Desa Troso, Menjaga Warisan Tenun dengan Motif Popular

Perajin tenun Desa Troso

Perajin tenun Desa Troso

 

Desa Troso berlokasi di Kecamatan Pecangaan, Kota Jepara. Sekitar 15 Km arah tenggara dari pusat kota. Dari Kota Semarang untuk sampai ke Jepara, butuh waktu sekitar 2 jam dengan berkendara. Menuju Jepara, kita akan disuguhi pemandangan sawah yang terhampar, pembuatan batu bata dan kayu ukir-ukiran yang memang menjadi salah satu kerajinan unggulan dari kota tersebut.

 

Banyak kerajinan yang dihasilkan oleh masyarakat Jepara, dari mulai kerajinan monel, kerajinan ukir-ukiran, kerajinan anyam-anyaman, kerajinan rotan kerajinan patung kayu dan tentunya kerajinan tenun. Keberadaan pusat kerajinan tersebut murni hasil dari inisiatif masyarakat Jepara. Tak salah rasanya kalau kita menilai, secara umum masyarakat Jepara memiliki jiwa entrepreneurship.




 

 

Sekitar 200 meter dari pintu gerbang memasuki Desa Troso, tampak deretan toko-toko dan butik yang menjual kain tenun dengan motif dan corak yang beragam. Ada yang masih berupa kain, ada juga yang sudah berupa baju siap pakai. Kalau anda berniat memiliki salah satu atau beberapa kain yang dipajang di toko-toko itu, tak perlu risau. Harganya masih reasonable, berkisar antara Rp 100.000,- hingga Rp 700.000,-

 

Agak jauh dari deretan butik-butik tenun, sekitar 1 kilometer dari pintu gerbang Desa Troso, kita akan menjumpai pemukiman penduduk. Sebagian rumah-rumah itu masih berlantaikan tanah. Meskipun begitu, memasuki kawasan ini terasa ada kedamaian dan keramahan yang siap menyambut siapapun yang hendak berkunjung kesini.

 

Saat kami berkunjung kesana, musim kemarau tengah berlangsung,  meskipun tak terasa panas yang menyengat. Banyak pepohonan dan buah-buahan yang tumbuh subur. Bahkan beberapa pohon rambutan dan mangga sedang berbuah lebat meskipun masih muda-muda.

 

Ada pemandangan yang menarik, saat menyusuri kawasan rumah-rumah penduduk. Hampir di setiap teras rumah teronggok alat-alat menenun. Memang bukan alat menenun yang lengkap dan menyeluruh. Mengingat, dalam proses pengerjaan selembar kain tenun, banyak sekali tahapan dan peralatan yang diperlukan.

 

 

Untuk menghasilkan selembar kain tenun, diawali dari proses pekerjaan yang disebut lungsen (nyepul, nyekirr, ngebum), nyucuk (memasukkan benang ke sisir), pakan, membuat pola/motif, mengikat pola, dan seterusnya, sampai ke pekerjaan menenun itu sendiri.

Berbeda dengan proses menenun di toko atau butik yang pengerjaannya dalam satu lokasi, pengerjaan menenun di kawasan penduduk terpisah-pisah. Bisa jadi yang proses menyepul dilakukan di satu rumah, sementara nyelur dan ngebom dilakukan di rumah yang lain. Bahkan membuat atau menggambar pola/motif dilakukan di seberang rumah yang agak berjauhan. Meskipun terpisah-pisah seperti itu, mereka tetap terkoordinasi dan terintegrasi.

 

 

Jika kita masih bisa menjumpai motif dan corak tenun yang klasik dan khas dari daerah Flores, Sumba, Lombok maupun Bima, akan tetapi hal itu tidak akan terjadi di Desa Troso. Menurut pengakuan beberapa perajin tenun, motif dan corak tenun Desa Troso mengikuti tren dan atau sesuai pesanan (on demand). Tak heran jika motif dan corak tenun Bali yang menguasai desa itu, karena memang disanalah distribusi terbesar kain tenun Desa Troso dipasarkan, selain Jakarta dan Surabaya.

 

 

Satu hal yang sangat membanggakan dari Desa Troso adalah semangat menenun yang tetap terpelihara hingga sekarang. Semangat mempertahakan warisan menenun itu masih menyala hingga sekarang. Ini sangat berbeda dengan kondisi di daerah Flores, Sumba, Lombok maupun Bima, yang mulai kesulitan dalam regenerasi. Anak-anak muda di sana menganggap menenun sebagai pekerjaan yang rumit dan bukan pekerjaan yang menjanjikan, sehingga mereka meninggalkan tenun dan memilih bekerja ke kota-kota besar.

 

 

Tidak seperti di Flores, Sumba, Lombok, dan Bima, dimana menenun dilakukan oleh sebagian besar perempuan, di Desa Troso, kaum pria pun juga banyak yang menenun. Para pemudanya melakukan pekerjaan menenun dengan  penuh antusias. Bahkan, salah seorang warga pria berusia 30-an, Dimas, mengatakan, dia tertarik dengan tenun sejak masih kecil. Sejak SMP dia sudah belajar menenun dari orang tua dan pamannya.

 

 

Luar Biasa.

Jika kondisi seperti ini akan berlangsung lama dan bahkan lebih membaik lagi, bisa dipastikan tenun tidak akan pernah punah dari Desa Troso.

Apakah anda tertarik untuk ikut berperan melestarikan warisan tenun di Jawa Tengah? Kalau begitu, datanglah ke Desa Troso, Jepara.

4 Comments - Add Comment

Reply