahulu kita akan melewati gapura besar bertuliskan ‘Kampung Batik Tulis Lasem.’ Batik dari Lasem sering disebut Laseman. Tak bisa dipungkiri Lasem memang merupakan sentra batik tulis yang unik. Dari segi warna, merah darah ayam, merupakan warna khas Lasem yang tidak bisa ditiru daerah lain. Dari segi motif, berawal dari tangan dan talenta seorang keturunan Tionghoa. Melalui tangannya, ia memadukan budaya Tionghoa dengan Jawa. Hal itu ditunjukkan lewat motif naga, bunga seruni, yang dipadu dengan motif parang dan kawung dari Solo atau Yogyakarta. Saya sempat melihat-lihat koleksi batik ini di sebuah rumah yang berlokasi dekat jalan buntu. Bukan toko-toko yang ada di lokasi sepanjang jalan, melainkan agak tersembunyi. Koleksi batiknya keren-keren, harga terjangkau pula.

Puas melihat koleksi batik tulis, saya segera melangkahkan kaki ke Klenteng Ghie Yong Bio. Di luar pagar sudah terparkir sebuah bus pariwisata, entah dari rombongan mana.

LASEM 11B

Memasuki pagar, terlihat bangunan klenteng yang berukuran kecil. Di bagian atapnya, tak terlihat ornamen dua naga seperti yang terdapat di Klenteng Cu An Kiong. Atapnya bersih dari ornamen, hanya di ujung-ujung lancipnya didominasi warna merah dan kuning. Di bangunan gapura masuk klenteng, ornamennya juga tidak terlalu meriah. Hanya ada dua singa dicat warna hijau. Lalu di bagian atas gapura, disematkan patung sepasang dewa yang ukurannya kecil, di sebelah kanan dan kiri. Di dalam ruangan, saya juga melihat lukisan dinding yang mirip saya temui di Klenteng Cu An Kiong. Tapi tampak lebih kusam.

Klenteng Ghie Yong Bio ini, sesungguhnya sarat dengan nilai sejarah. Meskipun dewa utamanya Hok Tik Tjeng Sien (Dewa Bumi), namun altar utamanya diisi kimsin (patung dewa) Oey Ing Kiat dan Tan Kee Wie. Sementara, di ruangan sebelah kanan ruang utama, terdapat altar persembahan berisi kimsin Raden Panji Margono. Berhubung orang Jawa, Raden Margono dipakaikan baju khas Jawa (beskap dan blangkon), bukan baju kebesaran Tionghoa. Di hadapannya, tertancap beberapa batang hio yang habis dibakar. Pertanda, sampai detik ini masih banyak warga yang mendoakan dan memuliakan Raden Margono. Dan bahkan, setiap perayaan hari besar, kimsin Margono juga disembahyangi bersama kimsin yang lain.

 

 

 

LASEM 12B

Siapakah ketiga tokoh itu, sehingga warga Lasem beramai-ramai sepakat untuk mendirikan Klenteng Ghie Yong Bio di tahun 1780 demi menghormati mereka?

Raden Panji Margono, adalah putra Adipati Lasem, Prabu Tejakusuma V. Ketika ayahnya mengundurkan diri, Margono menolak untuk menggantikan. Dia lebih memilih menjadi orang biasa. Jabatan itu akhirnya diberikan kepada sahabatnya, Oey Ing Kiat.

Oey Ing Kiat, adalah keturunan dari Bi Nang Un, salah seorang juru mudi armada Laksamana Ceng Ho yang mendarat di Bonang, Lasem. Setelah dilantik oleh Sunan Pakubuwono II, Oey Ing Kiat kemudian bergelar Raden Ngabehi Widyaningrat.

Tan Kee Wie, adalah pengusaha tambak ikan dan ubin yang kaya raya dan tidak pelit kepada fakir miskin. Sekaligus dia juga seorang pendekar dan guru kungfu kota Lasem.

Diawali dari perang Lasen melawan Belanda yang ingin memonopoli perdagangan di tahun 1679, lalu dipicu dengan peristiwa Perang Kuning di tahun 1740 yang terjadi di Batavia, mereka bertiga makin sering bertemu membicarakan dan mengatur strategi bagaimana mengalahkan penjajahan Belanda. Mereka membagi teritori penyerangan. Kelompok penyerang dari laut dipimpin oleh Tan Kee Wie dan kelompok penyerang dari darat dipimpin oleh Raden Panji Margono dan Raden Ngabehi Widyaningrat.

Tan Kee Wie, gugur di tengah laut saat akan menyerang Belanda di Jepara di tahun 1742. Saat melewati selat antara Pulau Mandalika dan Ujungwatu, kapalnya ditembaki meriam Belanda dari dua sisi, sampai kapalnya pecah.

Raden Panji Margono, gugur di Karangpace tahun 1750 saat memimpin pertempuran melawan Belanda dari jarak dekat, satu lawan satu. Lambung kiriya terluka oleh pedang, sehingga sebagian ususnya keluar. Dia sempat dibawa mundur dan dirawat oleh pengawal pribadinya Ki Galiya dan Ki Mursada sampai akhirnya meninggal dunia.

Oey Ing Kiat, gugur di tahun 1750 saat menghadang tentara Belanda dari Jepara menyusup dari laut. Berita tentang meninggalnya Raden Margono, sempat membuat emosinya tak terkendali sehingga hilang kewaspadaan. Dengan membawa pedang pusaka dia nekad menyusup ke baris depan medan perang. Memang, banyak prajurit yang tewas di tangannya, namun sebuah peluru berhasil mengakhiri perjuangannya. Setelah dadanya tertembak, dia ambruk menghembuskan nafas terakhir.

LASEM 13B

Jelaslah kini, kenapa ketiga tokoh pahlawan itu sangat dihormati dan dimuliakan warga Lasem. Tanpa melihat perbedaan latar belakang suku, agama maupun etnis, ketiganya mengangkat senjata untuk melawan penjajahan Belanda di Pantai Timur sepanjang tahun 1742 – 1750.

 

 

 

Jika ada yang mengatakan bepergian atau traveling akan merubah cara kita melihat dan memandang atas sesuatu hal, saya termasuk yang menyepakatinya. Mengunjungi Lasem, khususnya di kawasan Pecinan, membuat saya menyadari beberapa hal. Bahwa, penghancuran candi-candi peninggalan kerajaan Majapahit di Lasem merupakan perintah dari pihak Belanda yang sempat membuat warga setempat marah besar. Dan bahwa, perbedaan latar belakang tidak pernah menghalangi kita untuk meraih suatu tujuan, yaitu kemuliaan sesama manusia. Dan yang paling penting, kota kecil Lasem, sesungguhnya memiliki pesona wisata tersendiri. Jika ditangani lebih baik dan serius, bisa menjadi tujuan destinasi wisata yang potensial.

 

 

 

 

Selamat merayakan Imlek bagi kalian yang merayakan! Gong Xi Fa Cai!

 

 

 

oOo

 

2 comments

  1. Uhuk…. Namaku disebut disinih… #benerinkerahkaos…

    Lhaaa…fotoku kok ga nampang disini? #melas…

    Tu dapat sejarah Lasem sebegitu lengkap dari masnya guide? Kok aku ga denger? Waahhhh…ojo2 privat ki guide e… Ini tidak adillll…. #mlangkrik…

    1. udah lumayan nama doank mah, orang fotoku ndiri jg gak ada hihihi..

      separohnya dr mas guide bareng ma dirimu to.. sebagian nelisik ke gramedia hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*