Kali Pait, Banyuwangi – Jawa Timur

Very Sadly, saya tak punya foto-foto yang bisa dijadikan barbuk (barang bukti) bahwa saya pernah ke Kawah Ijen. Agak-agak gimanaaaa… gitu karena ada sisi kenarsisan saya yang tidak terpenuhi. Tapi ya sudahlah, saya dan teman saya Lila, sudah merencanakan untuk kembali kesana dan mengambil foto-foto di Kawah Ijen dengan sepuas-puasnya.

Jadi ceritanya, saya dan kawan-kawan rombongan (termasuk Lila) sampai di Paltuding (based untuk mereka yang siap naik ke Gunung Ijen) sekitar jam 11 malam. Di Paltuding ini, banyak pendaki yang mendirikan kemah atau tenda warna-warni. Beberapa yang lain lebih memilih tidur di rumah singgah yang sederhana. Mungkin kalau kesana lagi saya ingin kemah saja deh, sepertinya lebih asyik. 

Mulailah langkah pertama saya menapaki jalan setapak menuju puncak Ijen. Gak nyangka jalannya nanjak banget. Uhhh! Saya sempat hampir menyerah ketika sampai di pos pertama, mana kena diare pula, plus ransel yang terlalu berat. Tapi pelan-pelan, selangkah demi selangkah, akhirnya berhasil juga saya sampai di puncak. Dalam perjalanan mendaki, saya sempat berpapasan dan menyapa para para pendaki lain yang kebanyakan anak kuliahan. Tak sedikit yang mengeluarkan keluhan, meski banyak juga yang menghadapinya dengan bercanda dengan yang lain.

Sampai di puncak sekitar jam 3 dini hari. Untuk sampai ke kawah, saya harus berjalan beberapa meter lagi. Di sepanjang jalan itu, beberapa orang duduk-duduk sambil menikmati cemilan, beberapa lainnya menyalakan api unggun. Sempat bertemu Lila yang lebih dulu sampai puncak, dari informasi dia, ternyata untuk ke kawah kita harus melewati jalan terjal yang curam dengan jarak tempuh sekitar 1 kilo lagi. Saya sempat melongok jalanan curam itu. Widiihh… mana gelap lagi! Belum nanti kalau kudu naik lagi! Arggh… makasih deh.

Akhirnya saya mengikhlaskan untuk tidak mendekati kawasan blue fire belerang yang menjadi buah bibir orang-orang. Dalam hati saya, ah gak pa-pa deh, toh nanti pas sunrise saya bisa melihat danau hijaunya sambil foto-foto. Jadi saya dan Lila memutuskan untuk duduk-duduk di puncak sambil menunggu matahari terbit. Sempat ditawarin snack oleh rombongan pendaki cewek yang duduk di sebelah kami. Satu jam berlalu duduk di situ, rasa dingin mulai menggigit kulit. Saya dan Lila mencoba bertahan. Ah, sunrise akan datang sebentar lagi. Ayo bertahan! Begitu, saya menyemangati diri sendiri.




Tapi selang beberapa saat saya menerima informasi kalau jam 5 pagi, semua anggota rombongan kami harus sudah sampai di bawah. Bis sudah menunggu. Lah ngapain menunggu di sini sambil sekuat tenaga melawan dingin, kalau pada akhirnya jam 5 harus sudah sampai Paltuding lagi? Jam 5 kan matahari belum kelihatan? Lebih baik turun dari tadi-tadi bukan? Akhirnya dengan memendam perasaan kecewa, saya dan Lila memutuskan untuk turun. Selama perjalanan turun itulah, saya sempatkan mengambil foto. Satu-satunya foto yang mudah-mudahan bisa membuktikan bahwa saya pernah ke Kawah Ijen. Foto yang agak maksa sih… Dan inilah foto itu saudara-saudara!

ijen

Perjalanan bus dari Paltuding ke home stay, diwarnai dengan pemandangan hutan dengan pohon yang besar dan tinggi. Sekitar 15 menit kemudian, bus berhenti. Seluruh rombongan yang jumlahnya 29 segera turun, menuju suatu tempat yang bernama Kali Pait.

kalipait

Kali Pait ini terletak di antara pepohonan hutan dan batu-batu hitam yang mengelilinya. Air yang mengalir dari atas bukit membentuk semacam air terjun. Air yang mengalir ini berasal dari bendungan yang menutup Kawah Ijen. Tidak heran kalau airnya berwarna kehijau-hijauan dan mengandung belerang.

Di Kali Pait inilah saya ingin membalas dendam dengan foto-foto sebanyak-banyaknya. Saking banyaknya, sampai kehabisan gaya! Eneg, eneg deh… Hihihi… Tak puas foto di Kali Pait, jalanan sepi yang dikelilingi hutan menjadi sasaran objek foto saya. Puas berfoto-foto, akhirnya rombongan kembali melanjutkan perjalanan.

4 Comments - Add Comment

Reply