“Datanglah ke Bima. Kami teman-teman di sini siap mengantar kemanapun.” Begitu iming-iming teman-teman saya yang pecinta alam dari Mbojo, Bima. Sayapun jadi tertarik untuk memenuhi undangan mereka. Apalagi, sejarah mencatat, banyak puteri-puteri Kerajaan Gowa-Tallo, Makassar, yang kemudian menikah dengan petinggi-petinggi Kesultanan Bima. Tali ikatan kekeluargaan dengan Makassar ini juga merupakan salah satu penyebab petinggi-petinggi Bima yang semula memeluk kepercayaan Marafu beralih ke agama Islam.

Kenapa Makassar dulu begitu bersemangat menahlukan Bima dan kemudian menjalin tali persaudaraan dengan Bima? 

Tak perlu heran, karena Bima ini terletak di tengah-tengah jalur maritim yang melintasi Kepulauan Indonesia, sehingga menjadi tempat persinggahan penting dalam jaringan perdagangan dari Maluku ke Malaka. Pelabuhan Bima telah menjadi tempat persinggahan mulai abad abad X.

Saat Portugis menjelajahi Indonesia, Bima telah menjadi pusat perdagangan yang berarti. Dan pada abad XVI, Tome Pires, penulis asal Portugis, menggambarkan Bima sebagai pulau yang memiliki banyak perahu, banyak makanan, daging, ikan dan kayu sepang yang menjadi barang-barang komoditas untuk diperjualbelikan ke Malaka, Banda, Maluku, Jawa, bahkan sampai ke Tiongkok.

Hari Pertama di Bima



Sepanjang perjalanan dari Bandara Salahuddin menuju kota Bima, terhampar pemandangan yang mengagumkan. Bukit-bukit hijau, teluk yang mengelilingi Bima, dan dari kejauhan tampak gundukan-gundukan putih dari ladang pembuatan garam. Beberapa kali teman saya bertegur sapa dengan beberapa orang yang kami temui. Rupanya, karena penduduk Bima masih terhitung sedikit, jadi meski lokasi berjauhan mereka tetap saling mengenal. Tak heran kalau jalanan masih sepi, belum banyak kendaraan lalu lalang.

bima selayang pandang

Karena perut minta diisi, kami membelokkan kendaraan di sebuah rumah makan Rahman yang special menyajikan menu ikan bandeng. Teman-teman memesan bandeng asap, saya memesan bandeng goreng. Dari sana, saya diantar ke Hotel Lambitu. Lokasi hotel ini ada di kawasan Pusat Jajan Kota Bima, pusat kota dekat lapangan (alun-alun) Sera Suba. Lapangan ini biasa digunakan untuk bersantai oleh warga.

Masjid Muhammad Salahuddin

Setelah meletakkan barang bawaan di hotel, teman-teman saya langsung mengajak ke Masjid Sultan Muhammad Salahuddin. Masjid yang atapnya berbentuk kubus ini dibangun pada tahun 1737 dan sudah mengalami beberapa kali renovasi. Setelah hancur akibat pengeboman oleh sekutu pada perang dunia II, maka masjid ini dipugar oleh Sultan Muhammad Salahuddin (Sultan Bima terakhir). Itu sebabnya, sampai sekarang masjid itu dinamai sesuai namanya.




Di sebelah kanan masjid terdapat makam raja-raja dan keluarga sultan yang meninggal, termasuk makam pendiri masjid itu, Sultan Abdul Hamid Syah dan 5 orang sultan lainnya. Pada batu nisannya terlihat pahatan batu yang bermotif bunga khas Bima.

masjid muh salahuddin

Museum Samparaja dan Museum Asi Mbojo

Saya tak berhasil memasuki Museum Samparaja yang konon menyimpan berbagai naskah kuno Kesultanan Bima. Museum tutup. Maklum week-end. Begitu pula ketika sampai di Museum Asi Mbojo. Jelas saya kecewa. Tapi teman saya mengatakan, “Kalembo Ade.” Selama di Bima, setiap kali saya menyampaikan kata-kata yang menyiratkan kekecewaan, kesal, kecewa, sedih, dll, mereka selalu menjawab dengan ‘kalembo ade.’ Ternyata, kata-kata itu sangat luas artinya. Bisa berarti: sabar, harap maklum, tetap semangat, maaf, dan optimis.

Mungkin karena tak ingin melihat kekecewaan saya yang bertubi-tubi, teman-teman saya berusaha mencari juru kunci museum ke rumahnya. Selang beberapa saat merekapun kembali bersama pak juru kunci museum.

Museum Asi Mbojo berkokasi di kawasan alun-alun Sera Suba. Museum ini berdiri di bekas istana tempat kediaman sultan pada jaman dulu. Sementara masyarakat Bima menyebut kediaman sultan dengan sebutan “Asi” dan sebutan mereka sendiri sebagai masyarakat Bima adalah “Mbojo.” Itu sebabnya, museum itu dinamakan Museum Asi Mbojo.

museum samparaja dan museum asi mbojo

Arsitektur bangunan Museum Asi Mbojo ini campuran antara gaya Eropa dengan gaya tradisional Bima. Terdiri dari 2 lantai dengan koleksi yang tidak telalu banyak. Koleksi-koleksi yang dipamerkan di lantai bawah, antara lain: berbagai baju adat, alat transportasi, alat pertanian, alat berburu, senapan dan baju besi yang dibeli dari Portugis untuk melawan Belanda, alat tenun, dll.

Sementara di lantai dua, lebih banyak memamerkan koleksi pribadi para sultan. Dari mulai kamar tidur sultan, kamar tidur puteri, baju pengantin kerajaan, juga kamar tidur Presiden Soekarno jika pas berkunjung ke Bima.

Hari Kedua di Bima

Selama berkunjung ke Bima, saya memang tak punya jadwal sendiri ingin pergi kemana. Teman-temanlah yang menentukan saya mau diajak kemana. Mereka menyebutkan nama lokasinya setelah sampai tempat tujuan, dan saya hanya bisa pasrah. Hari kedua di Bima mereka mengajak jalan-jalan ke 3 lokasi sekaligus.

Makam Dana Traha

Makam ini merupakan kompleks pemakaman raja-raja Bima. Lokasinya di atas sebuah bukit, dimana dari bukit ini kita bisa melihat suasana kota Bima dan keindahan Teluk Bima. Saya dan teman-teman sampai di Makam Dana Traha ini pagi hari. Banyak masyarakat setempat yang datang juga ke lokasi itu, ada yang duduk-duduk santai, ada pula yang berolah raga, bahkan ada pula yang tengah tahlilan karena bertepatan dengan sebulan meninggalnya Bupati BimaFerry Zulkarnain.

makam dana traha

Ada beberapa makam yang ada di tempat ini, tapi makam yang paling unik bentuknya adalah makam Sultan Abdul Kahir I. Makam ini terbuat dari batu yang tebal dan berbentuk setengah lingkaran. Sultan yang pertama kali masuk Islam ini, beristrikan adik istri Kerajaan Goa, Alauddin, yaitu Daeng Si Kontu Putri Karaeng Kasuarang. Sultan Abdul Kahir I sebelum memeluk agama Islam bernama Ruma Ta Ma Bata Wadu atau La Ka’i.

Kampung Tenun Rabadompu

Sudah sejak dari abad XV, Bima mengirimkan beragam barang kebutuhan ke berbagai pulau, dari mulai daging sapi, beras, dan juga kain tenun. Bahkan, kain tenun produksi Bima menjadi dagangan yang laris di beberapa wilayah nusantara. Jadi tak heran, kalau sekarang ini, banyak bertebaran pusat-pusat kerajinan tenun atau dalam bahasa Bima disebut ‘muna ro medi,’ dari mulai pusat tenun Ntobo, Nitu, Lelamase, Kumbe, Rabadompu dan lain-lain. Teman saya mengajak ke Rabadompu, tepatnya di pusat kerajinan tenun Dahlia.

desa tenun rabadompu

Seorang ibu separuh baya menyambut kedatangan kami dengan ramah. Dialah pemilik atau ketua kerajinan tenun Rabadompu. Situasi di pusat tenun saat itu sepi, hanya ada satu perajin saja yang sedang bekerja. Namanya Mbak Khasmir. Saya mendekatinya. Dia menjelaskan bahwa saat itu sedang musim panen padi, sehingga hampir semua perajin tenun lebih memilih turun ke sawah dibanding menenun. Tampaknya menenun belum menjadi profesi pilihan di kampung tenun Rabadimpu. Padahal menurut cerita si mbak, hampir seluruh perempuan di kampung itu ahli menenun. Jangan harap punya suami, kalau tak bisa menenun. Karena jaman dulu, para laki-laki mensyaratkan calon istrinya harus bisa menenun kain. Sembari bercerita, si mbak memperlihatkan hasil tenunan dari warga setempat. Kebanyakan motifnya kotak-kotak dan bunga-bunga, khas adat Bima. Saya hanya membeli 2 kain saja. Pengin beli banyak sih, tapi… isi dompet tak mengijinkan. hihihi…

Desa Panda

Sebelum memasuki wilayah Desa Panda, kita akan menjumpai lapak-lapak pedagang jagung bakar, srikaya, dan makanan atau cemilan aseli Bima, yaitu pangahabunga. Jagung dan srikaya sudah tahu rasanya. Jadi saya berhenti sebentar untuk membeli seplastik pangahabunga. Bahannya dari terigu, berbentuk bunga, digoreng, dan rasanya manis.

Setelah memasuki wilayah Desa Panda, terlihat kesibukan warga setempat yang kebanyakan sedang mengurus kudanya. Ada yang sedang memandikan, ada yang sedang memberi makan, ada pula yang mengajaknya jalan-jalan. Hampir di setiap rumah memiliki kuda dan uniknya kuda itu pendek-pendek atau mini, semacam kuda poni.

Di Desa Panda, terdapat lapangan pacuan kuda yang digunakan untuk pertandingan. Pertandingan-pertandingan besar hanya terjadi di bulan-bulan tertentu, tapi hampir setiap minggu selalu ada latihan. Teman saya berbisik, “Biasanya suka ada taruhan.”

pacuan kuda desa panda

Area lapangan pacuan kuda terhitung cukup luas. Beberapa kuda sedang diikat, sementara yang lain sedang melakukan pacuan. Karena kuda-kuda itu mini, maka joki atau penunggangnya juga masih anak-anak. Mereka belajar naik kuda rata-rata mulai usia 6-7 tahun. Karena semakin mereka masih kecil, kemungkinan kudanya berlari kencang semakin besar. Dan semakin besar pula kemungkinan untuk memenangkan pertandingan.

Hari Ketiga di Bima

Hari ini saya dan teman-teman yang aseli Bima merencanakan perjalanan yang agak jauh. Sekitar 3-4 jam, untuk menuju desa tradisional Donggo.

Pantai Lakey

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, melewati perkebunan dan bukit-bukit hijau, sampailah di Kabupaten Dompu. Teman saya menghentikan kendaraannya. Dia bilang, kalau kita perlu mampir lebih dulu ke Pantai Lakey. Pantai ini konon sudah diketahui oleh para surfer luar negeri. Hampir setiap turis yang datang mengatakan Pantai Lakey adalah salah satu tempat surfing terbaik di dunia dan bahkan setiap tahunnya hampir selalu dijadikan lokasi untuk kejuaraan surfing internasional. Tak heran saat saya melewati salah satu homestay di lokasi itu, banyak turis-turis yang bersliweran.

lakey beach

Sampai di Pantai Lakey, saya memang terkagum-kagum dengan keindahan airnya yang biru, hamparan pasir putih yang berkilau, juga ombaknya yang bergulung-gulung. Sayang pantai ini seperti tidak terurus. Akses ke lokasi pantai tidak terlalu jelas petunjuknya, fasilitas yang kurang memadai dan kondisi pantai lumayan kotor. Mungkin pemerintah setempat belum menyadari bahwa sesungguhnya pantai ini menyimpan potensi yang luar biasa.

Desa Donggo

Perjalanan menuju perkampungan tradisional Desa Donggo cukup menanjak dan berliku. Jalanan memang sepi, tapi terhitung sempit. Ditambah, beberapa kambing yang tampak santa-santai tiduran di tengah jalan. Ini membuat kami harus turun dari mobil dan menghalau kambing-kambing tadi agak minggir. Saya sempat terheran-heran, kenapa pemiliknya tidak kuatir kalau-kalau piaraan mereka tertabrak mobil atau motor? Teman saya menjelaskan, kalau tak mungkin ada orang setempat yang berani menabrak kambing, karena sudah ada aturan yang tak tertulis, bahwa siapa yang telah menabrak kambing, mereka wajib menggantinya dengan sapi. Hahaha… pantesaaannn!

Setelah melewati deretan rumah-rumah penduduk, sampailah Desa Mbawa, Donggo.            Pemandangan dari ketinggian desa ini sungguh menakjubkan. Kita bisa menyaksikan bukit-bukit, ladang dan perumahan penduduk. Selain itu, kita bisa menikmati irama kesibukan warga setempat yang tengah menumbuk padi, memasak, dan lain-lain.

desa tradisional donggo

Di desa itu terdapat sebuah Uma Leme (rumah kepala suku). Struktur bangunan Uma Leme berbentuk kerucut, beratap alang-alang yang sekaligus menutupi tiga perempat bagian rumah sebagai dinding dan memiliki pintu masuk di bagian bawah.

Rumah tradisional itu terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama digunakan untuk menerima tamu dan kegiatan upacara adat. Lantai kedua berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus dapur. Sementara itu, lantai ketiga digunakan untuk menyimpan bahan makanan, seperti padi dan palawija. Salah seorang warga desa mempersilakan kami mampir ke rumahnya. Kamipun tak ingin melewatkan kesempatan ini. Dan setelah cukup beramah-tamah dengan mereka, kami berpamitan pulang.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*